Encep Kusumah
Program Studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Fakultas Pendidikan Bahasa Dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Penerapan AI dalam Mata Kuliah Arsitektur dan Organisasi Komputer: Studi Kasus Mahasiswa Pendidikan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia Septriansyah, Dewa Ahmad; Darmawan, Rizki Rafli; Pradana, Ryan Yanuar; Kusumah, Encep
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 3 (2024)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung pembelajaran mata kuliah Arsitektur dan Organisasi Komputer di Program Studi Pendidikan Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, AI memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempermudah pemahaman materi yang kompleks. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, melibatkan 35 mahasiswa sebagai responden. Data diperoleh melalui kuesioner yang dirancang untuk menggali pengalaman dan pandangan mahasiswa terkait penggunaan AI dalam proses belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memanfaatkan berbagai tools AI, seperti ChatGPT, Gemini, dan BlackBox AI, untuk membantu mereka memahami konsep-konsep yang sulit dalam mata kuliah tersebut. Mayoritas responden merasa bahwa penggunaan AI meningkatkan efektivitas belajar mereka, dengan 82,9% merasa sangat terbantu. Namun, beberapa mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran terkait potensi ketergantungan pada teknologi ini dan dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis. Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, meskipun penggunaannya perlu disertai dengan kewaspadaan terhadap keterbatasannya.
Kelengkapan Fasilitas Lab Komputer yang Mempengaruhi Semangat Belajar Siswa/Siswi TKJ di SMKN 1 Dawuan Faqih, Ariel Hidayatul; Ananta, Arya Rayi; Ardian, Fedora Ariefa; Kusumah, Encep
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kelengkapan fasilitas Lab Komputer terhadap semangat dan motivasi Siswa/Siswi untuk belajar. Penellitian ini berfokus kepada fasilitas Kegiatan belajar dan Mengajar (KBM) yang tersedia dalam menunjang berlangsungnya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMKN 1 DAWUAN dalam meningkatkan mutu belajar yang memuaskan. Penelitian ini di tujukan kepada Siswa/Siswi Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN 1 Dawuan yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kelengkapan fasilitas Lab Komputer terhadap semangat dan motivasi Siswa/Siswi untuk belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus. Metode kualitatif dipilih untuk menggali dan memahami secara mendalam permasalahan fasilitas yang tersedia di SMKN 1 DAWUAN. Data diperoleh melalui kuesioner yang dibuat untuk mendapatkan sudut pandang pendapat dari Siswa/Siswi di SMKN 1 DAWUAN terkait fasilitas Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hasil Penelitian ini menargetkan sebanyak 39 responden dari kalangan siswa dan siswi TKJ SMKN 1 Dawuan. Kuesioner terdiri dari enam butir pertanyaan yang dirancang untuk mengukur pengaruh kelengkapan fasilitas laboratorium komputer. Dari total responden, sebanyak 37 dari 39 responden menyatakan bahwa fasilitas tersebut "Cukup Memadai," sementara 2 responden menganggapnya "Kurang Memadai." Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa dan siswi menilai fasilitas lab komputer sudah memadai untuk mendukung kegiatan belajar dan mengajar.
Slangs in Gen Alpha–Z: A Natural Language Processing Analysis and Its Impact in Educational Context Fadlilah, Afi; Diani, Irma; Kusumah, Encep; Sugiharyanti, Eni; Miswaty, Titik Ceriyani
Journal of Languages and Language Teaching Vol. 13 No. 4 (2025): October
Publisher : Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jollt.v13i4.16575

Abstract

Slang, especially among Generations Alpha and Z, functions as a dynamic tool for expressing identity, group belonging, creativity, and resistance to norms, shaped by digital platforms and used to signal cultural affiliation, shared values, and emotional stance in everyday communication. This study aims at evaluating the forms of slang language used by Generations Alpha and Z, linguistic patterns indirectly represent or construct social identity the influence of those slangs in educational context. This study followed a rigorous process to ensure data relevance, validity, and ethics by collecting publicly available Instagram texts from Generations Alpha and Z using purposive sampling. Data from public accounts were anonymized, scraped manually and automatically, then preprocessed through cleaning, tokenization, and normalization. NLP techniques and qualitative content analysis were applied to identify slang patterns and interpret their social meanings, revealing how slang reflects identity and cultural practices in digital youth communication. The analysis concludes that slang usage among Generations Alpha and Z on digital platforms like Instagram serves not merely as casual expression but as a communicative strategy that reflects social identity, group affiliation, and cultural values. Through a combination of computational and qualitative analysis, the study reveals that slang functions to assert community membership, convey emotional attitudes, and construct self-image in digital spaces. The emerging linguistic patterns highlight the significant role of informal language in digital literacy practices and educational interactions, underscoring the need for greater attention to youth language in both academic and cultural contexts. Previous studies have examined youth slang, but few have explored its role across digital platforms in shaping identity, especially using both computational and sociolinguistic approaches. The influence of slang in educational contexts also remains underexplored. This study addresses these gaps by analyzing slang's forms, functions, and meanings in digital youth communication.
Makna Koseptual dan Asosiatif dalam Lirik Lagu "Selalu Ada di Nadimu" OST Film Jumbo Jawahir Khairani; Rhisma Al-Vyanie Sofyan; Sabrina Az Zahrah; Shifa Syalsa Agistina; Encep Kusumah
Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa Vol. 4 No. 2 (2025): Agustus : Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa
Publisher : Pusat riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jurribah.v4i2.5730

Abstract

Lagu tidak hanya sebagai media hiburan tetapi juga sebagai sarana komunikasi yang mencerminkan emosi tekstual dan makna yang mendalam. Dalam konteks film, lagu digunakan sebagai original soundtrack (OST), memainkan peran penting dalam meningkatkan narasi dan mediasi emosional dari keadaan internal karakter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna konseptual dan makna asosiatif dalam lirik lagu “Selalu Ada di Nadimu”, film animasi Jumbo. Lagu ini dipilih karena sangat puitis dan simbolis, dan diintegrasikan ke dalam tema film yang indah tentang cinta orang tua dan kekuatan batin. Penelitian menggunakan metode kualitatif menggunakan teknik pembelajaran dokumen dan pendekatan dari aspek semantik berdasarkan pemahaman makna literal dan makna yang muncul dari pengalaman emosional dan budaya. Hasil analisis menunjukkan pentingnya 51 data penting konseptual, 14 asosiatif dan 5 lainnya yang memiliki makna keduanya, yang mencerminkan kedalaman pesan dan ikatan emosional. Temuan ini menegaskan bahwa lirik lagu, khususnya dalam fungsi OST, memiliki potensi besar sebagai objek penelitian linguistik yang kompleks dan bermakna. Lagu dapat mencerminkan pengalaman internal manusia dan interpretasi media yang layak untuk analisis akademik.
Fenomena Perubahan Bunyi: Faktor Perubahan Fonem /r/ ke /gh/ Bahasa Indonesia dalam Beberapa Kosakata Bahasa Serawai Dialek Kedurang Halimah, Halimah; Malik, Rizaldi; Kusumah, Encep; Resmini, Novi
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 7, No 2 (2025): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v7i2.7210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami faktor perubahan bunyi fonem /r/ ke /gh/ dalam beberapa kosakata bahasa Serawai dialek Kedurang. Studi ini juga berupaya mengidentifikasi jenis perubahan yang terjadi pada fonem /r/ sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pengajaran bahasa dan linguistik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara terhadap dua orang partisipan yang merupakan penutur asli bahasa Serawai dialek Kedurang. Data yang diperoleh dianalisis secara mendalam untuk mengungkap faktor-faktor yang memengaruhi perubahan bunyi fonem. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fonem /r/ ke /gh/ dalam kosakata bahasa Serawai dialek Kedurang dipengaruhi oleh enam faktor utama, yaitu faktor sejarah, geografis, sosiolinguistik, psikolinguistik, alat ucap (fonologi), dan konvensional bahasa. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai keragaman bahasa di Indonesia serta implikasinya dalam pembelajaran bahasa.
Symbolic Figures of Speech in the Lyrics of the Song Kolam Susu by Koes Plus Fitria, Yesi; Andini, Annisa Putri; Marsya, Bunga Ivanny; Robaaniyya, Karlia Marhamatur; Kusumah, Encep
Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 6 (2025): November 2025
Publisher : Raja Zulkarnain Education Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55909/jpbs.v4i6.782

Abstract

Koes Plus is a music band that was once established in Indonesia which was formed in 1969, this music group is widely known as one of the pioneers of pop and rock and roll genre songs in Indonesia, as well as one of the most productive and longest-standing music groups. "Kolam Susu" is a song created by Yok Koeswoyo and sung by the music group Koes Plus and first appeared on the album Volume 8 in 1973. This study aims to facilitate listeners in understanding the meaning contained in the song Kolam Susu through the analysis of symbolic figures of speech contained in the song lyrics. This study uses a descriptive method based on a qualitative approach with the main data source in the form of the song lyrics Kolam Susu. The data of this study, namely written song lyrics as a data source, were collected using observation guidelines with time triangulation techniques through a checklist. The analysis technique is based on clause language units to identify the symbolic figures of speech used. The results of the study revealed that there are six clauses in the song Kolam Susu that contain symbolic figures of speech, which play an important role in conveying meaning implicitly and enriching the song's message. This finding shows that symbolic figures of speech are effectively used as a tool to facilitate listeners in capturing deep meaning in song lyrics. This study is expected to contribute to the study of semantics and appreciation of Indonesian music.
Strategi Berbahasa Framing dalam Pemberitaan Aksi Penolakan Tunjangan Anggota DPR pada Detik.com Ulya, Aqilah Iffatul; Anshori, Dadang S.; Kusumah, Encep
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i1.136327

Abstract

The action of rejecting the DPR allowances has sparked a variety of perspectives in media coverage, one of which is reflected in the language used to report on the protests. This study aims to analyze the language used by detik.com in framing the rejection of DPR allowances and explain how the use of language shapes certain meanings and biases in news coverage. This study uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of documentation and note-taking. The data consists of five detik.com news articles that were purposively selected related to the rejection of the DPR allowance during the period of August 25—30. The analysis was conducted by classifying language elements (diction, phrases, clauses, sentences, coherence, and themes) based on Pan and Kosicki's four framing structures (syntax, script, thematic, and rhetorical). The results of the study show the dominance of the use of diction that implies rioting, the composition of titles that emphasize chaos, and narratives that focus on the destructive actions of the masses so that in the news, the action is framed as rioting in public spaces. This study concludes that the five news reports not only use language as a tool to communicate reality, but also symbolically to construct and delegitimize the action of rejecting the DPR allowance through negative framing in their reporting. These findings enrich the application of Pan and Kosicki's framing model in the analysis of political media discourse in Indonesia and are expected to serve as material for reflection for journalists in their use of language and in constructing balanced narrative structures so as not to appear to delegitimize social protest actions.
DARI SIMBOL PERLAWANAN KE ISU DISINTEGRASI PADA PEMBERITAAN PENGIBARAN BENDERA ONE PIECE: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Aisyah Putri Rahma Siregar; Andoyo Sastromiharjo; Encep Kusumah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fon.v22i1.476

Abstract

ABSTRAK: Studi ini mengkaji fenomena seputar pengibaran bendera One Piece salama perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80, menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) Model Fairclough untuk mengeksplorasi implikasinya. Penelitian ini menyelidiki bagaimana peristiwa ini, yang awalnya merupakan simbol perlawanan, dibingkai sebagai ancaman potensi disintegrasi nasional oleh pemerintah melalui media massa. Studi ini menganalisis wacana masyarakat dan pemerintah dari media massa dan media sosial. Analisis berfokus pada tiga dimensi: teks, diskursus, dan praktik sosial-budaya. Analisis Tekstual mengidentifikasi pola linguistik dalam tanggapan pemerintah, mengkategorikannya sebagai represif, eduaktif, dan moderat. Dimensi diskursus menganalisis bagaimana media memproduksi wacana, sedangkan dimensi sosial-budaya mengkontekstualisasikan peristiwa dalam isu-isu nasionalisme, budaya populer, dan globalisasi yang lebih luas. Data dikumpulkan dari artikel berita online (Kompas.com, Detik.com, Antara News) dan platform sosial media (Instagram, TikTok, X) antara 1-17 Agustus. Temuan mengungkapkan bentrokan antara nasionalisme yang didukung negara dan ekspresi budaya populer. Wacana pemerintah menekankan pelanggaran hukum dan etika. sebaliknya, komentar masyarakat di media sosial menafsirkan peristiwa tersebut sebagai bentuk perlawanan simbolis. Studi ini menyimpulkan bahwa pembingkaian fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai ancaman disintegrasi adalah konstruksi diskursif dari cerminan objektif dari realitas sosial masyarakat. ini menyoroti perlunya pendekatan yang lebih inklusif dari partisipatif terhadap identitas nasional di era demokrasi digital. KATA KUNCI: Analisis Wacana Kritis; Budaya Populer; Nasionalisme; Norman Fairclough   FROM A SYMBOL OF RESISTANCE TO THE ISSUE OF DISINTEGRATION IN THE REPORTING OF THE RAISING OF THE ONE PIECE FLAG: AN ANALYSIS OF FAIRCLOUGH'S CRITICAL DISCOURSE.   ABSTRACT: This study examines the phenomenon surrounding the raising of the One Piece flag during the celebration of Indonesia's 80th Independence Day, using the Fairclough Model's Critical Discourse Analysis (CDA) to explore its implications. This study investigates how this event, which was originally a symbol of resistance, was framed as a threat of potential national disintegration by the government through the mass media. This study analyzes public and government discourse from mass media and social media. The analysis focuses on three dimensions: text, discourse, and socio-cultural practices. Textual Analysis identifies linguistic patterns in government responses, categorizing them as repressive, educative, and moderate. The discourse dimension examines how the media produces discourse, while the socio-cultural dimension contextualizes events in issues of nationalism, popular culture, and broader globalization. Data was collected from online news articles (Kompas.com, Detik.com, Antara News) and social media platforms (Instagram, TikTok, X) between August 1-17. The findings reveal a clash between state-backed nationalism and popular cultural expressions. The government's discourse emphasizes violations of the law and ethics. Instead, public comments on social media interpreted the event as a form of symbolic resistance. This study concludes that the framing of the One Piece flag-raising phenomenon as a threat of disintegration is a discursive construction of an objective reflection of society's social reality. This highlights the need for a more inclusive approach from participatory to national identity in the era of digital democracy. KEYWORDS: Chitical Discourse Analysis; Pop Culture; Nationalism; Norman Fairclough
Alignment of Poetry Instructional Design with Cognitive Load Theory Principles: A Survey of Junior High School Teachers Rudi Adi Nugroho; Indra Nugrahayu Taufik; Yulia Puspita; Encep Kusumah; Eki Nugraha; Nurulrabihah Mat Noh
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 7 No. 01 (2026)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v7i01.14481

Abstract

This study intends to analyze the use of presentation-based poetry teaching material design based on the concepts of Cognitive Load Theory (CLT) for Indonesian language instructors in junior high schools in Bandung and Cimahi. In teaching poetry as a complicated literary text, the cognitive load must be carefully managed so that the process of comprehension does not surpass the capacity of students. The research was conducted by using a survey, descriptive-evaluative approach, involving 69 Indonesian language teachers at junior high schools in Bandung and Cimahi. The tools were built in accordance with the three dimensions of CLT: management of intrinsic load, reduction of extraneous load, and optimization of germane load. The data were analyzed descriptively to show the patterns of instructional material design and their conformance to CLT principles. The study found that the use of PowerPoint and Canva is very much present in poetry learning. However, the design still does not entirely comply with the principles of CLT. The presenting materials in the learning process are not yet fully organized considering the effectiveness of material distribution. High text density and non-instructional graphic elements can lead to an increase in unnecessary load. Some of the presentation materials include reflection tasks that might help alleviate cognitive load. The results suggest that the instructional design quality of the poetry teaching materials is not fully consistent with the concepts of Cognitive Load Theory (CLT). The present instructional materials, although not entirely consistent with the principles of CLT, offer significant potential for further growth by including media based on digital technology. Studi ini bertujuan untuk meneliti penerapan desain bahan ajar puisi berbasis presentasi berdasarkan prinsip-prinsip Teori Beban Kognitif (CLT) bagi guru bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama di Kota Bandung dan Kota Cimahi.  Pengajaran puisi sebagai teks sastra yang kompleks perlu melibatkan pengelolaan beban kognitif secara hati-hati agar proses pemahaman tidak melebihi kemampuan siswa.  Studi ini adalah penelitian survei dengan metodologi deskriptif-evaluatif, yang dilakukan pada 69 guru bahasa Indonesia di sekolah menengah pertama di kota Bandung dan Cimahi.  Alat-alat tersebut dirancang berdasarkan tiga dimensi CLT, yaitu manajemen beban intrinsik, pengurangan beban ekstrinsik, dan optimalisasi beban germane.  Data dievaluasi secara deskriptif untuk mengungkap pola desain bahan ajar dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip CLT.  Temuan studi menunjukkan bahwa penggunaan Powerpoint dan Canva cukup menonjol dalam pembelajaran puisi.  Akan tetapi desainnya masih belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip-prinsip CLT.  Bahan presentasi materi dalam pembelajaran belum sepenuhnya disusun secara baik dengan mempertimbangkan efektivitas penyampaian materi. Terdapat banyak kepadatan teks dan fitur grafis non-instruksional yang dapat menyebabkan peningkatan beban berlebih.  Pada beberapa bahan presentasi terdapat kegiatan reflektif dapat mengurangi beban kognitif.  Hasil ini menunjukkan bahwa kualitas desain instruksional bahan ajar puisi belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip Cognitive Load Theory (CLT). Meski belum sepenuhnya sesuai dengan prinsip CLT, bahan ajar yang ada memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lagi dengan melibatkan media-media berbasis teknologi digital.