Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Sosialisasi dan Pembibitan Kebun Gizi Vertiminaponik untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan di Desa Tuksono, Sentolo, Kulon Progo Noviani, Nor Eka; Salmiyati, Suri; Nugraheni, Ika Afifah
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia dan Gerakan Masyarakat hidup Sehat. Kabupaten Kulon Progo berada pada urutan ke 43 lokasi khusus 100 Kabupaten atau kota untuk intervensi stunting. Desa Tuksono menjadi lokus stunting dengan prosentase 9,64%. Perbaikan gizi dilakukan dengan inovasi kebun gizi untuk meningkatkan akses dan ketersediaan pangan bagi balita. Penyuluhan dan pembuatan kebun gizi vertiminaponik diberikan pada warga termasuk kader posyandu. Kebun Gizi vertiminaponik terdiri dari Sub sistem akuakultur menggunakan kolam lele dengan sub system hidroponik dengan menanam sayuran kangkung. Tanaman akan mendapat pupuk organic dari sisa pakan dan kotoran ikan. Pembibitan menggunakan media rockwool. Benih yang disiapkan adalah kangkong dan pokcoy. Penyuluhan tentang kebun gizi dan pembibitan dengan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan warga. Benih yang tumbuh nantinya akan dipasang di instalasi vertiminaponik
Analisis Kritis Bencana Dalam Konsep Dalam Perspektif Perempuan Berkemajuan: Study Reflektif Pimpinan Aisyiyah dari Akar Rumput Rokhmah, Islamiyatur; Wantonoro, Wantonoro; L, Tri Hapsari; Salmiyati, Suri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15656

Abstract

Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah memasuki abad ke 2 semakin memantapkan gerak langkahnya sebagai oraganisasi perempuan berkemajuan. Sebagai penciri gerakan perempuan berkemajuan adalah senantiasa melakukan da’wah yakni fungsi pembebasan, pemberdayaan, dan pemajuan kehidupan dalam mengaktualisasikan risalah Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Pemahaman akan konsep perempuan berkemajuan di setiap level jenjang kepemimpinan Aisyiyah tentu saja akan berbeda sesuai dengan kontek dan lahan garapnya masing-masing. Maka dalam penelitan ini akan lebih menitik beratkan tentang refleksi implementasi konsep perempuan berkemajuan dari level struktural paling bawah akar rumput yakni pimpinan ranting hingga pimpinan pusat. Metode penelitian yang diguankan adalah kualitatif, dengan mewawancarai sampling inforaman dari pimpinan ranting hingga pusat masing-masing 2 (dua) informan, untuk lebih menguatkan di level pimpinan tertentu akan dilakukan focus group discustion (FGD), dan tentu saja penelitian ini akan dikuatkand engan dokumentasi baik buku, majalah, artikel dan yang lainnya.
Pengaruh edukasi perawatan kaki terhadap pengetahuan cara merawat kaki klien diabetes melitus Salsabilla, Schatzi Fiore; Salmiyati, Suri; Rahmawati, Agustina
JOURNAL OF Community Health Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/chi.v3i1.1499

Abstract

Background: Diabetes mellitus is a chronic disease of carbohydrate, protein and fat metabolism disorders that can be characterized by increased blood glucose or blood sugar levels. Diabetes mellitus can cause peripheral neuropathy such as diabetic ulcers. Diabetic ulcers can attack the lower extremities (feet) of patients. Purpose: To determine the effect of foot care education on knowledge of how to care for feet in clients with diabetes mellitus. Method: This study was quantitative with an design (pre-experimental) one group pretest -posttest. The sample in this study consisted of 35 diabetes mellitus patients who were selected using random sampling techniques in prolanis activities at Puskesmas 1 Sentolo. Data were collected using a questionnaire on knowledge of how to care for feet. Data analysis was performed using the Wilcoxon test. Results: The study showed the effect of foot care education on knowledge of how to care for the feet of clients with diabetes mellitus, with a p-value of 0.000 (p <0.05). Conclusion: Foot care education can broaden the knowledge of clients with diabetes mellitus after receiving foot care education. It is hoped that clients with diabetes mellitus will practice foot care to prevent potential complications of diabetic ulcers. Keywords: Diabetes Mellitus; Foot Care; Ulcers. Pendahuluan: Diabetes melitus merupakan penyakit kronis gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak yang dapat ditandai dengan adanya peningkatan kadar glukosa darah atau gula darah. Penyakit diabetes melitus dapat menyebabkan neuropati perifer seperti ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum dapat menyerang pada ekstremitas bawah (kaki) pasien Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh edukasi perawatan kaki terhadap pengetahuan cara merawat kaki pada klien diabetes melitus. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain pre-experimental one group pretest -posttest. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 35 pasien diabetes melitus yang terpilih menggunakan teknik random sampling dalam kegiatan prolanis di Puskesmas 1 Sentolo. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan cara merawat kaki. Analisis data dilakukan menggunakan uji wilcoxon. Hasil: Adanya pengaruh edukasi perawatan kaki dengan pengetahuan cara merawat kaki klien diabetes melitus, dengan nilai p-value 0.000 ( p < 0.05). Simpulan: edukasi perawatan kaki dapat menambah luas wawasan pengetahuan klien diabetes melitus setelah diberikan edukasi perawatan kaki. Kata Kunci: Diabetes Melitus; Perawatan Kaki; Ulkus.      
Effectiveness of Imagery Relaxation Therapy on Blood Pressure Levels Among Elderly Patients with Hypertension Aulia Pradana Satya Kiran; Suri Salmiyati; Zubaida Rohmawati
Journal of Medical Practice and Research Vol 2 No 1 (2026): June: Essentia: Journal of Medical Practice and Research
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/e0cc8252

Abstract

Hypertension remains a leading contributor to cardiovascular morbidity among older adults, particularly in rural populations with limited access to comprehensive management strategies. This study examined the effectiveness of imagery relaxation therapy on blood pressure levels among elderly patients with hypertension using a quantitative pre-experimental one-group pretest–posttest design. Forty-nine participants aged 60–70 years underwent a structured 10–15 minute imagery relaxation session, and blood pressure was measured immediately before and after the intervention. Paired sample t-tests revealed a significant reduction in systolic blood pressure (mean difference = 17.43 mmHg; 95% CI: 13.76–21.10; p < 0.001) and diastolic blood pressure (mean difference = 7.71 mmHg; 95% CI: 6.56–8.87; p < 0.001). Additionally, 69.4% of participants demonstrated improvement in blood pressure category, with no cases of deterioration observed. These findings indicate that imagery relaxation therapy yields clinically meaningful hemodynamic benefits and may serve as an effective adjunctive intervention within community-based hypertension management for elderly populations.
Pengaruh terapi bermain puzzle terhadap tingkat demensia pada lansia Sari, Yeni Eka Apita; Salmiyati, Suri; Rohmawati, Zubaida
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2720

Abstract

Background: Dementia is a common health problem among the elderly and is characterized by progressive cognitive decline, including impairment in memory, concentration, and thinking ability. This condition reduces independence and quality of life. Purpose: To determine the effect of puzzle play therapy on the level of dementia among elderly residents. Method: This study used a quantitative pre-experimental design with a one-group pretest–posttest approach conducted at UPT RPSLUT Budhi Dharma Yogyakarta in September 2025. Twenty elderly participants were selected through purposive sampling based on inclusion criteria. Dementia level was measured using the Mini Mental State Examination (MMSE) before and after the intervention. Puzzle play therapy was administered over two weeks (six sessions). Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test with a significance level of <0.05. Ethical approval and institutional permission were obtained prior to the study. Results: The results showed an increase in MMSE scores after the puzzle play therapy intervention. Statistical analysis revealed a p-value < 0.05, specifically 0.000, indicating a significant effect of puzzle play therapy on reducing the level of dementia among the elderly. Conclusion: Puzzle play therapy is effective as a nonpharmacological intervention in reducing dementia levels and maintaining cognitive function among the elderly.   Keywords: Cognitive Function; Dementia; Elderly; Puzzle Play Therapy.   Pendahuluan: Demensia merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami oleh lansia dan ditandai dengan penurunan fungsi kognitif secara progresif, seperti gangguan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir. Kondisi ini berdampak pada penurunan kemandirian serta kualitas hidup lansia. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh terapi bermain puzzle terhadap tingkat demensia pada lansia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif pra-eksperimental dengan rancangan one group pretest–posttest. Studi pendahuluan dilakukan di UPT RPSLUT Budhi Dharma Yogyakarta pada September 2025 dengan 20 lansia yang dipilih melalui purposive sampling sesuai kriteria inklusi. Variabel independen adalah terapi bermain puzzle, sedangkan variabel dependen adalah tingkat demensia yang diukur menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE) sebelum dan sesudah intervensi. Terapi diberikan selama dua minggu (enam sesi). Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan tingkat signifikansi < 0.05. Penelitian telah memperoleh izin dari instansi terkait. Hasil: Adanya peningkatan skor MMSE setelah intervensi terapi bermain puzzle. Analisis statistik menunjukkan nilai p < 0.05 yaitu sebesar 0.000 yang berarti terdapat pengaruh signifikan terapi bermain puzzle dalam menurunkan tingkat demensia pada lansia. Simpulan: Terapi bermain puzzle efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam memperlambat dan menurunkan tingkat demensia serta mempertahankan fungsi kognitif pada lansia.   Kata Kunci: Demensia; Fungsi Kognitif; Lansia; Terapi Bermain Puzzle.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA KOMBINASI KOMPRES HANGAT DAN RELAKSASI NAFAS DALAM MENGATASI NYERI HIPERTENSI Dian Eka Kurniawati; Salmiyati, Suri
Health Sciences Journal Vol. 10 No. 1 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hypertension remains a critical global health challenge, directly contributing to cardiovascular morbidity and persistent symptoms such as neck pain due to vasoconstriction, which increases intracranial pressure and impairs quality of life. In Indonesia, low medication adherence and limited access to non-pharmacological management exacerbate this condition. This case study implemented family-centered nursing care, integrating non-pharmacological strategies to reduce pain and improve treatment adherence in uncontrolled hypertensive adults in Pasutan Hamlet, Bantul. Methods: This case study implemented family-centered nursing care that integrated non-pharmacological strategies to reduce pain and improve treatment adherence in adults with uncontrolled hypertension in Pasutan Hamlet, Bantul. The intervention focused on Mrs. S (51 years old). Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and physical examinations over three days (November 19–21, 2025), following a standard nursing process. The nursing diagnoses identified were Acute Pain and Risk-Prone Health Behavior. Implementation (November 22–24, 2025) included: (1) combined non-pharmacological therapy—warm neck compresses once daily for 10–15 minutes and deep breathing relaxation training for 15 minutes during pain episodes, and (2) health education on antihypertensive medication adherence. Evaluation on the third day showed significant outcomes: pain intensity decreased from 5 to 1 on the numeric scale, blood pressure improved from 143/92 mmHg to 128/84 mmHg, and the patient demonstrated greater independence in applying non-pharmacological techniques and stronger commitment to regular medication use. Family-centered nursing emphasizing education and combined warm compress and breathing relaxation therapy proved effective in reducing pain, controlling blood pressure, and enhancing self-management in hypertensive patients. Keywords: Family nursing care, hypertension, neck pain, warm compress, deep breathing relaxation
Hubungan pola tidur dengan hipertensi pada lansia Sari, Vera Evita; Salmiyati, Suri; Sudyasih, Tiwi
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2708

Abstract

Background: The increasing number of elderly people has led to a rise in the prevalence of degenerative diseases, one of which is hypertension, which remains a major health problem in the elderly. In addition to aging and physiological changes, lifestyle factors, such as sleep patterns, play a role in the development of hypertension, as older adults often experience changes in sleep duration and quality. Disturbed sleep patterns can increase sympathetic nervous system activity and stress hormones, leading to increased blood pressure. Purpose: To determine the relationship between sleep patterns and hypertension in elderly Posyandu elderly. Method: This research used a cross-sectional design. The population was 41. Purposive sampling was used, resulting in a sample size of 40 respondents. Data collection techniques included a digital sphygmomanometer and a questionnaire. The chi-square test was used for data analysis. Results: The results of the Chi-Square test showed a p-value of (0.001) < (0.05), meaning that statistically there was a significant relationship between sleep patterns and hypertension in respondents in this study. The majority of respondents experienced poor sleep quality with stage II hypertension of 19 respondents (47.5%). Conclusion: There is a link between sleep patterns and hypertension in the elderly, with poor sleep patterns contributing to increased blood pressure. Improving sleep patterns should be part of promotive and preventive efforts to control hypertension in the elderly at the community level.   Keywords: Elderly; Hypertension; Sleep Patterns.   Pendahuluan: Peningkatan jumlah lanjut usia (lansia) berdampak pada meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif, salah satunya hipertensi yang masih menjadi masalah kesehatan utama pada kelompok usia lanjut. Selain faktor penuaan dan perubahan fisiologis, gaya hidup seperti pola tidur berperan dalam terjadinya hipertensi, mengingat lansia sering mengalami perubahan durasi dan kualitas tidur. Gangguan pola tidur dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis dan hormon stres sehingga memicu peningkatan tekanan darah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dengan Hipertensi pada lansia posyandu lansia. Metode: Metode penelitian ini menggunakan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 41. Teknik sampling menggunakan purposive sampling sehingga sampel yang digunakan sebanyak 40 responden. Teknik pengumpulannya menggunakan sphygmomanometer digital dan kuisioner. Metode analisa data nya menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Uji Chi-Square menunjukkan nilai p-value (0.001) < (0.05), artinya secara statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan hipertensi pada responden dalam penelitian ini. Mayoritas responden mengalami kualitas tidur buruk dengan hipertensi stage ll sebanyak 19 responden (47.5%). Simpulan: Terdapat hubungan antara pola tidur dengan hipertensi pada lansia, di mana pola tidur yang buruk berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Perbaikan pola tidur perlu menjadi bagian dari upaya promotif dan preventif dalam pengendalian hipertensi pada lansia di tingkat komunitas.   Kata Kunci: Hipertensi; Lansia; Pola Tidur.
Pengaruh senam otak terhadap fungsi kognitif lansia demensia Inabah, Siti Nasywa; Isnaeni, Yuli; Salmiyati, Suri
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 4 (2026): April Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i4.2745

Abstract

Background: Dementia in the elderly is a health problem that is increasing as the elderly population grows. The prevalence of dementia in Indonesian elderly aged 65 years and older reaches 27.9%, while in those aged 60 years and older, the prevalence ranges from 20-33%. Dementia causes cognitive decline in memory, thinking, concentration, and orientation, which impacts the independence of the elderly. Purpose: To determine the effect of brain exercise on cognitive function in elderly with dementia. Method: This study used a True Experimental Design with a Pretest–Posttest Control Group Design. The study population was all elderly with dementia at the Suka Sehat Yogyakarta Community Health Post (Posyandu). A sample of 20 respondents was selected using total sampling. Respondents were divided into intervention and control groups. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Rank Test and the Mann–Whitney test with α = 0.05. Results: The Wilcoxon test showed a significant improvement in cognitive function in the intervention group after brain exercise (p = 0.007). The control group showed a significant decline in cognitive function (p = 0.007). The Mann-Whitney test showed a significant difference in cognitive function between the two groups (p = 0.000). Conclusion: Brain gymnastics significantly improved cognitive function in elderly people with dementia.   Keywords: Brain Gym; Cognitive Function; Dementia; Older Adults.   Pendahuluan: Demensia pada lansia merupakan masalah kesehatan yang meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk lanjut usia. Prevalensi demensia pada lansia di Indonesia yang berusia ≥65 tahun mencapai 27.9%, sedangkan pada usia ≥60 tahun berkisar antara 20-33%. Demensia menyebabkan penurunan fungsi kognitif berupa gangguan daya ingat, kemampuan berpikir, konsentrasi, dan orientasi yang berdampak pada penurunan kemandirian lansia. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh senam otak terhadap fungsi kognitif pada lansia dengan demensia. Metode: Penelitian ini menggunakan desain True Experimental Design dengan metode Pretest–Posttest Control Group Design. Populasi penelitian adalah seluruh lansia dengan demensia di Posyandu Suka Sehat Yogyakarta. Sampel berjumlah 20 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Responden dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan uji Mann–Whitney dengan α = 0.05. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan fungsi kognitif yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan senam otak (p = 0.007). Kelompok kontrol menunjukkan terjadi penurunan fungsi kognitif yang signifikan (p = 0.007). Uji Mann Whitney menunjukkan perbedaan fungsi kognitif yang bermakna antara kedua kelompok (p = 0.000). Simpulan: Senam otak berpengaruh signifikan terhadap peningkatan fungsi kognitif pada lansia dengan demensia.   Kata Kunci: Demensia; Fungsi Kognitif; Lansia; Senam Otak.