Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

POLITISASI ISLAM PADA MASA KESULTANAN BANTEN MAFTUH AJMAIN
Jurnal Tamaddun Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v10i2.11113

Abstract

This article focuses on the discussion of Islamic teachings that were used for political purposes during the Sultanate of Banten. The sultans of Banten, in order to perpetuate their power, often used terms taken from Islam or words derived from Arabic. Their original names were originally taken from non-Arabic languages and changed to Arabic names, such as Hasanuddin whose real name is Sabakingkin. Therefore, it is necessary to explore how the Banten kingdom adopted Islamic teachings in carrying out its government and what the further implications for the people of Banten are. As an essay that seeks to reveal past events, this paper uses the historical method whose data is obtained from library sources, among others. At the end of the discussion, this article concludes that the kingdom of Banten changed the names of non-Arab kings to Arabic names. This can be seen, for example, in the name of the founder of the Banten kingdom, Hasanuddin. Hasanuddin was originally named Prince Sabakingking. Then, royal titles also use Arabic terms, such as Maulana or Sultan. To get the title of sultan, the king sent a special envoy to Mecca with the aim of meeting with the Great Sharif. Thus, the first king to receive the title of sultan was Sultan Abdulmafakhir Mahmud 'Abdul Qadir (1596-1651), who was subsequently used by the kings after him. Sultan Abdul Qadir's real name is Prince Ratu. These royal policies which were thick with Islam, furthermore, had implications for the people of Banten. The people of Banten are known as people who are fanatical about Islam and find it more difficult to accept new things that come from outside.
PENGERTIAN TASAWUF DAN SEJARAH KEMUNCULANNYA Azzahra Tharissa Zebua; Amira Shohwa Az-Zahra; Maftuh Ajmain
HUMANITIS: Jurnal Homaniora, Sosial dan Bisnis Vol. 3 No. 3 (2025): Maret
Publisher : ADISAM PUBLISHER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sufism has many meanings, both in terms of language and terminology. However, in general, Sufism refers to simple behavior, staying away from worldly desires, and people who always worship and draw closer to Allah. Historically, a group of Orientalists thought that Sufism came from Christian sources. However, in Islam, the emergence of Sufism has occurred along with the growth and development of the Islamic religion itself, starting from the time of the Prophet Muhammad SAW and there are several phases, namely the first and second centuries of the Hijriyah, in the third and fourth centuries of the Hijriyah, in the fifth century of the Hijriyah, the sixth, seventh and eighth centuries of the Hijriyah and in the ninth, tenth centuries and after. In Indonesia, the development of Sufism can be said to have been influenced by Persia (Iran) and India. This article was written with the aim of understanding the meaning of Sufism, both in terms of language and terms put forward by experts, the history of the emergence of Sufism, and the development of Sufism in Indonesia. The method used in this article is the Literature Study Method or Literature Review.
MEMBANGUN KARAKTER SPIRITUAL MELALUI HADIS NABI: STUDI HADIS TEMATIK ATAS KONSEP ZUHUD Alifya; Maftuh Ajmain; Muhammad Alif; Repa Hudan Lisalam
MAHAD ALY JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Vol 4 No 1 (2025): Ma had Aly Journal of Islamic Studies
Publisher : AL-BAYAN INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63398/54z7tg89

Abstract

Modern life, which is full of materialism and hedonism, has caused a crisis of meaning in life, moral degradation, and a weakening of spiritual character in society. This study aims to examine the role of the hadith of the Prophet Muhammad SAW, especially the concept of zuhud, in building the spiritual character of Muslims amid the challenges of the times. This research employs a qualitative approach using thematic hadith analysis and grounded theory, with primary data sourced from digital hadith collections and secondary literature from books and scientific journals. The results of the study indicate that spiritual character is the main foundation for the formation of morality, ethics, and inner peace in individuals. The concept of zuhud in the Prophet's hadith does not teach total rejection of the world, but rather emphasizes self-control from excessive love of material things and prioritizes the values of the hereafter. Zuhud values such as simplicity, contentment, and orientation toward the hereafter have proven relevant in shaping an integrity-based personality, strengthening social empathy, and enhancing decision-making quality grounded in Islamic teachings. Thus, the implementation of zuhud values through an understanding of the Prophet's hadith serves as a strategic solution in building a strong and harmonious spiritual character in the modern era.
KONSEP AL-FANA’, AL-BAQA’, DAN ITTIHAD DALAM TASAWUF Muhamad Yustandri Hardika Yusuf; Rahma Azhar Karania; Maftuh Ajmain; Siti Rihadatul Aisy
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas konsep utama dalam tasawuf yang dikembangkan oleh Abu Yazid al-Bustami, yaitu Al-Fana’, Al-Baqa’, dan Ittihad. Dalam ajaran tasawuf, Al-Fana’ merujuk pada proses meleburkan diri ke dalam kehendak Allah dengan menghilangkan ego dan kesadaran duniawi. Setelah mencapai Al-Fana’, seorang sufi akan memasuki tahap Al-Baqa’, yaitu kondisi keabadian spiritual yang membuatnya tetap sadar akan kehadiran Ilahi dalam setiap aspek kehidupannya. Puncak perjalanan tasawuf ini adalah Ittihad, yaitu pengalaman spiritual di mana seorang sufi merasa bersatu dengan Tuhan, bukan dalam arti fisik tetapi dalam kesadaran yang paling dalam.
SEJARAH BERDIRINYA SAREKAT ISLAM PADA TAHUN 1912 Melly Kurniawati; Mariyah Al – Qibtiyah; Maftuh Ajmain
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sarekat Islam (SI) merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional yang memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia. Organisasi ini awalnya muncul sebagai Sarekat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1911 di Solo, yang kemudian berkembang menjadi SI di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Berdirinya SI didorong oleh faktor ekonomi dan sosial, terutama sebagai reaksi terhadap dominasi ekonomi kelompok non-pribumi serta tekanan dari kalangan bangsawan. SI tidak hanya bergerak di bidang ekonomi, tetapi juga memperluas perannya dalam politik dan sosial, menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan dan pemersatu rakyat pribumi. Dalam perkembangannya, SI mengalami dinamika internal yang signifikan, termasuk perpecahan menjadi SI Putih dan SI Merah akibat pengaruh ideologi sosialisme yang dibawa oleh kader-kader muda. Meskipun demikian, SI tetap berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui berbagai strategi, seperti meningkatkan kesadaran nasionalisme, memperjuangkan hak-hak rakyat, serta menolak ketidakadilan pemerintahan kolonial. Nilai-nilai perjuangan SI mencakup semangat kebangsaan, kepedulian sosial, religiusitas, disiplin, kerja keras, solidaritas, dan kemandirian. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji latar belakang, ideologi, tujuan, serta peran Sarekat Islam dalam pergerakan nasional Indonesia. Tulisan ini menunjukkan bahwa SI menjadi salah satu organisasi yang memberikan kontribusi besar dalam membentuk kesadaran politik dan sosial masyarakat Indonesia sebelum kemerdekaan.
SEJARAH BERDIRINYA INDISCHE PARTIJ (PARTAI HINDIA) PADA TAHUN 1912 Anah Nurhasanah; Muhammad Bagus Royhan Jaya; Maftuh Ajmain
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tjipto Mangoenkoesoemo, serta Soewardi Soerjaningrat, yang lebih dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Indische Partij adalah organisasi politik pertama di Hindia Belanda yang secara terbuka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan kesetaraan bagi seluruh penduduk tanpa memandang ras. Partai ini menentang diskriminasi kolonial dan berupaya untuk membangkitkan kesadaran nasional melalui propaganda dan pendidikan. Namun, pada tahun 1913, pemerintah kolonial Belanda melarang partai ini karena dianggap mengancam stabilitas kekuasaan mereka. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengumpulkan berbagai sumber sejarah, seperti, buku, dan jurnal yang membahas peran Indische Partij dalam pergerakan nasional. Tujuan utama pendirian Indische Partij yaitu untuk menyatukan seluruh rakyat Hindia tanpa membedakan ras serta memperjuangkan pemerintahan yang lebih adil dan merdeka dari penjajahan Belanda. Meskipun keberadaannya singkat, Indische Partij memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan gerakan nasional di Indonesia.
PERAN SAREKAT ISLAM DALAM PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA Arini Nurlaili izzati; Ihlasul Amal; Mohammad Romli Hidayatullah; Maftuh Ajmain
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sarekat Islam (SI) merupakan salah satu organisasi yang memiliki peran penting dalam perkembangan pergerakan nasional Indonesia. Didirikan pada awal abad ke-20, Sarekat Islam muncul sebagai respons terhadap penjajahan kolonial Belanda yang semakin menindas rakyat Indonesia. Organisasi ini tidak hanya berfokus pada masalah keagamaan, tetapi juga aktif dalam memperjuangkan hak-hak sosial, politik, dan ekonomi masyarakat pribumi. Dalam perjalanannya, Sarekat Islam turut berperan dalam membangkitkan kesadaran nasional, melawan ketidakadilan kolonial, serta menjadi pelopor dalam mempersatukan berbagai golongan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Melalui berbagai aktivitasnya, seperti pendidikan, pengorganisasian massa, dan pengaruh dalam politik, Sarekat Islam berkontribusi besar dalam membentuk dasar dari pergerakan kemerdekaan Indonesia yang lebih luas. Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan peran strategis Sarekat Islam dalam konteks pergerakan nasional Indonesia, serta dampaknya terhadap proses kemerdekaan yang terjadi pada awal abad ke-20.
NASIONALISME: ARTI DAN PERKEMBANGANNYA Putri Rizqiyatul Fadilah; Muhammad Mutasimbillah; Maftuh Ajmain
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nasionalisme merupakan konsep yang berkaitan dengan identitas, loyalitas, dan kebanggaan terhadap suatu bangsa. Artikel ini membahas arti nasionalisme dari berbagai perspektif serta perkembangan historisnya dari masa ke masa. Meskipun nasionalisme awalnya muncul sebagai gerakan politik yang menekankan kedaulatan dan persatuan nasional, itu telah berkembang seiring dengan dinamika sosial, politik, dan ekonomi di seluruh dunia. Kemajuan nasionalisme juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi informasi, revolusi, kolonialisme, dan globalisasi. Nasionalisme modern mencakup banyak hal selain kedaulatan negara; itu juga mencakup identitas budaya, solidaritas sosial, dan kesulitan mempertahankan kesatuan di tengah perbedaan. Tujuan dari artikel ini adalah untuk meningkatkan pemahaman kita tentang arti nasionalisme dan bagaimana hal itu memengaruhi masyarakat modern.
WAHDATUL WUJUD: PENGERTIAN, SEJARAH, DAN CABANG ILMUNYA DALAM TASAWUF Aam Amalia; Muhamad Rizki; Maftuh Ajmain; Angga Pusaka Hidayat
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas konsep Wahdatul Wujud, sebuah doktrin metafisika yang dikembangkan oleh Ibn Arabi. Wahdatul Wujud, yang berarti "kesatuan wujud," adalah doktrin sentral dalam tasawuf yang menyatakan bahwa hanya ada satu Wujud hakiki, yaitu Allah SWT. Pemikiran Ibn Arabi membuka jalan bagi pemahaman bahwa perbedaan agama dan bentuk keyakinan hanyalah manifestasi dari satu realitas spiritual yang lebih tinggi. Selain itu, artikel ini membahas sejarah perkembangan konsep ini, termasuk tokoh-tokoh kunci yang berperan dalam formulasi dan penyebarannya, spesifikasi cabang ilmu Wahdatul Wujud serta perdebatan yang muncul seputar interpretasinya. Bertujuan untuk menjelaskan bagaimana Ibn Arabi memahami manifestasi ketuhanan dalam berbagai aspek eksistensi. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menelusuri akar sejarah dan perkembangan konsep ini.
TAREKAT: PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA Muhamad Chaerul Rahman; Muhamad Wifqil Hikam; Maftuh Ajmain
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 3 (2025): MARET 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penulis mengkaji makna tarekat dan sejarah perkembangannya. Dari berbagai referensi tentang pengertian tarekat itu, diperoleh dua makna dari tarekat itu, yaitu tarekat bermakna jalan yang ditempuh oleh seorang sufi untuk untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan tarekat bermakna semacam organisasi atau perkumpulan yang di dalamnya terdapat syekh, upacara ritual dan zikir-zikir tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Sumber data yang digunakan seutuhnya berasal dari kepustakaan, yakni mengkaji literatur-literatur yang terkait dengan Tarekat, pengertian tarekat dan sejarah perkembangannya.