Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Arsitekno

PRIVASI PADA PEKARANGAN SEBAGAI RUANG TERBUKA PRIVAT PERKOTAAN DI KAWASAN HUNIAN JERON BETENG KRATON YOGYAKARTA Lisa, Nova Purnama
Arsitekno Vol 5, No 5 (2015): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v5i5.1240

Abstract

Privasi dipahami sebagai kemampuan kontrol seseorang atau sekelompok orang dalam mewujudkan interaksinya dengan orang lain. Privasi membantu seseorang atau sekelompok orang untuk mengatur jarak personalnya, ketika ingin mendekat dan ketika ingin menjauh. Privasi akan selalu dibutuhkan oleh siapapun, kapan pun dan dimana pun, agar diperoleh pencapaian rasa aman dan nyaman didalam melakukan aktivitasnya, termasuk juga disaat berada di pekarangan rumah sebagai ruang terbuka privat. Privasi merupakan tingkatan interaksi atau keterbukaan yang dikehendaki seseorang pada suatu kondisi atau situasi tertentu. Tingkat privasi yang diinginkan itu menyangkut keterbukaan atau ketertutupan, yaitu adanya keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain, atau justru ingin menghindar atau berusaha supayasukar dicapai oleh orang lain. Di dalam kajian tentang arsitektur lingkungan dan perilaku, pekarangan rumah tidak hanya dianggap sebagai ruang luar dari rumah saja, tetapi juga ditentukan perlunya faktor lain dalam menentukan pola ruang dalam pekarangan, yaitu kultur, religi, spasial dan perilaku itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan penelitian yang berkaitan dengan privasi dan pekarangan rumah dengan konteks yang jelas dan spesifik, untuk memperkaya khasanah arsitektur perilaku dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui privasi penghuni terhadap pekarangan sebagai ruang terbuka privat pada kawasan Jeron Beteng Kraton Yogyakarta, dengan adanya perubahan terhadap pola ruang terbuka privat yang terbentuk sejauh mana tingkat pencapaian privasi yang dicapai. Hasil penelitian ini, ingin melihat bagaimana pencapaian kebutuhan akan privasi, dengan menggunakan presepsi sebagai tolak ukur untuk melihat kebutuhan privasi penghuni terhadap pekarangan rumah sebagai ruang terbuka privat.
POST OCCUPANCY EVALUATION OF THE TERMINAL CONDONG CATUR YOGYAKARTA Lisa, Nova Purnama
Arsitekno Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v2i2.1245

Abstract

Post Occupancy Evaluation merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau kegagalanbangunan/ ruang dengan mengevaluasi kinerja elemen-elemen bangunan/ ruang tersebut. Kegiatan inidilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan/ kegagalan kinerja sebuah lingkungan binaan. Tahap evaluasipasca huni adalah tahap yang sangat perlu untuk melihat kesesuaian antara fas yang ada sekarang denganpola-pola pemanfaatan oleh manusia dan perilakunya. Evaluasi pasca huni adalah suatu proses evaluasifasilitas dengan cara yang sistematik setelah fasilitas tersebut dibangun dan dihuni/ digunakan dalam suatukurun waktu tertentu. Jenis kegiatan dalam evaluasi pasca huni akan tergantung pada interaksi antarkomponen dalam proses evalusi pasca huni:Tolok ukur kinerja Teknikal; Fungsional; Behavioral/ perilaku,Pengguna Individu Kelompok; Organisasi, Setting Ruang; Bangunan; Fasilitas. Evaluasi pasca huni memilikitingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya, yang meliputi: Evaluasi Pasca Huni Indikatif; EvaluasiPasca Huni Investigatif; Evaluasi Pasca Huni Diagnostik. Pada penelitian evaluasi purna huni TerminalCondong Catur di Yogyakarta ini berada pada tingkatan kecermatan sesuai kebutuhan penggunanya yaituevaluasi pasca huni Investigasi. Investigasi dilakukan guna pencapaian triangulasi, dengan melakukanobservasi lapangan/wawancara terhadap pengguna serta kinerja lingkungan binaan sebagai tolak ukurnyadengan mengkomparasikan terhadap standar persyaratan norma Terminal bus kelas C yang di tetapkan.Terminal Condong Catur Yogyakarta merupakan salah satu komponen fungsional utama dari sistemtransportasi yang memerlukan biaya yang besar, sehingga dalam pembangunannya perlu kajian yangmendalam untuk mencapai hasil yang optimal.
Optimalisasi Pencahayaan Alami pada Ruang Nurhaiza, Nurhaiza; Lisa, Nova Purnama
Arsitekno Vol 7, No 7 (2016): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v7i7.1234

Abstract

Abstract Natural lighting is the lighting obtained from direct sunlight, where the light is obtained in the morninguntil late afternoon. According to SNI 03-2396-200, natural lighting during the day can be good in a span of solarorientation starting at 8:00 pm until 16: 00 pm with equitable distribution of incoming light in the room and didnot leave annoying glare effects in the use of lighting natural, regardless of the quality and distribution of lightthat enters the building through a window and orientation of openings. The wider the aperture, the more light thatenters the room. It is necessary to control the amount of light coming into the room. The research used isquantitative method by using mathematical models, with the measurement process, using a formula to obtainaccurate data. The object of research and observations in Architecture Program Faculty Building University ofMalikussaleh, Lhokseumawe Aceh. Observation is by direct observation to see the condition of natural lighting inclassrooms, measurements the extent of the classroom. Then collect some measurement data among other things,measure the light intensity at the lecture hall by using Luxmeter, calculate the intensity of light at the lecture hallby factors sky with measuring point main and the measuring point side and the comparative results of themeasurement of light intensity of the lighting level the average recommended. The results show, a lecture hall inthe building Prodi architecture has three floors, which have 4 lecture room on floors 1 and 2, 2 room studioregular on floors 1, 2 lab computer room on the floor and 2 studio design room on the 2nd floor. also of coursethe building also has other equipment such as administration room, warehouse and other supporting facilities.But for the third floor untapped dikarenaka still in the process of renovation. The results of observations obtainedintensity of natural light on the 1st floor and 2nd floor Architecture Program building University of Malikussalehbased on the measurement of light intensity using the luxmeter, the obtained data is that the rooms was not inaccordance with the standards of an average lighting is recommended by ISO 2000 for classrooms -03 250 luxand 700 lux.Key word: Natural Lighting, Light Intensity, Lux meters, ISO 2000, SNI 03-2396-200
Subtantive Human Behavioral Environment terhadap Open Space Berdasarkan Paradigma Konsepsi dan Teori Arsitektur Kota Lisa, Nova Purnama; Iqba, Muhammad
Arsitekno Vol 7, No 7 (2016): Jurnal Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v7i7.1248

Abstract

Abstrak Kegiatan masyarakat kota masa kini lebih kompleks dibandingkan masyarakat kota jamandulu. sehingga konsep penataanya harus lebih ideal. Namun di sebagian besar kawasan kota diIndonesia yang terjadi malah sebaliknya. Jumlah penduduk yang besar hanya menambah permukimanyang padat dan tidak tertata serta mengabaikan keberadaan open space bagi publik (square). Dalammasalah perkotaan, ruang terbuka merupakan bagian atau salah satu sub-sistem dari sistem kota secarakeseluruhan. Perilaku manusia terhadap keberadaan open space sangat signifikan, perilaku ataupunaktivitas manusia terhadap penggunaan open space ditimbulkan karena adanya kebutuhan dari manusiatersebut untuk mempergunakannya. Secara psikologis, manusia membutuhkan tempat dimana dia dapat beraktivitas dan atau berinteraksi sesama manusia lainnya, apakah aktivitas itu berupa olahraga, jalan–jalan, berkumpul bersama teman atau keluarga, penghijauan, ataupun kegiatan publik lainnya yangmenggunakan open space. Dalam hal ini perilaku (behavioral) dioperasionalkan sebagai kegiatanmanusia yang membutuhkan seting atau wadah kegiatan yang berupa ruang. Sehingga korelasi inilahyang membentuk tata ruang yang merupakan bagian dari bentuk arsitektur. Sehingga konsepsi mengenaiopen space dapat dikembangkan lebih lanjut melalui pendekatan environment behavioral.Kata Kunci: Arsitektur kota, Ruang terbuka, Lingkungan perilaku, Aktivitas.
KAJIAN MAKNA ORNAMEN DAN MAKNA WARNA ORNAMEN UMAH PITU RUANG (STUDI KASUS UMAH PITU RUANG DI DESA KEMILI, ACEH TENGAH) Dafrina, Armelia; Fidyati, Fidyati; Abadi, Firda; Lisa, Nova Purnama
Arsitekno Vol 9, No 1 (2022): Arsitekno
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/arj.v9i1.6262

Abstract

Arsitektur tradisional Aceh merupakan bentuk arsitektur yang berkembang dari satu generasi ke generasi seterusnya. Mempelajari bangunan tradisional kemudian berarti juga mempelajari juga tradisi masyarakat yang lebih dari sekadar tradisi membangun secara hunian fisik. Rumah panggung, rumah peninggalan para penguasa yang memimpin daerah Gayo disebut Umah Pitu Ruang. Penelitian kajian makna warna ornamen ini bertujuan untuk mengkaji makna ornamen dan makna warna ornamen umah pitu ruang. Penelitian umah pitu ruang ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yang digunakan adalah hasil dari data sekunder dan tersier. Hasil daripada penelitian ini menunjukkan bahwa umah pitu ruang memiliki berbagai macam jenis ornamen dan beberapa warna merah, warna putih, warna kuning, warna hijau, dan warna hitam yang memiliki makna tersirat di dalam ornamennya, seperti “emun beriring”(tidak lupa jati dirinya sebagai orang Gayo), “emun mutumpuk”(musyawarah), “emun berkune”(berdiri sendiri), “emun mupesir”(memisahkan), “emun berangkat” (persatuan), “puter tali”(bersatu), motif pucuk rebung(membangun), “sarak opat”(mengatur), “cucuk penggong”(seia, sekata), “ lelayang”(dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak). Penempatan warna pada ornamen umah pitu ruang merupakan gambaran dari prinsip hidup masyarakat Gayo secara umum serta menjadi lambang identitas kepemilikan ornamen itu sendiri.