Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Edukasi perawatan kaki sebagai upaya pencegahan luka pada penderita diabetes melitus Maryuni, Sri; Andora, Novika; Yudha, Fajar; Kurniasari, Septi; Oktavia, Santi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2498

Abstract

Background: Management of diabetes mellitus requires not only pharmacological treatment but also family support. Foot care is one way to prevent neuropathy. Diabetic foot ulcers are a complication of uncontrolled diabetes mellitus. These ulcers can occur due to poor glycemic control, neuropathy, and peripheral vascular disease, as well as inadequate foot wound care. To prevent ulcers and improve the quality of life for people with diabetes mellitus, the family plays a crucial role in diabetic foot care. Purpose: To provide education about foot care as an effort to prevent diabetic ulcers. Method: The activity was conducted at the Lampung branch of the Wound Care Clinic (LWC) with the goal of increasing knowledge about caring for family members with diabetic ulcers. Consecutive sampling was used to select 20 respondents with family members with diabetes mellitus. The education program was delivered through lectures (presentations), massage demonstrations, question-and-answer discussions, and hands-on practice, assisted by family caregivers of people with diabetes mellitus. Foot care behavior was measured using the Nottingham Assessment of Functional Footcare (NAFF) questionnaire. A questionnaire on diabetic wound care was administered before the educational activity as pre-test data and after the educational activity as post-test data. For evaluation, the data were analyzed using a Wilcoxon test with a quasi-experimental one-group pre-test and post-test design to determine differences in respondents' foot care behavior before and after the educational activity. Results: The data showed that the average age of respondents was 57.75 years, with a standard deviation of ±4.41 within the 50-70 age range. The majority of respondents were aged 50-60 years (10) (50.0%). The majority of respondents were female (12) (60.0%), the majority of respondents had a high school education (9) (45.0%), the majority of respondents were private employees (11) (55.0%), and the duration of diabetes mellitus (1-3 years) (17) (85.0%). There was an increase in respondents' knowledge scores from 20 points before the educational activity to 50 points after the educational activity, with a p-value of 0.000. Conclusion: Educational and mentoring activities were very effective in increasing knowledge about diabetic wound care and also improving diabetic wound prevention behaviors in families with diabetes mellitus. Keywords: Diabetes mellitus; Diabetic wounds; Foot care; Health education; Prevention behavior Pendahuluan: Penanganan diabetes melitus tidak hanya memerlukan pengobatan farmakologi, tetapi juga bantuan keluarga. Perawatan kaki merupakan salah satu cara mencegah neuropati. Luka kaki diabetik adalah komplikasi yang terjadi pada diabetes mellitus tidak dapat dikontrol. Luka ini dapat terjadi karena kurangnya kontrol glikemik, neuropatik, dan penyakit pembuluh darah tepi, serta kurangnya perawatan luka pada kaki Untuk mencegah luka dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes melitus, peran keluarga sangat penting dalam perawatan kaki diabetik. Tujuan: Memberikan edukasi tentang perawatan kaki sebagai upaya mencegah luka diabetik. Metode: Kegiatan dilaksanakan di Klinik Wound Care (LWC) cabang lampung dengan sasaran meningkatkan pengetahuan tentang perawatan keluarga yang mengalami luka diabetik. Dengan consecutive sampling mendapatkan sampel sebanyak 20 responden yang memiliki anggota keluarga menderita diabetes melitus. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan disampaikan melalui ceramah (presentasi), demo pemijatan, diskusi tanya-jawab dan praktik langsung dengan pendampingan oleh keluarga yang merawat penderita diabetes melitus. Pengukuran perilaku perawatan kaki memakai kuesioner nottingham assessment of fungtional footcare (NAFF). Kuesioner tentang perawatan luka diabetik diberikan sebelum kegiatan edukasi sebagai data pre-test dan setelah kegiatan edukasi sebagai data post-test. Sebagai evaluasi, data di analisa wilcoxon test dengan rancangan quasi experimental one group pre-test dan post-test untuk melihat perbedaan perilaku perawatan kaki responden sebelum dan setelah diberikan edukasi. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 57.75 tahun dan standar deviasi ±4.41 dalam rentang usia 50-70 tahun. Sebagian besar responden berusia 50-60 tahun sebanyak 10 (50.0%). Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 12 (60.0%), sebagian besar pendidikan responden adalah SMA sebanyak 9 (45.0%), status pekerjaan responden adalah pegawai swasta sebanyak 11 (55.0%), dan lama menderita Diabetes Melitus 1-3 tahun sebanyak 17 (85.0%). Terjadi peningkatan skor tingkat pengetahuan responden dari sebelum kegiatan edukasi sebesar 20 poin menjadi 50 poin setelah kegiatan edukasi dengan mendapatkan nilai pValue=0.000. Simpulan: Kegiatan edukasi dan pendampingan sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan tentang perawatan luka diabetik dan juga meningkatkan perilaku pencegahan luka diabetik pada keluarga yang menderita diabetes melitus.
Korelasi antara lama diabetes mellitus dan kadar hba1c dengan skor diabetic neuropathy symptom (DNS) dan diabetic neuropathy examination (DNE) pada penderita diabetes mellitus tipe 2 Andora, Novika; Maryuni, Sri; Yudha, Fajar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2092

Abstract

Background: Type 2 Diabetes Mellitus (DM) often leads to diabetic neuropathy, which can be assessed using the Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) and Diabetic Neuropathy Examination (DNE) scores. Purpose: To analyze the correlation between the duration of DM and HbA1c levels with DNS and DNE scores in patients with type 2 DM Method: This quantitative study with a cross-sectional approach was conducted from January to February 2025 at Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung. The sampling technique used simple random sampling with a sample size of 35 respondents. The independent variables in this study were the duration of DM and HbA1c levels, while the dependent variables were DNS and DNE scores. Data analysis was performed using univariate analysis in the form of frequency distribution and bivariate analysis using Pearson's correlation test. Results: The results showed a significant correlation between the duration of DM and both DNS and DNE scores (p < 0.05). However, there was no significant correlation between HbA1c levels and DNS or DNE scores (p > 0.05). Conclusion: The duration of DM was significantly associated with the degree of diabetic neuropathy, while HbA1c levels showed no significant association.   Keywords: Diabetic Neuropathy Symptom (DNS); Diabetic Neuropathy Examination (DNE); HbA1c Levels; Type 2 Diabetes Mellitus.   Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) tipe 2 sering menyebabkan komplikasi berupa neuropati diabetik, yang dapat dinilai menggunakan skor Diabetic Neuropathy Symptom (DNS) dan Diabetic Neuropathy Examination (DNE). Tujuan: Untuk menganalisis korelasi antara lama menderita DM dan kadar HbA1c dengan skor DNS dan DNE pada pasien DM tipe 2. Metode: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, dilaksanakan bulan Januari-Febuari 2025 di RS Bintang Amin Bandar Lampung. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 35 responden. Variabel independent dalam penelitian ini adalah lama menderita DM dan kadar HbA1c, sedangkan variabel dependen adalah skor DNS dan DNE. Analisis data yang digunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Korelasi Pearson. Hasil: Terdapat korelasi yang signifikan antara lama menderita DM dengan skor DNS dan DNE (p < 0.05). Namun, tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara kadar HbA1c dengan skor DNS maupun DNE (p > 0.05). Simpulan: Lama menderita DM berhubungan secara signifikan dengan derajat neuropati diabetik, sedangkan kadar HbA1c tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.   Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2; Diabetic Neuropathy Symptom (DNS); Diabetic Neuropathy Examination (DNE); Kadar Hba1c.
HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKARAJA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2024 Indri kelana, Nopea ramdhani; Andora, Novika
Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada Vol 15 No 1 (2026): April
Publisher : LPPMK STIKES Widyagama Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/jikmh.v15i1.437

Abstract

Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi buang air besar pada orang dewasa >3 kali sehari dan pada balita lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah. diare merupakan feses dengan kestabilan cair ataupun berair yang berlangsung 3 ataupun lebih feses cair ataupun berair dalam durasi 24 jam. Tujuan dari penelitian ini adalah diketahui Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Diare Diwilayah Puskesmas Sukaraja Kota Bandar Lampung Tahun 2024. Jenis penelitian kuantitatif, desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode cross-sectional. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja dalam cakupan Kecamatan Garuntang yang memiliki balita (anak usia 1-5 tahun) dengan riwayat pernah berobat di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Kota Bandar Lampung di bulan Mei tahun 2024 sebanyak 102 ibu rumah tangga. Teknik sampel dalam penelitian ini adalah Simple random Sampling. Berdasarkan uji statistik, diketahui bahwa nila p-value 0,003 atau p-value < 0,05 yang artinya Ada Hubungan Sanitasi Lingkungan Dengan Kejadian Diare Diwilayah Puskesmas Sukaraja Kota Bandar Lampung Tahun 2024. Hasil penelitian ini diharapkan agar dapat dijadikan sebagai Sebagai peningkatkan pengetahuan orang tua dalam penanganan diare pada balita dan sebagai kajian bagi pihak terkait untk mengembangkan tingkat pengetahuan dan pemeliharaan kesehaan lingkungan.