Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Hubungan Antara Perilaku Cara Membersihkan Daerah Urogenitalia Wanita Setelah Berkemih Dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih Pada Mahasiswi Angkatan 2021 di Salah Satu Universitas di Surabaya: Relationship Between Cleaning Behavior Urogenital Area After Urination With Events Urinary Tract Infections in Female Students Class of 2021 at a University in Surabaya Satriadewi, Ni Komang Aswindari Satriadewi; Ishartadiati, Kartika; Sudibya, Akhmad; Widyaningsih, Indah
Calvaria Medical Journal Vol 3 No 1 (2025): Edisi Juni 2025
Publisher : Institute for Research and Community Services (LPPM) of University of Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/cmj.v3i1.204

Abstract

Latar Belakang: Berdasarkan epidemiologi, Infeksi Saluran Kemih merupakan infeksi paling sering terjadi pada wanita. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah penyakit yang disebabkan karena ada mikroorganisme yang berkembang biak di saluran kemih. Tujuan: untuk mengetahui hubungan perilaku higienitas genetalia dan kejadian infeksi saluran kemih pada mahasiswa di surabaya. Metode: Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik komparatif dengan menggunakan metode analisis data yaitu uji Chi-square. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Pengolahan data penelitian menggunakan bantuan SPSS. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 69 responden yang menerapkan cara pembersihan daeraj urogenitalia dengan benar dan terinfeksi saluran kemih adalah sebanyak 36 mahasiswi (58%) sedangkan responden yang membersihkan daerah urogenitalia dengan benar tetapi tidak terinfeksi saluran kemih sebanyak 26 orang (41,93%). Kondisi responden yang penerapan cara pembersihan daerah urogenitalia yang salah dan terinfeksi saluran kemih sebanyak 3 orang (42,85%). Dan responden yang penerapan cara pembersihan daerah urogenitalia salah tetapi tidak terinfeksi saluran kemih sebesar 4 orang (57,14%). Penelitian ini menggunakan uji Chi-square dengan uji alternatif yaitu uji Fisher. Karena nilai p- value α ≥ 0,05. Kesimpulan: Dari hasil data yang didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku cara membersihkan daerah urogenitalia wanita dengan kejadian Infeksi Saluran Kemih pada mahasiswi angkatan 2021 di salah satu Universitas di Surabaya.
EDUKASI PADA IBU PKK MENGENAL, MENCEGAH DAN MENGOBATI INFEKSI CACING KREMI PADA ANAK DI PUTAT JAYA SURABAYA Tjandra, Lusiani; Ishartadiati, Kartika; Wulandari, Atik Sri; Purbowati , Rini; Masfufatun; Indahsari, Noer Kumala
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Cacingan adalah penyakit menular yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia karena menyebar di banyak daerah serta dapat menyebabkan penurunan kualitas kesehatan, gizi, kecerdasan, dan produktivitas. Cacingan adalah penyakit yang berkaitan dengan lingkungan, sehingga perhatian terhadap kebersihan lingkungan harus ditingkatkan. Sebenarnya, infeksi cacing di perut dapat berkurang atau bahkan dihilangkan jika diterapkan pola hidup bersih dan sehat, perlu strategi pemberdayaan masyarakat, dan kemitraan, yang ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tanda dan gejala cacingan serta cara penularan dan Pencegahannya serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat guna memelihara kesehatan. Tujuan Untuk meningkatkan pengetahuan tentang mengenai cara penularan, gejala. cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi pada Ibu-ibu PKK di Kelurahan Putat Jaya Surabaya. Metode: edukasi dengan penyuluhan dan demontrasi diutamakan bagi para ibu ibu PKK melalui kader kesehatan yang aktif di masyarakat. Melalui metode ini diharapkan masyarakat, terutama para ibu ibu pkk, dapat lebih aktif dalam mencari informasi mengenai cara penularan, gejala. cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi serta mengetahui efek samping dan aturan minum obat cacing. Hasil: didapatkan nilai rata-rata pretest 5.83 dan nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 8.20, setelah data di uji T-Test didapatkan p hitung = 0.000, yang berarti ada perbedaan hasil test sebelum dan sesudah edukasi. Kesimpulan: sesudah edukasi terdapat peningkatkan pengetahuan yang signifikan tentang mengenai cara penularan, gejala, cara pencegahan dan pengobatan cacing kremi pada Ibu ibu PKK di Kelurahan Putat Jaya Surabaya.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Wali Murid dengan Kejadian Infeksi Cacing Kremi pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Jawa Timur Pratiwi, Indah; Ishartadiati, Kartika; Sudibya, Akhmad
Journal of Golden Generation Health Vol. 2 No. 1 (2026): In Progress 2026 : Journal of Golden Generation Health
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggh.v2i1.538

Abstract

Enterobius vermicularis atau cacing kremi merupakan nematoda usus yang sering menginfeksi anak usia sekolah dasar dan ditularkan melalui jalur fekaloral akibat tertelannya telur infektif dari lingkungan yang terkontaminasi. Pengetahuan wali murid berperan penting dalam pencegahan infeksi ini melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan wali murid kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional dilakukan pada Juni–Juli 2025 terhadap 39 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebanyak 25 responden (64,1%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan 14 responden (35,9%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sebanyak 7 anak (17,9%) terindikasi mengalami gejala infeksi cacing kremi dan 32 anak (82,1%) tidak menunjukkan gejala. Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan wali murid dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur.
Maternal Knowledge and Family Support in Measles Immunization: Pengetahuan Ibu dan Dukungan Keluarga dalam Imunisasi Campak Tri Anisa Istiqomah; Kartika Ishartadiati; Akhmad Sudibja; Jesyca Isabel Anggraini; Puput Ayu Novitasari
Academia Open Vol. 11 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/acopen.11.2026.13347

Abstract

General Background: Measles remains a significant public health problem despite the availability of safe and effective vaccination programs, particularly among children under five years of age. Specific Background: The success of measles immunization at community-based health services such as Posyandu is associated with maternal knowledge and family support as key determinants of child health decisions. Knowledge Gap: However, empirical evidence at the rural primary healthcare level, especially in Gayam Village Posyandu, remains limited regarding how these factors relate to measles immunization provision. Aims: This study aimed to analyze the relationship between maternal knowledge and family support with measles immunization among children aged 9–18 months in Gayam Village Posyandu. Results: Using a quantitative cross-sectional design with 33 randomly selected mothers, data were collected through structured questionnaires and analyzed using the Chi-square test. Most respondents demonstrated high maternal knowledge (97%), whereas 69.7% reported poor family support. Statistical analysis showed no significant association between maternal knowledge and measles immunization (p = 0.179) nor between family support and measles immunization (p = 0.364). Novelty: This study provides localized empirical evidence from a rural Posyandu setting, highlighting the contextual dynamics of maternal and family-related factors in measles vaccination decisions. Implications: These findings indicate that high knowledge levels alone are insufficient to ensure immunization uptake and underscore the need for family-centered and community-based strategies to strengthen measles immunization coverage at the primary healthcare level. Highlights: The majority of respondents demonstrated high cognitive understanding of measles vaccination. Most participants reported inadequate household encouragement in child health decisions. Statistical testing identified no significant relationship between the examined variables and vaccine administration. Keywords: Maternal Knowledge, Family Support, Measles Immunization, Toddler, Posyandu.
Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Infeksi Sarcoptes scabiei dan Personal Hygiene dengan Kejadian Suspek Skabies pada Santri di Pondok Pesantren di Jawa Tengah Zuhaila Ainir Rohmah; Kartika Ishartadiati; Akhmad Sudibya; Indah Widyaningsih
Jurnal Ners Vol. 10 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i3.58428

Abstract

Latar Belakang: Sarcoptes scabiei varietas hominis adalah penyebab penyakit kulit menular pada kulit dengan terjadinya perubahan pada kulit berupa ruam dan gatal di malam hari. Penularan skabies seringkali disebabkan multifactorial. Tingkat pengetahuan dan personal hygiene yang kurang dapat meningkatkan terjadinya penularan. Penelitian dipakai untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan terkait infeksi sarcoptes scabiei dan personal hygiene dengan kejadian suspek skabies pada salah satu pondok pesantren di jawa Tengah. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observational dengan pendekatan cross sectional study. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada 103 responden santri di pondok pesantren tersebut.Uji yang dipakai adalah chi- square dan multivariat regresi logistik. Hasil: Dari 103 responden yang berpartisipasi, 47% tersuspek skabies. Pada analisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan personal hygiene didapati tidak ada hubungan (pvalue>0.05). pada hubungan antara personal hygiene dengan kejadian skabies didapati terdapat hubungan (p-value <0.05) Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan terkait sarcoptes scabiei dengan kejadian suspek skabies dan terdapat hubungan antara personal hygiene dengan kejadian suspek skabies. Terjadinya skabies tidak hanya oleh tingkat pengetahuan dan personal hygiene saja, namun multifactorial. Sehingga perlu dilakukan upaya pengobatan skabies secara serentak dan memberikan edukasi kepada responden yang kurang dalam tingkat pengetahuan dan personal hygiene untuk perbaikan kesehatan masyarakat khusunya terkait penyakit kulit menular.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Wali Murid dengan Kejadian Infeksi Cacing Kremi pada Siswa Kelas II Sekolah Dasar di Jawa Timur Indah Pratiwi; Kartika Ishartadiati; Akhmad Sudibya
Journal of Golden Generation Health Vol. 2 No. 1 (2026): Mei : Journal of Golden Generation Health
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggh.v2i1.538

Abstract

Enterobius vermicularis atau cacing kremi merupakan nematoda usus yang sering menginfeksi anak usia sekolah dasar dan ditularkan melalui jalur fekaloral akibat tertelannya telur infektif dari lingkungan yang terkontaminasi. Pengetahuan wali murid berperan penting dalam pencegahan infeksi ini melalui penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan: Menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan wali murid kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain analitik observasional menggunakan pendekatan cross-sectional dilakukan pada Juni–Juli 2025 terhadap 39 responden dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Sebanyak 25 responden (64,1%) memiliki tingkat pengetahuan baik dan 14 responden (35,9%) memiliki pengetahuan kurang baik. Sebanyak 7 anak (17,9%) terindikasi mengalami gejala infeksi cacing kremi dan 32 anak (82,1%) tidak menunjukkan gejala. Hasil uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,005 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan wali murid dengan kejadian infeksi cacing kremi pada anak kelas 2 salah satu SD di Jawa Timur.