Claim Missing Document
Check
Articles

Efektifitas Analgesi Blok Transversus Abdominis Plane (TAP) Bupivacaine 0,25% dan Epinefrine 1 : 200.000 dengan Kombinasi Obat Anti Inflamasi Non Steroid (Studi Pasca Laparoskopi Ginekologi) Akhsaniati, Novi Dwi; Wisudarti, Calcarina Fitriani Retno; Suryono, Bambang
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 2 (2017): Volume 4 Number 2 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i2.7292

Abstract

Latar belakang : Berbagai cara digunakan untuk mengatasi nyeri pasca laparoskopi, di antaranya dengan opioid intraavena, obat antiinflamasi nonsteroid, pemberian lokal anestesi dengan instilasi ataupun blok TAP.Tujuan : Mengetahui efektifitas analgetik blok transversus abdominis plane bupivakaine 0,25% 20 cc di tiap sisi dan epinefrine 1 : 200.000 dikombinasi dengan ketorolac 30 mg intravena sebagai analgetik pasca laparoskopi ginekologi.Metode : Rancangan penelitian adalah Single Blind Randomized Control Trial. Sebanyak 42 pasien status fisik ASA I-II yang akan menjalani operasi laparoskopi ginekologi dengan anestesi umum yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi kelompok perlakuan dan kontrol. Kelompok perlakuan diberikan blok transversus abdominis plane 20 cc bupivakaine 0,25 % dan adjuvan epinefrin 1 : 200.0000 dan pasca operasi ketorolac 30 mg intravena. Kelompok kontrol mendapatkan analgetik ketorolac 30 mg intravena. Nyeri pasca operasi diukur dengan Numeric Rating Scale dan total rescue analgetik fentanyl selama 24 jam pasca operasi.Hasil : Numeric rating scale pada kelompok kontrol pada jam ke 0,6,12 lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (p<0.05). Total rescue fentanyl lebih rendah pada kelompok perlakuan sampai denganjam ke 6 pasca operasi (p<0.05).Kesimpulan : Blok Transversus Abdominis Plane dengan ketorolac 30 mg intravena mempunyai efek analgetik yang lebih baik untuk pasca laparoskopi ginekologi.
Perbandingan Perubahan Nilai Rate Pressure Product pada Laringointubasi Endotrakea antara Premedikasi Pregabalin 225 mg dengan Clonidin 0,15 mg Per Oral Mulyono; Suryono, Bambang; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 4 No 3 (2017): Volume 4 Number 3 (2017)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v4i3.7300

Abstract

Latar belakang: respon hemodinamik terhadap laringointubasi merupakan stimuli noksius kuat yang dapat ditumpulkan dengan premedikasi yang tepat. Beberapa obat telah digunakan sebagai premedikasi. Penggunaan premedikasi pregabalin dan clonidin telah dilaporkan dapat menumpulkan respon hemodinamik saat laringointubasi endotrakea.Tujuan penelitian: untuk membandingkan perubahan nilai rate pressure product pada tindakan laringointubasi endotrakea antara premedikasi pregabalin 225 mg dengan clonidin 0,15 mg per oral.Metode penelitian: menggunakan percobaan acak terkontrol dengan pembutaan ganda (double blind randomized controlled trial), dengan jumlah subyek penelitian sebanyak 78 pasien, status fisik ASA I danII yang direncanakan dengan pembedahan elektif dengan anestesi umum di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta. Subyek dibagi menjadi dua kelompok masing–masing 39 pasien. Kelompok P (kelompok yang mendapatkan pregabalin 225 mg) dan kelompok C (kelompok yang mendapatkan clonidin 0,15 mg per oral). Semua pasien diberi preoksigenasi dengan oksigen 100% selama 3 menit, fentanil 1 μg/kg iv, kemudian diinduksi dengan propofol 1,5 mg/kgbb iv dan diberi rocuronium 0,6 mg/kgbb iv. Pengukuran dilakukan terhadap tekanan darah, laju denyut jantung, dan rate pressure product sebelum premedikasi, setelah premedikasi, induksi, dan larigointubasi pada menit ke-1, 3, 5 dan 10. Nilai rate pressure product (RPP) diukur dengan mengalikan tekanan darah sistolik dan laju jantung. Data numerik dianalisis menggunakan paired sample t-test (data berpasangan), dan uji independent t-test (data tidak berpasangan). Sedangkan variabel nominal, digunakan uji chi square. Nilai p < 0,05 secara statistik dinyatakan bermakna dengan tingkat kepercayaan95%.Hasil penelitian: terdapat berbedaan signifikan secara statistik perubahan nilai rate pressure product (RPP) saat menit 90 setelah premedikasi, setelah induksi, dan menit ke-1, 3, 5, 10 setelah intubasi (p<0,05) antara kedua kelompok, dimana pregabalin menunjukkan perubahan nilai RPP yang lebih rendah dibanding clonidin. Secara klinis tidak ada perbedaan perubahan nilai rate pressure product (RPP) saat menit 90 setelah premedikasi, setelah induksi, menit ke-1, 3, dan 10 setelah intubasi, kecuali menit ke-5 setelah intubasi dimana kelompok pregabalin menunjukkan penurunan 13,3% dibanding 17,0% pada clonidin.Kesimpulan: pada penelitian ini perubahan nilai rate pressure product pada tindakan laringointubasi endotrakea dengan premedikasi pregabalin 225 mg per oral lebih rendah dibanding dengan premedikasi clonidin 0,15 mg per oral.
Manajemen Anestesi pada Kehamilan Sistemik Lupus Eritematosus Nuryawan, Iwan; Suryono, Bambang; Rahardjo, Sri
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 5 No 3 (2018): Volume 5 Number 3 (2018)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v5i3.7345

Abstract

Systemic lupus erythematosus (SLE) is an autoimmune, multisystem disease, which involves complex pathogenetic mechanisms that can occur at all ages, characterized by the presence of direct autoantibodies against the core antigen. Management of lupus in women ideally begins before pregnancy occurs. Adequate analgesia can overcome the response of the organ system due to pain. Regional anesthesia techniques are very popular pharmacological techniques and become the gold standard because they provide optimal analgesia during labor with minimal side effects on the mother and fetus when compared with systemic or inhalation analgesia.
Manajemen Anestesi pada Pasien Sectio Caesarea dengan Preeklamsia Berat dan Edema Pulmo Rahardjo, Sri; Suryono, Bambang; Rudita, Muhammad
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 10 No 3 (2022)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v10i3.7379

Abstract

Perawatan multi modal yang memastikan oksigenasi optimal dan hemodinamik stabil denganjumlah cairan minimal tampaknya bisa dibenarkan. Dengan tidak adanya pemahaman lengkap tentang patogenesis edema pulmo, untuk mengurangi komplikasi ibu dan janin, manajemen terutama didasarkan pada pengobatan gejala dan tanda-tanda efek sekunder preeklamsia. Manajemen pasien ini idealnya harus multidisiplin dan ahli anestesi harusterlibat dalam perawatan pasien sejak tahap awal. Asesmen awal yang cermat oleh ahlianestesi direkomendasikan untuk semua pasien dengan preeklamsia, terutama dalam kasus yang berat. Kecuali ada kontraindikasi yang diketahui sebelumnya, seperti koagulopati, anestesi regional direkomendasikan untuk pasien preeklamsia. Mengingat risiko anestesi umum pada pasien dengan preeklamsia, anestesi spinal harus dipertimbangkan dalam kasus-kasus urgensi tanpa mengesampingkan anestesi epidural. ketika diperlukan anestesi umum, sangat penting untuk mengantisipasi dan mengobati tekanan darah yang tidak stabil. Jugapenting untuk dipersiapkan untuk manajemen jalan nafas ibu yang sulit, mengingat peningkatan risiko edema faringolaringeal.
Manajemen Anestesi Pasien Obstetri yang Menjalani Sectio Caesarea Emergency Indikasi Gagal dengan Preeklampisa Berat dan Asma Intermittent Sedang Suryono, Bambang; Apsari, Ratih Kumala Fajar; Nurdiansyah, Elba
Jurnal Komplikasi Anestesi Vol 7 No 1 (2019): Volume 7 Number 1 (2019)
Publisher : This journal is published by the Department of Anesthesiology and Intensive Therapy of Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, in collaboration with the Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Therapy , Yogyakarta Special Region Br

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jka.v7i1.7380

Abstract

Penanganan perioperatif asma pada ibu hamil, perlu mendapat perhatian lebih, dikarenakan selain menyangkut keselamatan ibu juga keselamatan janin. Sebisa mungkin pasien dioptimalkan kondisipreoperatifnya, namun bila tidak memungkinkan, diperlukan pemilihan tehnik anaestesi yang dapat meringankan kondisi asma ibu dengan memilih obat-obat yang memiliki efek bronkodilatasi, non histamine release dan meringankan edema jalan nafas. Pasien ini dipilih teknik epidural dikarenakan tidak menimbulkan gejolak hemodinamik yang berarti, memberikan fasilitas analgesia anestesia selama tindakan operasi, resiko sulit intubasi dapat dihindarkan serta dapat digunakan sebagai modal analgesi paska operasi yang adekuat. Dengan mengoptimalkan kondisi preoperatif pasien, morbiditas terhadap pasien dapat diminimalkan dan memberikan outcome yang baik terhadap ibu maupun bayinya.
Penanganan Anestesi pada Cedera Otak Traumatik Lalenoh, Diana Christine; Sudjito, M. H; Suryono, Bambang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.666 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol1i2.92

Abstract

Cedera otak traumatik (COT) atau Traumatic Brain Injury (TBI) merupakan masalah besar di dunia karena mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Di Amerika setiap tahun cedera kepala terjadi pada 600.000 orang. Di Jerman sekitar 17,6% dari seluruh kasus trauma adalah cedera otak traumatik dan paling sering menyebabkan kematian (26%). Dilaporkan penanganan anestesi pada seorang pasien laki-laki 19 tahun, dengan berat badan 65 kg dengan diagnosa adanya epidural hematoma (EDH), ICH regio frontotemporalis sinistra, ICH regio temporalis dekstra, dan fraktur linear os temporal sinistra. Dilakukan kraniniotomi untuk pengambilan bekuan darah.Tekanan darah saat masuk kamar operasi 110/70 mmHg, laju nadi 98 kali /menit, laju napas 24 kali /menit, suhu badan 37,50 C, dan GCS E1V3M5. Pasien diinduksi dengan Fentanyl 100 ?g, Propofol 100 mg, fasilitas intubasi dengan Rocuronium 40 mg, Lidokain 70 mg, dan pemeliharaan dengan Isofluran dan Oksigen serta Propofol kontinyu, dan penambahan fentanyl dan rokuronium intermiten. Operasi berlangsung selama empat jam, kemudian dipindahkan ke ICU. Setelah dirawat selama 2 hari di ICU, pasien kemudian dipindahkan ke ruangan dengan GCS pasca operasi E3V5M6. Pengelolaan anestesi untuk perdarahan otak karena cedera otak traumatik membutuhkan suatu pengertian mengenai patofisiologi dari peningkatan tekanan intrakranial, tekanan perfusi otak. Resusitasi otak perioperatif secara farmakologik dan non-farmakologik adalah sangat penting untuk mencegah terjadinya cedera otak sekunder.Anesthesia Management in Traumatic Brain InjuryTraumatic Brain Injury (TBI) is a big problem in the world because of high mortality and morbidity. TBI burdens approximately 600,000 people every year in USA. Head injuries are found in 17.6% of all trauma in-patients and are the most common cause of death after injury (26.6%) in German. Here we report anesthetic management in male, 19 yrs old, 65 kgs body wieght, diagnose was Epidural Haematome (EDH), left frontotemporal intracranial haemorrhage (ICH), right temporal ICH, and linear fracture of left temporal bone. He was undergoing craniotomy procedure to evacuate blood clot. Blood pressure was 110/70 mmHg, HR 98 x / m, RR 24 x /m ,core temperature 37,50 C. GCS E1 V3 M5. Induction of anesthesia was with Fentanyl 100 ?g, Propofol 100 mg. Intubation with Rocuronium 40 mg, Lidocaine 70 mg, and maintenance with Isofluran and oxygen with intermittent Propofol, Fentanyl, and Rocuronium. After undergoing 4 hours anesthesia for craniotomy was ended, patient transfer to ICU. After 2 days patient was transfer to ward with GCS score E3V5M6. Anesthesia managementi in intracranial bleeding ec TBI is very important for understand intracranial hypertension pathophysiology, cerebral perfusion pressure. Basic brain rescucitation perioperatively with pharmacological and non pharmacological strategies is very important in TBI to prevent secondary brain injury.
Disseminated Intravascular Coagulation pada Cedera Otak Traumatik Suyasa, Agus Baratha; Sudadi, Sudadi; Suryono, Bambang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2585.768 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol3i3.147

Abstract

Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) merupakan konsekuensi yang sering dan penting pada cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI) dan menyebabkan cedera otak sekunder. Walaupun perkembangan proses ini belum dapat dijelaskan secara keseluruhan, namun abnormalitas koagulasi darah adalah bukti yang ditemukan pascatrauma. DIC adalah proses patofisiologi dan bukan merupakan suatu penyakit tersendiri. Gangguan yang terjadi meliputi ketidaktepatan, berlebihan dan aktivasi proses hemostasis yang tidak terkontrol. Karakteristik DIC adalah konsumsi faktor pembekuan darah dan trombosit dalam sirkulasi yang menimbulkan berbagai derajat obstruksi pembuluh darah mikro sehubungan dengan deposisi fibrin. Masalah dan gambaran utama akut DIC adalah perdarahan. Gangguan mekanisme hemostatik sangat penting dalam TBI. Perdarahan mikro sering terjadi di parenkim otak dan status koagulasi normal adalah penting untuk mencegah perkembangannya menjadi hematom yang lebih besar. Abnormalitas koagulasi tidak hanya hasil dari cedera, tetapi juga menyebabkan cedera sekunder. Gangguan koagulasi dalam TBI sangat kompleks dan dapat disertai dengan koagulopati dan hiperkoagulabilitas. Di temukan bukti bahwa luasnya trauma jaringan otak memiliki peran penting terhadap gangguan koagulasi dibandingkan syok traumatik maupun hipoksia. Adanya koagulopati pada TBI mengindikasikan prognosis yang buruk, sehingga pemeriksaan rutin terhadap status koagulasi harus selalu dilakukan pada semua pasien TBI. Disseminated Intravascular Coagulation on Traumatic Brain InjuryDisseminated Intravascular Coagulation (DIC) is a frequent and important consequence of traumatic brain injury and may cause secondary brain injury. Although the mechanism of this process cannot be explained as a whole, but abnormalities of blood coagulation after trauma is the evidence. DIC in brain trauma is a pathophysiological process and is not due to a disease in itself. Disturbance includes inaccuracy, excessive and activation of uncontrolled hemostasis process. Characteristic of DIC is the consumption of blood clotting factors and platelets in the circulation that cause various degrees of micro vascular obstruction in conjunction with the deposition of fibrin. The main problem features of acute DIC are bleeding. Impaired hemostatic mechanism plays an important role in traumatic brain injury (TBI). Micro bleeding often occurs in the brain parenchyma and normal coagulation status is important to prevent its development into a larger hematoma. Coagulation abnormality is not the only discouraging factor of injury, but also lead to secondary injury. Coagulation disorders in TBI are very complex and can be accompanied by coagulopathy and hypercoagulability. Found evidence ofextented trauma in the brain tissue plays more important role to coagulation disorder than traumatic shock and hypoxia. The presence of coagulopathy in TBI indicates a poor prognosis, so the routine inspection of the coagulation status should always be performed in all patients with TBI.
Penatalaksanaan Perioperatif Hipofisektomi Transsphenoidal: Pendekatan Endoskopik Endonasal Christanto, Sandhi; Suryono, Bambang; Bisri, Tatang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2694.25 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i1.101

Abstract

Tumor kelenjar hipofisa sering dijumpai dan mewakili kurang lebih 10% dari semua neoplasma otak yang terdiagnosa. Meski tersedia terapi medis, pendekatan pembedahan menjadi lebih sering dilakukan. Pendekatan transsphenoidal endonasal endoskopik dipilih karena memiliki keuntungan untuk mencapai regio sella secara cepat dengan resiko kerusakan otak dan komplikasi pascabedah yang minimal. Pengetahuan dan keahlian dokter anestesi tentang pembedahan endoskopik basis kranii dibutuhkan untuk memenuhi kriteria dalam menyediakan keadaan anestesi yang aman, yang akan memainkan peran penting dalam menghasilkan luaran yang diharapkan. Seorang wanita 25 tahun dibawa ke rumah sakit dengan penurunan kesadaran pasca seksio sesarea. Pada pemeriksaan ditemukan edema otak, dan hidrosephalus yang kemudian dilakukan pintas ventrikuloperitoneal. Pemeriksaan lebih lanjut didapatkan massa kistik suprasellar dan pembedahan hipofisektomi transsphenoidal melalui jalur endonasal endoskopik dipilih sebagai pendekatan surgikal. Pasien dengan kelainan hipofisa serta pendekatan pembedahan endoskopik memberikan tantangan tersendiri bagi dokter anestesi. Peralatan endoskopik berteknologi tinggi, pertimbangan intraoperatif yang berhubungan dengan tehnik ini, membutuhkan pengelolaan anestesi yang baik selama periode perioperatif, sehingga dokter anestesi dapat memberikan anestesi yang aman selama prosedur pembedahan dan memberi kontribusi besar bagi keberhasilan dan kemajuan pembedahan endoskopik basis kranii.Perioperative Management of Transsphenoidal Hypophysectomy: Endoscopic Endonasal ApproachPituitary gland tumor represents 10% of all brain neoplasms. Although medical therapy is available, surgical approach becomes commonly performed. The transsphenoidal via endoscopic endonasal is preferred because it has advantage of rapid access to the sella region with minimal traumatic risk to the brain as well as post-operative complications. The highly advance technology, the position of neurosurgeon when performing the surgery and other intraoperative consideration present a unique challenge which require a thorough understanding and the skill of anesthesia management that is tailored to the needs of safe anesthesia for this technique. A 25 years old woman was admitted to hospital following a decreased in level of conciousness after sectio cesarea and found to have edema cerebri and hydrocephalus. Ventricular peritoneal shunt was performed immediately. Further examination revealed a cystic mass in suprasellar region and transsphenoidal hypophysectomy via endonasal endoscopic route was chosen as surgical approach. Patient with pituitary disease and endoscopic method present challenges to the anesthesiologist. High technology equipment and techniques, as well as other intraoperative considerations mandate the skillfulness of anesthesia management throughout the perioperative periode. Those considerations will ensure the neuroanestesiologist for a safe anesthesia and continue to make contributions to the development of full endoscopic skull base surgery.
Patofisiologi Serebrovaskuler dan Implikasi Anestesi pada Preeklampsia/Eklampsia Septica, Rafidya Indah; Uyun, Yusmein; Suryono, Bambang
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2701.862 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol2i2.118

Abstract

Preeklampsia adalah kelainan multisistim unik pada ibu hamil. Preeklampsia terjadi pada sekitar 3-8% kehamilan, dengan angka mortalitas akibat gangguan serebrovaskuler yang cukup tinggi (67%). Adanya 2 protein antiangiogenik yang diproduksi berlebihan oleh plasenta yang memberi akses masuk ke sirkulasi maternal merupakan molekul yang bertanggung jawab terhadap munculnya preeklampsia, yaitu soluble Fms-like tyrosine kinase, yang merupakan inhibitor endogen vascular endothelial growth factor dan placental growth factor, dan endoglin terlarut (sEng). Faktor-faktor tersebut menyebabkan disfungsi endotel sistemik yang berefek terutama ke hati, otak, dan ginjal. Disfungsi endotel pada otak diasumsikan berperan melalui 2 teori, yaitu sebagai respon terhadap hipertensi berat akut, sehingga regulasi berlebihan serebrovaskuler memicu terjadinya vasospasme; dihipotesakan aliran darah otak (ADO) hilang akibat iskemia, edema sitotoksik, infark dan terjadinya peningkatan mendadak tekanan darah sistemik melebihi kapasitas autoregulasi serebrovaskuler normal, sehingga terjadi kerusakan tekanan ujung kapiler yang menyebabkan kenaikan tekanan hidrostatik, hiperperfusi, ekstravasasi plasma dan sel darah merah melalui endothelial tight junctions yang terbuka mengakibatkan akumulasi edema vasogenik. Walaupun demikian perubahan serebrovaskuler tidak selalu menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. Dengan bantuan teknologi yang lebih baik dan canggih, abnormalitas serebrovaskuler yang dipicu oleh preeklampsia-eklampsia, juga efek hipertensi pada perfusi serebral dapat dijelaskan dengan lebih baik. Pertimbangan khusus pemilihan teknik anestesi pada preeklampsia dimulai dengan persiapan preoperatif berupa penilaian preanestesi, pemilihan manajemen anestesi, teknik induksi pada anestesi umum, dan interaksi antara MgSO4 dan pelumpuh otot nondepolarisasi. Teknik anestesi sesuai kaidah neuroanestesi adalah teknik terpilih pada preeklampsia/eklampsia dengan kenaikan tekanan intrakranialCerebrovascular Pathophysiology and Anesthetic Implication in Preeclampsia/EclamsiaPreeclampsia is a uniqe multisystem disorder in pregnant women. Preeclampsia affecting 3-8% of pregnancies, with high maternal mortality related to cerebrovascular accident (67%). The over produced two antiangiogenic proteins by placenta that gain access to the maternal circulation have become the main molecules responsible for phenotype of preeclampsia; which are soluble Fms-like tyrosine kinase, endogenous inhibitor of vascular endothelial growth factor and placental growth factor, and soluble endoglin (sEng). All these factors cause systemic endothelial dysfunction, mostly affected liver, brain, and kidney. Endothelial cell dysfunction may play role in two theories: as respon to acute severe hypertension thus cerebrovascular overregulation leads to vasospasm; as hypothesized,the diminished cerebral blood flow (CBF) resulted in ischaemia, cytotoxic edema, and infarct and a sudden elevation in systemic blood pressure exceeded the normal cerebrovascular autoregulatory capacity, and lead to disruption of the end-capillary pressure which causes increased hydrostatic pressure, hyperperfusion, and extravasation of plasma as well as red cells through disruption of the endothelial tight junctions leading to the accumulation of vasogenic edema. Nevertheless, cerebrovascular changes not always increase intracranial pressure. With the new and better technologies, the abnormal cerebrovascular related to preeclampsia-ecclampsia, and hypertension effect on cerebral perfusion can be more clearly explained. Special consideration for anesthesia technique in preeclampsia should be begin with preoperative preparation as pre-anesthestia assesment, choosing the anesthestia technique, induction technique and consideration of MgSO4 and nondepolarising muscle relaxant interaction when using general anesthesia. If intracranial pressure increased, neuroanesthesia technique is recommended. In preeclampsia/eclampsia cases.
Penatalaksanaan Pasien Cedera Kepala Berat dengan Evakuasi Perdarahan Subdural yang Tertunda Christanto, Sandhi; Suryono, Bambang; Saleh, Siti Chasnak
Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 4, No 3 (2015)
Publisher : https://snacc.org/wp-content/uploads/2019/fall/Intl-news3.html

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2329.253 KB) | DOI: 10.24244/jni.vol4i3.125

Abstract

Cedera kepala traumatik merupakan masalah kesehatan serius karena merupakan pemicu kematian di seluruh dunia. Sekitar 11,5 juta jiwa di Eropa dan Amerika Serikat mengalami cedera kepala tiap tahunnya. Perdarahan subdural akut (PSDA) adalah salah satu kelainan yang menyertai cedera kepala berat. Insidennya mencapai 1230% dari pasien yang masuk dengan cedera kepala berat. PSDA merupakan tantangan yang berat karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi (5570%). Waktu antara trauma dan evakuasi perdarahan merupakan faktor paling penting dalam menentukan luaran pasien dengan PSDA. Interval waktu evakuasi lebih dari empat jam pascatrauma meningkatkan angka kematian sampai 85% dibandingkan bila dilakukan dibawah empat jam (30%). Disamping itu, penundaan tindakan evakuasi bekuan darah menambah pelik permasalahan yang ada. Laki-laki 29 tahun, 75 kg diagnosa cedera kepala berat, perdarahan subdural akut fronto-temporo-parietal kiri, dan direncanakan evakuasi hematoma segera. Setelah stabilisasi didapatkan jalan napas potensial obstruksi, tekanan darah 160170/90 mmHg, laju nadi 6570 x/menit irregular, GCS 112 , pupil anisokor 3mm/4mm, hemiparese kanan. Pasien diintubasi, pernapasan di kontrol dan dirawat sementara di ICU karena penundaan evakuasi hematoma. Operasi dilakukan setelah 7 jam pasca pasien tidak sadar. Interval waktu evakuasi lebih dari empat jam pascatrauma menyebabkan peningkatan angka kematian sampai 85% dibandingkan bila dilakukan dibawah empat jam (30%). Beberapa cara dapat dilakukan selama waktu penundaan evakuasi untuk mencegah herniasi sehingga klinisi memiliki harapan dalam pengelolaan PSDA yang mengalami penundaan evakuasi. Tujuan dari laporan kasus ini adalah membahas tindakan-tindakan tersebut dengan harapan mendapat masukan sehingga pengelolaan pasien cedera kepala dengan PSDA menjadi lebih baik.Severe Head Injury Management with Delayed Subdural HematomaTraumatic brain injury (TBI) is major health problem and leading cause of death worldwide. Approximately 1-1,5 milion people in Europe and United States suffered from TBI yearly. Acute subdural hematoma (ASDH) is commonly seen in severe TBI. The incidence of ASDH is between 12 to 30% with high morbidity and mortality rate (55-70%). Time to surgery is the most important factor that determined the outcome. Time to surgery more than 4 hours is associated with higher mortality rate (85%) compare to when the surgery is done within 4 hours (30%) from the onset of TBI. Furthermore, delayed in surgical clot removal may worsen the outcome. A 29 years old man, 75kgs, suffered from TBI with left fronto-temporo-parietal ASDH and was planned for emergency evacuation of subdural. The airway tended to suffer from obstruction, blood pressure 160-170/90 mmHg, heart rate was irregular around 65-70 bpm, GCS 1-1-2, pupil was anisokor 3mm/4mm, and right hemiparese was found. Patient.was then intubated, the ventilation was controlled and he was managed in the ICU because the operation was delayed. The operation was done after more than 7 hours since the neurological deterioration initiated. There are several methods may be conducted during the delay surgery time to prevent herniation, so phycisiant may regain better result on delayed ASDH surgery. This case report will discuss methods in managing patient with delayed evacuation of ASDH for a better outcome.
Co-Authors Ade Ayu Sukmawati, Ade Ayu Afrianto, Kus Afrisa Adhita Putri, Afrisa Adhita Agus Wahyudi Akhmad Riduwan Akhsaniati, Novi Dwi Anang Didik Waluyo, Anang Didik Apriliani Issana Putri, Apriliani Issana Ardi Pramono Arifin, Sugeng Moh Ayu Putri Mustika Sari, Ayu Putri Mustika Azka Yahdiyani, Azka Bagir, Muhamad Baskoro, Ronggo Basuki, Wahyu Sunaryo Basuki, Wahyu Sunaryo Bhirowo Yudo Pratomo Binti Amaliyah Mufida, Binti Amaliyah Calcarina Fitriani Retno Wisudarti Chatarina Umbul Wahyuni Christantie Effendy Christanto, Sandhi Christanto, Sandhi Dibrata, Himendra Warga Difa, Rivenski Atwinda Djayanti Sari Djoko Adi Prasetio, Djoko Adi DWI RAHMAWATI Elita Rachmawati, Elita Endro Basuki Fadjrih Asyik, Nur FAHMI RIZALDI, FAHMI Fajarani, Septanti Fildzah Syahmina, Fildzah Firdaus, Riyadh Firdaus, Riyadh Fithrah, Bona Akhmad FRW, Calcarina Hermanto, Suwardi B. Heryanti, Chrisna Dwi Hidayat, Nopian Husein, Akhmad Syaiful Fatah Ichrom, Mochamad Ika Miftahul Jannah, Ika Miftahul Iskandar, Bintang Kusnardani Itla, Itla Lalenoh, Diana Christine Lalenoh, Diana Christine Lestari, Nurdika Dewi Luluk Atika Rahmawati, Luluk Atika Mahisa, Orizanov Mardiyah Anugraini, Mardiyah Mildawati, Titik Mulyono Mustikawati, Siti Rakhmah Nadiyah, Farah Nofa Prima Amalia, Nofa Prima Novanianto Rendra K.P., Novanianto Nur, Rifdhani Fakhrudin Nurdiansyah, Elba Nurul Isvatul Muvidha, Nurul Isvatul Nuryawan, Iwan Nuuril Imaama, Rahmatika Osman Sianipar Pangroso, Agung Pangroso Perbatasari, Inggita Dyah Pradipta, Dedik Norman Pratiwi, Argitania Diah Putri, Rahmita Ariami R. Rendra Okta Pratama Putra, R. Rendra Okta Pratama Rahmatisa, Dimas Rahmatisa, Dimas Rahmawati, Selvia Eka Ramayani, Julita Ratih Kumala Fajar Apsari Ratna Lutfiani Putri, Ratna Lutfiani Rudita, Muhammad RW, Calcarina Fitriani Saleh, Siti Chasnak Saleh, Siti Chasnak Sansoethan, Dithya Kusuma Sarosa, Pandit SATRIYAS ILYAS Septica, Rafidya Indah Septica, Rafidya Indah Silalahi, Antonius Sri Rahardjo Sudadi Sudadi Sudjito, M. H Sudjito, M. H Sulistyowati Sulistyowati Sutjipto Ngumar, Sutjipto Suyasa, Agus Baratha Suyasa, Agus Baratha Tatang Bisri Titin Rahayu, Titin Wahidahwati Wahidahwati Wariyanti, Wariyanti Widowati, Sari Ayu Widyaningrum, Chintya Wulandari, Novi Eka Yunita Kurniawati, Yunita Yusmein Uyun Zata Isma Rizki Amalina, Zata Isma Rizki