Rifatul Fani
Institut Teknologi, Sains, Dan Kesehatan RS Dr. Soepraoen Kesdam V/BRW Malang, Indonesia

Published : 26 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Survey Of Socio-Demographic, Behavioral, and Clinical Factors Associated with Stroke in The Elderly in Indonesia Pratiwi, Nadia Rahmi Amelia; Asri, Yuni; Fani, Rif'atul; Patria, Dion Kunto Adi
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 14, No 1 (2026): EDITION MARCH 2026
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v14i1.8054

Abstract

Stroke is the leading cause of death and disability throughout the world, with a higher burden in low- and middle-income countries, including Indonesia. As the elderly population grows, identifying factors linked to stroke is essential for prevention and policy-making. This study aims to examine the association between sociodemographic, behavioral, and clinical factors and stroke among Indonesians aged ? 60 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). This study employed a cross-sectional design using secondary data from a nationally representative survey. A total of 97,339 older adults were included in the analysis. Stroke status was based on self-reported physician-diagnosed status. Independent variables included age, sex, education, marital status, employment, residence, hypertension, heart disease, smoking, and alcohol consumption. Data were analyzed using complex survey analysis with sampling weights, utilizing descriptive statistics and Chi-square tests to examine associations between variables. Analyses were conducted using IBM SPSS Statistics version 27.0.1, adjusting stratification and clustering in the survey design. The prevalence of stroke was 3.2%. Significant associations were found between stroke and age, gender, education, occupation, place of residence, hypertension, heart disease, smoking habits, and alcohol use (all p0.05). Stroke was more common among individuals with hypertension, heart disease, lower educational attainment, those who were unemployed, and those living in urban areas. Stroke in older Indonesians is strongly influenced by modifiable factors, particularly hypertension and lifestyle behaviors. Targeted prevention, early detection, and lifestyle interventions are critical to mitigating the stroke burden in Indonesia’s aging population.
SELF-MANAGEMENT AND QUALITY OF LIFE AMONG CHRONIC KIDNEY DISEASE PATIENTS UNDERGOING HEMODIALYSIS Putri Prasetya, Sherli Amelia; Fani, Rif'atul; Ristanto, Riki
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v8i1.1417

Abstract

Introduction: Chronic kidney disease is a progressive condition that requires long-term hemodialysis and can substantially affect patients’ quality of life. Effective self-management is essential to support patients in managing symptoms, adapting to treatment demands, and maintaining physical and mental well-being. Methods: A descriptive correlational design using a cross-sectional approach was used in this research. The participants were patients with CKD undergoing routine hemodialysis at a regional public hospital in Sidoarjo, Indonesia. A total of 194 respondents were recruited using purposive sampling. Self-management was assessed using the Hemodialysis Self-Management Instrument (HDSMI-18), and quality of life was calculated using the Kidney Disease Quality of Life (KDQoL-36) questionnaire. Univariate analysis with Spearman correlation tests used to analyzed data. Results: Self-care was significantly associated with symptom control (r = 0.190; p = 0.008), effects of kidney disease (r = 0.412; p < 0.001), disease burden (r = 0.322; p < 0.001), and mental quality of life (r = 0.497; p < 0.001). Problem solving was associated with effects of kidney disease (r = 0.220; p = 0.002) and mental quality of life (r = 0.158; p = 0.027). Emotional management was related to physical (r = 0.147; p = 0.041) and mental quality of life (r = 0.147; p = 0.040). Overall self-management was associated with effects of kidney disease (r = 0.296; p < 0.001), disease burden (r = 0.171; p = 0.017), and mental quality of life (r = 0.277; p < 0.001), while partnership showed no significant associations. Conclusions: Self-management related to quality of life among patients undergoing hemodialysis, with self-care showing the strongest and most consistent associations. These findings highlight the importance of strengthening self-management skills, particularly self-care, problem solving, and emotional regulation, to optimize quality of life in patients with CKD.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE DENGAN PENCEGAHAN DIARE PADA BALITA Keyzia Botutihe; Rif'atul Fani; Ananda Sagita Maharani
Jurnal Vokasi Keperawatan (JVK) Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jvk.v9i1.47322

Abstract

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang sering terjadi pada balita dan memerlukan upaya pencegahan yang efektif di tingkat rumah tangga. Pengetahuan ibu berperan penting dalam membentuk perilaku pencegahan diare pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang diare dengan tindakan pencegahan diare pada balita di wilayah kerja puskesmas saritani, Boalemo, Gorontalo. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang. Jumlah sampel sebanyak 57 pasangan ibu dan balita yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur tingkat pengetahuan ibu dan tindakan pencegahan diare pada balita. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memiliki tingkat pengetahuan baik dan cukup, namun tindakan pencegahan diare masih didominasi oleh kategori cukup. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu tentang diare dengan tindakan pencegahan diare pada balita. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik belum sepenuhnya diikuti oleh penerapan perilaku pencegahan yang optimal, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan ibu berhubungan dengan tindakan pencegahan diare pada balita. Disarankan agar tenaga kesehatan memperkuat edukasi kesehatan yang berkelanjutan dan aplikatif guna meningkatkan praktik pencegahan diare di tingkat rumah tangga.
Hubungan Peran Orang Tua Dengan Sikap Dan Prilaku Kesehatan Reproduksi Remaja MTS Darul Huda Ayu Ananda; Shinta Wahyusari; Rif’atul Fani; Ratna Roesardhyati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.571

Abstract

Kesehatan reproduksi merupakan kondisi yang menyangkut masalah kesehatan organ reproduksi, kesiapan yang dimulai sejak usia remaja. Kesehatan reproduksi remaja meliputi fungsi, proses, dan sistem reproduksi remaja. Berdasarkan hasil survei awal yang telah dilakukan peneliti dengan wawancara pada siswa remaja Mts Darul Huda setelah bertemu dan berinteraksi dengan responden. Dalam 10 murid yang diwawancarai, ditemukan bahwa orang 5 siswi mengatakan tidak mendapat informasi mengenai kebersihan organ genetalia dari orang tua mereka dan 3 orang siswi mengatakan mereka merasa malu dan merupakan hal yang porno untuk diungkapkan, selain itu 2 orang siswi mengatakan hanya mendapat pengetahuan tentang menggunakan pembalut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan sikap dan perilaku kesehatan reproduksi pada remaja Mts Darul Huda. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Lokasi penelitian ini dilakukan di MTS Darul Huda Jl. KH Ahmad Dahlan, Sumber Wuni, Codo, Kec. Wajak, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025. Populasi penelitian adalah seluruh siswi Mts Darul Huda pada tingkat kelas VII, VIII, dan IX yang berusia antara 12–15 tahun dengan jumlah populasi 53. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total sampling.  Hasil penelitian ini berupa peran orang tua (khususnya dalam aspek komunikasi) pada remaja MTs Darul Huda mayoritas berada pada kategori rendah atau bermasalah, yaitu sebesar 62,3% hingga 64,2%, Mayoritas remaja memiliki sikap kesehatan reproduksi dalam kategori kurang (69,8%), perilaku kesehatan reproduksi remaja menunjukkan kondisi yang memprihatinkan, di mana 73,6% responden memiliki perilaku berisiko. Kondisi ini mencakup aspek higiene reproduksi yang rendah serta kurangnya pengendalian diri dalam interaksi sosial.  Kesimpulan Terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan sikap kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,015). Kekuatan hubungan bersifat negatif (r = -0,331) dan terdapat hubungan yang signifikan antara peran orang tua dengan perilaku kesehatan reproduksi remaja (p-value = 0,002).  
Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Perilaku Pencegahan Penyakit Diabetes Melitus Pada Remaja SMP Elvina Yoandrawati; Rif’atul Fani; Shinta Wahyusari
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.641

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit yang semakin meningkat prevalensinya di kalangan remaja, termasuk di Indonesia. Faktor kecerdasan emosional dianggap berpengaruh terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja. Kecerdasan emosional berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri terhadap perilaku berisiko. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Metode: Desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional dilakukan pada siswa SMP Kristen Aletheia Malang bulan November hingga Desember 2025. Sampel sebanyak 54 siswa dipilih melalui total sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Trait Kecerdasan Emosional Questionnaire–Adolescent Short Form (TEIQue-ASF) untuk mengukur kecerdasan emosional, dan Diabetes-related Instrument to Assess Preventive Behaviors among Adolescents (DIAPBA) untuk mengukur perilaku pencegahan diabetes melitus. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan perilaku pencegahan diabetes (r = 0,491; p<0,001). Kesimpulan: Kecerdasan emosional memiliki pengaruh yang cukup kuat terhadap perilaku pencegahan diabetes pada remaja SMP. Hal ini menegaskan pentingnya pengembangan aspek kecerdasan emosional dalam upaya meningkatkan perilaku pencegahan diabetes di kalangan remaja.
MEDICATION ADHERENCE AND STRESS LEVELS IN RELATION TO QUALITY OF LIFE AMONG PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS Putri Cahyaningrum; Rif'atul Fani; Mokhtar Jamil
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 1 (2026): May
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jakarta III

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32668/jkep.v11i1.2351

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease that may affect physical, psychological, and social well-being, thereby influencing patients’ quality of life. This study aimed to analyze the relationship between medication adherence and stress levels with quality of life among patients with T2DM in primary healthcare. A quantitative analytical observational study with a cross-sectional approach was conducted among 83 patients with T2DM selected using purposive sampling. Medication adherence was measured using the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8), stress levels using the Perceived Stress Scale (PSS-10), and quality of life using the Diabetes Quality of Life–Brief Clinical Inventory (DQoL-BCI). Data were analyzed using Chi-square tests with a significance level of p ≤ 0.05. Most respondents demonstrated high medication adherence (47.0%), low stress levels (47.0%), and high quality of life (48.2%). There was a significant relationship between medication adherence and quality of life (p = 0.005). Respondents with higher medication adherence tended to report better quality of life. Stress level was also significantly associated with quality of life (p = 0.032), where higher stress levels were associated with poorer quality of life. Medication adherence and stress levels were significantly associated with quality of life among patients with T2DM. These findings highlight the importance of integrating adherence support and psychosocial management into diabetes care in primary healthcare settings.