Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Analisis Pengaruh Penambahan Fiberglass Terhadap Karakteristik Marshall Pada Campuran Aspal AC-BC Berdasarkan Spesifikasi Bina Marga 2018 Subhan Mulyana; Eko Walujodjati; Salman Praditya
Jurnal Konstruksi Vol 24 No 1 (2026): Jurnal Konstruksi
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/konstruksi/v.24-1.3027

Abstract

Peningkatan kualitas perkerasan jalan menuntut inovasi material untuk mengoptimalkan kinerja campuran aspal. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan Fiberglass pada campuran Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC), yang merupakan lapisan krusial untuk distribusi beban lalu lintas. Fiberglass dipilih karena kekuatan tariknya yang tinggi, sehingga berpotensi meningkatkan stabilitas dan memperpanjang umur layanan jalan. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratorium sesuai spesifikasi Bina Marga 2018 Revisi 2. Penelitian diawali dengan penentuan Kadar Aspal Optimum (KAO) dari variasi 4,5% hingga 6,5%, yang menghasilkan KAO sebesar 6,25%. Selanjutnya, pengujian dilakukan dengan KAO tersebut dan variasi penambahan Fiberglass sebesar 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% dari berat agregat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fiberglass secara signifikan memengaruhi karakteristik Marshall. Nilai stabilitas maksimum mencapai 1431 kg pada kadar Fiberglass 1,0%. Namun, pada kadar 2,0%, campuran gagal memenuhi spesifikasi untuk parameter Flow (4,38 mm) dan VIM (5,47%). Berdasarkan analisis keseluruhan, kadar penambahan Fiberglass optimum ditetapkan sebesar 1,5%, yang memberikan nilai Marshall Quotient (MQ) tertinggi sebesar 477,43 kg/mm, mengindikasikan kekakuan dan ketahanan terbaik terhadap deformasi. Selain itu, uji durabilitas pada kadar optimum menunjukkan nilai Indeks Ketahanan Sisa (IKS) sebesar 90,42%, melebihi syarat minimum 90%, yang membuktikan ketahanan campuran terhadap kerusakan akibat air. Temuan ini mengimplikasikan bahwa penggunaan Fiberglass pada kadar 1,5% berpotensi menjadi solusi efektif dalam meningkatkan durabilitas dan memperpanjang umur layanan struktur perkerasan jalan raya.
Edukasi Pengelolaan Sampah Anorganik Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Desa Sirnajaya Pamella M Sri Rezeki; Athaya Zhafirah; Rachminawati; Eko Walujodjati; Anjas Ninda Hantari; Ida Farida; Rina Kurniawati; Sulwan Permana; Dendi Yogaswara; Nanang; Adi Susetyaningsih; Ismi Purnamasari; Reski Ramadhani; Yeni Pariyatin; Alan Wijaya; Ratu Mafas Sukmalaras; Subhan Mulyana; Agus Ismail; Cepi Wendiki Alamsyah; Ganjar Jojon Johari; Greece Maria Lawalata; Madi Hermadi; Rudy Febrijanto; Fitri Nuraeni; R Dini Destiani Siti Fatimah; Risma Liyana Ulfa; Sri Rahayu
Jurnal PkM MIFTEK Vol 7 No 1 (2026): Jurnal PkM Miftek
Publisher : Institut Teknologi Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33364/miftek/v.7-1.3416

Abstract

Inorganic waste management remains a significant environmental challenge in rural areas. This Community Service Program (PkM) aimed to evaluate the effectiveness of an educational intervention on inorganic waste management in improving the knowledge and attitudes of residents in Sirnajaya Village, Garut. The program was conducted on February 4, 2026, in collaboration with the Garut Zero Waste community using a pre-test and post-test design involving 18 participants, consisting of housewives, university lecturers, and community members. The assessment instrument covered five indicators: understanding the definition of inorganic waste, identifying examples of inorganic waste, recognizing the environmental impacts of improper waste disposal, attitudes toward waste segregation, and intentions to reduce the use of single-use plastics. The results showed that 83.3% of the participants already possessed a high level of baseline knowledge. Consequently, the improvement in post-education scores was relatively limited, with an average normalized gain (N-Gain) of 0.11. This finding reflects a common ceiling effect, rather than indicating the ineffectiveness of the educational program. Nevertheless, three out of eighteen participants with lower initial knowledge demonstrated substantial improvements, achieving moderate to high levels of learning gain. Overall, the program contributed primarily to strengthening participants' knowledge and behavioral intentions regarding inorganic waste management. However, measurable changes in actual household waste management practices require further medium-term observation and follow-up evaluation.