Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : JOURNAL OF Qualitative Health Research

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dispepsia Amanda, Adelia; Anita, Fitri; Andora, Novika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.885

Abstract

Background: Dyspepsia is a collection of complex gastrointestinal symptoms that are often encountered in daily clinical practice. This condition is characterized by a series of symptoms related to the gastroduodenal digestive tract, such as pain or burning sensation in the upper abdominal area (epigastrium), a feeling of fullness after eating (postprandial fullness), or feeling full quickly (early satiety). Purpose: To determine the factors associated with the occurrence of dyspepsia. Methods: Quantitative research with an observational analytical survey design and a cross-sectional approach. The population in this study were dyspepsia patients who visited the Kotabumi I Health Center and was carried out on January 4-January 15, 2025. The sample in this study amounted to 114 respondents. Data analysis used univariate and bivariate analysis. Bivariate analysis used the chi square test which was used to analyze the correlation between categories with categories with the provision that if p, 0.05 then there is a correlation between the independent and dependent variables. Results: Most respondents experienced dyspepsia as many as 77 respondents (67%) and those who did not experience it were 37 respondents (32%). Based on the results of statistical tests, there is a relationship between diet and the incidence of dyspepsia syndrome p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between stress levels and the incidence of dyspepsia syndrome dyspepsia p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between NSAID use and the incidence of dyspepsia syndrome dyspepsia p-value 0.000 or p-value <0.05, there is a relationship between irritating foods and drinks dyspepsia p-value 0.001 or p-value <0.05. Conclusion: There is a significant relationship between diet, stress levels, use of NSAIDs, irritating foods and drinks and the incidence of dyspepsia syndrome.   Keywords: Diet; Dyspepsia; Stress   Pendahuluan: Dispepsia merupakan kumpulan gejala gastrointestinal (gastrointestinal symptoms) yang kompleks dan sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini ditandai dengan rangkaian gejala yang terkait dengan saluran pencernaan gastroduodenal, seperti nyeri atau sensasi terbakar di daerah perut atas (epigastrium), perasaan kenyang setelah makan (postprandial fullness), atau cepat merasa kenyang (early satiety). Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dispepsia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan survey analitik observasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dispepsia yang berkunjung ke Puskesmas Kotabumi I dan dilaksanakan pada tanggal 4 januari-15 januari 2025. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 114 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisa bivariat menggunakan uji chi square yang dimanfaatkan untuk menganalisis korelasi antar kategori dengan kategorik dengan ketentuan jika p,0.05 maka terdapat korelasi antara variabel independen dengan dependen. Hasil: Sebagian besar responden mengalami dispepsia sebanyak 77 responden (67%) dan yang tidak mengalami responden sebanyak 37 responden (32%). Berdasarkan hasil uji statistik, terdapat hubungan antara pola makan dengan kejadian sindrom dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara tingkat stress dengan kejadian sindrom dispepsia dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara penggunaan NSAID dengan kejadian sindrom dispepsia dispepsia p-value 0.000 atau p-value <0.05, terdapat hubungan antara makanan dan minuman iritatif dispepsia p-value 0.001 atau p-value <0.05. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pola makan, tingkat stress, penggunaan NSAID, makanan dan minuman iritatif dengan kejadian sindrom dispepsia.   Kata Kunci : Dispepsia; Pola Makan; Stress
Faktor-faktor yang memengaruhi kekambuhan gastritis Septiana, Annisa; Andora, Novika; Erwin, Tubagus
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.886

Abstract

Background: Gastric mucosa can experience acute or chronic inflammation known as gastritis. In 2021, gastritis attacked 40-50% of the world's population, as reported by the World Health Organization (WHO). According to data from the Ministry of Health, gastritis ranked sixth in 2018, covering 60.86% of all hospitalizations (a total of 34.580). Patients with gastritis will have productivity and quality of life that are disrupted by this disease. In addition to disrupting daily activities, this disease also has an impact on the social and economic welfare of sufferers. Purpose: To determine the factors that influence and are associated with gastritis recurrence. Methods: This study used a cross-sectional method with a quantitative descriptive research design. The participants of the study were individuals who were treated at the Kotagajah Health Center with gastritis. The sampling technique used incidental sampling, so that a sample of 98 people was obtained. Data collection was carried out using a questionnaire containing questions about food and the use of OAIN. Results: The prevalence of unhealthy eating patterns was 81 (82.7%) and the prevalence of OAIN use variables was 72 (73.5%) in respondents. The results of the study showed a correlation between gastritis recurrence and factors indicated by a p value <0.05 obtained from the chi-square statistical test. Conclusion: Gastritis recurrence is associated with several factors, including poor diet and NSAID use. The results of the study stated that there was a significant relationship between diet and gastritis recurrence between the two variables and the results of the chi square test of the NSAID use variable also showed a significant relationship between the two variables. Keywords: Diet; Recurrence of Gastritis; Use Of Oains Pendahuluan: Mukosa lambung dapat mengalami peradangan akut maupun kronis yang dikenal dengan sebutan gastritis. Tahun 2021 gastritis menyerang 40-50% dari populasi dunia, sebagaimana dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut data Kementerian Kesehatan gastritis menduduki peringkat keenam pada tahun 2018 yang mencakup 60.86% dari seluruh kasus rawat inap (total 33.580). Pasien dengan penyakit gastritis akan memiliki produktivitas dan kualitas hidup yang terganggu oleh adanya penyakit ini. Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, penyakit ini juga berdampak pada kesejahteraan sosial dan ekonomi penderitanya. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dan berhubungan dengan kekambuhan gastritis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Partisipan penelitian adalah individu yang berobat ke Puskesmas Kotagajah dengan penyakit gastritis. Teknik pengambilan sampling menggunakan sampling insidental, sehingga diperoleh sampel sebanyak 98 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang makanan dan penggunaan OAIN. Hasil: Prevalensi pola makan tidak sehat sebesar 81 (82.7%) dan prevalensi variabel penggunaan OAIN sebesar 72 (73.5%) pada responden. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara kekambuhan gastritis dengan faktor-faktor yang ditunjukkan dengan nilai p<0.05 yang diperoleh dari uji statistik chi-square. Simpulan: Kekambuhan gastritis berhubungan dengan beberapa faktor, diantaranya yaitu pola makan yang buruk dan penggunaan Oains. Hasil penelitian menyatakan adanya hubungan pola makan dengan kekambuhan gastritis secara signifikan antara kedua variabel tersebut dan hasil uji chi square variabel penggunaan oains juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Kata Kunci: Kekambuhan Gastritis; Penggunaan Oains; Pola Makan      
Pengaruh air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri pada penderita dispepsia Clarissa, Elga Manda; Andora, Novika; Andini, Sandra
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 2 (2025): May Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i2.936

Abstract

Background: Dyspepsia is a complex gastrointestinal symptom that is often encountered in daily clinical practice. This condition is characterized by a series of symptoms related to the gastroduodenal digestive tract, such as pain or a burning sensation in the upper abdomen (epigastrium). Purpose: To determine the effect of Curcuma longa juice on reducing the duration of pain in dyspepsia sufferers. Methods: Quantitative research with observational pre-experimental design and cross-sectional approach. The population in this study were dyspepsia sufferers who accidentally met the researcher and met the inclusion and exclusion criteria. The sample in this study amounted to 38 participans with the sampling technique used was Acidental sampling. Data analysis used univariate and bivariate analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test and a confidence level of <0.05. Results: Wilcoxon test with statistical test with mean duration of dyspeptic pain before intervention was 11 but after intervention the average became 95 with p value of 0.000 <0.05 meaning there was an effect of squeezing cucuma longa on reducing duration of pain. Conclusion: Based on the results of the Wilcoxon Signed Rank Test, there is an effect of curcuma longa juice on reducing the duration of pain with a p-value of 0.000.   Keywords: Curcuma Longa; Dyspepsia; Pain.   Pendahuluan: Dispepsia merupakan gejala gastrointestinal (gastrointestinal symptoms) yang kompleks dan sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini ditandai dengan rangkaian gejala yang terkait dengan saluran pencernaan gastroduodenal, seperti nyeri atau sensasi terbakar di daerah perut atas (epigastrium). Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri pada penderita dispepsia. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan pra eksperimen observasional dan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita  dispepsia yang tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan kriteria inklusi ekslusi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 38 partisipan dengan teknik sampling yang di gunakan adalah Acidental sampling. Analisis data menggunakan analisi univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan derajat kepercayaan <0.05. Hasil: Pengujian wilcoxon menggunakan test statistic dengan mean lama nyeri dispepsia sebelum intervensi sebesar 11, setelah intervensi rata-rata menjadi 95 dengan nilai p sebesar 0.000<0.05 artinya ada pengaruh dari perasan cucuma longa terhadap penurunan lama nyeri. Simpulan: Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Rank Tes, terdapat pengaruh antara air perasan curcuma longa terhadap penurunan lama nyeri p-value 0.000.   Kata Kunci : Curcuma Longa; Dispepsia; Nyeri.
Pengaruh pemberian DIIT nasi jagung dan nasi putih dengan perbandingan 1:1 terhadap perubahan kadar glukosa darah pasien diabetes melitus Meiranda, Bella Dwi; Kurniasari, Septi; Andora, Novika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 3 (2025): July Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i3.958

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is a chronic metabolic disease characterized by high blood sugar levels. This condition can lead to the pancreatic gland's inability to produce insulin optimally, preventing the body from perfectly processing consumed sugar. Purpose: To determine the effect of consuming corn rice mixed with white rice on blood glucose levels in patients with diabetes mellitus Method: Quantitative research with Pre Experimental research design (one group Pre Post Test Design). The method used is saturated sampling. The subjects of this study were people with diabetes mellitus who were given corn rice, namely 1: 1 in processed white rice and corn rice weighing 150 grams accompanied by side dishes. Results: Bivariate analysis obtained a p value of 0.000 (a <0.05) so that it was stated that there was an effect of giving DIIT corn rice with a ratio of 1:1 corn rice and white rice in patients with diabetes mellitus. Conclusion: There is an effect of giving a corn rice diet with a 1:1 ratio of corn rice and white rice on diabetes mellitus sufferers.   Keywords: Diabetes Mellitus; Corn Rice.   Pendahuluan: Diabetes Melitus atau DM adalah penyakit atau gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Hal ini bisa menyebabkan kelenjar pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin secara optimal, sehingga tubuh tidak dapat memproses gula yang dikonsumsi secara sempurna. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pemberian nasi jagung yang dicampur nasi putih terhadap kadar gula darah glukosa pada penderita diabetes mellitus Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Pre Eksperimental (one group Pre Post Test Design). Metode yang digunakan yaitu sampling jenuh. Subjek penelitian ini adalah masyarakat penderita diabetes melitus dengan pemberian nasi jagung yaitu 1:1 pada olahan nasi putih dan nasi jagung dengan berat 150 gram disertai lauk pauk. Hasil: Analisis bivariat diperoleh nilai p=0.000 (a<0.05) sehingga dinyatakan ada pengaruh pemberian DIIT nasi jagung dengan perbandingan 1:1 nasi jagung dan nasi putih pada penderita diabetes mellitus. Simpulan: Ada pengaruh pemberian  nasi jagung dengan perbandingan 1:1 nasi jagung dan nasi putih pada penderita diabetes mellitus.   Kata Kunci : Diabetes Melitus; Nasi Jagung
Pengaruh slow deep breathing dan rendam kaki air hangat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi Oseda, Aisyah Putri; Erwin, Tubagus; Andora, Novika
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 4 (2025): September Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i4.987

Abstract

Background: Hypertension is often called the "silent killer" because it damages the body without causing symptoms. Hypertension can be managed using a combination of slow deep breathing and warm foot soaks. Purpose: To examine the effect of slow deep breathing and warm foot soaks on lowering blood pressure in patients with hypertension. Method: This quantitative study used a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest approach without a control group. The population in this study was 94 people. The sampling technique used purposive sampling with a sample size of 15 people. Data were analyzed using the Wilcoxon statistical test. Results: The average blood pressure before the intervention was 152.00 systolic and 84.67 diastolic. Meanwhile, the average blood pressure after the intervention decreased to 128.00 systolic and 78.67 diastolic. The Wilcoxon test yielded a p-value of 0.001, or p-value <0.05. Conclusion: Slow deep breathing and warm foot soaks have an effect on lowering blood pressure in people with hypertension.   Keywords: Hypertension; Slow Deep Breathing; Pressure; Warm Foot SoakBlood   Pendahuluan: Hipertensi sering disebut “silent killer” karena merusak tubuh tanpa menimbulkan gejala. Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan menggunakan terapi kombinasi slow deep breathing dan rendam kaki air hangat. Tujuan: Untuk pengaruh slow deep breathing dan rendam kaki air hangat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: penelitian ini bersifat kuantitatif dengan desain quasi experiment dengan pendekatan one group pretest-posttest design tanpa kelompok kontrol. Populasi pada penelitian ini sebanyak 94 orang. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dengan sampel 15 orang. Data dianalisis menggunakan uji statistik wilcoxon. Hasil: Rata-rata tekanan darah sebelum diberikan intervensi yaitu sistol 152,00 dan diastol 84,67. Sedangkan rata-rata tekanan darah sesudah diberikan intervensi berkurang menjadi tekanan darah sistol 128,00 dan diastol 78,67. Berdasarkan uji wilcoxon didapatkan nilai p-value 0,001 atau p-value <0,05. Simpulan: Terdapat pengaruh slow deep breathing dan rendam kaki air hangat terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi   Kata Kunci: Hipertensi; Rendam Kaki Air Hangat; Slow Deep Breathing; Tekanan  Darah.