Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pendampingan Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember Hasbi Ash Shiddiqi; Endang Susilawati; Saini; Ilyatul Afifah; Elok Rizkiyah; Yuni Lutfian Sari; Laila Kamali
Ta'awun Jurnal Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): November
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Uluwiyah Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47759/1kppzd94

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan dan menceritakan pendampingan yang dilakukan oleh tim pengabdian untuk Pengurusan NIB dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha Di Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember serta menganalisis progres pengurusan NIB Dan Sertifikasi Halal Pelaku Usaha UMKM Terutama di bidang kuliner dalam perspektif hukum islam. Metode yang di gunakan dalam pendampingan ini yaitu Asset Based Communities Development (ABCD). Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sering kali lebih mudah diberdayakan dengan menggali potensi internal yang mereka miliki, daripada terus-menerus menyoroti kekurangan atau masalah yang dihadapi. Melalui ABCD, proses pendampingan menjadi lebih partisipatif, berorientasi pada kekuatan lokal, dan mampu mendorong perubahan yang lebih berkelanjutan. Pendampingan ini berhasil mendampingi tujuh pelaku usaha hingga memperoleh legalitas usahanya. Meski jumlah pelaku usaha yang berhasil didampingi tidak terlalu banyak, capaian ini mencerminkan komitmen yang kuat, baik dari tim pendamping maupun para pelaku usaha, untuk membuka ruang kesadaran hukum tentang pentingnya legalitas dalam menjalankan aktivitas ekonomi. Pendampingan ini juga berhasil membantu sejumlah Pelaku Usaha Industri makanan dan minuman dalam proses produksi halal sejumlah 4 Pelaku usaha. STIS Nurul Qarnain, sebagai salah satu perguruan tinggi Islam di Jember, turut mengemban amanah mulia ini melalui pendirian Lembaga Pemeriksa Produk Halal (LP3H). Kehadiran LP3H bukan hanya sebagai perpanjangan tangan dari kebijakan negara, tetapi juga bagian dari dakwah kampus yang berpijak pada kebutuhan riil umat. Terbukti dengan telah diterbitkannya sertifikat halal pelaku usaha berkat jasa para pendamping yang berada di bawah naungan LP3H STIS Nurul Qarnain.
Femisida Perspektif Kesetaraan Gender dan Hukum Islam Ash Shiddiqi, Hasbi
USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol. 9 No. 1 (2025): USRATUNA: Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Prodi  Ahwal al-Syakhsiyah STAI Darussalam Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65356/usratuna.v9i1.930

Abstract

Femicide, or the murder of women due to gender, is a global phenomenon that requires special attention in the context of Islamic family law. This article aims to analyze femicides through a normative and sociological approach, focusing on women's rights as stipulated in Islamic family law. This research uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach, utilizing literature studies on primary sources such as the Qur'an, hadith, and fiqh books, and secondary data in the form of contemporary research related to the issue of femicides. The results of the study show that Islamic family law fundamentally emphasizes the protection of women through the principles of justice, protection of life (Hifz al-Nafs), and respect for human rights. However, challenges arise in the implementation of these laws, especially due to patriarchal cultural bias that is still dominant in some Muslim communities. From a sociological point of view, femicides often occur due to gender power imbalances, weak understanding of Islamic legal principles, and lack of fair law enforcement. The significance of this research lies in its efforts to reconstruct the perspective of Islamic family law in preventing and dealing with femicides. This article offers recommendations to improve public understanding of women's rights in Islam, strengthening regulations that are in line with maqasid syariah, and encourage legal reform to bring about gender justice. Thus, this research makes an academic as well as practical contribution in the development of Islamic family law that is responsive to contemporary issues.
Resolusi Kiai Dalam Menyikapi Carok (Studi Analisis Dekonstruksi Dakwah Bil Hikmah dalam Penyelesaian Carok) Ahmad Ahmad; Hasbi Ash Shiddiqi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i1.4236

Abstract

Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok. Carok adalah budaya kekerasan Madura yang masih melekat hingga kini. Para Blater, selaku pemegang otoritas kekuasaan social budaya Madura yang sering mempromosikan identitas carok dengan celuritnya. Sementara Kiai merupakan otoritas kekuasaan dengan artikulasi penguasa Musholla dan Masjid. konstruk solusi dakwah bil hikmah yang ditawarkan Kiai selama ini berkutat pada dakwah lemah lembut dan tidak langsung melalui jejaring Pesantren, Madrasah, Majelis taklim, pengajian ataupun kegiatan ritual keagamaan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan normatif. Sumber data primer penelitian ini data kualitatif dengan makna Dakhwah bil Hikmah, baik sumber tafsir, hadits ataupun jurnal yang membahas tentang dakwah bil hikmah. Analisa Data dalam penelitian ini akan menggunakan analisis deskriptif. Analisis yang digunakan adalah dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pemaknaan konstruktif dakwah bil hikmah ini perlu didekonstruksi. Pemaknaan dekonstruksi dakwah bil hikmah Kiai dalam penyelesaian carok berupa pendalaman tawhid cinta kematian dengan mempertaruhkan nyawa; menyiapkan mental siap bertarung dengan menempa diri jago silat, jago tarung dan jago main celurit. Sementara rekonstruksi pemaknaan dakwah bil hikmah penyelesaian carok di lakukan dengan kemampuan melakukan keseimbangan antara menjadi penjaga Masjid plus penghunus celurit, siap mati melakukan nahiy munkar. Inilah profil yang dicontohkan dan diuswahkan oleh Nabi Muhammad. Inilah Resolusi Kiai dalam penyelesaian Carok. Penelitian ini berkontribusi dalam pemaknaan dakwah bil hikmah yang lebih kontekstual terhadap kepedulian dalam penyelesaian Carok. Dakwah bil hikmah selama ini justeru menjadi payung apologi kalangan Kiai untuk tidak terlibat langsung dalam penyelesaian carok. Penelitian memiliki keterbatasan belum menggali secara fenomenologis pemaknaan dakwah bil hikmah yang telah dilakukakn oleh Kiai serta praktik dan implementasinya dalam penyelesaian carok.
Pendampingan Pembentukan Karakter Nasionalis-Religius dalam Giat Rotibul Haddad dan Semarak Agustus 2025 di Desa Gunung Malang, Kecamatan Sumberjambe, Kabupaten Jember Shiddiqi, Hasbi Ash; Sobriyah, Sofiatus
Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol 4, No 1 (2026): Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jipm.v3i1.6975

Abstract

Assistance in the formation of nationalist-religious character is an urgent need in the midst of the challenges of globalization, modernization, and the rapid flow of digitalization that has the potential to erode the values of nationality and the spirituality of society. This service activity aims to assist the people of Gunung Malang Village, Sumberjambe District, Jember Regency in strengthening the nationalist-religious character through the religious activities of Rotibul Haddad and the August 2025 Vibrant celebration. The approach used is Participatory Action Research (PAR) by emphasizing active community participation from the planning, implementation, to evaluation stages of activities. Emile Durkheim's theoretical perspective is used to analyze the role of collective rituals and social practices in creating mechanical solidarity that strengthens social cohesion as well as fosters nationalist-religious consciousness. The results of the mentoring show that Rotibul Haddad activities are routinely able to foster a deep sense of religiosity and spirituality, while the August Celebration with various competitions and celebrations strengthens nationalism and a sense of togetherness across generations. The integration of the two gives birth to harmony between religious and national values which is reflected in increasing community participation, social solidarity, and collective awareness of maintaining local traditions within the framework of the Republic of Indonesia. The significance of this activity lies in strengthening the social base of the village community which is able to make religion and nationalism not as separate entities, but as a complementary foundation in building the character of the nation. Thus, this assistance not only results in transformation at the individual level, but also strengthens the social cohesion of the people of Gunung Malang Village as a model for strengthening the nationalist-religious character based on local wisdom.
Integrated Entrepreneurship Guidance for Students of Al-Furqon Bondowoso Vocational School in Creating Productive and Independent Young Entrepreneurs fawaid, fawaid; Saini, Saini; Khoir, Qoidul; Shiddiqi, Hasbi Ash; Miftahussurur, Wildan
Dinamika: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/dinamika.v2i2.21

Abstract

This study addresses the low entrepreneurial readiness among vocational education students, a condition that persists despite the increasing national demand for young entrepreneurs. This gap is evident in the lack of practical skills such as identifying business opportunities, calculating production costs, and effectively marketing products. The aim of this study was to strengthen students' entrepreneurial capacity through an integrated mentoring model tailored to their learning context at SMK Al-Furqon Bondowoso, Indonesia. The method used was a community-based training approach that included seminars, workshops, coaching, and hands-on practice during a three-day intervention (January 4-6, 2026). The findings indicate an increased understanding of entrepreneurial concepts, competency in calculating production costs, pricing, and profit margins, and improvements in designing basic marketing strategies using offline and online media. Participants also demonstrated a shift in attitudes toward entrepreneurship as a viable career path that can be planned as early as possible. The study concludes that context-responsive mentoring can bridge the gap between theoretical knowledge and practical application in vocational settings and has the potential to be replicated to support entrepreneurship development in similar institutions at the secondary education level. These findings also emphasize the importance of an entrepreneurial empowerment model for the younger generation.