Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PARADOX IN ARUNDHATI ROY’S THE GOD OF SMALL THINGS Simamora, Rosa Maria
MEDIA UNIKA - Majalah Ilmiah Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This writing discusses paradox in the novel The God of Small Things written by Arundhati Roy. Although the novel and the author are claimed to be controversial for her dare to break the rules, the novel was awarded The Booker Prize. Her way to break the rules is clearly shown through the use of paradox on almost every page. This is a library research and applies New Criticism proposed by M.H. Abrams. He states that the distinctive procedure of the New Criticism is its explication or close reading; detailed and subtle analyses of the complex interrelation and ambiguities (multiple meanings of the components within a work). It gives much attention to the language especially paradox, irony, complexity, contrast, tension, etc.. In this writing paradox is a person, situation, and action exhibiting inexplicable or contrary aspect. The discussion is limited on the use of paradox in events, characters, and language. The intention is shown through the interpretation. Paradox in the events is traced through main and complementary events. It is found that paradox is used to criticize Syrian Christians who force on breeding marriage and curse inter-religion and inter-clan marriages. It is also used to portray the abuse of people right and dignity. Paradox in characters is traced through major and minor characters. It is found that Paradox is used to show people who claim and be claimed to be respected are in fact savage, but the discarded people have humanity values and capabilities. Paradox in language is traced through phrases of sentences. In conclusion, the novel the God of Small Things is enriched on Paradox. Arundhati Roy intentionally and beautifully used it to criticize and blaspheme the Syrian Christian teachings which stresses and forces on marriage within the same caste where the innocent people become the victims of the teaching.
PENGARUH DISIPLIN BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS IV DI SD NEGERI 066050 MEDAN DENAI Rosa Maria S; Reflina Sinaga; Darinda Sofia Tanjung
JURNAL PAJAR (Pendidikan dan Pengajaran) Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Laboratorium Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/pjr.v6i4.8473

Abstract

Artikel ini berfokus pada sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tingkat disiplin belajar siswa. Jenis penelitian tersebut adalah penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian melibatkan siswa kelas IV SD Negeri 066050 Medan Denai. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan adanya pengaruh disiplin dengan hasil belajarnya dikelas IV SD Negeri 066050 Medan Denai. Instrument penelitian digunakan untuk mengukur disiplin belajar adalah angket yang terdiri dari 40 butir. Sedangkan untuk mengukur hasil belajar digunakan nilai matematika. Setelah dilakukan pengukuran terhadap disiplin belajar, didapat nilai mean (rata-rata) skor hasil angket sebesar 120,3. Hal ini berarti disiplin belajar di SD Negeri 066050 Medan Denai berada pada tingkat tinggi. Untuk mengetahui tingkat pengaruh antara disiplin belajar dengan hasil belajar, digunakan rumus korelasi dari pearson. Dari hasil perhitungan diperoleh rhitung sebanyak 0,609, yang berarti nilai korelasi kuat atau berkorelasi. Uji signifikasi dilakukan untuk menguji hipotesis, yaitu dengan membandingkan nilai thitung dengan ttabel. Diperoleh nilai thitung sebanyak 4,062 sedangkan ttabel sebanyak 2,042. Karena thitung ≥ ttabel (4,062 ≥ 2,042) maka Ha diterima da Ho ditolak. Melalui uji t tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara disiplin belajar siswa dengan hasil belajarnya.
PEMBERDAYAAN BAHASA INGGRIS MASYARAKAT MELALUI LAGU DI DESA SILALAHI NABOLAK KECAMATAN SILAHI SABUNGAN KABUPATEN DAIRI Rosa Maria Simamora; Linus Rumapea
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2021): Agustus
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.882 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v4i3.2867

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pelayanan masyarakat dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni ini berlokasi di SilalahiNabolak Kecamatan SilahiSabungan Kabupaten Dairi. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari yaitu hari Sabtu – Minggu, 19–20 Desember 2020 pukul 14.00–18.00 WIB. Peserta pelatihan adalah anak-anak, remaja atau anak muda, dan orangtua. Model pelatihan adalah dengan membagi peserta kedalam tiga grup untuk dilatih mengucapkan, memahami, dan menyanyikan lagu-lagu berbahasa Inggris sesuai dengan usia dengan menggunakan media infocus. Lagu-lagu yang dilatih adalah Que Sera Sera, Old Macdonald, Beautiful Sunday, dan Close to Thee. Hari pertama masing-masing kelompok secara terpisah diajari pengucapan, kosa kata, dan lagu masing-masing dua jam per grup tetapi waktu disesuaikan sesuai kebutuhan. Hari kedua melaksanakan hal yang sama tetapi hanya selama tiga jam. Tiga jam selanjutnya dipergunakan untuk penampilan masing-masing grup di depan umum, kemudian bernyanyi bersama-sama lagu Que Sera Sera. Kegiatan tersebut sangat menyenangkan bagi semua grup, terutama bagi orangtua karena lagunya sederhana dan mudah diingat, sekaligus dapat mereka nyanyikan di gereja. Kegiatan ini menyenangkan dan memberikan manfaat berupa motivasi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, mereka mengharapkan kegiatan lain yang berhubungan dengan bahasa Inggris dapat dilaksanakan oleh Universitas Katolik Santo Thomas, Fakultas Sastra, khususnya Program Studi Sastra Inggris, mengingat desa SilalahiNabolak merupakan salah satu destinasi wisata.
PENYULUHAN PENINGKATAN KUALITAS SDM MELALUI PELAYANAN HOSPITALITY DAN BAHASA INGGRIS DI HUTA RAJA DESA LUMBAN SUHI-SUHI Rosa Maria Simamora; Bonar Gurning; Jon Pieter Situmorang; Pioro Benevolent Simarmata
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol 3, No 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v3i2.1665

Abstract

Abstract: The aim of the Community Service carried out through this training is to increase community awareness about the importance of good hospitality services, and the community's English language skills, especially hotel and homestay business activists, as well as to improve the community's standard of living through tourism. The implementation of this training uses the dialogue method in direct conversation and practice regarding the daily activities of village residents, local food and culture, as well as tourist attractions. The training participants were fathers, mothers, teenagers, youth groups and school children around Huta Raja Village who were very enthusiastic about taking part in the training and were not used to communicating in English due to environmental factors where English was very minimal. There has never been a similar activity provided to the people of Huta Raja Village. By holding this activity, the people of Huta Raja Village gained a lot of knowledge, such as learning to be more responsible for themselves, learning to become more independent in solving problems to create prosperity for the community. Keyword: hospitality; tourism improvement; and communication culture Abstrak: Tujuan dari Pengabdian Pada Masyarakat  yang dilakukan melalui pelatihan ini adalah meningkatkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya pelayanan hospitality yang baik, dan kemampuan berbahasa Inggris masyarakat khususnya para pegiat bisnis hotel dan homestay, serta  untuk meningkatkan taraf hidup masyarat melalui pariwisata. Pelaksanaan pelatihan ini adalah dengan menggunakan metode dialog dalam direct conversation and practice tentang aktivitas sehari-hari warga desa, makanan dan budaya local, serta tempat-tempat wisata. Peserta pelatihan adalah kaum bapak, ibu, remaja, karang taruna, dan anak sekolah sekitar Desa Huta Raja yang begitu semangat mengikuti pelatihan yang belum terbiasa berkomunikasi dalam bahasa Inggris karena faktor lingkungan yang sangat minim menggunakan bahasa Inggris. Belum pernah ada kegiatan serupa yang berikan kepada masyarakat Desa Huta Raja. Dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat Desa Huta Raja memperoleh banyak ilmu seperti belajar agar dapat lebih bertanggung jawab lagi pada dirinya, belajar menjadi diri yang lebih mandiri dalam memecahkan suatu permasalahan untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Kata kunci: keramahan; peningkatan pariwisata; dan budaya komunikasi 
Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Menggunakan Community Language Learning (CCL) Method pangaribuan, Jontra Jusat; Situmorang, Jon Piter; Simamora, Rosa Maria; Gurning, Bonar; Simanjuntak, Dairi Sapta
JURNAL ABDIMAS MADUMA Vol. 3 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : English Lecturers and Teachers Association (ELTA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/jam.v3i1.227

Abstract

Siswa SMP Swasta Katolik Asisi Medan kelas 1 mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema "Pembelajaran Bahasa Inggris dengan Menggunakan Community Language Learning (CCL) Method" Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu siswa memperoleh keterampilan berbahasa Inggris yang baik dan benar. Salah satu masalah utama yang sering dihadapi anak ketika mereka menggunakan bahasa adalah bahwa itu sangat sulit untuk dipahami dan dipelajari. Siswa akhirnya tidak tertarik untuk mempelajarinya dan menghadapi kesulitan saat menggunakannya. Kegiatan pengabdian yang terdiri dari instruksi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Hasil ini diperoleh dari pendekatan secara langsung, di mana pendataan dilakukan pada anak-anak yang mengikuti pembelajaran bahasa Inggris. Materi yang disampaikan terdiri dari percakapan sehari-hari. Hasil akhir dari pembelajaran bahasa ini adalah siswa akan mampu menerapkan penggunaan bahasa di kehidupan sehari-hari dan mengatasi masalah yang timbul saat belajar Bahasa Inggris. Anak-anak akan memiliki pengalaman belajar yang tenang, menyenangkan, dan mudah dipahami tentang materi yang disampaikan. Kata Kunci : Pembelajara Bahasa Inggris, Community Language Learning (CCL) Method.
Code Switching and Mixing Among Students at Catholic University of Saint Thomas Tarigan, Karisma Erikson; Gurning, Bonar; Simamora, Rosa Maria
Journal of linguistics, culture and communication Vol 2 No 2 (2024): Journal of Linguistics, Culture, and Communication
Publisher : CV. Rustam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61320/jolcc.v2i2.243-264

Abstract

This study investigates the linguistic patterns of code-switching and code-mixing between Bahasa Indonesia and Batak languages among students at Catholic University of Saint Thomas to explore their impact on academic and social communication. The study utilizes a qualitative descriptive approach grounded in ethnographic and discourse analysis frameworks to examine natural interactions within WhatsApp group chats and face-to-face communications. These frameworks allow for an in-depth understanding of the dynamics of bilingual usage and the social functions of language switching in real-life contexts. The study identifies several typical patterns: frequency of switching correlates with the formality of the setting, with more frequent switching in informal contexts, and functional usage where students switch languages to clarify concepts or strengthen social bonds. The analysis reveals that 70% of bilingual students report positive social impacts from code-switching, such as enhanced communication efficiency, cultural identity expression, and academic collaboration. However, 30% of student’s experience anxiety or feelings of exclusion due to limited fluency in dominant languages, which affects their sense of belonging and academic engagement. These findings highlight the dual nature of code-switching as both a facilitator of communication and a potential barrier in multilingual environments. The study suggests that educational policies at the University of Saint Thomas should support a more inclusive multilingual environment to address the diverse linguistic needs of all students, thereby enhancing cognitive, emotional, and social outcomes.
PENGENALAN METODE WAWANCARA KELOMPOK FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) DI SMP ANASTASYA: "MEMBANGUN KETERAMPILAN PEMAHAMAN BERDISKUSI" Tarigan, Karisma Erikson; Simamora, Rosa Maria
Jurnal Pemberdayaan Sosial dan Teknologi Masyarakat Vol 4, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jpstm.v4i1.1814

Abstract

Abstract: This community service aims to explain how students at Anastasya Middle School understand the focus group discussion (FGD) method, and the extent to which this understanding influences their involvement in group discussion activities. This study applies design-based research (DBR), a systematic yet flexible research method that aims to improve educational practice through iterative analysis, design, development, and implementation of scientific collaboration in real action settings and has an impetus towards the development of context-based learning principles and theories. The results of observations of the students' abilities obtained an average of 89.00 with a completion percentage of 50%. So the students' ability level at this stage is categorized as good. The average score is 89.00 which is in the good category with a classical completion percentage reaching 50%. The results obtained indicate that the students' ability to implement a scientific approach is good. Through the opportunities given, each student, after identifying their own shortcomings and weaknesses, began to make improvements after conducting a focus group discussion. Keyword: Focus Group Discussion, speaking skill.Abstrak: Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pemahaman siswa di SMP Anastasya terkait metode wawancara kelompok terfokus (FGD), dan sejauh mana pemahaman tersebut memengaruhi keterlibatan mereka dalam kegiatan diskusi kelompok. Penelitian ini menerapkan penelitian berbasis desain (DBR), sebuah metode penelitian sistematis namun fleksibel yang bertujuan untuk meningkatkan praktik pendidikan melalui analisis berulang, desain, pengembangan, dan implementasi kolaborasi ilmiah dalam pengaturan tindakan nyata dan memiliki implikasi terhadap pengembangan prinsip dan teori pembelajaran berbasis konteks. Hasil observasi kemampuan para siswa memperoleh rata-rata 89.00 dengan persentase ketuntasan 50%. Maka tingkat kemampuan para siswa pada tahap ini terkategori baik. Nilai rata-rata 89,00 yang berada para kategori baik dengan persentase ketuntasan secara klasikal mencapai 50%. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemampuan para siswa dalam mengimplementasikan pendekatan saintifik sudah baik. Melalui kesempatan yang diberikan, setiap siswa setelah melakukan identifikasi kekurangan dan kelemahan masing masing, mulai melakukan perbaikan setelah dilakukan focus group discussion. Kata kunci: Focus Group Discussion, Kemampuan Berbicara.  
CULTURAL IDENTITY AND LANGUAGE USE: A STUDY OF KARO ETHNIC STUDENTS AT UNIVERSITY OF SAINT THOMAS MEDAN Karisma E. Tarigan; Rosa Maria Simamora; Sananta Perangin Angin
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 7, No 3 (2024): August 2024
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v7i3.2078

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara identitas budaya dan penggunaan bahasa di kalangan mahasiswa etnis Karo di Universitas Katolik Santo Thomas Medan. Dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif, data dikumpulkan dari 30 mahasiswa Karo menggunakan kuesioner terstruktur. Temuan mengungkapkan korelasi yang kuat antara kemahiran dalam bahasa Karo dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hanya 13,33% yang menilai kemahiran mereka sebagai "Sangat Baik," sementara 33,33% melaporkan menggunakan bahasa tersebut secara sering. Selain itu, 86,67% mahasiswa tidak merasa tertekan untuk menggunakan bahasa lain, memungkinkan penggunaan bahasa Karo secara alami dalam konteks yang sesuai. Bahasa Karo terutama digunakan dalam lingkungan keluarga dan komunitas, dengan 33,33% menggunakannya dengan keluarga dan teman, serta di rumah. Dukungan dari keluarga dan teman sangat penting untuk mempertahankan bahasa Karo, dengan 50% mengandalkan jaringan dukungan ini. Meskipun tantangan yang ditimbulkan oleh dominasi bahasa Indonesia, persepsi bahasa Karo sebagai bagian penting dari identitas budaya memotivasi upaya untuk mempertahankan penggunaannya. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial dan institusional dalam menjaga warisan linguistik dan budaya di kalangan mahasiswa etnis minoritas.
HUMAN COURAGE AND DIGNITY IN ERNEST J. GAINS’ A LESSON BEFORE DYING Simamora, Rosa Maria; Pangaribuan, Jontra Jusat; Rumapea, Linus
Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra (PENDISTRA) Vol 5 No. 2 Tahun 2022
Publisher : Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/pendistra.v5i2.2359

Abstract

This research is of human courage and dignity in Ernest J. Gaines’s novel, A Lesson Before Dying. People are able to face threat, pain, danger, or even death in order to maintain their right and dignity relying on courage. This is library research and applies mimetic criticism proposed by Abrams saying that a work of literature is the imitation of the real world. It depicts human beings who struggle to maintain and get acknowledgement of their right and dignity to live respectfully and worthly. The analysis is focused on how courage and dignity have raised someone from desperation into brave and thoughtful to face his death. He is desperated because of a false accusision of being a murderer, compared as a hog, and sentenced to die in electric chair. Comparing to a hog makes him lost his courage and self-esteem. He alienates himself and does not want to speak to anybody, but his godmother disagrees so she begs a teacher to teach him that he is a human being and should die as a human being too. He is taught by a teacher of moral and obligation to face his death courageously and shows that he is a human being who has duty and responsibility. Finally, he is able to sacrifice his death as a symbol of his courage and dignity to himself, his family and community. It is found that the author Ernest J Gains vividly conveys human beings who have courage are able to maintain and get acknowledgement of their right and dignity although they have to face threat, pain, danger, or even death.
CULTURAL IDENTITY CRISES IN JESSICA HAGEDORN’S DOGEATERS Rosa Maria Simamora
Muse: Jurnal of Art Volume 1 Nomor 1 Juli 2022
Publisher : LPPM Universitas Katolik Santo Thomas Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research reveals cultural identity crises in Jessica Hagedorn’s Dogeaters. As an American Book Award Winner, Hagedorn represents certain countries undergoing the crises through phenomena such as excessive consumerism, sexual and drug abuses, and corrupt government. This is a library research where all data are taken from the library through extensive reading and internet browsing, and applies socio-cultural and mimetic approaches. Mimetic approach proposing by Abrams views that literature is the imitation of the real world, while socio-cultural approach proposing by Grebstein assumes that literary works cannot be fully understood apart from the culture or milieu that produces it. Cultural identity crises is focused on consumerism, drug and sexual abuses, corrupt goverment shown through characters, plot, point of view, image, language, and references. This research finds that Jessica Hagedorn in her novel Dogeaters vividly and beautifully conveys cultural identity crises undergoing by the ex-colonized countries, besides, crises is the result of negative impacts of globalization