Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

GEDUNG OLAHRAGA MULTIFUNGSI DI MINAHASA UTARA. Struktur Sebagai Ekspresi Dalam Arsitektur Joshua R. Makarau; Johannes Van Rate; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30863

Abstract

Pembangunan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta dituju untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki displin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi. Di Propinsi Sulawesi Utara khususnya Kabupaten Minahasa Utara, minat olahraga semakin meningkat, baik atlit maupun penonton. seiring dengan itu, keterbatasan ketersediaan sarana dan prasarana olah raga di wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan tuntutan masyarakat semakin meningkat. Pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana olahraga sebagai wadah dan pengembangan bakat olahraga yang baik menjadi salah satu jawaban untuk peningkatan prestasi. Struktur Sebagai Ekspresi Dalam Arsitektur merupakan tema perancangan yang memiliki keterkaitan dengan objek perancangan. konsep struktur bangunan yang kuat dan dapat menampilkan keindahan dari bentukan struktur tersebut. Dengan hadirnya Gedung Olahraga Multifungsi lebih kepada pemenuhan fasilitas dan diharapkan dapat menjadi wadah yang dapat mendukung dan menunjang program Pemerintah dalam upaya mempromosikan daerah Sulawesi Utara ini khususnya Kabupaten Minahasa Utara. Kata Kunci: Gedung Olahraga Multifungsi,Struktur Sebagai Ekspresi Dalam Arsitektur, Minahasa Utara
GALERI SENI DAN BUDAYA DI TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA, Arsitektur Metafora Henri J.S. Labada; Surijadi Supardjo; Steven Lintong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i1.39047

Abstract

Seni dan budaya merupakan sesuatu yag telah ada dalam diri setiap manusia sejak dia dilahirkan. Hanya saja masing-masing orang bahkan kelompok memiliki perbedaan dalam mengembangkan seni yang dimiiki. Galeri seni dan budaya di hadirkan sebagai wadah terpusat yang dapat menampung segala hal yang berkaitan dengan berbagai seni serta budaya untuk di tampung, di kembangkan hingga di pamerkan ke masyarakat luas.  Tobelo merupakan salah satu kota di kabupaten Halmahera Utara, provinsi Maluku Utara yang di mana memiliki karakter seni dan budaya yang tergolong kuat. Tobelo, Halmahera Utara memiliki berbagai variasi kesenian tradisional seperti bermacam – macam tarian, kerajinan tangan,dan beragam musik tradisional. Galeri seni dan budaya di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara menggunakan pendekatan tema Arsitektur Metafora, , dimana objek yang di hadirkan  dapat mengambil salah satu dari symbol kebudayaan setempat, untuk di terapkan kedalam objek. Dengan tujuan, dapat menjadi daya tarik masyarakat, dan memberi kesan erat dengan kulltur atau budaya setempat.Kata kunci : Galeri Seni dan budaya, Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Arsitektur Metafora
ISLAMIC CENTER DI KOTA KOTAMOBAGU. “ARSITEKTUR KONTEMPORER” Riansyah Nuh; Surijadi Supardjo; Raymond Ch. Tarore
MEDIA MATRASAIN Vol. 17 No. 1 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v17i1.37024

Abstract

Indonesia adalah bangsa yang memiliki kebudayaan yang unik dan beraneka ragam. Dimana tiap-tiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan menghasilkan suatu kesenian khas yang membedakan antara daerah satu dengan daerah lainnya. Salah satu kota kesenian yang khas di Indonesia adalah Kota Jayapura. Kota jayapura merupakan kota seni dan budaya yang kental. Tari triton, tari pikon/kecapi mulut dan tari tipa merupakan salah satu kebudayaan dan kesenian peninggalan tradisi Papua. Sering dengan perkembangan jaman kebudayaan Papua mulai terlupakan, banyak generasi muda tadak mengenali tentang kebudayaan-kebudayaan tersebut. Masuknya budaya asing menjadi salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap menurunnya minat masyarakat budayanya sendiri, terutama generasi muda mudi yang lebih enjoi dengan kesenian-kesenian modern yang telah menjamur sampai lupa akan indentitas mereka sebagai orang Papua. Oleh karena itu, dengan adanya perancangan Pusat Seni dan Budaya Papua di Jayapura ini dapat meningkatkan kembali akan indentitas kebudayaan daerahnya dan memperkenalkan kebudayaan Papua ke manca Negara dengan cara memberikan pelatihan, pengembangan akan kesenian-kesenian Papua kepada masyarakat khususnya masyarakat Orang Asli Papua serta sarana pelestarian kebudayaan daerah dan sarana rekreasi. Output dari pada rancangan tidak hanya dari segi fisik atau keindahan arsitekturnya saja, melainkan nilai-nilai dari arsitektur Papua tersebut yang dimunculkan pada perkembangan arsitektur-arsitektur jaman sekarang tanpa melupakan arsitektur daerahnya. Dengan penerapan tema Re-Interpreting Tradisi ini diharapkan dapat mengangkat kembali nilai-nilai arsitektur Papua yang mulai dilupakan. 
ANALISIS TINGKAT KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN DI KAWASAN PUSAT KOTA BITUNG Syalom W. Tambbotto; Sonny Tilaar; Surijadi Supardjo
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37060

Abstract

City development has affected urban space, one of which is the Pedestrian Path, therefore the researcher aims to identify the use and condition of the pedestrian path and analyze the effect of the level of comfort on pedestrians in the Bitung City Center area. The method used in this study is a qualitative method and a quantitative method with Likert Scale Analysis to answer the Utilization and Condition of Pedestrian Paths and Multiple Linear Regression Analysis to answer the Influence of Comfort Levels on Pedestrian Users in the Bitung City Center Area. From the results of this study, the first conclusion can be drawn about the use and condition of the Pedestrian Paths in the Bitung City Center area. It was found that the Pedestrian Paths were used as a place for distributing billboards with good conditions (76%), good formal businesses (71.4%), Informal Business Fairly Good (52.4), Good Social Activities (80.8%), Green Line 76.2%, Poor Facilities (40%) with Good Cleanliness (80.8%), Good Circulation (71%) ) and Fairly Good Security (50.4%). and the second conclusion about the factors that affect the level of comfort for users of the Pedestrian Path, simultaneously the variables of the Green Line, Circulation, Security, Cleanliness and Facilities affect the Comfort Level of the Pedestrian Path in the Bitung City Center Area. Partially those that affect the level of comfort are influenced by the variables in Zone A, namely the Facilities, Cleanliness, Circulation Variables. While in Zone B the Green Line Variable, Facilities. Then in Zone C Variable Green Line, Circulation and in Zone D Variable Facilities.
MADRASAH ALIYAH DI MANADO: Eco Creative Architecture Shifa A. Qayyum; Jefrey I. Kindangen; Surijadi Supardjo; M. Mardan Anasiru
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 4 (2023): DASENG Volume 12 Nomor 4, Oktober 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan menjadi pondasi utama dalam membangun kultur suatu bangsa. Bagaimana manusia dapat menjamin kelangsungan masa depan mereka tanpa adanya pendidikan? Di masa sekarang manusia diharapkan menerima Pendidikan yang lebih dari hanya mengembangkan kemampuan intelektualnya. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bagimana karakter setiap orang terbentuk. Pembentukan karakter manusia tidak diawali dengan mencerdaskan, namun sebaliknya, Langkah yag paling penting adalah mewujudkan individu yang bertakwa dan berakhlak mulia. Eksistensi pendidikan di zaman sekarang hanya dilihat melaluiu satu paradigma yang terbatas dimana Pendidikan hanya dimengerti sebagai suatu instrument yang melingkupi kecerdasan intelektual tanpa pembentukan karakter. Paradigma seperti ini menjebak manusia dalam pemikiran yang salah tentang tujuan pendidikan, hakikat masalah hukum, politik, budaya, dan sosial, membuat mereka sensitif terhadap penurunan sebab tak mampu memikul tanggung jawab secara wajar. Madrasah merupakan salah satu penyelenggaraan pendidikan formal berbasis agama Islam. Eksistensi madrasah sangat diperlukan ditengah krisis moral yang terjadi disaat lembaga pendidikan biasa tak sanggup memenuhi syarat perbaikan karakter dan moral bangsa dimasa mendatang. Dengan isu permasalahan ini, sebuah madrasah dapat menjadi tiang penopang kehidupan masyarakat yang juga mampu menghubungkan kebutuhan jasmani serta kebutuhan mental rohani seseorang. Kata Kunci: Madrasah, Ecology, Creative
SPORT CENTER DI MINAHASA SELATAN: Metafora Kombinasi Rohdrigo Mononimbar; Sonny Tilaar; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Minahasa Selatan memiliki antusiasme tinggi untuk kegiatan olahraga baik yang dikompetisikan maupun rekreasional. Namun demikian tidak ditunjang dgn fasilitas yg memadai. Oleh karenanya perlu disediakan fasilitas terpadu yang terdiri dari lapangan sepak bola, bulutangkis, volley dan basket lengkap dengan infrastruktur pendukungnya. Fasilitas yang dimaksud adalah sport center. Keempat cabang olahraga tersebut dipilih untuk dihadirkan karena merupakan olahraga favorit di kalangan masyarakat setempat. Dengan dihadirkan Sport Center menjadi sebuah solusi dalam menjawab tantangan yang terjadi, dengan tapak terpilih di Desa Teep Trans, Kecamatan Amurang Barat mengingat lokasinya dilalui Jalan Trans Sulawesi dan terletak cenderung di tengah kabupaten Minahasa Selatan sehingga aksesibilitas pencapaiannya bisa dijangkau masyarakat dari seluruh kecamatan. Objek ini dirancang dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Metafora dimana gubahan massa yang ada merepresentasikan ke-4 cabang olahraga terkait dalam 1 massa yang terintegrasi dengan standarisasi fasilitas kelas professional. Kata Kunci: fasilitas, olahraga, metafora
CONDOMINIUM DI KOTA MANADO: Arsitektur High-Tech Haezer R. Pantow; Aristotulus E. Tungka; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia saat ini telah mengalami kemajuan pertumbuhan perekonomian yang sangat pesat terutama pada kota-kota besar yang merupakan pusat kegiatan ekonomi. Demikian halnya dengan Kota Manado, mengalami kemajuan dalam beberapa sektor seperti perdagangan, jasa industri dan berbagai usaha lainnya. Tentunya akan membutuhkan biaya yang besar apabila mereka memilih tinggal di hotel, untuk itu perencanaan hunian vertikal (kondominium) sangat dibutuhkan. Jadi pengadaan rumah tinggal dalam bentuk vertikal sangat diharapkan mempunyai tingkat keamanan yang tinggi agar memberikan kenyamanan bagi para penghuni, ini menjadi pilihan utama untuk masyarakat pebisnis pada saat ini, apalagi pada saat mendatang penting dan merupakan keharusan untuk menciptakan kondisi Kota Manado sebagai kota metropolitan yang penuh dengan dinamika permasalahan kota menuju kota dunia yang nyaman dan sejahtera. Dalam perancangan ini, lokasi site yang terpilih terletak di Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Pemilihan lokasi objek perancangan ini didasarkan pada maksud dan tujuan perancangan yang akan difungsikan sebagai Hunian/Condominium, serta berdasarkan aspek dan potensi-potensi kawasan. Dengan pendekatan tema Arsitektur High-Tech, bangunan akan dapat mewakili kebudayaan/peradaban masa depan yang serba scientific, sehingga pada saat itu tetap bisa dipakai dan tidak ketinggalan zaman. Hasilnya mendalam pada suatu metode kerja, perlakuan pada materian, warna-warna dan pendapatan dibandingkan dengan prinsip-prinsip komposisi. Kata Kunci: condominium, kawasan, high-tech
REDESAIN PASAR TRADISIONAL BEO: Arsitektur Etnik Reinaldy S. Usman; Surijadi Supardjo; Verry Lahamendu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Tradisional Beo adalah Pasar lokal yang diperuntukan melayani tingkat kecamatan, Pasar ini memiliki potensi baik buat pengembangan sektor Perdagangan dikarenakan berlokasi di wilayah yg strategis di mana Beo adalah pusat kegiatan wilayah promosi (PKWP) serta juga merupakan sentra perdagangan yg ada pada bagian Utara Pulau Karakelang. Pasar Tradisional Beo masih memiliki banyak kekurangan seperti letak pedagang yang kurang tertata, banyak pedagang yang masih berjualan di bahu jalan karena kurangnya los-los pasar, kemacetan di area pasar karena tidak memiiki lahan parkir yang memadai, kotornya sudut karena tidak memiliki tempat pembuangan sampah yang baik,kurangnya akses keselamatan seperti akses pemadam kebakaran. Melihat hasil pengamatan dari objek pasar ini maka akan dilakukan “redesain” dengan penerapan tema “Arsitektur Etnik” yang akan sangat sesuai karena peneliti ingin membuat suatu rancangan yang lebih baik dan ingin memperlihatkan budaya lokal daerah tersebut. Dengan meredesain Pasar Tradisional Beo sesuai dengan fungsi dan kebutuhan dengan kualitas yang baik dan fasilitas yang menunjang kegiatan yang ada, maka akan meningkatkan kualitas pasar yang baik tentunya dari segi kenyamanan dan keamanan terhadap penjual maupun pembeli. Selain itu “redesain” Pasar Tradisional Beo mampu menciptakan kondisi pasar yang layak sehingga dapat meningkatkan pelayanan pasar kepada masyarakat sesuai dengan fungsinya sehingga mampu mendorong dan meningkatkan tingkat perekonomian masyarakat khususnya menengah kebawah. Kata Kunci: Redesain, Pasar Tradisional,Arsiektur Etnik