Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

RASIONALITAS PERDANA MENTERI BORIS JOHNSON MENYEPAKATI PERJANJIAN DAGANG INGGRIS-UNI EROPA PASCA REFERENDUM BREXIT Hafid Adim Pradana; Syelda Titania Sukarno Putri
Journal of International Relations Vol 2 No 2 (2022): Journal of International Relations (JoS)
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is structured to explain Boris Johnson's rational action in agreeing a post-Brexit trade agreement. Following the 2016 referendum and David Cameon's resignation as prime minister, Theresa May was replaced by Theresa May. During Theresa May's time, Brexit did not get resolved, so May resigned and was replaced by Boris Johnson. At the beginning of his term, Johnson attempted to resolve Brexit by any means including no-deal, however, it was so different when in 2020, Johnson actually took action to agree a post-Brexit trade agreement with the European Union after his Brexit proposal was rejected several times by the British parliament. Therefore, the author uses Rational Choice Theory. The data collection technique used in this study is a literature review from journals, official websites, and books which results that Johnson's rationality aims to save the British national economy and save the existence of Johnson's leadership as British prime minister. Johnson was then faced with the protracted Brexit issue so that he was faced with various policy alternatives from the European Union and the British Parliament. After considering various policy alternatives, Johnson succeeded in establishing a post-Brexit trade policy called the Withdrawal Agreement Bill in December 2020 which contained eight important points of trade cooperation. Keywords: Boris Johnson, Brexit, European Union, Rational Choice
Strategi Konfrontatif Rusia Melalui Kebijakan Operasi Militer Khusus ke Ukraina Hafid Adim Pradana; Ubaidah Adielah
Sospol : Jurnal Sosial Politik Vol. 8 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jurnalsospol.v8i2.23258

Abstract

This study aims to explain the background of the special military operation carried out by Russia against Ukraine. The special military operation launched by Russia against Ukraine made Russia accept various economic and political pressures from Western countries. The many negative impacts that Russia has had after the policy of a special military operation against Ukraine at first glance shows that Russia's actions are something that seems irrational. By using the theory of strategy in policy making formulated by John P. Lovell and the causal explanation method, this research results in the finding that the special military operations policy set by Vladimir Putin is a manifestation of the implementation of a confrontational Russian strategy based on two things, namely: the perception of threats to Ukraine's intention to join NATO and the superiority of Russia's capabilities over Ukraine.
Indonesia’s Identity and Norms in Response to the Nagorno-Karabakh Conflict in 2020: A Constructivism View Imam Achmad Baidlowi; Hafid Adim Pradana
Jurnal Studi Sosial dan Politik Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Studi Sosial dan Politik
Publisher : FISIP Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/jssp.v6i2.13027

Abstract

The Nagorno-Karabakh conflict escalated again in 2020, confronting between Azerbaijan and Armenia. As the main actors of the conflict, have claimed approximately 5000 victims in the fighting that took place in the border areas of each of these countries. At that time there were 130 Indonesian citizens in Azerbaijan and 2 Indonesian citizens in Armenia. This situation certainly demands the attitude of Indonesia. Moreover, at that time Indonesia was serving as a Non-Permanent Member of the UN Security Council. This study seeks to examine the influence of identity and norms in Indonesia's response to the Nagorno-Karabakh conflict in 2020. The researcher uses a constructivist approach to the significance of the construction and Indonesian identity and norms. Researchers also try to analyze and describe the relationship between national identity and international norms with forms of response and Indonesian foreign policy. By using qualitative methods sourced from interviews with the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia, as well as literature studies to enrich data analysis. Through this framework, the author concludes that there are several identities that encourage Indonesia to respond to the Nagorno-Karabakh conflict. Namely the identity of the Preambule of the 1945 Constitution, the identity of an Islamic state, the identity of a free and active foreign policy, and an identity with fellow Islamic countries in the OIC. In addition to identity, Indonesia's response is also driven by the norms of Peace and War, both unwritten and institutionalized in the United Nations.
Sentiments via #Abrahamaccords on the UAE and Israel Normalization Hafiz Fikrie; Hafid Adim Pradana; Dedik Fitra Suhermanto
Jurnal Komunikasi Global Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.456 KB) | DOI: 10.24815/jkg.v11i2.26697

Abstract

On 15 September 2020, the UAE normalized relations with Israel, which sparked controversy on Twitter with the #AbrahamAccords. By using Digital Movement Opinion (DMO) and  the concept of sentiment analysis, this study aims to determine the sentiment of public opinion that develops on Twitter media related to the normalization of this relationship. This study used a qualitative approach through the use of text mining methods using Natural language Toolkit (NLTK) as a platform in Python to analyze 490 tweets with #AbrahamAccords. The results of the study showed that the sentiment of public opinion that developed on social media Twitter was a positive sentiment with 75% of the 490 tweets. It also showed that views on the relationship between the UAE and Israel on social media Twitter via #AbrahamAccords tend to support this normalization. Some factors that influenced the positive sentiment were the role of the mass media and political actors. Pada 15 September 2020, UEA melakukan normalisasi hubungan dengan Israel yang yang mengundang kontroversi di Twitter dengan #AbrahamAccords. Dengan menggunakan Digital Movement Opinion (DMO) dan konsep sentiment analisis, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sentimen dari opini publik yang berkembang pada media Twitter terkait dengan normalisasi hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pemakaian metode teks mining dengan menggunakan Natural language Toolkit (NLTK) sebagai platform di Python guna menganalisis 490 tweets dengan #AbrahamAccords. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen dari opini publik yang berkembang di media sosial Twitter adalah sentimen positif dengan 75% dari 490 tweet yang di peroleh. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan terhadap hubungan UEA dengan Israel pada media sosial Twitter melalui #AbrahamAccords cenderung mendukung adanya normalisasi tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi sentiment positif yang terjadi ialah peran media massa dan aktor politik. 
Upaya Uni Eropa Dalam Mencegah Penyelundupan Migran Ilegal Melalui Action Plan 2021-2025 Muhammad Wildan Firdaus; Hafid Adim Pradanab; Mohd. Agoes Aufiyac
Jurnal PIR : Power in International Relations Vol 7, No 2 (2023): PIR Februari 2023
Publisher : Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/pir.7.2.2023.147 - 159

Abstract

Penyelundupan imigran gelap bukan fenomena baru dalam dunia kejahatan transnasional, kegiatan ini telah terjadi sudah sangat lama dengan praktek-praktek yang terus berkembang guna menghindari pengawasan. Para migran yang menggunakan jasa para penyelundup untuk dapat masuk ke Uni Eropa, memiliki motif dari segi ekonomi,dan sosial, akan tetapi dalam proses penyelundupannya, seringkali para migran mengalami pelecehan, kekerasan, pemerkosaan, sampai bahkan pembunuhan, sehingga menjadikan Uni Eropa mengelurkan kebijakan serta strategi baru dalam mengatasi masalah tersebut. Artikel ini berupaya menjelaskan upaya yang dilakukan oleh Uni Eropa, dimana dalam hal ini Uni Eropa menjadi instrumen yang digunakan oleh anggota-anggotanya untuk dapat menyelesaikan permasalahan migran, Uni Eropa juga sebagai forum diskusi serta menjembatani kerjasama antara anggotanya dengan negara mitra, dan yang terakhir yaitu Uni Eropa menjadi aktor independent tanpa adanya intervensi dari pihak luar. kebijakan keimigrasian yang dikeluarkan Uni Eropa dalam upaya pencegahan penyelundupan imigran gelap dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, kebijakan Uni Eropa kali ini lebih mengedepankan kerjasama banyak aktor dalam pergerakannya, hal ini dilakukan untuk mengefisiensi tindakan serta waktu dalam pengawasan dan penanganan penyelundup imigran. penulis menemukan bahwasannya ada tiga hal yang digunakan EU untuk dapat mengatasi permasalahan ini, pertama yaitu control perbatasan, deportasi dan kebijakan legalisasi, dan yang terakhir yaitu sanksi yang tepat pada para penyelundup migran. 
Alasan Kirgiztan Melakukan Kerjasama dengan Tiongkok dalam China-Kyrgyzstan-Uzbekistan Railway Project Indah Parwansa; Haryo Prasodjo; Hafid Adim Pradana
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 9 No 2 (2023): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Jurnal dan Publikasi Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pencerah.v9i2.2931

Abstract

Menggunakan pendekatan foreign policy analysis (FPA), tulisan ini menjelaskan mengenai faktor yang menjadi alasan Kirgiztan akhirnya mau bekerjasama dengan Tiongkok dalam pembangunan kereta api Tiongkok-Kyrgyzstan-Uzbekistan yang telah direncanakan sejak lama. Kirgiztan bekerjasama dengan Tiongkok karena faktor domestiknya yang merupakan negara kecil dengan kemampuan ekonomi rendah dan adanya sistem internasional sebagai faktor eksternal dalam pengambilan kebijakan luar negeri yang dilakukan Kirgiztan dengan memperhatikan potensi ekonomi yang dimiliki Tiongkok serta kekuatan Tiongkok yang tidak dapat diremehkan. Proyek kerjasama ini menjadi penting bagi Kirgiztan untuk menegaskan komitmenya dalam memperbaiki perekonomiannya, mengasah keterampilan diplomatiknya, menentukan kebijakan luar negerinya sendiri tanpa ada pengaruh yang menghegemoni karena merupakan negara pecahan Uni Soviet. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksplanatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka dari media internet, jurnal, berita, buku, atau situs resmi lainnya terkait dengan judul yang diangkat.
Pemanfaatan Hukum Internasional oleh Pemerintah Denmark sebagai Upaya Perlindungan Tradisi Grindadrap di Kepulauan Faroe Ciara Citra Devy Framestica; Hafid Adim Pradana; Najamuddin Khairur Rijal
Indonesian Journal of Peace and Security Studies (IJPSS) Vol. 4 No. 2 (2022): Indonesian Journal of Peace and Security Studies
Publisher : Department of International Relations, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ijpss.v4i2.107

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan pemanfaatan hukum internasional oleh Denmark guna mempertahankan tradisi Grindadrap di Kepulauan Faroe. Grindadrap sendiri merupakan tradisi perburuan paus pilot yang diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat adat di Kepulauan Faroe sejak tahun 1458. Tradisi Grindadrap mulai terekspos pada dekade 1980an ketika sejumlah organisasi lingkungan mulai melakukan protes atas praktek perburuan paus tersebut melalui upaya sabotase dan pemboikotan terhadap produk-produk dari Kepulauan Faroe maupun Denmark. Meskipun tradisi Grindadrap banyak mendapatkan kecaman dari lingkungan internasional, pemerintah Denmark sebagai negara induk dari Kepulauan Faroe tetap berupaya mempertahankan tradisi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan studi pustaka sebagai teknik pengumpulan data. Dengan menggunakan politik hukum internasional sebagai kerangka konseptual, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa upaya Denmark dalam mempertahankan tradisi Grindadrap di Kepulauan Faroe dilakukan dengan cara meratifikasi UNDRIP dan ICESCR.
Keberpihakan Belarusia Terhadap Rusia Dalam Perang Rusia-Ukraina Tahun 2022 Leny Suviya Tantri; Hafid Adim Pradana
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.39742

Abstract

Sejak runtuhnya Uni Soviet, Belarusia bergantung pada proyek integrasi regional pasca-Soviet yang digagas oleh Rusia. Rusia secara aktif memberikan bantuan kepada Belarusia mulai dari bantuan ekonomi, pertahanan, energi, politik hingga kesejahteraan. Namun, bantuan yang diberikan Rusia pada akhirnya membuat cengkeraman Rusia terhadap Belarusia semakin menguat dan memudahkan Rusia dalam mengintervensi kebijakan nasional Belarusia. Tak jarang situasi ini membuat keduanya terlibat ketegangan. Namun, pada Perang Rusia-Ukraina Tahun 2022 Belarusia justru mengambil sikap dengan memberikan dukungan kepada Rusia berupa perizinan bagi pasukan militer Rusia untuk menyebrang melalui perbatasan Utara Belarusia ke Ukraina dan penggunaan bandaranya sebagai tempat lepas landas pesawat aggressor. Belarusia kemudian mendapat kecaman dan sanksi dari Uni Eropa karena membantu Rusia dalam melancarkan serangan terhadap Ukraina. Bahkan Belarusia disebut sebagai co-agressor dalam perang tersebut. Menanggapi hal ini, Belarusia menyangkal tuduhan tersebut tanpa memberikan aksi nyata untuk mengecam tindakan agresif Rusia terhadap Ukraina. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dan mengelaborasi kepentingan serta rasionalitas dukungan Belarusia terhadap Rusia menggunakan metode penelitian kualitatif. Kata Kunci: Belarusia; Rusia; Ukraina; Perang Rusia-Ukraina; Rasional
Pemberdayaan UMKM Perempuan Indonesia Melalui Program Inkubasi Bisnis W20 Berbasis Digital tahun 2022 Rezky Wahyudi; Hafid Adim Pradana
PAMARENDA : Public Administration and Government Journal Vol 3, No 1 (2023): Edisi Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Halu O

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/pamarenda.v3i1.41685

Abstract

Penelitian ini membahas tentang program pemberdayaan perempuan hasil kolaborasi Women 20, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemenpppa) dan XL Axiata selama Indonesia menjabat menjadi presidensi G20 tahun 2022. Program pemberdayaan perempuan ini bernama program inkubasi bisnis W20 berbasis digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang penting sinergi antara pemberdayaan perempuan dan literasi digital. Peneltian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik library research dengan pendekatan triangualsi sumber, yaitu sebuah pendekatan yang dilakukan guna menguji keabsahan data dengan cara deep research pada sumber-sumber pustaka lainnya guna mendapatkan hasil yang valid. Data-data ini kemudian peneliti relevansikan dengan konsep pemberdayaan perempuan dan konsep literasi digital. Berdasarkan data-data yang peneliti dapatkan, program inkubasi bisnis W20 diimplementasikan melalui pendampingaan bisnis, akses modal, pemasaran produk dan segala hal yang dapat bermanfaat bagi produktivitas perempuan pelaku UMKM di Indonesia. Program pemberian modal dan program pemberdayaan UMKM perempuan ini akan terus berkesinambungan dan dapat diakses melalui halam web sisternet.co.id Kata kunci : Inkubasi Bisnis W20, literasi digital, pemberdayaan perempuan, UMKM
Sentiments via #Abrahamaccords on the UAE and Israel Normalization Hafiz Fikrie; Hafid Adim Pradana; Dedik Fitra Suhermanto
Jurnal Komunikasi Global Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkg.v11i2.26697

Abstract

On 15 September 2020, the UAE normalized relations with Israel, which sparked controversy on Twitter with the #AbrahamAccords. By using Digital Movement Opinion (DMO) and  the concept of sentiment analysis, this study aims to determine the sentiment of public opinion that develops on Twitter media related to the normalization of this relationship. This study used a qualitative approach through the use of text mining methods using Natural language Toolkit (NLTK) as a platform in Python to analyze 490 tweets with #AbrahamAccords. The results of the study showed that the sentiment of public opinion that developed on social media Twitter was a positive sentiment with 75% of the 490 tweets. It also showed that views on the relationship between the UAE and Israel on social media Twitter via #AbrahamAccords tend to support this normalization. Some factors that influenced the positive sentiment were the role of the mass media and political actors. Pada 15 September 2020, UEA melakukan normalisasi hubungan dengan Israel yang yang mengundang kontroversi di Twitter dengan #AbrahamAccords. Dengan menggunakan Digital Movement Opinion (DMO) dan konsep sentiment analisis, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sentimen dari opini publik yang berkembang pada media Twitter terkait dengan normalisasi hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pemakaian metode teks mining dengan menggunakan Natural language Toolkit (NLTK) sebagai platform di Python guna menganalisis 490 tweets dengan #AbrahamAccords. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentimen dari opini publik yang berkembang di media sosial Twitter adalah sentimen positif dengan 75% dari 490 tweet yang di peroleh. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan terhadap hubungan UEA dengan Israel pada media sosial Twitter melalui #AbrahamAccords cenderung mendukung adanya normalisasi tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi sentiment positif yang terjadi ialah peran media massa dan aktor politik.