Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Kandungan Asam Sianida, Bahan Kering Dan Bahan Organik Tepung Biji Karet Hasil Pengukusan Yatno, Y; Murni, Rasmi; Nelwida, N; Yani, Evi Novita
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 18 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.753 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v18i2.2674

Abstract

Biji karet merupakan salah satu bahan pakan hasil samping berkualitas dari perkebunan karet yang dapat dijadikan pakan ternak unggas maupun ruminansia. Salah satu kelemahan dari bahan pakan tersebut adalah tingginya kandungan asam sianida (HCN) yang dapat menyebabkan keracunan bila dikonsumsi oleh ternak. Salah satu cara untuk mengeliminasi bahkan menghilangkan kandungan antinutrisi tersebut yaitu dengan proses pengukusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama waktu pengukusan terhadap penurunan asam sianida maupun perubahan zat makanan lainnya seperti bahan kering dan bahan organik. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Data yang diperoleh dilakukan Analisis Ragam, sedangkan uji jarak berganda Duncan digunakan sebagai uji lanjut. Perlakuan yang terapkan adalah; P0 (tepung biji karet tanpa pengukusan sebagai kontrol), P1 (pengukusan tepung biji karet selama 10 menit), P2 (pengukusan tepung biji karet selama 20 menit) dan P3 (pengukusan tepung biji karet selama 30 menit). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa lama waktu pengukusan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap HCN tepung biji karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengukusan semakin signifikan menurunkan kandungan HCN, bahan kering maupun bahan organik tepung biji karet. Dapat disimpulkan bahwa pengukusan tepung biji karet selama 30 menit mampu menurunkan asam sianida 13 kali lebih rendah (9.542 - 0.712%) dibandingkan kontrol
Antibiotic Resistance of Escherichia coli and Staphylococcus aureus Bacteria in Goats in Pematang Gajah, Jambi Dedi Damhuri; Yatno Yatno; Asri Rizky; Jessica Anggun Safitri; Ahmad Syarifuddin
Jurnal Biologi Tropis Vol. 26 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v26i2.11678

Abstract

Limited knowledge among smallholder goat farmers regarding appropriate antibiotic use may contribute to the emergence of antimicrobial resistance in livestock-associated bacteria. This study aimed to identify bacterial isolates and evaluate antibiotic resistance patterns of bacteria obtained from fecal and nasal mucosal swabs of goats in Pematang Gajah. Samples were collected from nine goats with three repeated examinations. Bacterial identification was performed using Gram staining followed by standard biochemical tests. The results showed that 8 of 9 isolates (≈90%) from fecal swabs exhibited biochemical characteristics consistent with Escherichia coli, including Indole (+), MR (+), VP (−), Citrate (−), TSIA A/A with gas production, positive motility, and metallic green sheen on EMB agar. A total of 7 of 9 isolates (≈76%) from nasal mucosal swabs demonstrated typical characteristics of Staphylococcus aureus, namely Gram-positive cocci, catalase-positive, coagulase-positive, mannitol fermentation positive, and β-hemolysis. Antibiotic susceptibility testing conducted on one isolate of E. coli and one isolate of S. aureus with three replications revealed the highest inhibition zones in E. coli against enrofloxacin (23.33 ± 0.58 mm) and gentamicin (21.33 ± 0.58 mm), categorized as sensitive, while high resistance was observed against tylosin (8.33 ± 0.58 mm) and penicillin–streptomycin (9.33 ± 0.58 mm). Staphylococcus aureus isolates showed high sensitivity to enrofloxacin (24.33 ± 0.58 mm), tylosin and gentamicin (22.33 ± 0.58 mm), but resistance to penicillin–streptomycin and ampicillin. These findings indicate variability in antimicrobial susceptibility among goat-associated bacteria and highlight the importance of susceptibility-based antibiotic selection to reduce antimicrobial resistance risk.