Claim Missing Document
Check
Articles

MODEL TRANSAKSI DINAR DAN DIRHAM DALAM KONTEKS KEKINIAN (Studi Kasus Gerai Dinar ”Nur Dinar” Cirebon) ALVIEN SEPTIAN HAERISMA
Holistik Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.411 KB) | DOI: 10.24235/holistik.v12i2.83

Abstract

Mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) sudah dikenal sebelum tiba agama Islam. Pada tahun 20 Hijriyah, sistem mata uang dinar dan dirhamini ditetapkan oleh sahabat Umar Ibn Khattab r.a. suatu perbandingan yangsifatnya tetap dalam berat dan kemurnian dinar dan dirham tersebut. Standarini dibakukan sampai saat ini oleh World Islamic Trading Organization (WITO).Nilai tukar dinar dan dirham relatif stabil sepanjang zaman, karena matauang ini memiliki nilai intrinsik sendiri. Melihat pentingnya juga kemanfaatantersebut, maka umat Islam seyogyanya mengetahui adanya lembaga atauinstitusi pergerakan dinar dan dirham sudah lama dan bergerak gunasolialisasi mata uang keduanya. Nur Dinar sebagai agen Gerai DinarJakartamerupakan lembaga yang mengambil sejumlah peran, yaknitempat pertukaran (money changer) dengan dinar, tempat penyimpanan(saving), serta sebagai modal produktif. Berangkat dari pemikiran danpembuktian diatas, maka rumusan masalahnya, diantaranya: (1) Apakahdefinisi dinar menurut Nur Dinar?, (2) Bagaimana model transaksi berbasisdinar di Nur Dinar?, (3) Apa motivasi penggunaan mata uang dinar di NurDinar?, dan (4) Apa strategi Nur Dinar dalam pengembangan dinar untukmasa yang akan datang?. Penelitian ini menggunakan pendekatan ataunaturalistic (qualitatif approach). Pendekatan ini mengangkat gambaranmengenai aktualitas, realitas sosial dan persepsi sasaran penelitian tanpatercemar oleh pengukuran formal. Sesuai fokus penelitian, sehingga sumberdan teknik pengumpulan data terdiri 3 bagian: (1) data tentang dinar, baikberupa jumlah dan peredaran dinar di Nur Dinar, data ini didapat dari datadokumentasi, (2) data sebagai sasaran penelitian dengan observasi daripartisipasi masyarakat yang menggunakan jasa layanan di Nur Dinar dan(3) data profil Nur Dinar diperoleh melalui wawancara dengan Owner NurDinar dan dokumen-dokumen lain menjadi the second data. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan ini dapat disimpulkan, sebagai berikut: (1) Nur Dinar dan konsumen dinar mendefinisikan dinar sama seperti ketetapan oleh Umar Ibn Khattab yaitu dinar seberat 4,25 gram emas 22 karat(berdiameter 23 milimeter), (2) Lembaga ini menerapkan transaksi jualbelidengan akad as-sharf, produk iQirad atau Tabungan Dinar menggunakanakad mudharabah dan produk M-Dinar dengan akad wadiah, (3) Motivasipenggunaan mata uang dinar dan dirham apa yang terkandung di dalamAl-Quran dan Al-Hadits sehingga muslim bertambah yakin bahwa matauang ini memiliki kestabilan guna menuju nilai keadilan dan kesejahteraan bagi penggunanya, dan (4) Strategi Nur Dinar dalam pengembangannya, melihat hasil instrumen analisis SWOT dapat memberikan rekomendasidalam kebijakan strategis (strategic policy) dan kebijakan teknis (technicalpolicy) yang diinginkan, maka penerapan mata uang dinar sama halnyadapat mengembalikan masa kejayaan dan kemakmuran umat sebagairahmatan lil’alamin.
KONSEPSI PEMIKIRAN DASAR EKONOMI ISLAM, EKONOMI PANCASILA DAN EKONOMI KERAKYATAN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Alvien Septian Haerisma
Al-Mustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jm.v4i2.5490

Abstract

AbstractNormatively, religious teachings can influence economic activity in the previous economic system. Meanwhile the Islamic economic system is far ahead which inspires the thinking of the two major economic systems, because the Islamic economic system is inspired by the Koran and al-Hadith. Meanwhile, Indonesia prioritizing the unification of the national economy which is characterized by the value of Pancasila and the 1945 Constitution which is based on the value of God. Using the literature study method, this research produced, first, the basic thinking of Islamic economics consisting of monotheism and brotherhood, work and productivity, ownership and equitable distribution. Pancasila economic principles consist of economic, social and moral integration, social equality, nationalistic spirit, cooperation, decentralization, and regional autonomy. The principle of the popular economy consists of the economy compiled the principle of kinship, the livelihood of the people is controlled by the state, all wealth is controlled by the state and used for the prosperity of the people. Second, the equality of the three reflects ethics, norms and morals, equality, nationalistic values, the role of micro institutions, decentralization and regional autonomy. The difference reflects ethics, norms, and morals by the philosophy of the Koran and al-Hadith, creating a prosperous country, prioritizing the value of hablum minallah and hablum minannas.Keywords: Islamic Economics, Pancasila Economics and Kerakyatan Economics. AbstrakSecara normatif bahwa ajaran agama dapat memberikan pengaruh terhadap aktivitas ekonomi pada sistem ekonomi sebelumnya. Sementara itu sistem ekonomi Islam jauh lebih dahulu yang memberikan inspirasi pemikiran kedua sistem ekonomi besar tersebut, karena sistem ekonomi Islam diilhami al-Quran dan al-Hadits. Sementara itu, di Indonesia memprioritaskan penyatuan ekonomi nasional yang bercirikan nilai pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan nilai ketuhanan. Dengan menggunakan metode studi kepustakaan, penelitian ini menghasilkan, pertama, pemikiran dasar ekonomi Islam terdiri tauhid dan persaudaraan, bekerja dan produktivitas, kepemilikan dan distribusi berkeadilan. Prinsip ekonomi pancasila terdiri penyatuan ekonomi, sosial dan moral, kemerataan sosial, semangat nasionalistik, kerjasama, desentralisasi dan otonomi daerah. Prinsip ekonomi kerakyatan terdiri perekonomian disusun azas kekeluargaan, hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara, segala kekayaan dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Kedua, persamaan ketiganya mencerminkan etika, norma dan moral, kemerataan, nilai nasionalistik, peran lembaga mikro, desentralisasi dan otonomi daerah. Perbedaannya mencerminkan etika, norma dan moral sesuai filosofi al-Quran dan al-Hadits, mewujudkan negara yang makmur, mengedepankan nilai hablum minallah dan hablum minannas.Kata Kunci: Ekonomi Islam, Ekonomi Pancasila dan Ekonomi Kerakyatan.
TINJAUAN MAQASID SYARI’AH TERHADAP OBLIGASI SYARIAH (SUKUK) Alvien Septian Haerisma
Al-Mustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.537 KB) | DOI: 10.24235/jm.v2i2.2154

Abstract

Abstract One of the instruments offered in the capital market, namely sharia bonds (sukuk). This has become a major attraction for both corporations and governments. With the acquisition of funds through the issuance of sukuk, corporations and the government means that there will be large funds available so as to increase the financing of sharia financial institutions. The need for companies or governments to build the infrastructure and expansion of private companies, this becomes one of the options in realizing alternative funding sources for the company and economic progress nationally. These five needs are aimed at fulfilling the following objectives: (1) Dharuriyah, which is the mandatory requirement to fulfill the needs of the world and the hereafter, (2) Hajj is the need which alleviates the burden of the masyaqah (difficulties) of every human being, (3) Tahsinat, complementary needs. The purpose of this study, trying to outline the benefits of the issuance of sukuk country to the nation and state of Indonesia, also see how the view of maqasid syariah about the benefits of Islamic bonds (sukuk). Keywords: Syariah Bond, Maqasid Syariah, Capital Market Instruments. Abstrak Salah satu instrumen yang ditawarkan di pasar modal, yaitu obligasi syariah (sukuk). Hal ini telah menjadi daya tarik utama bagi korporasi maupun pemerintah. Dengan diperolehnya dana melalui penerbitan sukuk, korporasi maupun pemerintah berarti akan tersedia dana yang besar sehingga dapat meningkatkan pembiayaan lembaga keuangan syariah. Kebutuhan perusahaan atau pemerintah guna membangun infrastruktur dan ekspansi perusahaan swasta, hal ini menjadi salah satu pilihan dalam mewujudkan sumber dana alternatif bagi perusahaan dan kemajuan ekonomi secara nasional. Kelima kebutuhan ini bertujuan memenuhi tujuan-tujuan berikut, yaitu: (1) Dharuriyah, yaitu kebutuhan wajib agar terpenuhinya kebutuhan dunia dan akhirat, (2) Hajiyat, yakni kebutuhan yang meringankan beban masyaqah (kesulitan) setiap manusia, (3) Tahsinat, ialah kebutuhan pelengkap. Tujuan dari penelitian ini, mencoba menjabarkan manfaat atas penerbitan sukuk negara bagi bangsa dan negara Indonesia, juga melihat bagaimana pandangan maqasid syariah tentang manfaat obligasi syariah (sukuk).  Kata Kunci: Obligasi Syariah, Maqasid Syari’ah, Instrument Pasar Modal.
PASAR MU’AMALAH DAN REKONSTRUKSI PENGGUNAAN DINAR, DIRHAM DAN FULUS SEBAGAI ALAT TUKAR DI CIREBON Zaenal Masduqi; Alvien Septian Haerisma
Al-Mustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/jm.v6i2.8974

Abstract

Sistem transaksi dinar dan dirham sudah dikenal cukup lama di Indonesia, akan tetapi belum banyak masyarakat yang sadar untuk menggunakan dari dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Dalam bidang pasar mu’amalah banyak dari kaum muslimin tidak tahu bahkan tidak memperdulikan bahwa Islam memiliki seperangkat nilai dan aturan yang dahsyat dan komprehensif bila difahami dan dilaksanakan. Hal ini dilatarbelakangi karena tidak banyak dari ulama dan tokoh masyarakat Islam yang mensosialisasikan teori dan praktek perdagangan secara Islam, disamping tertunduknya nilai dan aturan perdagangan Islam itu kepada kepentingan ekonomi kapitalis global.Media transaksi ini diwadahi oleh pasar mu’amalah dengan menggunakan sistem pasar danpada kegiatan ekonomi itu mengacu kepada konsep maslahat dan menjunjung tinggi asas-asaskeadilan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah pedagang dan pengguna dinar dan dirham saat ini pada jaringan perdagangan pasar mu’amalah yang pada perkembangan dari awal dibentuk pada tahun 2009 sampai dengan saat ini. Penelitian ini bertujuan memotret praktek sistem perdagangan Islam beserta manfaat-manfaatnya melalui pasar mu’amalah dengan alat tukar dinar, dirham dan fullus berbasis tanah wakaf.Kata Kunci: Pasar Mu’amalah, Alat Tukar, Wakaf, Kapitalis Global
PENGEMBANGAN PARIWISATA HALAL DI INDONESIA TINJAUAN ETIKA BISNIS ISLAM Alvien Septian Haerisma
Al-Mustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.068 KB) | DOI: 10.24235/jm.v3i2.3679

Abstract

Abstract Halal industry becomes a global trend and business opportunities in various countries. Halal industry brings benefits to the Indonesian economy in terms of products. The scope of the halal industry in the midst of today's global economy includes several aspects: Financial services industry, food and beverage industry, pharmaceutical and pharmaceutical industry, cosmetic beauty industry, hospitals and tourism industry, and fashion and lifestyle industries. Halal tourism market becomes the future of a nation's economic resources. The demand for world halal tourism shows positive growth so that all countries in the world must prepare their infrastructure and become business opportunity as foreign exchange of the country. Economic activity is time to incorporate ethical values in various business branches. There are five key axioms governing Islamic business ethics in it consisting of unity, balance and equilibrium, free will, and responsibility and benevolence. Islamic business ethics in the development of halal tourism in Indonesia has been done by the government, businessmen or managers of tourism or the wider community as consumers and other stakeholders. Keywords: Halal Industry, Halal Tourism, and Islamic Business Ethics. Abstrak Industri halal menjadi tren global dan peluang bisnis diberbagai negara. Industri halal membawa kemanfaatan bagi perekonomian Indonesia dilihat dari sisi produk. Ruang lingkup industri halal di tengah perekonomian global saat ini mencangkup beberapa aspek, diantaranya: Industri pelayanan keuangan, industri makanan dan minuman, industri farmasi dan obat-obatan, industri kecantikan kosmetik, industri rumah sakit dan pariwisata, dan industri fashion dan lifestyles. Pasar pariwisata halal menjadi masa depan sumber ekonomi suatu bangsa. Permintaan pariwisata halal dunia menunjukkan pertumbuhan positif sehingga seluruh negara belahan dunia harus menyiapkan infrastrukturnya dan menjadi peluang bisnis sebagai devisa negara tersebut. Aktivitas ekonomi sudah saatnya untuk memasukkan nilai-nilai etik diberbagai cabang bisnis. Terdapat lima aksioma kunci mengatur etika bisnis Islami didalamnya terdiri: kesatuan (unity), keseimbangan dan kesejajaran (equilibrium), kehendak bebas (free will), dan tanggungjawab (responsibility) dan kebajikan (benevolence). Etika bisnis Islam dalam pengembangan pariwisata halal di Indonesia sudah dilakukan oleh pemerintah, pengusaha atau pengelola pariwisata atau juga masyarakat luas sebagai konsumen dan stakeholder lainnya. Kata Kunci: Industri Halal, Pariwisata Halal, dan Etika Bisnis Islam.
PENGANTAR REKSA DANA SYARIAH (INTRODUCTION OF ISLAMIC MUTUAL FUND) Alvien Septian Haerisma
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.722 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v6i2.261

Abstract

Abstrak Lembaga keuangan reksa dana syariah di Indonesia menunjukkan nilai positif dalam perkembangannya. Hal ini ditandai adanya regulasi yang mendukung, target pasar yang besar, kompetisi yang sehat sehingga perkembangan reksa dana syariah makin meningkat. Reksa dana syariah dalam pengelolaan dan kebijakan investasinya mengacu pada syariat Islam. Proses ini tidak menginvestasikan pada saham-saham atau obligasi dari perusahaan yang pengelolaan atau produknya bertentangan dengan syariat Islam.Keywords : Reksa Dana, Lembaga Keuangan, Syariah
Mendesain Nilai Syariah Dalam Asuransi Alvien Septian Haerisma
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.715 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v5i2.239

Abstract

AbstrakSalah satu bentuk lembaga keuangan syariah selain perbankan syariah adalah asuransi syariah atau yang sering dikenal dengan sebutan takaful. Asuransi disebut juga at-ta'min dalam bahasa arab yang bermakna perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut, dan penanggung disebut mu'ammin, sedangkan yang tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min. Salah satu alasan dari kemunculan asuransi syariah adalah pandangan syariah Islam terhadap asuransi konvensional yang dinyatakan keharamannya (karena adanya riba, gharar, dan maysir). Disisi lain, asuransi merupakan kebutuhan masyarakat saat ini. Sehingga, keberadaan asuransi syariah adalah suatu jawaban atas kebutuhan umat Islam. Kata kunci: asuransi, at-ta’min, asuransi syariah
Pola Pemberdayaan Ekonomi Umat di Organisasi Masyarakat Muhammadiyah Kota Cirebon Alvien Septian Haerisma
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.992 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v7i2.201

Abstract

AbstrakOrmas secara umum memiliki fungsi yang sama guna memberdayakan anggotanya juga masyarakat lain, hal ini sesuai dengan Pasal 6 UU No. 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan. Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Cirebon menunjukkan keberadaannya sejak tahun 2006 di berbagai bidang diantaranya keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Metode penelitian yang akan di lakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yakni metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Data dan sumber data terbagi 2 yaitu: data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan observasi partisipan, wawancara mendalam atau indept interview, dokumentasi. Dari penelitian ini diktemukan pola-pola pemberdayaan ekonomi (Kasus Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Cirebon) yaitu: 1. Membangun kesadaran dan kekuatan ekonomi umat, 2. Pembentukan dan pengembangan Koperasi Syariah “INSAN MULIA”, 3. Penggalangan kerjasama dan jaringan. Kendala-kendala yang dihadapi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah kota Cirebon dalam pemberdayaan ekonomi umat yaitu: 1. Paradigma berfikir, 2. Banyaknya sumber daya manusia yang purna waktu, 3. Penyadaran pada umat seperti faktor modal atau biaya, 4. Sumber daya manusia yang bersifat mobilitas ekonomi personal terbatas. Kata Kunci: Ormas, Pemberdayaan, Ekonomi, Umat dan Masyarakat. Abstract          Organizations in general have the same function in order to empower the members of other communities as well, this is in accordance with Article 6 of Law No. 17 Year 2013 About the Social Organization. Muhammadiyah Regional Leadership Cirebon city shows its existence since 2006 in various fields including religion, education, health, economic, social, cultural and others. The method of research that will be done in this study is a qualitative approach, the research methods were used to examine the condition of natural objects. Data and data sources divided by 2 is: primary data and secondary data. Data collection techniques with participant observation, in-depth interviews or indept interview, documentation. The research results of the discussion and Muhammadiyah Regional Leadership Cirebon city in the economic empowerment of the people as follows: Patterns of economic empowerment (Case Muhammadiyah Regional Leadership Cirebon), namely: 1. Build awareness and economic power of the people, 2. Establishment and development of Islamic Cooperation "INSAN MULIA ", 3. Mobilization of cooperation and networking. Constraints faced by Muhammadiyah Regional Leadership Cirebon city in the economic empowerment of the people, namely: 1. The paradigm of thinking, 2. The number of human resources full time, 3. Awareness on people such factors or cost of capital, 4. Human resources are personal economic mobility is limited. Keywords: Organizations, Empowerment, Economy, People and Society.
Pengembangan Ekonomi Kreatif Bidang Fashion Melalui Bauran Pemasaran Alvien Septian Haerisma
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.06 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v10i1.2831

Abstract

AbstrakKebijakan pengembangan ekonomi kreatif yakni pengembangan kegiatan ekonomi berdasarkan pada kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan daya kreasi dan daya cipta individu yang bernilai ekonomis dan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tahun 2015 presiden membentuk badan ekonomi kreatif (bekraf) yakni lembaga pemerintah nonkementerian yang berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Presiden melalui menteri yang membidangi urusan pemerintah di bidang pariwisata. Ekonomi kreatif khususnya di Cirebon menampilkan kreatifitas bidang fashion menawarkan produk batik yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Perumusan permasalahan sebagai berikut: bagaimana pengembangan ekonomi kreatif bidang fashion dan apa faktor pendukung dan penghambat dalam pengembangan ekonomi kreatif bidang fashion melalui bauran pemasaran (studi kasus batik EB Traditional Cirebon)?. Hasil penelitian ini sebagai berikut: adanya ekonomi kreatif berbasis industri batik Trusmi Cirebon ini cukup membantu tingkat kesejateraan masyarakat desa Trusmi dan sekitarnya. Bauran pemasaran menjadi batasan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang dilakukan oleh batik EB Traditional Cirebon  yaitu: produk, harga, promosi dan tempat/saluran distribusi. Terdapat faktor pendukung: desa Trusmi adalah pusat industri batik yang berada di Cirebon, dan lainnya juga faktor penghambat: pengolahan limbah batik atau pewarna yang berbahaya, rendahnya minat masyarakat untuk belajar membatik dan lainnya. Kata kunci: ekonomi kreatif, marketing mix, batik trusmi AbstractCreative economic development policy is the development of economic activities based on individual creativity, skill, and talent to create creative and creative power of individuals with economic value and influence on the welfare of Indonesian society. In 2015, the president established a creative economic body (bekraf), a non-ministerial government institution which is under and responsible to the President through a minister in charge of government affairs in the field of tourism. Creative economy especially in Cirebon showcase the creativity of fashion field offering batik product that has high artistic value and has become part of Indonesian culture. The formulation of the problem as follows: how the development of creative economy in the field of fashion and what are the supporting and inhibiting factors in the development of creative economy in the field of fashion through the marketing mix (batik case study EB Traditional Cirebon) ?. The results of this study as follows: the existence of creative economy-based batik industry Trusmi Cirebon is enough to help the level of community welfare Trusmi and surrounding villages. Marketing mix becomes the limitation of creative economic development strategy done by batik EB Traditional Cirebon that is: product, price, promotion and place / distribution channel. There are supporting factors: Trusmi village is the center of batik industry located in Cirebon, and others are also inhibiting factors: the processing of batik waste or harmful dyes, the low interest of the community to learn batik and others. Keywords: creative economy, marketing mix, batik trusmi
Model Pembelajaran Bidang Ekonomi di Pondok Pesantren Al-Mizan Majalengka Alvien Septian Haerisma
Al-Amwal : Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syari'ah Vol 8, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.108 KB) | DOI: 10.24235/amwal.v8i1.667

Abstract

AbstrakPesantren memiliki model sistem pendidikan pertama dan tertua di Indonesia. Keberadaannya mengilhami berbagai model, strategi dan sistem-sistem pembelajaran yang ditemukan saat ini. Peran pesantren memiliki peran strategis dalam kemajuan perkembangan ekonomi Islam di Indonesia. Dalam tujuan penelitian mengacu jawaban dari perumusan masalah yakni: untuk dapat mengetahui model pembelajaran pesantren di pesantren Al-Mizan Majalengka. Untuk dapat memahami penerapan model pembelajaran bidang ekonomi tinjauan ekonomi Islam di pesantren Al-Mizan Majalengka. Metode dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data dan sumber data terbagi 2 yaitu: data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dengan observasi partisipan, wawancara mendalam atau indept interview, dokumentasi. Validitas dengan cara menggunakan triangulasi. Adapun tahapan analisis data sebagai berikut: reduksi data, penyajian data, pengambilan keputusan atau verifikasi. Penerapan model pembelajaran yang dilakukan di pesantren Al-Mizan menggunakan pola pembelajaran partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAKEM). Penerapan model pembelajaran secara kontekstual (contextual learning) bidang ekonomi di pesantren Al-Mizan dengan cara active learning yang didesain oleh yayasan Al-Mizan. Kata Kunci: Pesantren, Model Pembelajaran, Ekonomi Islam   Abstract Pesantren has a model first and oldest educational system in Indonesia. Its presence inspired a variety of models, strategies and learning systems found today. The role of schools have a strategic role in the advancement of economic development of Islam in Indonesia. In research purposes refers to the answer to the problem formulation: to identify the learning model boarding schools in Al-Mizan Majalengka. To understand the application of learning models economic outlook Islamic economics at Al-Mizan Pesantren Majalengka. The method in this study is a qualitative approach. Data and data sources is divided into two, namely: primary data and secondary data. Data collection techniques of participant observation, in-depth interviews or indept interview, documentation. Validity by using triangulation. The stages of data analysis as follows: data reduction, data presentation, decision-making or verification. Implementation model of learning is done in pesantren Al-Mizan using participatory learning patterns, active, creative, effective and fun (PAKEM). The application of contextual learning model (contextual learning) economics in pesantren Al-Mizan by way of active learning that is designed by the foundation of Al-Mizan. Keywords: Pesantren, Learning Model, Islamic Economics