Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Adaptasi Budaya Pada Mahasiswi Di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Universitas Tanjungpura Pontianak susiana susiana; Donatianus BSEP; Indah Listyaningrum
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 3, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.155 KB) | DOI: 10.26418/balale.v3i2.53460

Abstract

Salah satu usaha manusia untuk tetap bertahan hidup dalam suatu lingkungan adalah dengan melakukan adaptasi terlebih ketika lingkungan tersebut dihuni oleh orang-orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda, dalam Penelitian ini menggunakan teori Cross Cultural Addaptation yang ditawarkan oleh Guddy Kunts dan Kim sehingga menunjukan Proses Adaptasi budaya Pada Mahasiswi Rumah Susun Sederhana Sewa Puteri Universitas Tanjungpura berlandaskan dua faktor adaptasi yaitu Personal Communication dan Predisposition hasil wawancara dengan para Informan menunjukan faktor dominan yaitu Predisposition karena keadaan dan pengalaman sebelumnya (kebiasaan budaya yang dimiliki semula) memengaruhi proses adaptasi yang sekarang. Sedangkan dalam proses adaptasi Mahasiswi Rusunawa mengalami atau melewati dua tantangan yaitu akulturasi dan asimilasi.  Akibat dari proses tersebut Mahasiswi Rusunawa berada dalam kondisi increased functional fitness yaitu pola tindakan yang menjadi kebiasaan karena dilakukan secara berulang dan membentuk kebiasaan baru. kondisi kedua yaitu intercultural identity bisa dikatakan sampai pada kondisi ini harus mengalami proses yang panjang dan sulit karena harus meminimalisir penggunaan kebiasaan budaya sebelumnya agar selaras dengan kebutuhan lingkungan setempat.
TRADISI TOLAK BALA MASYARAKAT SUKU DAYAK KENINJAL DI MASA PANDEMI COVID-19 (STUDI KASUS : DESA BATU NANTA, KECAMATAN BELIMBING, KABUPATEN MELAWI) meryn christine karina; Donatianus BSE Praptantya; Ignasia Debbye Batuallo
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 3, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.416 KB) | DOI: 10.26418/balale.v3i2.54981

Abstract

Penulisan skripsi ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai Tradisi Tolak Bala yang dilaksanakan selama pandemi covid-19 di Desa Batu Nanta Kabupaten Melawi. Latar belakang penelitian ini didasari oleh adanya sebagian masyarakat Suku Dayak Keninjal tepatnya generasi muda yang sudah muai acuh akan tradisi ini dan kurang memahami makna dan fungsi dari Tradisi Tolak Bala, diera modern masyarakat lebih banyak mementingkan kepentingan pribadi. Penulis juga membahas proses pelaksanaan dari Tradisi Tolak Bala yang ada di Desa Batu Nanta, serta membahas makna dan simbol-simbol yang terkandung dalam Tolak Bala.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang meliputi pengumpulan data dan menganalisis data. Pengumpulan data yang pertama adalah dengan mencarii dari beberbagai sumber dengan mewawancarai pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Selanjutnya adalah menganalisis hasil data yang didapat dari informan yang telah diwawancarai mengenai Tradisi Tolak Bala. Hasil pebelitian ini mendeskripsikan sejarah dari Tolak Bala, fungsi dan makna dari proses Tolak Bala, serta faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat (generasi muda) mulai meninggalkan Tradisi Tolak Bala. Dari hasil penelitian ini, penulis mendapatkan kesimpulan dari beberapa informan terkit alasan masyarakat mulai meninggalkan Tradisi ini adalah : (1) kurangnya rasa antusias masyarakat terutama generasi muda akan hal-hal kebudayaan yang menurut mereka masih bersifat tradisional. (2) Banyak masyarakat yang kurang paham maksud serta makna dari Tradisi Tolak Bala sehingga mereka tidak ingin mempelajari lebih dalam karena memang kurang pengetahuan diawal. (3) Masyarakat lebih mementingkan kepentingan pribadi, mereka mengaku bahwa kesibukan membuat mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk mengikuti Tradisi Tolak Bala.
Pecoten Tradisi Hajatan Pernikahan dengan Media Undangan Rokok Suku Madura Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya Masud Masud; Hasanah Hasanah; Donatianus BSE Praptantya
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 2, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (962.907 KB) | DOI: 10.26418/balale.v2i1.46245

Abstract

This research purpose was to explain madurese people understanding on the pecoten invitation. Pecoten tradition was a form of tradition that is still practiced by Madurese, in Pasak Piang Village.  This tradition is still believed to carry a message of symbolic to the recipient. Pecoten tradition contains the meaning of a call that it is obligatory for people who accept pecoten invitation to come and can contribute to fill many envelopes.This research used theory by Roland Barthes. Berthas theory used the terms of the process of denotation and connotation in the special meaning contained in a sign or picture. Connotation is associated with culture that is implied in the meaning contained therein. The researcher used the ethnographic method within qualitative approach. Data collection instruments used observation, interview and documentation. Research results indicated that pecoten tradition has its own meaning. In pecoten tradition, the expression of pecoten tradition was to convey information that they have been invited to attend, so people who have received an invitation are required to attend a wedding celebration.
Inai Cultural Dialectics: Indigenous Knowledge of Natural Dyes among the Iban Dayak as a Response to the Phenomenon of Fast Fashion Darmawan, Diaz Restu; Novianti, Nadia; Praptantya, Donatianus BSE.
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 3 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i3.2746

Abstract

Basic human needs, including clothing, have become commodities in the hands of industrial players, leading to a culture of consumption and negatively impacting the environment. The fast fashion industry presents numerous challenges requiring human-based solutions to reduce ecological damage. One solution is reintroducing past clothing practices and prioritizing environmentally friendly materials and techniques. Using natural materials with minimal environmental impact in clothing production is becoming more popular. One ecologically friendly material is natural dye, a traditional practice of the Dayak Iban community in Kapuas Hulu Regency, West Kalimantan. This article employs qualitative methods and literature studies to describe the natural dyeing process in the Dayak Iban community, emphasizing the continuation of tradition. The experience of researchers who have lived with indigenous communities in Menua Sadap village can provide valuable objective observation and interview data. In the Dayak Iban tradition, the makers of naturally dyed cloth are predominantly adult women, referred to as Inai. This article describes the local knowledge of the Inai regarding natural dyeing and how this process can solve the environmental damage caused by fast fashion. The indigenous peoples are highly concerned about their climate and environmental conditions as their livelihoods depend on the natural resources where they live. This was then strengthened by customary law so that environmental damage in Menua Sadap occurred less quickly than in urban areas, which often happens.
Balala’ Tahutn : Tradisi Meminta Perlindungan Kepada Roh Leluhur Dayak Kanayatn Anggrianti, Atika Mia; Praptantya, Donatianus BSE; Batuallo, Ignasia Debbye
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 4, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/balale.v4i1.57981

Abstract

The Balala' Tahutn tradition, is a prohibition ritual with an intention to ask for protection from the Jubata or ancestral spirits through rituals that are always conducted once a year. This study aimed to describe the process of the execution to the meaning of the symbols of the materials used in the ritual of the Balala' Tahutn tradition. This study used the qualitative research method using the ethnography approach. The results of this study showed that the Balala' Tahutn tradition is a tradition that is conducted so that the people in the Keranji Birah subdistrict are protected from calamity or danger. So, the purpose of this tradition is to ask for protection from the Jubata or the spirits of their ancestors. In the process of the Balala' Tahutn tradition, there were stages in its execution such as the preparation stage, the ritual stage, and the bajaga stage (watch). These stages were a series of the execution of the Balala' Tahutn tradition. When conducting the ritual, there were materials used to ask for or make offerings to summon ancestral spirits, the materials used each had a symbolic meaning, so what was used should not be arbitrary.
Tari Tradisional Caci Perantau Manggarai di Pontianak Jaya, Rosalia; Praptantya, Donatianus BSE; Hasanah, Hasanah
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 5, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/balale.v5i2.80853

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan asal usul Tarian Caci, bentuk asli tarian tradisional Caci, sejarah adanya Tarian Caci di Pontianak, dan perubahan tarian tradisional Caci pada Komunitas Perantau Manggarai di Pontianak. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori yang digunakan adalah teori dari Franz Boas tentang perubahan budaya. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah tarian tradisional Caci pada Komunitas Perantau Manggarai di Pontianak mengalami perubahan, baik dalam hal fungsinya, prosesi ritual dan pemaknaannya. Perubahan yang terjadi ini disebabkan karena kondisi geografis, sehingga fungsi tarian ini sebagai upacara adat dari ritual tolak bala. Akan tetapi jika dilihat dari bentuk gerakan atau personilnya masih sama seperti di Manggarai. Tarian ini juga sebagai sarana untuk menunjukkan jati diri orang Manggarai di samping fungsinya sebagai sarana upacara tolak bala, dan sebagai sarana hiburan. Makna Tarian Caci bukan hanya sebagai acara hiburan semata, tetapi melalui Tarian Caci ini sebagai bentuk rasa syukur Komunitas Manggarai di Pontianak atas keberhasilan yang mereka dapat di tanah rantau. Selain itu, dengan adanya pementasan Caci di Pontianak dapat menyatukan seluruh orang Manggarai di Kalimantan Barat.
Gastronomi Kue Bingke sebagai Makanan Khas Kota Pontianak Hikmat, Ismunandy Miftahul; Praptantya, Donatianus BSE; Rahmaniah, Syarifah Ema
Balale' : Jurnal Antropologi Vol 5, No 2 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/balale.v5i2.80331

Abstract

Gastronomi Kue Bingke sebagai makanan khas Kota Pontianak merupakan fenomena budaya yang menarik untuk diteliti. Kue Bingke adalah salah satu kue tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam tentang sejarah, proses pembuatan, variasi rasa, dan peran Kue Bingke dalam konteks gastronomi lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan para penjual dan pengrajin Kue Bingke, serta observasi langsung di tempat-tempat pembuatan dan penjualan kue tersebut. Data juga dikumpulkan melalui studi literatur untuk memahami konteks sejarah dan budaya Kue Bingke di Pontianak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kue Bingke memiliki sejarah panjang dan merupakan warisan budaya yang turun-temurun di Kota Pontianak. Proses pembuatannya yang sederhana namun membutuhkan keterampilan khusus telah menjadi bagian dari identitas kuliner lokal. Berbagai variasi rasa Kue Bingke, mulai dari tradisional hingga modern, juga memperkaya pengalaman gastronomi masyarakat Pontianak. Kue Bingke tidak hanya menjadi camilan atau hidangan pendamping, tetapi juga memiliki nilai simbolis dan sosial yang kuat dalam budaya masyarakat Pontianak. Kehadirannya dalam berbagai acara tradisional dan perayaan merupakan bukti akan peran pentingnya dalam memperkuat ikatan sosial dan identitas komunitas. Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang gastronomi Kue Bingke sebagai makanan khas Kota Pontianak serta kontribusinya dalam memperkaya warisan budaya dan menjaga keberlanjutan tradisi kuliner lokal.
Sistem Industrialisasi Perkebunan Sawit Pada Masyarakat Dayak Linoh di Desa Baya Betung Kabupaten Sintang Hartanto, Cornelius Kiki; Praptantya, Donatianus BSE; Bay, Galuh
Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 1 (2024): Jurnal Sosial dan Humaniora
Publisher : AAI Pengda Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industrialiasi perkebunan sawit di Provinsi Kalimantan Barat berada pada tahap yang tinggi pada setiap kabupaten dan kota. Kehadiran perkebunan sawit memiliki berbagai dampak spektrum bagi masyarakat khususnya masyarakat Dayak. Dalam penelitian ini, industrialisasi sawit memiliki dampak dan pengaruh yang cukup signifikan pada masyarakat Dayak Linoh di Desa Baya Betung. Masyarakat Dayak Linoh yang dahulu masih menjalankan ideologi tradisional dalam pengelolaan lahan, saat ini secara perlahan kehidupan tradisional itu menghilang. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini mengungkap tentang sistem industrialisasi perkebunan sawit yang mengubah kehidupan masyarakat Dayak Linoh. Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Selama 3 bulan penelitian ini berlangsung kami melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi secara langsung di lapangan, selain itu juga melakukan validasi data dengan sumber tulisan yang terkait. Hasilnya, bahwa denga nada industrilasi perkebunan di Desa Baya Betung beberapa hal yang dirasakan oleh masyarakat Dayak Linoh diantaranya, sumber hutan mereka saat ini sudah berubah menjadi area perkebunan sawit. Selanjutnya, dari sisi kehidupan sosial-ekonomi mereka hidup dengan konsumtif dengan bergantung pada hasil sawit. Kemudian, dalam pola sistem pekerjaan masyarakat Dayak Linoh diantaranya bekerja sebagai pekerja perusahaan, buruh harian lepas, dan beberapa penyadap karet, mereka sudah meninggalkan pola berladang. Selain itu, masyarakat Dayak Linoh juga rentan mengalami konflik dengan pihak perkebunan yang menyebabkan daerah Desa Baya Betung menjadi daerah rawan terjadi konflik. Industrialisasi perkebunan sawit menjadi aspek terjadinya perubahan sosial, budaya, dan ekonomi pada masyarakat Dayak Linoh.
Sistem Tenurial Dayak Bakati Sejarik Desa Rodaya Kabupaten Bengkayang Hartanto, Cornelius Kiki; Praptantya, Donatianus BSE; Ferdiyanto, Irfan
Jurnal Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2024): SAKAAI : Jurnal Sosial dan Humaniora
Publisher : AAI Pengda Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini tanah adat berada dalam skala kepunahan akibat dari maraknya aktivitas perkebunan. Kalimantan Barat sebagai salah satu Provinsi yang menjadi tempat proyek perkebunan kelapa sawit terbesar di Indonesia. Tulisan ini merupakan refleksi kami terhadap fenomena menipisnya tanah ulayat masyarakat adat, khsusunya masyarakat Dayak. Hasil penelitian ini, menunjukkan pandangan tentang tanah sebagai sesuatu hal yang penting dalam masyarakat Dayak Bakati Sejarik, Desa Rodaya, Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang. Tanah bagi masyarakat Dayak Bakati mengandung nilai budaya, social, dan ekonomi yang sudah diwariskan dari para generasi terdahulu. Bagi masyarakat Dayak Bakati Sejarik tanah juga hubungan dari komunalistik religiusitas. Hal ini berjalan sesuai dengan sistem adat yang sudah turun-temurun mereka percayai, hingga hari ini. Penelitian ini didesain menggunakan metode kualitatif dengan pendakatan etnografi, melalui wawancara mendalam kepada para tokoh adat dan kepala desa. Semua data yang terkumpul adalah bentuk dari kesaksian serta pengalaman hidup para informan penelitian ini. Hasil penelitian ini, masyarakat Dayak Bakati Sejarik di Desa Rodaya masih menunjukan sistem tenurial tradisional yang mereka lakukan untuk membuka lahan perladangan.