Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Sosiodemografi, Pengetahuan, dan Perilaku Masyarakat DKI Jakarta dalam Kesediaan Membayar (Willingness To Pay) Limbah Masker Sekali Pakai di Masa Pandemi Covid-19 Yona Qurratu'ain; Qurratu'ain, Yona; Herdiansyah, Herdis; Mizuno, Kosuke
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 15 No 1 (2025): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.15.1.42

Abstract

The use of masks is recommended to reduce the risk of widespread spread of the Covid-19 virus, but because of its use in high quantities in a short time, it has an impact on the high waste of disposable masks. The problem of high waste of masks that is not accompanied by good management is it has the potential to pollute the environment and disposable masks are included in the type of hazardous medical waste so that they require special waste management. The purpose of this study is to analyze the relationship between the sociodemographic characteristics of the people of DKI Jakarta and the Willingness to Pay (WTP) for disposable mask waste management to determine the WTP price for disposable mask waste management. The survey was conducted in DKI Jakarta Province by distributing questionnaires and obtained a total sample of 356 respondents. Furthermore, the analysis method used, the first is logistic regression analysis to determine the variables of sociodemographic characteristics that affect individual WTP. The next analysis method is to calculate WTP using the Contingent Valuation Method (CVM) and the question model with the Double Bounded dichotomous method. Based on the results, it is known that the dependent variables that can increase the WTP value are income (Δ+ 23.6%, p ≤ 0.05), type of healing treatment (Δ+ 100%, p ≤ 0.1), and knowledge (Δ+ 125.9%, p ≤ 0.01), where a value of Rp 28,578 is ideal for the cost of managing disposable mask waste.
The Estimation of Economic Valuation on Carbon Sequestration of Agroforestry Land System: Estimasi Nilai Ekonomi Serapan Karbon pada sistem agroforestri di KPH Bogor Siagian, Kristi; Karuniasa, Mahawan; Mizuno, Kosuke
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 14 No 2 (2024): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.14.2.231

Abstract

Peran Perhutani dan petani lokal dalam mengembangkan agroforestri di KPH Bogor penting dalam upaya mitigasi iklim berbasis penyerapan karbon. Areal yang luas di bawah kewenangan Perhutani dengan masyarakat lokal di sekitar kawasan tersebut membangun kemitraan berbasis agroforestri sebagai bagian dari pengelolaan hutan lestari. Perbedaan komposisi tanaman pada tujuh sistem agroforestri di KPH Bogor ditemukan pada masing-masing BKPH. Petani menyesuaikan tanaman multiguna yang ditanam dengan tanaman induk Perhutani yang lebih dominan. Stok karbon yang tersimpan di lahan agroforestri dapat meningkatkan pendapatan petani berdasarkan harga karbon, seperti nilai sosial dan ekonomi karbon. Potensi peningkatan karbon tahunan rata-rata yang dihitung berdasarkan stok karbon agroforestri di atas permukaan pada 7 petak contoh berkisar 2,26 – 66,65 ton CO2e per hektar, sedangkan pada 2 sistem lahan monokultur berkisar 13,65 – 18,29 ton CO2e per hektar. Peningkatan karbon dalam sistem pengelolaan lahan agroforestri lebih baik dibandingkan dengan hutan monokultur, karena memiliki keragaman tanaman dengan umur yang berbeda. Dari segi pendapatan karbon, semakin luas lahan agroforestri yang dikelola petani, semakin tinggi pula pendapatan karbon yang diterima. Dengan menggunakan metode transfer manfaat selama periode mitigasi 20 tahun, diperkirakan pendapatan meningkat 1,8 kali dari penjualan serapan karbon pada tingkat inflasi 3%.