Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Gambaran Tingkat Kecemasan Orang Tua Terhadap Hospitalisasi Anak Di Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang Tarafiar Choerunisa; Ikit Netra Wirakhmi; Roro Lintang Suryani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 1 No. 5 (2022)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika seorang anak tidak cukup sehat untuk membutuhkan perhatian medis di rumah sakit, ini dikenal sebagai rawat inap. Anak muda mengalami ini karena dia berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah sakit. Kecemasan dan kekhawatiran adalah reaksi umum terhadap penyakit ini pada anak-anak dan orang tua mereka. Wajar jika orang tua khawatir dan stres tentang bagaimana reaksi anak mereka saat dirawat di rumah sakit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana gambaran tingkat kecemasan orang tua terhadap anak yang mengalami hospitalisasi. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu penelitian yang menghasilkan penggambaran objek peneiti tanpa memberikan kesimpulan dengan menggunakan lembar kuisioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Populasi pada penelitian ini yaitu orang tua anak yang sedang menjalani hospitalisasi di RSUD Ajibarang sebanyak 36 responden. Hasil penelitian menunujukan usia responden mayoritas umur 20-36 tahun sebanyak (66,7%), dengan rata-rata tingkat pendidikan SMA/SMK sebanyak (61,1%) dan mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak (69,4%) dengan status penghasilan rata-rata UMR sebanyak (50,0%) dan status perkawinan pada orang tua anak yaitu mempunyai orang tua yang lengkap sebanyak (66,7%), dan mayoritas responden dalam satu keluarga memiliki anak lebih dari 5 sebanyak (50,0%). Sebagian dari responden memiliki kecemasan ringan yaitu (41,7%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat kecemasan orang tua yang anaknya mengalami hospitalisasi di RSUD Ajibarang mengalami kecemasan ringan.
PEMBERIAN VIDEO INFORMASI TENTANG PROSEDUR PEMBIUSAN TERHADAP KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI ANESTESI SPINAL DI RSI PURWOKERTO Santika Nesara Ferari; Roro Lintang Suryani; Asmat Burhan
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 4 No. 6: Februari 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecemasan sering terjadi pada pasien pre operasi karena kurangnya pengetahuan akan prosedur operasi, sehingga kebanyakan orang akan merasa khawatir akan keselamatan nyawanya. Kecemasan ini dapat diatasi salah satunya dengan menggunakan terapi non farmakologi, yaitu mengurangi ataupun menghilangkan rasa cemas dengan terapi distraksi dengan cara memberikan informasi melalui media yang dapat digunakan dalam pendidikan kesehatan salah satunya adalah dengan metode mendengarkan video. Edukasi melalui video merupakan salah satu metode edukasi yang paling efektif, karena dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja dengan lebih mudah, menyenangkan dan memotivasi, menstimulasi serta memiliki dampak langsung yang positif terhadap pengetahuan dan ketrampilan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian video informasi tentang prosedur pembiusan Anestesi Spinal terhadap penurunan kecemasan pasien pre operasi di RSI Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah pre eksperimental design dengan menggunakan design one group pre test and post test design dengan jumlah 82 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara tingkat kecemasan pasien sebelum dan sesudah diberikan video informasi tentang prosedur pembiusan Anestesi Spinal (p value = 0,000). Rata-rata tingkat kecemasan pasien sebelum diberikan informasi adalah 15,4 dan setelah diberikan informasi menurun menjadi 7,9. Dapat disimpulkan bahwa pemberian video informasi tentang prosedur pembiusan Anestesi Spinal efektif menurunkan kecemasan pasien pre operasi di RSI Purwokerto
The Effect of Operating Room Tour Video on Pre-Anesthetic Anxiety in Sectio Caesarea Patients Intania Muthmainnah Sastiyana; Roro Lintang Suryani; Murniati
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 3 (2024): July - October 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i3.92

Abstract

Background: Preoperative anxiety in patients undergoing cesarean sections (CS) can significantly impact both psychological well-being and physiological responses, potentially affecting the success of anesthesia. An educational intervention, such as an Operating Room (OR) Tour video, may alleviate anxiety by familiarizing patients with the surgical environment and process. Purpose: To determine the effect of an Operating Room Tour video on pre-anesthetic anxiety levels in CS patients. Methods: This study employed a pre-experimental design with a pretest-posttest approach to assess the impact of the video on pre-anesthetic anxiety in 30 CS patients at Cilacap General Hospital. Anxiety levels were measured using the Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A) before and after the intervention. Statistical analysis was conducted using the Wilcoxon signed-rank test to evaluate the significance of the change in anxiety levels. Results: The findings revealed a significant reduction in anxiety following the video intervention. Prior to the intervention, 43.3% of participants experienced moderate anxiety, while post-intervention, 66.7% reported only mild anxiety. The Wilcoxon test confirmed the significant impact of the OR Tour video on reducing pre-anesthetic anxiety (p = 0.011, p < 0.05). Conclusion: The use of an Operating Room Tour video is an effective strategy to reduce preoperative anxiety in CS patients. This educational intervention could be a valuable addition to pre-anesthesia care, improving patient comfort and potentially contributing to better surgical outcomes.  
Implementasi Pemberian Hot Pack Untuk Menurunkan Derajat Shivering Pada Pasien Pasca Anestesi Nurul Ayuni; Roro Lintang Suryani; Arni Nur Rahmawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat - PIMAS Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/pimas.v4i3.1873

Abstract

Anestesi adalah penghilang rasa sakit yang dibagi menjadi anestesi general, regional, dan lokal berdasarkan seberapa efektifnya. Salah satu komplikasi pada pasca anestesi adalah shivering. Untuk mengatasi hal ini, hot pack diberikan sebagai tindakan non-farmakologis . Tujuan dari pemberian hot pack adalah untuk mengeluarkan panas dari tubuh pasien dan membuatnya merasa lebih hangat, sehingga pasien tidak mengalami shivering pasca anestesi. Metode pada Pengabdian Kepada Masyarakat ini menggunakan metode pemberian implementasi hot pack untuk menurunkan shivering pada pasien pasca anestesi diruang recovery room di RSUD dr. Soedirman Kebumen sebanyak 30 peserta dengan melakukan pengukuran derajat shivering sebelum diberikan hot pack dan sesudah diberikan hot pack. Hasil dari Kegiatan pengabdian kepada masyarakat didapatkan mayoritas derajat shivering pada pre pemberian hot pack adalah derajat shivering 1 dengan jumlah 18 peserta (60%) dan pada post pemberian hot pack adalah derajat shivering 1 dengan jumlah 21 peserta (70%). Nilai minimal derajat shivering sebelum implementasi sebesar 1 dan setelah implementasi menjadi 0 serta nilai maksimal sebelum implementasi sebesar 3 dan setelah implementasi menjadi 2. Kesimpulan dari Pengabdian Kepada Masyarakat ini yaitu hot pack dapat digunakan untuk menuunkan derajat shivering pada pasien pasca anestesi.
Edukasi Video Operating Room Tour Guna Mengurangi Kecemasan Pada Pasien Pre Anestesi Di RSUD dr. Soedirman Kebumen Pintasari, Putri; Roro Lintang Suryani; Arni Nur Rahmawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat - PIMAS Vol. 4 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/pimas.v4i3.1879

Abstract

Anestesi dan operasi sering memicu kecemasan pada 80% pasien akibat kekhawatiran akan nyeri, komplikasi, atau kematian. Kecemasan ini berdampak fisiologis seperti peningkatan detak jantung dan tekanan darah, serta memperburuk pemulihan Oleh karena itu, pendekatan nonfarmakologis seperti edukasi melalui video operating room tour dapat menjadi solusi efektif. Video lebih efektif dalam menyampaikan informasi, memudahkan pasien memahami dan menyerap penjelasan. Tujuan dari edukasi video operating room tour ini memperkenalkan lingkungan dan alur prosedur operasi, sehingga meningkatkan pemahaman pasien dan mengurangi kecemasan sebelum anestesi. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini melibatkan pemberian kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) kepada pasien pra anestesi, yang dilakukan sebelum dan setelah menerima edukasi. Hasil dari pengabdian masyarakat ini kriteria usia mayoritas berada pada rentang usia 48–65 sejumlah 12 peserta (40.0%), karakteristik riwayat pembedahan peserta yang belum pernah melakukan pembedahan sejumlah 20 peserta (66.7%). Sebelum intervensi mayoritas pasien mengalami kecemasan sedang sebanyak 19 orang (63,3%). Setelah edukasi mayoritas tingkat kecemasan berubah menjadi kecemasan ringan 25 orang (83,3%).
Gambaran Kejadian Hipotermi Intra Anestesi Dan Post Anestesi Pasien Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen Rizky Arianda Ketaren; Septian Mixrova Sebayang; Tophan Heri Wibowo; Roro Lintang Suryani; Indri Wijayanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan sectio caesarea (SC) adalah metodepersalinan operatif yang dilakukan dengan indikasi. Sectio caesarea merupakan operasi yang membutuhkan daerah insisi yang luas. Pasien yang menjalani bedah sectio caesarea dengan anestesi spinal memiliki risiko yang lebih tinggi mengalamihipotermia selama periode perioperatif. Hipotermimerupakan keadaan suhu tubuh kurang dari 36℃. Setiap pasien yang menjalani operasi beresikomengalami kejadian hipotermi, Hipotermi yang terjadipada perioperatif dapat berlanjut hingga periode pascaoperatif di ruang pemulihan. Untuk menggambarankejadian hipotermi intra anestesi dan post anestesipada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatifanalitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode Total Sampling dengan jumlah responden sebesar 36. responden yang mengalami hipotermi berdasarkanusia antara 26 – 35 tahun sebanyak 69,4%, denganlama operasi.
Waktu Skor Pemulihan Bromage 2 dengan Metode Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS) dan Non ERACS di Rumah Sakit Emanuel Sulistyawati Geraldine Rambu Diki Ridja; Roro Lintang Suryani; Madyo Maryoto; Aris Rahmat
Journal of Educational Innovation and Public Health Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Journal of Educational Innovation and Public Health
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/innovation.v4i3.9610

Abstract

Cesarean section (CS) is an obstetric surgical procedure whose incidence continues to rise, making it necessary to optimize postoperative recovery to support early mobilization and prevent complications. Most CS procedures are performed under spinal anesthesia, making motor recovery an important indicator assessed using the Bromage score. The ERACS method was developed to accelerate recovery through a multimodal approach. Data from Emanuel Hospital show that out of 223 CS cases, 70 cases used ERACS and 153 cases were non-ERACS; however, data on the time to achieve a Bromage score of 2 for both methods are not yet available. This study aims to determine the profile of the time to achieve a Bromage score of 2 in post-SC patients using the ERACS and non-ERACS methods. This study employed a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach involving 55 respondents selected via consecutive sampling. Data were collected through observation until patients reached a Bromage score of 2 and were analyzed using univariate analysis. The results showed that the mean time to achieve a Bromage score of 2 in the ERACS group was 39.00 minutes (15–75 minutes), and in the non-ERACS group, it was 67.50 minutes (30–90 minutes). Respondents were aged 19–43 years, with the majority having an ASA II physical status (96.4%), and the most commonly used anesthetics were bupivacaine (56.4%) and lidocaine-morphine as an adjuvant (43.6%). In conclusion, the ERACS method showed a trend toward faster motor recovery, thereby potentially supporting early mobilization and the development of perioperative care protocols. These findings reinforce the importance of implementing ERACS in anesthetic practice to support early mobilization, serve as a basis for the development of hospital protocols, and open opportunities for further research with analytical designs to strengthen the scientific evidence.