Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

Regenerative endodontic procedures: Prosedur endodontik regeneratif Hikmah, Noor; Sadewa, Endo
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i2.1006

Abstract

Regenerative endodontic treatment (RET) has emerged as a transformative approach in the treatment of necrotic pulp in perma-nent teeth, aiming to regenerate the entire pulp-dentin complex to improve tooth vitality, function, and longevity. The core of re-generative endodontics lies in biologically based management strategies. Recent innovations in RET revolve around two main concepts: the implementation of tissue engineering technologies to promote pulp-dentin regeneration and revascularisation pro-cesses that induce the formation of new living tissue from existing dental tissue to continue root development. Clinical guide-lines and protocols continue to evolve, encompassing various approaches such as revascularisation, the use of autologous pla-telet-rich plasma and scaffolds to trigger host stem cell migration and tissue formation. Literature searches were conducted via Google Scholar. It is concluded that RET is one of the treatment options for teeth diagnosed with necrosis accompanied by an open apex. The success of RET depends on case selection criteria, meticulous implementation of the treatment protocol, and careful monitoring of outcomes.
Penatalaksanaan diskolorasi gigi insisivus sentral rahang atas kiri dengan obliterasi saluran pulpa: laporan kasus Nugroho, Juni Jekti; Sugiaman, Lestari Hardianti; Dwiandhany, Wahyuni Suci; Natsir, Nurhayaty; Hikmah, Noor; Trilaksana, Aries Chandra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.46848

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Obliterasi saluran akar sering terjadi akibat respon dari trauma gigi. Trauma gigi dapat berasal dari akibat kecelakaan atau benturan terhadap gigi dan cedera akibat perawatan gigi seperti pada penggunaan ortodontik. Perawatan ortodontik bila tidak dilakukan secara tepat dapat menjadi salah satu pemicu kerusakan pada jaringan pulpa dan pendukung gigi. Peristiwa tersebut dapat mendorong terjadinya perubahan dimensi internal kavitas pulpa yang berdampak pada diskolorasi mahkota. Tujuan dari laporan kasus ini melaporkan keberhasilan penatalaksanaan diskolorasi gigi disertai obliterasi saluran pulpa akibat perawatan ortodontik yaitu perawatan endodontik konvensional dan internal bleaching. Laporan kasus: Seorang perempuan usia 24 tahun dirujuk ke RSGM Pendidikan dengan keluhan perubahan warna gigi insisivus sentral kiri rahang atas akibat cedera traumatik perawatan ortodontik Pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya kalsifikasi saluran pulpa dan radiolusen difus di periapikal. Pemeriksaan vitalitas gigi (-), perkusi (+), dan palpasi (-). Rencana perawatan saluran akar yaitu perawatan endodontik konvensional dan internal bleaching dilanjutkan bleaching internal. Prognosis dari kasus ini baik. Simpulan: Perawatan endodontik konvensional dan internal bleaching dapat menangani diskolorasi gigi disertai obliterasi saluran pulpa akibat perawatan ortodontik dengan hasil yang memuaskan.Kata kunciobliterasi, diskolorasi gigi, saluran pulpa, bleaching internal, diskolorasi gigiManagement of maxillary left central incisor discoloration with pulp canal obliteration due to orthodontic treatment: a case reportABSTRACTIntroduction: Pulp canal obliteration often occurs in response to dental trauma. Dental trauma may arise as a result of accidents or bumps [impacts] to the teeth, as well as injuries from dental treatments  including some orthodontic appliances. Orthodontic treatment, if not done properly, can be one of the triggers for biological events that affect the pulp tissue and supporting teeth. Such events have the potential to promote changes in the internal dimensions of the pulp cavity and may result in coronal discoloration. The aim of this case report was to describe the management of tooth discoloration with pulp canal obliteration through using the method of internal bleaching. Case report: A 24-year-old female was referred to the dental hospital due to the discoloration of the clinical crown of her maxillary left central incisor. The radiographic examination revealed the calcified canal and diffused periapical radiolucency. Tooth vitality (-), palpation (-), and percussion (+). The root canal treatment was determined followed by internal bleaching. The prognosis of these cases is good. Conclusion: The root canal treatment followed by the internal bleaching can provide satisfying results to manage discoloured tooth with pulp canal obliteration due to orthodontic treatment.Keywordspulp canal obliteration, internal bleaching, tooth discoloration, orthodontic trauma
Kajian keberhasilan bleaching eksternal pada perawatan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar: laporan kasus Noor Zaelan, Andi Ghina Zakiyah; Nugroho, Juni Jekti; Dwiandhany, Wahyuni Suci; Hikmah, Noor; Trilaksana, Aries Chandra; Natsir, Nurhayaty
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 3 (2023): Desember 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i3.46877

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perubahan warna gigi pada sebagian besar masyarakat masih sering dikaitkan dengan gangguan estetik dan dianggap tidak sehat. Bleaching eksternal adalah salah satu upaya non-invasif untuk memperbaiki penampilan gigi yang mengalami perubahan warna, seperti kasus staining. Perubahan warna gigi akibat stain ekstrinsik bisa diakibatkan karena konsumsi minuman kaya tanin (seperti teh) yang berlebihan. Keuntungan perawatan ini adalah prosedur lebih cepat, faktor risiko dapat diminimalkan karena dilakukan di bawah kontrol dokter gigi. Efek samping peningkatan sensitivitas gigi dapat dikurangi oleh karena penggunaan desensitizer seperti kalium nitrat dan fluoride. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk mengkaji keberhasilan bleaching eksternal pada perawatan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar. Laporan kasus: Perempuan berusia 22 tahun datang ke RSGM mengeluhkan gigi berwarna kekuningan yang berhubungan dengan kebiasaan mengkonsumsi kopi sedikitnya 5 kali dalam seminggu. Tidak ada riwayat hipersensitif dentin. Dilakukan prosedur bleaching eksternal menggunakan bahan hidrogen peroksida 40%. Hasil perawatan menunjukkan gigi anterior dan premolar mengalami peningkatan warna setelah aplikasi bahan bleaching sebanyak 2 siklus dalam 1 kali kunjungan. Simpulan: Prosedur bleaching eksternal menggunakan hidrogen peroksida 40% efektif menghilangkan diskolorasi ringan pada gigi anterior dan premolar.Kata kuncibleaching gigi, hidrogen peroksida, diskolorasi gigiSuccessful external bleaching in the treatment mild discoloration of staining anterior and premolar teeth: a case reportABSTRACTIntroduction: In the majority of societies, tooth discoloration is still often associated with aesthetic disorders and considered unhealthy. External bleaching is one of the non-invasive treatments to correct the visual appearance of the discolored teeth, such as those affected by  staining. Teeth discoloration could be caused by extrinsic stains resulting from the excessive consumption of tannin-rich drinks, such as tea. The advantages of this treatment are that it is faster, and can minimize the potential risk factors because it is under the (dentists’ supervision) control of a dentist. The side effects of the increased dental sensitivity can be reduced by using desensitizers, such as potassium nitrate and fluoride. The aim of this case report is to review the successful external bleaching in the treatment of discoloration of stained anterior and premolar teeth. Case report: A 22-year-old woman visited the dental hospital complaining of yellowish teeth associated with the habit of drinking coffee at least five times a week. There was no history of dentin hypersensitivity. The external bleaching was performed using 40% hydrogen peroxide. The treatment outcomes showed that the anterior and premolar teeth had improved color after two-bleaching cycles in one visit. Conclusion: The external bleaching procedure using 40% hydrogen peroxide effectively removes mild discoloration on the anterior and premolar teeth.Key wordstooth bleaching, hydrogen peroxide, tooth discoloration
Manajemen perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah: laporan kasus Nugroho, Juni Jekti; Mustainah, Sakiya; Natsir, Nurhayaty; Trilaksana, Aries Chandra; Hikmah, Noor; Dwiandhany, Wahyuni Suci
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i1.46858

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perawatan saluran akar (PSA) satu kali kunjungan harus memenuhi prinsip triad endodontic. Keuntungan PSA satu kali kunjungan adalah mengurangi resiko kontaminasi mikroorganisme, waktu lebih singkat tanpa mengurangi kualitas hasil perawatan. Tujuan laporan kasus ini adalah membahas PSA satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah dengan restorasi akhir inlay porselen. Laporan Kasus: Seorang perempuan berusia 20 tahun datang ke RSGM dengan keluhan gigi geraham rahang bawah berlubang dan sering sakit. Tes vitalitas positif, palpasi negatif, perkusi negatif. Pemeriksaan radiografi terlihat karies sampai ruang pulpa, ligamen periodontal dalam batas normal. Dilakukan perawatan saluran akar satu kali kunjungan.  Prosedur awal adalah isolasi menggunakan rubber dam. Pembukaan akses dilakukan menggunakan endo access diamond bur. Panjang saluran kerja ditentukan menggunakan apex locator dan dikonfirmasi dengan radiografi. Cleaning dan shaping dilakukan dengan rotary file Protaper Next. Saluran akar diirgasi dengan larutan NaoCl 5,25%, EDTA 17%, dan Klorheksidin 2% yang diselingi dengan aquades. Ketiga saluran akar di obturasi dengan gutta percha dan sealer berbahan resin dengan metode single cone. Restorasi akhir dengan inlay porcelain. Simpulan: Perawatan saluran akar satu kali kunjungan pada gigi molar pertama kanan rahang bawah memperlihatkan keberhasilan yang memuaskan secara klinis dan radiografis pada kontrol 4 minggu setelah perawatan.Kata kunci: perawatan saluran akar satu kali kunjungan, molar pertama kanan rahang bawahManagement of one visit endodontic treatment of the right lower first molar: Case reportABSTRACTIntroduction: One visit endodontic treatment should comply with triad endodontic principles. The advantages of the treatment are the minimum microorganism contamination risk and time-saving without compromising the treatment outcome quality. The aim of this case is to discuss a one visit endodontic treatment of the right lower first molar with final restoration inlay porcelain. Case report : A 20-year-old female came to RSGM with a chief complaint of a toothache and pain in her right lower first molar. Objective examination showed vitality positive, palpation negative, percussion negative. Radiographic examination showed caries into the pulp chamber and the periodontal ligament was within normal limits. Performed one visit endodontic treatment.The initial procedure was isolating by rubber dam. Access opening using endo access diamond bur. Determining working length using apex locator and confirmed by radiography. Cleaning and shaping was done with rotary file Protape Next. Naocl 5,25, 17% EDTA, and Chlorhexidine 2% being used for irrigation. Obturation with gutta-percha and resin-based sealer by single cone method. Final restoration with inlay porcelain. Conclusion: One-time root canal treatment of the right lower first molar performed showed clinical and radiological success at the period control 4 weeks after treatment.Key words: One visit endodontic treatment, right lower first molar.
Root canal treatment of a blunderbuss canal in the maxillary lateral incisor with dens invaginatus with apical plug application: a case report Natsir, Nurhayaty; Siampa, Febrianty Alexes; Nugroh, Juni Jekti; Trilaksana, Aries Chandra; Dwiandhany, Wahyuni Suci; Hikmah, Noor; Rovani, Christine Anastasia
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.49878

Abstract

ABSTRACTIntroduction: The incidence of anterior dental trauma in young adults is high. The impact of this has been previously reported that pulp necrosis occurs in 50% of young fixed anterior teeth so that the process of apex formation is disrupted and in some cases can cause a blunderbuss shape at the tooth root apex. Root canal treatment of blunderbuss teeth accompanied by dens invaginatus poses a challenge for a dentist. Aims of this case report to explain successful root canal treatment of a blunderbuss canal in the maxillary lateral incisor with dens invaginatus with apical plug application using MTA followed by esthetic rehabilitation. Case report: A 25-year-old female presented to RSKGM with a complaint of pain and swelling of the gingiva. History of trauma at the age of the patient was 10 years old without treatment. Clinical examination revealed a complete crown with dens invaginatus. Radiographic examination showed a periapical lesion and an open apex blunderbuss shape. Treatment performed was treatment with an apical plug using MTA and restoration using a peg crown. Shape root canal with a blunderbuss is an open apex root canal with the root apex diameter greater than the coronal diameter, hence requiring adequate material to form a cap over the root apex (apical plug). It has been reported that MTA is an apical plug material that has good sealing ability, biocompatibility, bacteriostatic activity and the ability to regenerate periradicular tissues. Conclusion:  Root canal  treatment of a blunderbuss canal in the maxillary lateral incisor with dens invaginatus with apical plug application of MTA material as apical plug is an effective method.Keywordapical plug, blunderbuss canal, dens invaginatus, mineral trioxide aggregatePerawatan saluran akar blunderbuss gigi insicivus lateral rahang atas dengan dens invaginatus dengan aplikasi apical plug: laporan kasusABSTRAKPendahuluan: Insidensi trauma gigi anterior pada pasien usia dewasa muda cukup tinggi. Dampak dari hal ini telah dilaporkan sebelumnya bahwa terjadi nekrosis pulpa pada 50% gigi anterior tetap muda sehingga proses pembentukan apeks terganggu dan pada beberapa kasus dapat menyebabkan bentuk blunderbuss pada apeks akar gigi. Perawatan saluran akar gigi blunderbuss yang disertai dengan dens invaginatus menimbulkan tantangan tersendiri bagi seorang dokter gigi. Tujuan laporan kasus ini melaporkan keberhasilan perawatan saluran akar gigi blunderbuss pada gigi insisivus lateral rahang atas dengan dens invaginatus dengan aplikasi apical plug menggunakan MTA yang dilanjutkan dengan rehabilitasi estetik. Laporan kasus: Seorang perempuan, 25 tahun datang ke RSKGM dengan keluhan nyeri dan pembengkakan pada gingiva. Riwayat trauma pada saat usia pasien 10 tahun tanpa dilakukan perawatan. Pada pemeriksaan klinis terlihat mahkota lengkap dengan dens invaginatus. Pemeriksaan radiografi menunjukkan lesi periapikal dan apeks terbuka berbentuk blunderbuss. Perawatan yang dilakukan adalah perawatan dengan apical plug menggunakan MTA dan restorasi menggunakan mahkota pasak. Bentuk saluran akar dengan blunderbuss adalah saluran akar apeks terbuka dengan diameter apeks akar lebih besar dari diameter koronal, oleh karena itu membutuhkan bahan yang adekuat untuk membentuk menutup ujung apeks akar (apical plug). Telah dilaporkan bahwa MTA adalah bahan apikal plug yang memiliki kemampuan sealing yang baik, biokompatibel, aktivitas bakteriostatik dan kemampuan meregenerasi jaringan periradikular. Simpulan: Perawatan saluran akar blunderbuss pada gigi insisivus lateral rahang atas dengan dens invaginatus dengan pengaplikasian apical plug bahan MTA sebagai apical plug merupakan metode yang efektif.Kata kunciapical plug, blunderbuss canal, dens invaginatus, mineral trioxide agregat
Retreatment pada kegagalan perawatan saluran akar akibat adanya missed canal: Laporan Kasus Hikmah, Noor; Qaf, Imara Binti; Natsir, Nurhayaty; Nugroho, Juni Jekti; Dwiandhany, Wahyuni Suci; Trilaksana, Aries Chandra
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 36, No 4 (2024): Januari 2024 (Suplemen 4)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v36i4.46893

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Keberhasilan endodontik diperoleh dengan persiapan akses yang baik, mendapatkan setiap saluran akar sesuai anatomi, pembentukan saluran akar, desinfeksi dan pengisian sistem saluran akar. Lokalisasi saluran akar diperlukan untuk desinfeksi dan obturasi saluran yang tepat. Perawatan endodontik, saluran akar yang tidak dirawat dapat berfungsi untuk menampung reservoir mikroorganisme sehingga menjadi penyebab umum dari infeksi intra radikular persisten dan periodontitis apikal pasca perawatan. Tujuan dari laporan kasus ini yaitu untuk menjelaskan penatalaksanaan perawatan ulang saluran akar molar dua kiri rahang bawah akibat adanya missed canals. Laporan kasus: Perempuan usia 25 tahun datang ke RSGMP dengan keluhan gigi belakang kiri bawah tambalan lepas sejak 1 tahun yang lalu, merasa tidak nyaman saat mengunyah atau menggigit sejak 1 bulan yang lalu. Pemeriksaan objektif tidak terdapat restorasi koronal, perkusi positif, palpasi negatif, mobilitas normal. Gambaran radiolografi menunjukkan radiolusensi periapikal, tampak saluran akar mesial yang tidak dirawat dan saluran distal yang kurang hermetis. Diagnosis berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografi gigi 37 yaitu  previously treated teeth. Prevalensi missed canals paling tinggi pada molar pertama rahang atas dan pada rahang bawah yaitu molar kedua. Gigi molar kedua rahang bawah missed canals paling sering ditemukan di akar mesial umumnya disertai lesi periapikal. Laporan kasus ini, ditemukan missed canals dengan radiolusensi periapikal serta tidak adanya restorasi koronal. Metode perawatan yaitu dengan perawatan ulang saluran akar non bedah. Simpulan: Perawatan ulang saluran akar akibat adanya missed canal didapatkan hasil yang optimal jika didukung dengan keterampilan operator, bantuan alat, dan kerjasama yang baik dengan pasien. Kata kunci perawatan saluran akar, missed canal, periapical lesion Root canal retreatment of the lower left second molar due to a missing canal: a case report ABSTRACT Introduction: Endodontic success is achieved by good access preparation, obtaining each root canal according to anatomy, root canal shaping, disinfection, and filling of the root canal system. Localization of the root canal is necessary for proper disinfection and obturation of the canal. In endodontic treatment, untreated root canals can serve to harbor a reservoir of microorganisms, thereby causing a common cause of persistent intraradicular infection and post-treatment apical periodontitis. The aim of this case report was to describe the root canal management of a missed mandibular second molar after retreatment. Case report: A 25-year-old woman came to RSGMP with complaints of a loose filling in her lower left back tooth since 1 year ago and feeling uncomfortable when chewing or biting since 1 month ago. The aim of the examination was to determine that there were no coronal recovery, positive percussion, negative palpation, or normal mobility. Radiographic images showed periapical radiolucency, untreated mesial root canals, and fewer hermetic distal canals. The diagnosis was based on a subjective, objective, and radiographic examination of 37 teeth, namely those that have been treated previously. The prevalence of missed root canals is highest in the maxillary first molars and in the mandibular second molars. Missing canals of mandibular second molar teeth are most often found in the mesial roots, generally accompanied by periapical lesions. In this case report, a missed tract was found with periapical radiolucency and no coronal recovery. The treatment method was non-surgical root canal re-treatment. Conclusion: Root canal retreatment due to missed canals gives optimal results if supported by operator skills, equipment assistance, and good cooperation with the patient. Keywords perawatan saluran akar, missed canal, periapical lesion 
Pengembangan UMKM melalui Digital Marketing di Desa Kayugiyang, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah Trihudiyatmanto, M.; Kaukab, M. Elfan; Efendi, Bahtiar; Purwanto, Heri; Nurhayati, Eni Candra; Akbar, Muhamad Asif Maulana; Hikmah, Noor; Rizkiyadi, Dicky; Utami, Farida Riza; Kusdayanti, Niken; Azka, M. Gilang Maulana
JEPEmas: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Bidang Ekonomi) Vol 3 No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UP2MF Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan - Tujuan dari pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah memberi pengetahuan kepada masyarakat terutama para pelaku UMKM dan generasi muda tentang digital marketing di Desa Kayugiyang, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, pelatihan pemasaran dengan menggunakan media internet. Metode - Pelaksanaan pelatihan dilakukan dalam beberapa tahap diantaranya survei lokasi kegiatan dan UMKM di desa Kayugiyang. Tahap perencanaan, tahap ini merupakan tahap penyusunan rencana dan mengidentifikasi perencanaan progam yang akan dilaksanakan kemudian dirumuskan berbagai kebutuhan dalam perencanaan sistem pemasaran secara online. Sosialisasi, kegiatan sosialiasi memberikan pengetahuan awal mengenai pemasaran secara online kepada masyarakat atau pelaku UMKM di desa Kayugiyang serta memberikan penyampaian rancangan program kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Pelaksanaan, tahap ini melakukan kegiatan pendaftaran akun google business bagi masyarakat yang memiliki usaha. Evaluasi, kegiatan ini dilakukan setelah menyelesaikan program kegiatan. Hasil – Masyarakat sangat antusias ditandai dengan banyak peserta yang hadir dalam pelatihan digital marketing untuk peningkatan UMKM di desa Kayugiyang, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo.
Penguatan Kelembagaan dan Pengelolaan Keuangan BUMDES Bumi Sejahtera Desa Surengede Kertek Wonosobo Romandhon, Romandhon; Hinawati, Titik; Fitriyani, Fella Yunita; Sabrina, Laila; Khabib, Ainun; Wulandari, Desy; Salma Musfiroh, Mila Fursiana; Astuti, Margi; Kusdayanti, Niken; Hikmah, Noor; Umami, Farida Riza
JEPEmas: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Bidang Ekonomi) Vol. 4 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : UP2MF Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Badan Usaha Milik Desa merupakan kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu fondasi perekonomian di Indonesia yang dimulai dari desa, BUMDES wajib dimilki oleh semua desa di Indonesia sebagai wujud nyata bahwa desa memilki motivasi untuk ikut berkontribusi dalam peningkatan perekonomian. Fenomena yang terjadi adalah banyak desa yang mendirikan BUMDES hanya sebagai formalitas saja untuk memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan pengabdian masyarakat kali ini yang dilakukan oleh gabungan dosen dari tiga program studi yaitu Manajemen, Akuntansi serta Perbankkan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sains Al Qur’an Jawa Tengah Di Wonosobo bermaksud untuk memberikan edukasi dan pemahaman mengenai arti penting BUMDES untuk desa serta arti penting pengelolaan BUMDES yang baik untuk keberlanjutan BUMDES dimasa yang akan datang. Penyertaan modal awal BUMDES yang berasal dari dana Alokasi Dana Desa sebesar 20 persen yang diberikan oleh pemerintah pusat untuk desa juga menjadi salah satu alasan kuat inisiasi pendirian BUMDES di desa Surengede kecamatan Kertek kabupaten Wonosobo.
Advanced management of separated root canal instruments in mandibular molars: bypass technique combined with diode laser irrigation: Penanganan lanjut dari instrumen saluran akar yang patah pada gigi molar rahang bawah: teknik bypass dikombinasikan dengan irigasi laser diode Hikmah, Noor; Lestari, Dian Bunga
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 3 (2025): Volume 14 Issue 3 December 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i3.1433

Abstract

The bypass technique allows for optimal cleaning and shaping of the root canal around the fractured instrument, thereby in-creasing the chances of successful treatment. A 25-year-old woman came to RSGMP Unhas complaining of a lump on her lo-wer right posterior gum and had undergone root canal treatment but it was not yet complete. Intraoral examination of tooth 46 revealed vitality test (-), percussion (-), and palpation (-) with a 3 mm diameter fistula on the lingual side. Radiographic exami-nation of the fractured instrument showed widening of the periodontal ligament at the apical third of the mesial root canal. The initial diagnosis was incomplete therapy accompanied by chronic apical abscess. The patient was scheduled for endodontic treatment using the bypass technique. Root canal preparation was performed using the bypass technique with K-files numbered 8 to 20, followed by preparation using Protaper Gold F4 and disinfection with 5.25% NaOCl, as well as activation using a diode laser for 20 seconds in 3 cycles. Ca(OH)2 was placed as a root canal medication for 2 weeks. Obturation was performed using the hydraulic condensation technique with a bioceramic sealer. The patient showed no symptoms and experienced stable im-provement. Monitoring for 3 months is ongoing. It is concluded that the careful application of the bypass technique, supported by a diode laser, provides a reliable and effective method for addressing the challenge of fractured endodontic instruments.
Menuju Era Elektrasi Rekontekstualisasi Bahasa dan Pelaporan dalam Perspektif Humanisme dan Ilmu Sosial Post-Strukturalis Hikmah, Noor; Setiawan, Agus
NOVARA: Nusantara Innovation and Educational Technology Vol. 1 No. 3 (2024): NOVARA: Nusantara Innovation and Educational Technology, Oktober 2024
Publisher : Berkah Smart Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64093/novara.v1i3.340

Abstract

Penelitian ini mengkaji rekontekstualisasi bahasa dan pelaporan dalam era elektrasi melalui perspektif humanisme dan ilmu sosial post-strukturalis. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur dan Critical Discourse Analysis (CDA), penelitian menganalisis 54 sumber ilmiah terkait transformasi bahasa digital, pelaporan, identitas, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elektrasi merupakan fenomena multidimensi yang mengubah bahasa dari linearitas tekstual menjadi multimodal, pelaporan dari dokumentatif menjadi performatif, dan identitas subjek menjadi konstruksi wacana dinamis yang bergantung pada visibilitas digital serta interaksi algoritmik. Elektrasi membuka peluang bagi humanisme digital melalui ekspresi kreatif, partisipasi sosial, dan otonomi subjek, namun juga menimbulkan tantangan etis, termasuk dehumanisasi, komodifikasi perhatian, dan tekanan psikologis akibat tuntutan hipervisibilitas. Fenomena ini menuntut pembacaan kritis terhadap relasi kuasa, produksi makna, dan konstruksi identitas dalam ekosistem digital. Selain itu, elektrasi memengaruhi lanskap sosial secara kolektif, menggeser otoritas pengetahuan dari institusi formal ke jaringan afektif dan algoritmik. Dengan refleksi kritis, praktik pelaporan digital dapat diarahkan untuk memperkuat martabat manusia, membangun narasi inklusif, dan menghasilkan makna yang humanis serta etis, sekaligus menghindarkan subjek digital dari reduksi menjadi objek algoritmik.