Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

REDESAIN TEMPAT REKREASI PANTAI TAMBIO’E DI BEO (Penerapan Proksemik Dalam Arsitektur) Natalia Laloma; Judy O. Waani; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17093

Abstract

Pulau Karakelang menyimpan sejumlah destinasi wisata yang sungguh mempesona, salah satunya yaitu pantai Tambio’e, sebuah pantai indah di tepi jalan Beo yang mempesona di Pulau Karakelang. Namun di pantai Tambio’e ini fasilitas yang ada masih kurang, sehingga maksud dari perancangan ini yaitu ingin me-Redesain Tempat Rekreasi Pantai Tambio’e dengan menghadirkan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya. Hadirnya fasilitas ini dalam desain menggunakan tema Penerapan Proksemik Dalam Arsitektur.  Proksemik berkaitan dengan personal space yang diartikan sebagai studi yang mempelajari tentang posisi tubuh dan jarak tubuh (jarak antar tubuh ketika seseorang berkomunikasi antar personal) atau cara seseorang menggunakan ruang dalam berkomunikasi (dalam Altman, 1975). Istilah lain dari proksemik juga adalah komunikasi non verbal yang ditunjukkan dengan ruang dan jarak antar individu dengan orang lain. Proksemik dibagi atas dua yaitu proksemik jarak dan proksemik ruang.Pada perancangan tata/ruang, biasanya akan mengidentifikasikan fungsi atau peruntukan ruang, apakah sebagai ruang publik, servis, atau personal. Ruang personal tidak selamanya untuk satu individu, namun juga dapat bersifat kumpulan. Dalam penataan suatu ruang terdapat dua pola yaitu pola kesosiopetalan dan pola kesosiofugalan. Konsep-konsep inilah yang akan diterapkan pada Redesain Tempat Rekreasi Pantai Tambio’e Di Beo. Diharapkan dengan adanya penerapan Proksemik dalam arsitektur dapat terciptanya aktifitas dalam bentuk perilaku dalam ruang memberikan gambaran bahwa ruang mengakomodasi banyak ke-pentingan masyarakat misalnya sosial, budaya, lingkungan serta sosial politik baik yang bersifat publik maupun privat.  Kata Kunci : Tempat Rekreasi Pantai Tambio’e, Personal Space, Proksemik 
PONDOK PESANTREN KONTEMPORER DI MANADO. Geometri Islami Muhammad I. T. Antai; Rachmat Prijadi; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17288

Abstract

Warga negara Indonesia memiliki hak untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang layak, setiap warga negara Indonesia menginginkan terpenuhi kebutuhan akan pendidikan agama dan pendidkan umum secara seimbang. Pondok pesantren Kontemporer modern merupakan wadah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selain ilmu keagamaan pondok pesantren Kontemporer modern juga memasukkan pendidikan-pendidikan ilmu umum pada kurikulumnya.Pendidikan agama memang merupakan pendidikan yang sangat penting, bahkan pendidikan agama adalah hal yang wajib bagi setiap umat beragama terutama agama Islam. Kota Manado, adalah sebuah kota di Provinsi Sulawesi Utara. Di Manado belum ada sebuah pondok pesantren yang memiliki konsep Pondok Pesantren Modern. Sehingga, di perlukan sebuah pondok pesantren yang mengadopsi sistem pendidikan modern dalam kurikulum pendidikannya.Geometri Islam merupakan penerapan konsep-konsep Islam dalam arsitektur dalam melahirkan suatu produk budaya fisik dan moral yang merupakan ekspresi dan aktualisasi nilai-nilai Islam yang telah terinternalisasi dalam diri seorang Muslim. Konsep-konsep yang dimaksud adalah suatu pesan yang tersirat dalam Al-Qur`an dan hadits karena sesungguhnya di dalam Al-Qur`an dan hadits namun lebih kepada aturan dan pola hidup yang di antaranya memiliki keterkaitan dengan suatu wadah yang dapat dihubungkan dengan arsitektur.Kata Kunci: Gaya hidup, Geometri Islami, pendidikan agama
GALERI SENI DI MANADO. Implementasi Surealisme Arsitektur Thirsa M. Mantulangi; Surijadi Supardjo; Johansen C. Mandey
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17625

Abstract

Pada dasarnya, proses menciptakan karya seni, dimiliki setiap manusia, karena salah satu kelebihan yang diberikan Tuhan dan tidak diberikan kepada mahkluk lain adalah akal pikiran dengan akal pikiran inilah memungkinkan manusia melakukan segala hal. Galeri Seni di Manado hadir sebagai wadah untuk dapat mengembangkan seni, mengenal seni, serta melestarikan seni. Selain itu Galeri seni di Manado ini menunjang para seniman untuk lebih aktif dalam melakukan karya seni yang lebih terekspos. Galeri seni di Manado ini dirancang mencakup pembelajaran, eksibisi rekreasi, dan juga penawaran produk hasil karya seni.Tema perancangan yang digunakan yaitu Implementasi Surealisme Arsitektur. Dengan menggunakan prinsip surealisme yaitu  principle of methamophosis (prinsip metamorposis)  dengan teknik  otomatisme. Pada hasil rancangan Galeri Seni di Manado ini dengan menggunakan principle of methamophosis yang diterapkan pada interior bangunan dan fasade bangunan.Kata Kunci : Galeri Seni di Manado, Surealisme Arsitektur
REDESAIN TERMINAL PENUMPANG TANGKOKO DI KOTA BITUNG. Arsitektur Eco Futuristic Fahri E. Randang; Surijadi Supardjo; Raymond Ch. Tarore
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20699

Abstract

Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. Ada berbagai macam tipe terminal yaitu A, B, dan C. Masing-masing mempunyai fungsi yang sama yaitu pelayanan transportasi, namun berbeda cakupan untuk tujuan. Masing-masing kategori terminal tersebut mempunyai standar tersendiri tentang tata cara perencanaan, perancangan dan pengelolaan terminal yang telah diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: 31 Tahun 1995 Tentang Terminal Transportasi Jalan, yang harus dijadikan pedoman dasar dalam perencanaan, perancangan, dan pengelolaan terminal, khususnya di Indonesia.Terminal Tangkoko adalah satu-satunya terminal tipe A yang ada di kota Bitung. Terminal ini memiliki banyak kekurangan yang tidak sesuai standar yang telah ditetapkan oleh Menteri Perhubungan RI, baik dari segi perancangan maupun pengelolaannya, sehingga harus segera diperbaiki agar dapat melayani/memfasilitasi aktivitas moda transportasi di kota Bitung dengan baik dan lancar.Proses Redesain Terminal Penumpang Tangkoko di kota Bitung ini menggunakan acuan standar dari SPM (Standar Pelayanan Minimum) Terminal Angkutan Umum Tahun 2012, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : 31 Tahun 1995 Tentang terminal Transportasi Jalan dan menggunakan tema arsitektur Eco-Futuristic. Sumber data referensi dan tema ini diharapkan dapat memperbaiki segala kekurangan yang ada pada Terminal Tangkoko ini, sehingga akan didapat sebuah perancangan terminal baru yang dapat memfasilitasi/melayani semua golongan masyarakat dalam melakukan aktifitas moda transportasi dengan baik dan lancar.Kata Kunci :Kota Bitung, Terminal Penumpang, Tangkoko, Eco-Futuristic, Redesain
PANTI WERDHA DI BITUNG. Arsitektur Tropis Pendekatan Kenyamanan Thermal Christhalia D. P. Pilat; Surijadi Supardjo; Esli D. Takumansang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23695

Abstract

Acuan perancangan ini bertujuan : (1) Menganalisis Kebutuhan dan Kegiatan Lansia di Panti Werdha, (2) Menganalisis Arsitektur Tropis dengan Pendekatan Kenyamanan Thermal dalam Arsitektur, (3) Menganalisis kebutuhan dan besaran ruang, sistem struktur, dan utilitas bangunan yang akan dimanfaatkan dalam Panti Werdha.Untuk menciptakan suatu wujud dan lingkungan dan bangunan yang berfungsi menjawab persoalan keterbatasan ruang para lansia dengan desain yang nyaman, aman, dan sesuai dengan standar dalam segi arsitektural, serta memfasilitasi kebutuhan serta aktivitas lansia dengan memperhatikan aspek perilaku dan lingkungannya, Metodologi yang digunakan adalah glass box dengan studi literature, studi banding dan observasi lapangan, wawancara/interview dan penelitian kepustakaan. Melalui penelitian, peneliti mendapatkan hasil yang mendukung perancangan dengan pemetaan perilaku lansia dan kenyamanannya. Kata Kunci : Lansia, Kebutuhan, Kegiatan, Panti Werdha, Arsitektur Tropis, Kenyamanan Thermal, Kota Bitung.
RELOKASI PASAR TRADISIONAL AMURANG. Arsitektur Post Modern Tiovany J. Tilaar; Surijadi Supardjo; Ricky S. M. Lakat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23825

Abstract

Di Kabupaten Minahasa Selatan terdapat  beberapa pasar tradisional, salah satunya adalah Pasar Tradisonal Amurang  yang terletak di pusat perkotaan Amurang, tepatnya di Kelurahan Uwuran Satu. Permasalahan yang dihadapi saat ini antar lain prasarana dan sarana yang sangat minim, ketidaknyamanan berbelanja (kumuh, semrawut, becek, kotor) serta pedagang yang semakin menjamur. Selanjutnya dalam RTRW  Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2014-2034, Pasar Tradisional Amurang ini akan direlokasi ke desa Bitung di area perkebunan yang berbatasan dengan Desa Kilometer Tiga. Oleh karena itulah perlu dibuat rancangan Pasar Tradisional Amurang yang baru. Metode perancangan Pasar Tradisional Amurang ini mengikuti metode desain generasi satu dari Christopher Alexander. Tema yang dipakai dalam merancang  Relokasi Pasar  Tradisional Amurang  ini yaitu Arsitektur  Post Modern bergaya Double CodingDari hasil perancangan yang telah dilakukan , dihasilkan rancangan pasar tradisonal Amurang yang  terdiri dari dua lantai, dimana terdapat dua area belanja yaitu pasar basah dan pasar kering . Sirkulasi dalam bangunan pasar yaitu berpola Grid. Sirkulasi kendaraan di luar bangunan berpola Linier menerus untuk menghindari terjadinya crosing  Area parkir diletakkan di sekeliling bagunan pasar untuk memudahkan pencapaian ke dalam bangunan. Sistem pencahayaan dan penghawaaan sebagian besar menggunakan pencahayaan dan penghawaan alami. Struktur bangunan utama  menggunakan struktur rangka kaku dengan material beton bertulang.  Kata Kunci :   Pasar Tradisional, Relokasi, Post Modern 
PUSAT SENI PAPUA DI KOTA NABIRE. Iconic Micky Kapoh; Surijadi Supardjo; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.28808

Abstract

Pusat Seni Papua di Kota Nabire merupakan suatu wadah atau tempat terpusatnya seluruh kegiatan seni daerah Papua. Karya-karya, keahlian, serta seluruh aspek adat istiadat, baik yang pernah ada dan tak terlihat lagi sekarang, maupun yang terwariskan / masih membudaya sekarang ini, semuanya diidentifikasi, dipelajari, dan dikembangkan oleh para pelaku seni dan budayawan yang ada. Lokasi dari wadah ini terletak di Kabupaten Nabire.Pada perancangan ini digunakan Tema Iconic. Tujuan utamanya ialah merancang bangunan sebagai daya tarik. Dalam hal ini aspek visual menjadi sangat spesifik untuk membantu menampilkan karakter tertentu dari sebuah benda hasil karya seni. Selain itu karya arsitektur yang terhadirkan harus bisa mengimplementasikan konsep desain, memaksimalkan hasil kajian tema Iconic dari budaya lokal, bahkan bisa menggarap unic genius loci (keunggulan tapak/lokasi), baik melalui site planning maupun olahan bentuk dan tampilan massa bangunan.Sesuai dengan RTRW Kabupaten Nabire, lokasi pengembangan daerah terletak pada Distrik Nabire dan penulis mengambil lokasi di Jl. Yos Sudarso Distrik Nabire.Dengan adanya Pusat Seni Papua di Kota Nabire ini diharapkan mampu menunjang kebutuhan masyarakat akan pentingnya kesenian di kota Nabire. Kata Kunci : Pusat Seni, Kota Nabire, Iconic
SEKOLAH ASRAMA ISLAM DI MANADO. Arsitektur Islam Wisnu F. Ardiansyah; Rachmat Prijadi; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30167

Abstract

Boarding school adalah sistem sekolah dengan asrama, dimana peserta didik dan juga para guru tertentu tinggal di asrama yang berada dalam lingkungan sekolah dalam kurun waktu tertentu biasanya satu semester diselingi dengan berlibur satu bulan sampai menamatkan sekolahnya, dimana di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan berbasis agama Islam. Sedangkan konsep perancangan bentuk bangunan pada Sekolah Asrama di Manado diambil dari bentuk setengah lingkaran yang diadopsi dari simbol islam yaitu Bulan sabit dan bintang yang berfokus pada bentuk bulan yang kemudian mengalami transformasi karena kebutuhan ruang dan bentukan site. Dengan mengambil tema Arsitektur Islam maka Sekolah Asrama Islam di Manado ini akan mampu untuk tampil berbeda dengan Sekolah Asrama lainnya, dimana bangunan ini akan mengacu pada symbol-sombol keislaman dengan estetika interior dan struktur akan lebih memperjelas fungsi dari bangunan tersebut, begitu pula dengan karya-karya arsitektural yang juga merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuk yang memiliki suatu makna, arti yang dapat menjadikan Sekolah Asrama Islam di Manado sebagai tempat yang mewadahi aktivitas pertemuan, berkomunikasi, dan bertukar pikiran, saling memberikan informasi dan pengetahuan tentang keislaman, serta saling menunjang dengan fungsi lainnya untuk menjadikan satu kawasan Sekolah Asrama Islam di Manado ini sebagai wadah untuk menunjang perkembangan Kota Manado sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Utara menjadi icon baru yang religious serta representatif berkarakter khusus dengan bentuk bangunan yang memprioritaskan simbol-simbol keislaman dan nilai-nilai spiritual. Bangunan tersebut diharapkan sanggup memberikan kontribusi yang baik bagi bangsa Indonesia dan lebih khusus Kota Manado, baik di masa kini maupun masa yang akan datang.Kata Kunci: Boarding School, Sekolah Asrama Islam, Arsitektur Islam.
HOTEL SYARIAH DI MANADO. Simbolisme Arsitektur Islam Bima C. P. Morodjojo; Surijadi Supardjo; Rachmat Prijadi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30168

Abstract

Hotel dipandang masyarakat awam khususnya masyarakat kota manado bahwa hotel hanya menjadi tujuan atau tempat maksiat baik itu perzinahan, narkoba dan perbutan negatif lainnya. Dengan perkembangan hotel berbasis syariah mampu menjadi suatu bisnis yang cukup populer namun diyakinkan bahwa perkembangan hotel berbasis syariah ini akan mengalami perkembangan peningkatan yang cukup drastis dikarenakan tingkat kesadaran terhadap syariah tersebut. Hotel syariah yang dimaksud disini adalah Hotel dengan konsep syariah Islam, yaitu menerapkan syariah dalam Agama Islam ke dalam operasional Hotel. Akan tetapi label syariah tidak hanya untuk umat Muslim saja namun terbuka untuk umum.Maka hotel syariah dengan tema simbolisme arsitektur islam diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan yang halal dan bersyariah dengan seperti itu maka fasilitas hotel akan lebih ditingkatkan, para wisatawan asing maupun lokal akan merasa lebih aman, nyaman, dan tidak merasa asing dengan fasilitas-fasilitas yang menerapkan aspek-aspek syariah, serta visualisasi bangunan  yang akan terlihat pada pola bangunan, cahaya, warna, dan pernak-pernik di dalamnya benar-benar mentahbiskan kedalaman makna esoterik didalam Islam yang lebih mengacu pada seni untuk memfokuskan perhatian bagi pengguna bangunan sehingga hotel ini dapat turut serta dalam mengembangkan industri pariwisata. Kata kunci: Hotel Syariah, Simbolisme Arsitektur Islam
ASRAMA HAJI EMBARKASI SULUT DI MANADO. Arsitektur Islam Kresno B. Murti; Rahmad Prijadi; Surijadi Supardjo
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30772

Abstract

Asrama Haji Embarkasi Sulut di Manado merupakan satu kawasan kegiatan keagamaan dimana di tempat ini adalah tempat embarkasi dan debarkasi bagi para calon haji sebelum diberangkatkan ke tanah suci, selain itu kawasan Asrama Haji ini terbuka untuk masyarakat umum baik untuk kegiatan pelatihan maupun kegiatan wisata religi, dimana di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan berbasis agama Islam. Sedangkan konsep perancangan bentuk bangunan pada Asrama Haji Embarkasi Sulut di Manado dibuat bentuk dasar persegi empat yang mengadopsi dari bentuk kahbah, yang kemudian mengalami transformasi sesederhana mungkin sesuai dengan kebutuhan ruang dan bentukan site. Dengan mengambil tema Arsitektur Islam maka Asrama Haji Embarkasi Sulut di Manado ini akan mampu untuk tampil berbeda dengan Asrama Haji lainnya, dimana bangunan ini akan mengacu pada simbol-sombol keislaman dengan estetika interior dan struktur akan lebih memperjelas fungsi dari bangunan tersebut, begitu pula dengan karya-karya arsitektural yang juga merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuk yang memiliki suatu makna, arti yang dapat menjadikan Asrama Haji Embarkasi Sulut di Manado sebagai tempat yang mewadahi aktivitas pertemuan, berkomunikasi, dan bertukar pikiran, saling memberikan informasi dan pengetahuan tentang keislaman, serta saling menunjang dengan fungsi lainnya untuk menjadikan satu kawasan Asrama Haji Embarkasi di Manado ini sebagai wadah untuk menunjang perkembangan Kota Manado sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Utara: menjadi icon baru yang religius dan rekreatif serta representatif berkarakter khusus dengan bentuk bangunan yang memprioritaskan simbol-simbol keislaman dan nilai-nilai spiritual. Bangunan tersebut diharapkan sunggap memberikan kontribusi yang baik bagi bangsa Indonesia dan lebih khusus Sulawesi Utara, baik di masa kini maupun masa yang akan datang.Kata Kunci: Asrama Haji, Embarkasi, Arsitektur Islam.