Erlina Ambarwati
Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PENGARUH SKARIFIKASI DAN LAMA PERENDAMAN AIR TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH DAN PERTUMBUHAN BIBIT SAWO (Manilkara zapota (L.) van Royen) Erwina Yuni Hastuti; Setyastuti Purwanti; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.858 KB) | DOI: 10.22146/veg.9271

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan cara yang efektif guna mengatasi dormansi biji keras pada benih sawo (Manilkara zapota (L.) van Royen). Penelitian dilaksanakan di Monggang, Pendowoharjo, Sewon, Bantul pada bulan November 2013 sampai Mei 2014. Untuk menghilangkan dormansi bijinya,  perlakuan  yang  digunakan  adalah  dikikir  dengan  amplas,  dipotong dengan pemotong kuku, direndam dalam air selama 24 jam, direndam dalam air selama 48 jam, direndam dalam air selama 72 jam, dan tanpa diperlakukan (kontrol). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan empat ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) pada level 5%, dan dilanjutkan   dengan uji jarak berganda Duncan’s (DMRT) pada level 5% apabila hasil yang diperoleh berbeda nyata antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih sawo dalam air selama 24 jam dapat mengatasi sifat kulit keras benih dengan meningkatkan gaya berkecambah benih hingga 93%. Pertumbuhan bibit sawo menunjukkan hasil yang sama antara benih yang diskarifikasi dan direndam dalam air maupun benih yang tidak diperlakukan. Benih sawo yang diskarifikasi dengan pemotong kuku menunjukkan  gaya  berkecambah  64%  dan  pertumbuhan  bibit  yang  paling rendah.
Pengujian Lima Pupuk Organik Cair Komersial dan Pupuk NPK pada Jagung (Zea mays L.) Arif Meftah Hidayat; Erlina Ambarwati; Sri Wedhastri; Panjisakti Basunanda
Vegetalika Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.268 KB) | DOI: 10.22146/veg.23938

Abstract

Berbagai produk pupuk organik cair yang dipasarkan memiliki kandungan bahan yang berbeda yang perlu diuji efektivitasnya. Uji efektivitas dilakukan untuk mendapatkan macam pupuk organik cair yang sesuai untuk jagung serta mendapatkan kombinasi takaran pupuk anorganik yang paling sesuai dengan berbagai produk pupuk organik cair untuk mendukung pertumbuhan dan hasil jagung. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-September 2014 di Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian (KP4) UGM. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap untuk menguji macam pupuk organik cair yaitu BMN, BMF, NS, BN, dan BST serta takaran pupuk anorganik yang terdiri atas 0%, 35%, dan 75% dari rekomendasi dinas pertanian. Kontrol merupakan takaran pupuk anorganik 100%, yaitu urea 300 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha. Data pertumbuhan dan komponen hasil  dianalisis varian menurut kaidah rancangan acak kelompok lengkap dilanjutkan dengan uji HSD dengan taraf kepercayaan masing-masing 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa macam pupuk organik cair memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil jagung tetapi tidak dapat meningkatkan pertumbuahan dan hasil jagung. Takaran pupuk anorganik 75% dan 100% rekomendasi nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 25% dan meningkatkan produktivitas sebesar 50% jika dibandingkan tanpa pupuk anorganik. Pupuk organik cair dapat menghemat penggunaan pupuk anorganik sebesar 25% terhadap pertumbuhan dan hasil jagung (Zea mays L.).
Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L.) pada beberapa Takaran Kompos Jerami dan Zeolit Fatchul Qorib ‘Ali Ma’sum; Budiastuti Kurniasih; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.375 KB) | DOI: 10.22146/veg.25348

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos jerami dan zeolit terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah serta mendapatkan dosis kompos jerami dan zeolit yang optimum untuk pertumbuhan dan hasil padi sawah. Penelitian ini dilakukan di lahan sawah Desa Blanceran, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah mulai bulan Mei sampai September 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan tiga blok sebagai ulangan. Faktor pertama yaitu kompos jerami dengan takaran 0 ton/ha, 2,5 ton/ha, dan 5 ton/ha. Faktor kedua yaitu zeolit dengan takaran 0 kg/ha, 200 kg/ha, dan 400 kg/ha. Kompos jerami 5 ton/ha dapat meningkatkan bobot segar, bobot kering, dan indeks luas daun pada umur 60 hspt, serta dapat pula meningkatkan laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan tajuk pada umur 30 – 60 hspt. Zeolit dapat meningkatkan laju asimilasi bersih dan laju pertumbuhan tajuk padi pada umur 30 – 60 hspt. Baik kompos jerami maupun zeolit yang diberikan tidak dapat meningkatkan hasil gabah. Belum didapatkan takaran kompos jerami dan zeolit yang optimum untuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil padi.
Pertumbuhan dan Hasil Sembilan Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) yang Ditanam Bersamaan dengan Jagung (Zea mays L.) dalam Satu Lubang Tanam Fahmi Anugrah Tirta; Didik Indradewa; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.497 KB) | DOI: 10.22146/veg.25982

Abstract

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengukur pertumbuhan dan hasil dari kedelai (Glycine max (L.) Merill) yang ditanam pada beberapa jumlah populasi dalam satu lubang tanam bersama jagung (Zea mays L.). Konsep tersebut diadaptasi dari kebiasaan petani di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Terdapat sembilan kultivar kedelai yang diujicobakan dalam penelitian ini yaitu kedelai ‘Anjasmara’, ‘Burangrang’, ‘Gema’, ‘Gepak Kuning’, ‘Grobogan’, ‘Kaba’, ‘Panderman’, ‘Sinabung’, dan ‘Wilis’. Perlakuan yang diberikan terdiri dari satu kedelai dan satu jagung, dua kedelai dan satu jagung, tiga kedelai dan satu jagung, serta empat kedelai dan satu jagung dalam satu lubang tanam. Penelitian telah dilaksanakan di Kebun Tridharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Banguntapan, Yogyakarta mulai bulan Agustus 2015-November 2015. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dua faktor, dengan tiga ulangan. Data pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA), apabila terdapat beda nyata dilakukan uji lanjut jarak berganda Duncan taraf nyata 5% guna mengetahui perbandingan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penanaman kedelai dan jagung dalam satu lubang tanam mempengaruhi tinggi tanaman, diameter batang, panjang akar, diameter akar, dan bobot kering akar. Kedelai ‘Sinabung’ tetap memberikan hasil per lubang tinggi meskipun ditanam mulai dari satu tanaman kedelai dan satu jagung hingga empat tanaman kedelai dan satu jagung serta memiliki hasil per tanaman yang relatif stabil yaitu sebesar 3,16−4,17 g per tanaman.
Pengaruh Pengurangan Jumlah Cabang dan Jumlah Buah terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tomat (Solanum Lycopersicum L.) Risda Hapsari; Didik Indradewa; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.332 KB) | DOI: 10.22146/veg.28016

Abstract

Tomat ’Servo’ merupakan varietas tomat unggul, tetapi memiliki bobot buah yang tidaksesuai dengan permintaan konsumen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruhjumlah cabang terhadap pertumbuhan tanaman, pengaruh jumlah cabang dan jumlahbuah terhadap komponen hasil dan hasil buah tomat dan mendapatkan jumlah cabangdan jumlah buah yang memberikan hasil dan ukuran buah maksimal. Penelitian lapangandilakukan dengan rancangan faktorial 3 x 3+1. Faktor pertama jumlah cabang yangdipelihara terdiri dari tiga aras : 1 cabang, 2 cabang dan 3 cabang. Faktor ke dua jumlahbuah yang dipelihara terdiri dari tiga aras : 20 buah, 15 buah dan 10 buah. Kontroldibiarkan tumbuh alami. Tata letak acak kelompok dengan tiga blok sebagai ulangan. Datayang diperoleh dianalisis varian dengan taraf kepercayaan yang digunakan yaitu 95%untuk menyatakan ada perbedaan yang signifikan. Apabila perlakuan menunjukkanperbedaan yang nyata, dilanjutkan dengan perbandingan antar perlakuan dengan ujiTukey (HSD) pada taraf 5%. Hasil penelitian memberikan informasi pengurangan jumlahcabang memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan tanaman; pengurangan jumlah buah dapat meningkatkan komponen hasil buah tomat; pengurangan jumlah buahmenjadi 4 buah per tandan dapat meningkatkan bobot buah tomat ’Servo’ hingga 93,81 g.
Alternatif Pohon Buah untuk Penghijauan Permukiman Perkotaan Berdasarkan Pendugaan Tingkat Keindahan dan Pendapat Masyarakat di Kelurahan Rejowinangun, Yogyakarta Cut Annisa Nabila; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Budiastuti Kurniasih; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.412 KB) | DOI: 10.22146/veg.31978

Abstract

Minat masyarakat Permukiman Rejowinangun Yogyakarta terhadap penanaman pohon buah untuk alternatif tanaman penghijauan, sebagai bagian dari pengembangan lanskap produktif, cukup tinggi. Penelitian bertujuan mengetahui pendapat masyarakat mengenai penghijauan permukiman perkotaan dengan pohon buah serta mengetahui tingkat keindahan alternatif pohon buah. Metode penelitian dilakukan dengan metode survei pengambilan data secara stratified purposive sampling dan analisis Scenic Beauty Estimation (SBE). Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Rejowinangun Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar masyarakat setuju terhadap pelaksanaan penghijauan dengan pohon buah dengan memperhatikan teknis penanaman pohon. Pengetahuan masyarakat Rejowinangun terhadap buah lokal Yogyakarta di sekitar jalan sekunder sebesar 11,11%, jalan tersier sebesar 21,48%, dan jalan kuarter sebesar 20%. Alternatif pohon buah untuk penghijauan jalan dengan nilai SBE tertinggi yaitu jambu air (Eugenia aquea; 67,61), kepel (Stelechocarpus burahol; 67,22), dan jambu dersono (Syzygium malaccense; 61,13).
Evaluasi Berbagai Genotipe Jagung (Zea mays L.) pada Dua Macam Pemberian Nitrogen Reynaldo Christian; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.476 KB) | DOI: 10.22146/veg.33139

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman penting dengan tujuan utama dari budidaya untuk menghasilkan potensi hasil panen. Karakter pada tanaman yang memiliki nilai ekonomis biasanya dipengaruhi oleh karakter poligenik yang kompleks, dan menunjukan pengaruh yang tinggi dari lingkungan. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengevaluasi performa berbagai jenis kultivar pada lingkungan dengan bermacam pemberian N. Penelitian dilaksanakan di dua macam lahan di daerah Bantul, Yogyakarta dengan karakter lahan berpasir di Srandakan dan lahan sawah di Sewon dengan dua macam pemberian pupuk N (dengan pupuk N dan tanpa pupuk N). Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan Mei 2017 hingga pertengahan bulan September 2017. Dipilih tiga kultivar jagung hibrida komersil (‘Pioneer-35’, ‘Bisi 816’, ‘Bima 20’), tiga kultivar komposit (‘Srikandi’, ‘Sukmaraga’, dan ‘Lamuru’) dan satu kultivar komposit jagung lokal (jagung putih). Hasil menunjukkan kultivar hibrida memiliki performa yang baik pada lingkungan dengan pemberian N. Kultivar OP memiliki performa sedang pada seluruh lingkungan dan kultivar komposit lokal memiliki performa rendah di seluruh lingkungan.
Stabilitas Hasil dan Ketahanan Lima Genotipe Melon (Cucumis melo L.) yang Dibudidayakan di Tiga Ketinggian Tempat Muhammad Iqbal; Erlina Ambarwati; Suyadi Mitrowihardjo
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.003 KB) | DOI: 10.22146/veg.35771

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui stabilitas hasil lima varietas melon yang diuji di tiga ketinggian tempat dan untuk mendapatkan varietas harapan melon yang hasil dan stabilitasnya unggul di berbagai ketinggian tempat tanam. Penelitian yang menguji lima varietas melon, yaitu ‘Golden Aroma’ dan ‘Ladika’ (varietas pembanding), King Melon, Bravo dan M19 (varietas harapan) di tiga ketinggian tempat, yaitu Jombang (dataran rendah 52 m dpl), Jiput (dataran sedang 460 m dpl), dan Bojong (dataran tinggi 776 m dpl) menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan empat ulangan (blok). Penelitian ini dilakukan selama musim hujan di bulan Oktober 2016-Januari 2017 (di Jombang), November 2016-Februari 2017 (di Jiput), dan Maret 2017-Juni 2017 (di Bojong). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas yang memiliki daya hasil per hektar dan ketahanan genotipe terhadap lingkungan melebihi rerata umumnya adalah varietas harapan King Melon dan Bravo, meski hasil keduanya tidak  stabil  di  tiga  ketinggian  tempat.  Rerata  daya  hasil per hektar untuk King Melon (19,33 ton/ha) dan Bravo (18,21 ton/ha) dan ketahanan genotipe terhadap lingkungan untuk King Melon (65,42%) dan Bravo (56,25%) lebih unggul dari varietas pembanding ‘Golden Aroma’ dan ‘Ladika’ serta mampu berkompetisi dengan hasil melon tingkat nasional tahun 2013 (17,71 ton/ha) dan tahun 2014 (18,37 ton/ha).
Karakter Morfologi Akar dan Hasil Padi Ratun (Oryza sativa L.) pada Perbedaan Waktu dan Tinggi Pemotongan Tunggul Sisa Panen Ananta Bayu Pratama; Didik Indradewa; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.37170

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu dan tinggi pemotongan tunggul sisa panen yang optimal untuk mendukung pertumbuhan akar sehingga diperoleh daya hasil padi ratun maksimal. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Petak utama berupa waktu pemotongan tunggul, terdiri dari 3 taraf yaitu: saat panen (0 HSP), 7 hari setelah panen (7 HSP) dan 14 hari setelah panen (14 HSP). Anak petak berupa tinggi pemotongan tunggul, terdiri dari 4 taraf yaitu: 4 cm, 14 cm, 24 cm dan 34 cm. Variabel yang diamati berupa variabel morfologi akar dan hasil padi ratun. Data yang diperoleh dianalisis varians (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal. Hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberi informasi bahwa waktu pemotongan tunggul sisa panen berpengaruh terhadap diameter akar dengan waktu pemotongan terbaik 10 HSP yang menghasilkan diameter sebesar 0,89 mm, namun tidak berpengaruh nyata terhadap sifat perakaran lainnya. Pemotongan tunggul setinggi 4 cm di atas permukaan tanah menghasilkan pertumbuhan akar baru yang lebih baik dan ukuran diameter akar yang lebih besar. Padi ratun yang memiiki pertumbuhan akar yang baik dan diameter akar yang lebih besar memiliki lama fase vegetatif yang lebih panjang (44 hari) dan produktivitas gabah yang lebih tinggi (3,39 – 3,54 ton/ha).
Karakter Morfologi Akar dan Hasil Padi Ratun (Oryza sativa L.) pada Perbedaan Waktu dan Tinggi Pemotongan Tunggul Sisa Panen Ananta Bayu Pratama; Didik Indradewa; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 7, No 4 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.859 KB) | DOI: 10.22146/veg.41150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu dan tinggi pemotongan tunggul sisa panen yang optimal untuk mendukung pertumbuhan akar sehingga diperoleh daya hasil padi ratun maksimal. Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Percobaan lapangan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap split plot 2 faktor dan 3 blok sebagai ulangan.  Petak utama berupa waktu pemotongan tunggul, terdiri dari 3 taraf yaitu: saat panen (0 HSP), 7 hari setelah panen (7 HSP) dan 14 hari setelah panen (14 HSP). Anak petak berupa tinggi pemotongan tunggul, terdiri dari 4 taraf yaitu: 4 cm, 14 cm, 24 cm dan 34 cm. Variabel yang diamati berupa variabel morfologi akar dan hasil padi ratun. Data yang diperoleh dianalisis varians (ANOVA) dengan taraf kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji polinomial orthogonal. Hubungan antar variabel pengamatan ditentukan dengan analisis korelasi. Hasil penelitian memberi informasi bahwa waktu pemotongan tunggul sisa panen hanya berpengaruh nyata terhadap diameter akar dengan waktu pemotongan terbaik 10 HSP yang menghasilkan diameter terbesar 0,89 mm, ketika dilakukan pemotongan tunggul setinggi 4 cm di atas permukaan tanah, namun tidak berpengaruh nyata terhadap sifat perakaran lainnya. Fase vegetatif yang paling lama (44 hari) dan  produktivitas gabah yang paling tinggi (3,39 – 3,54 ton/ha) diperoleh bila tunggul dipotong setinggi 4 cm di atas permukaan tanah, namun perbedaan waktu pemotongan tunggul tidak berpengaruh nyata terhadap kedua variabel tersebut.