Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Peran Lembaga Posbindu PTM di Desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango Adam, Rismawati; Rahmatiah, Rahmatiah; Latare, Sainudin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4830

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Posbindu PTM di Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular pada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan informan terkait, serta dokumentasi kegiatan Posbindu. Informan penelitian meliputi pihak Puskesmas, pemerintah desa, kader Posbindu, dan masyarakat sebagai sasaran layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puskesmas dan Pemerintah Desa telah menjalankan perannya dengan cukup baik dalam mendukung keberlangsungan kegiatan Posbindu PTM. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penyediaan alat kesehatan, obat-obatan, pendampingan teknis, serta pemberian insentif kepada kader Posbindu. Hal ini mencerminkan adanya komitmen lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan layanan skrining kesehatan di tingkat desa. Namun demikian, peran kader Posbindu masih belum optimal karena lebih berfokus pada aspek teknis pemeriksaan kesehatan, seperti pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan gula darah, tanpa disertai kegiatan edukasi dan penyuluhan kesehatan. Padahal, edukasi memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait pencegahan penyakit tidak menular. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posbindu masih tergolong rendah. Rendahnya partisipasi tersebut dipengaruhi oleh rasa takut untuk diperiksa, kurangnya pemahaman mengenai manfaat Posbindu, serta rendahnya motivasi untuk hadir secara rutin. Selain itu, persepsi masyarakat terhadap Posbindu masih beragam, di mana sebagian menganggap Posbindu hanya ditujukan bagi orang yang sudah sakit, sementara yang lain memahami manfaatnya namun belum merasa perlu berpartisipasi aktif. Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kurangnya informasi jadwal kegiatan serta benturan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat
Degradasi Tradisi Budaya Tarian Balatindak (Studi Penelitian Di Desa Monsongan) Jufri, Fahmia; Latare, Sainudin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5505

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis degradasi tradisi budaya Tarian Balatindak di Desa Monsongan, Kecamatan Banggai Tengah, Kabupaten Banggai Laut, Provinsi Sulawesi Tengah. Tarian Balatindak merupakan tarian tradisional suku Banggai yang memiliki nilai historis, simbolik, dan sosial sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kerajaan Banggai. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi, eksistensi tarian ini mengalami penurunan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian dipilih secara purposive sampling yang meliputi tokoh adat, aparat desa, tokoh masyarakat, dan pemuda setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa degradasi Tarian Balatindak ditandai dengan menurunnya minat generasi muda, berkurangnya frekuensi pementasan, serta pergeseran nilai budaya akibat masuknya budaya modern. Faktor-faktor yang memengaruhi degradasi tersebut antara lain perubahan social dan perkembangan zaman, arus globalisasi dan modernisasi, lemahnya regenerasi pelaku seni, serta kurangnya upaya pelestarian yang berkelanjutan dari masyarakat dan pemerintah kurangya Upaya dari pemerintah dapat di lihat dari tidak adanya program pemerintah yang bertujuan untuk melestarikan budaya Tarian Balatindak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa degradasi tradisi Tarian Balatindak merupakan dampak dari perubahan sosial yang tidak diimbangi dengan strategi pelestarian budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah dalam menjaga dan melestarikan Tarian Balatindak agar tetap bertahan sebagai identitas budaya suku Banggai.
Solidaritas Pada Komunitas Ojek Padi Al Muharam, Anugrah Suci; Hatu, Rauf A; Latare, Sainudin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5762

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk solidaritas sosial yang terbangun dalam komunitas ojek padi di Desa Lambanau, Kecamatan Ongka Malino, Kabupaten Parigi Moutong. Komunitas ojek padi merupakan kelompok informal yang memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pertanian, khususnya dalam proses pengangkutan hasil panen. Selain berfungsi secara ekonomi, komunitas ini juga menjadi bagian dari sistem sosial masyarakat pedesaan yang menjunjung nilai kebersamaan dan saling membantu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan anggota komunitas ojek padi dan pengguna jasa, serta dokumentasi sebagai data pendukung. Metode ini digunakan untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai bentuk interaksi sosial dan praktik solidaritas yang berkembang dalam komunitas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas dalam komunitas ojek padi tercermin melalui kerja sama dalam pembagian dan pelaksanaan tugas, gotong royong saat menghadapi kendala teknis seperti kerusakan kendaraan, serta kepedulian antaranggota dalam berbagai situasi. Selain itu, musyawarah menjadi sarana utama dalam pengambilan keputusan untuk menjaga keadilan dan keharmonisan kelompok. Solidaritas tersebut terbentuk karena adanya kesamaan profesi, kepentingan bersama, dan kedekatan sosial yang terjalin secara berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan konsep solidaritas mekanik menurut Émile Durkheim, di mana kesadaran kolektif dan nilai bersama menjadi pengikat utama kelompok. Solidaritas yang kuat tersebut berkontribusi terhadap kelancaran aktivitas panen dan keharmonisan sosial masyarakat Desa Lambanau.
Klasifikasi Sosial Keluarga Inti Anak Broken Home di Desa Hutadaa, Kabupaten Gorontalo Ismail, Noval; Rahmatiah; Latare, Sainudin
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v2i4.397

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis klasifikasi sosial keluarga inti anak broken home di Desa Hutadaa, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa keluarga broken home di desa tersebut tidak hanya berasal dari latar belakang ekonomi rendah, namun juga dari kelompok dengan status sosial yang tinggi seperti PNS dan karyawan swasta. Faktor penyebab utama terjadinya broken home mencakup kegagalan dalam menjalankan peran dan tanggung jawab orang tua, minimnya komunikasi, beban ekonomi, dan ketidakhadiran secara emosional dari salah satu atau kedua orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakutuhan keluarga memberikan dampak signifikan terhadap perkembangan emosional dan sosial anak, serta menunjukkan bahwa keretakan rumah tangga dapat terjadi tanpa memandang kelas sosial. Penelitian ini menggunakan teori Struktural Fungsional Talcott Parsons menunjukkan bahwa keluarga memiliki empat fungsi pokok, yaitu sosialisasi anak, stabilisasi kepribadian orang dewasa, pemenuhan kebutuhan ekonomi, dan pengaturan afeksi. Ketika terjadi disfungsi, seperti dalam kasus keluarga broken home, fungsi-fungsi tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sosialisasi anak menjadi terganggu karena absennya figur peran dari salah satu orang tua, stabilitas emosional anak melemah akibat konflik atau perpisahan, dan pengaturan afeksi dalam keluarga tidak lagi memadai. Hal ini berdampak langsung pada ketidakseimbangan dalam perkembangan kepribadian anak serta mengganggu integrasi sosial di lingkungan sekitar. Dengan demikian, disfungsi keluarga menurut Parsons dapat menjelaskan secara sistematis bagaimana struktur keluarga yang tidak utuh dapat menciptakan ketidakstabilan sosial pada anak.
Strategi Survival Pekerja Perempuan Generasi Sandwich di Desa Sejahtera Lantu, Mentari Qarima; Rahmatiah; Latare, Sainudin; Maharani, Vanya Dyah Pitaloka
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v3i1.418

Abstract

Perubahan struktur keluarga dan peran pada era modern telah menyebabkan munculnya fenomena generasi sandwich, di mana individu harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus. Kondisi ini menjadi semakin kompleks ketika dialami oleh perempuan pekerja yang juga berperan sebagai tulang punggung keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi bertahan hidup yang diterapkan oleh pekerja perempuan generasi sandwich di Desa Sejahtera, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Perempuan dalam posisi ini menanggung tanggung jawab ganda, yaitu mendukung orang tua mereka yang sudah tidak produktif dan anak-anak atau saudara kandung yang lebih muda yang masih bergantung secara ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposif berdasarkan kriteria sebagai perempuan lajang yang berperan sebagai pencari nafkah utama dan mendukung dua generasi dalam keluarga mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi bertahan hidup yang digunakan dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu strategi aktif, strategi pasif, dan strategi jaringan. Strategi aktif dilakukan melalui pekerjaan tambahan, usaha kecil, dan pemanfaatan peluang musiman untuk meningkatkan penghasilan. Strategi pasif berkaitan dengan pengelolaan pengeluaran, namun belum diterapkan secara optimal akibat kecenderungan konsumtif. Sementara itu, strategi jaringan diterapkan melalui bantuan keluarga, tetangga, dan lembaga pemerintah sebagai bentuk adaptasi sosial. Temuan ini dianalisis menggunakan Teori Fungsional Struktural Emile Durkheim, yang menjelaskan bahwa pergeseran peran dalam struktur keluarga merupakan bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan sistem, di mana perempuan mengambil alih peran yang hilang guna memastikan kelangsungan fungsi keluarga.