Claim Missing Document
Check
Articles

Found 41 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Simulasi Teknik Transmisi Untuk Ofdm Multiuser Dalam Sistem Visible Light Communication Farda Angga Nugraha; Kris Sujatmoko; Desti Madya Saputri
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Visible Light Communication (VLC) memanfaatkan cahaya sebagai media transmisi dalam mengirim informasi data. Dalam melakukan transmisi data perlu diperhatikan peformansi kinerja dalam mengevaluasi kualitas komunikasi untuk jumlah pengguna multiuser. (Code Division Multiple Access) CDMA merupakan akses konvensional dalam komunikasi wireless, namun jumlah maksimum pengguna dibatasi karena panjangnya kode sebaran. Hal ini menjadikan CDMA kurang optimal dalam bekerja untuk jumlah pengguna multiuser. Untuk mengatasi masalah komunikasi dengan batasan panjang kode sebaran di CDMA diperlukan teknik transmisi pada modulasi VLC untuk jumlah pengguna multiuser. Sehingga pada penelitian ini mengusulkan menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang mana merupakan teknik transmisi multicarrier dengan memanfaatkan sejumlah carrier dalam melakukan transmisi data. Multicarrier menyebabkan antar sub carrier saling tumpang tindih sehingga menjadi orthogonal. Sifat orthogonal ini memberi keuntungan pada efisiensi bandwidth selain itu, ketahanannya dalam mengatasi Intersymbol Interference (ISI) . Hasil simulasi menunjukan teknik transmisi OFDM multiuser untuk sistem VLC dengan user yang digunakan adalah 1 user, 2 user, 3 user, 4 user didapatkan jumlah user mempengaruhi perfomansi BER terhadap Eb/N0. Hasil penelitian menunjukan untuk mendapat BER 10-3 di dalam melakukan sistem komunikasi dibutuhkan Eb/N0 sebesar 16 dB pada pengguna 1 user merupakan hasil terbaik jika dibandingkan pengguna 2 user, 3 user,dan 4 user. Hal ini menunjukan jumlah user memiliki pengaruh terhadap BER informasi yang diterima di user. Kata Kunci : VLC, OFDM,BER, Multiuser Abstract Visible Light Communication (VLC) utilizes light as a transmission medium in sending data information. In transmitting data, it is necessary to pay attention to performance in evaluating communication quality for the number of multiuser . CDMA (Code Division Multiple Access) is conventional access in wireless communication, but the maximum number of users is limited due to the length of the distribution code. This makes CDMA less optimal in working for the number of multiuser users. To overcome the communication problem with the limitation of the length of the code distribution in CDMA, a transmission technique is needed for VLC modulation for the number of multiuser . So that in this study propose using Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) which is a multicarrier transmission technique by utilizing a number of carriers in transmitting data. Multicarrier causes inter sub carriers to overlap so that they become orthogonal. This orthogonal nature gives advantages to bandwidth efficiency in addition, its resistance to overcoming Intercymbol Interference (ISI). The simulation results show the multiuser OFDM transmission technique for the VLC system with the user used is 1 user, 2 users, 3 users, 4 users obtained the number of users affecting the performance of BER to Eb / N0. The results showed that to get a 10-3 BER in carrying out a communication system Eb / N0 was needed at 16 dB for 1 user ,it’s was the best result compared to users of 2 users, 3 users, and 4 users. This shows the number of users has an influence on the BER information received at the user. Keywords : VLC,OFDM , BER,Multiuser.
Pengaruh Orientasi Sudut Penerima Pada Berbagai Jumlah Led Dalam Visible Light Communication Amirullah Wijayanto; Kris Sujatmoko; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Visible Light Communication (VLC) merupakan suatu media komunikasi data yang media penyampaian informasi nya berupa cahaya tampak. Dengan memanfaatkan cahaya tampak sebagai sistem komunikasi maka dari itu VLC memiliki banyak keunggulan yaitu dari segi kecepatan dan keamanan untuk diaplikasikan, sehingga dapat mengirimkan berbagai jenis informasi seperti pengiriman suara, data digital, gambar dan video dan juga merupakan alternatif yang cukup baik dalam melayani kebutuhan data, pada saat alokasi spektrum frekuensi radio yang sudah sangat padat digunakan. Sedangkan, LED merupakan suatu perangkat diode p-n junction yang akan memancarkan cahaya apabila dalam suatu kondisi aktif. Berbagai macam jenis LED yang sudah terproduksi dalam jumlah yang banyak, salah satu nya adalah LED Super Bright White yaitu LED yang dapat memancarkan cahaya putih yang sangat terang. Pada tugas akhir ini disimulasikan sistem komunikasi cahaya tampak dnegan menggunakan perbedann jumlah LED dengan menggunakan modulasi OOK-NRZ. Berdasarkan hasil simulasi, dengan menggunakan daya 0.5 Watt/LED dan orientasi sudut penerima yaitu sebesar 0 o , 15o , dan 35 o . Maka dapat disimpulkan bahwa semakin jauh daya terima yang didapat maka akan semakin besar nilai BER yang didapat, ataupun sebaliknya. Simulasi ini juga menyimpulkan bahwa semakin kecil orientasi sudut penerima yang digunakan maka cakupan komunikasi akan semakin besar, dan semakin banyak jumlah LED yang digunakan maka semakin besar cakupan komunikasi yang diterima. Kata kunci : VLC, LED, OOK-NRZ, BER Abstract Visible Light Communication (VLC) is a data communication media whose information media is in the form of visible light. By utilizing visible light as a communication system, VLC has many advantages, namely in terms of speed and security to be applied, so that it can send various types of information such as voice transmission, digital data, images and videos and also a good alternative in serving data needs , when a very dense radio frequency spectrum allocation is used. Whereas, LED is a device diode p-n junction that will emit light when in an active condition. Various types of LEDs that have been produced in large quantities, one of which is the Super Bright White LED, which is an LED that can emit very bright white light. In this final project a visible light communication system is simulated using different numbers of LEDs using OOKNRZ modulation. Based on the simulation results, using 0.5 Watt/LED power and receiver angle orientation is 0 o , 15 o , and 35 o . Then it can be concluded that the further the received power will be, the greater the value of BER obtained, or vice versa. This simulation also concludes that the smaller the orientation of the receiver angle is used, the greater the communication coverage, and the more the number of LEDs used, the greater the scope of communication received. Keywords: VLC, LED, OOK-NRZ, BER
Perencanaan Sistem Komunikasi Kabel Laut Jasuka Link Alternatif Tanjung Pakis-pontianak Bagas Sidiq Haryanto; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) merupakan sistem komunikasi yang menggunakan media transmisi kabel optik dimana kabel optik tersebut digelar bukan didarat melainkan di dalam laut. Semakin banyaknya pertumbuhan penduduk di Indonesia, maka semakin banyak yang membutuhkan proses pertukaran data. Kapasitas existing tidak memungkinkan untuk melayani banyaknya kebutuhan penduduk melakukan pertukaran data. Kondisi dengan nilai load traffic 77 \% pada link Tanjung Pakis-Tanjung Pandan. Link utama yang terdapat pada Tanjung Pakis – Tanjung Pandan apabila terjadi over traffic maka akan mengakibatkan putusnya link sehingga perlu dibuatnya link alternatif yang mampu menghandle apabila terjadi kondisi yang tidak diingiinkan. Dari semua skenario yang dirancang, skenario 3 dikatakan layak dengan perancangan link menggunakan tipe kabel G.655 sejauh 973,52 kilometer dengan 9 buah penguat EDFA mendapatkan nilai Link Power Budget -12,78 dBm dengan nilai SNR sebesar 26,02 dB, nilai Q-factor sebesar 9,99 dan nilai Bit Error Rate sebesar 8,59 x 10- 24 . Dikatakan layak berdasarkan nilai minimum setiap parameter performansi. Kata Kunci : SKKL, kabel optik, kapaitas, existing, alternatif Abstract The Cable Communication System (SKKL) is a communication system that uses optical cable transmission media that is held not in the sea. The more population growth in Indonesia, the more people need the data exchange process. Existing capacity does not allow to serve the many needs of the population to exchange data Conditions with a 77 \% load traffic value on the Tanjung Pakis-Tanjung Pandan link. The main link found in Tanjung Pakis - Tanjung Pandan if there is over traffic will result in link disconnection so that an alternative link needs to be made that can handle in the event of an undesirable condition. Of all the scenarios designed, scenario 3 is said to be feasible with the design of link using the type of cable G.655 as far as 973.52 kilometers with 9 EDFA amplifiers getting the value of Link Power Budget -12.78 dBm with SNR value for 26.02 dB, the value of Q-factor is 9.99 and the value of Bit Error Rate is 8.59 x 10- 24. It is said to be feasible based on the minimum value of each performance parameter. Keywords : SKKL, optical cable, capacity, existing, alternative.
Analisis Performasi Subcarrier Intensity Modulation Pada Kanal Model Kim Dan Kruse Di Free Space Optic Fatrheza Imantaqwa; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Free Space Optic (FSO) adalah komunikasi berbasis optik tanpa menggunakan kabel. Sebelumnya ada sebuah teknologi optik yang menggunakan radio frekuensi (RF) sebagai sinyal pembawanya, yaitu Radio over Fiber (RoF). Namun RoF memiliki beberapa kekurangan seperti interferensi elektrik, distorsi, dan noise yang besar. Oleh karena itu dibuatlah teknologi Free Space Optic (FSO). FSO juga merupakan teknologi untuk jaringan backup. Contohnya bila ada bencana gempa, lalu kabel optik rusak, maka langsung digantikan dengan FSO yang tidak memakai kabel. Free Space Optic (FSO) adalah teknologi komunikasi berbasis optik yang propagasi cahayanya terjadi di alam terbuka. Teknologi ini memanfaatkan system kerja Line Of Sight (LOS), dan full duplex. Pada umumnya FSO ini menggunakan LASER sebagai light sourcenya. FSO memiliki beberapa kelebihan seperti kurangnya gangguan, mudahnya maintenance, dan kecepatan yang tinggi. Pada penelitian ini, disimulasikan dan dianalisis menggunakan Subcarrier Intensity Modulation (SIM) pada kanal model Kim dan Kruse, dengan penggunaan empat panjang gelombang dan variasi visibility. Setelah pengujian dengan SIM, dibandingkan dengan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ dengan parameter dan kanal yang sama. BER menggunakan SIM lebih baik daripada menggunakan modulasi OOK-NRZ dan OOK-RZ, dan pada panjang gelombang 1550 nm dengan nilai 10−98pada kanal model Kim dan 10−73 pada kanal model Kruse. Kata kunci : FSO, SIM, Kim, Kruse, BER. Abstract Free Space Optic (FSO) is optical based communication without using cables. Previously there was an optical technology that uses radio frequency (RF) as its carrier signal, namely Radio over Fiber (RoF). But RoF has several disadvantages such as electrical interference, distortion, and large noise. Therefore Free Space Optic (FSO) technology was created. FSO is also a technology for backup networks. For example, if there is an earthquake, then the optical cable is damaged, immediately be replaced with an FSO that does not use cables. Free Space Optic (FSO) is an optical-based communication technology whose light propagation takes place in the open. This technology makes use of the Line Of Sight (LOS) and full duplex work systems. In general, this FSO uses LASER as its light source. The FSO has several advantages such as lack of interference, easy maintenance, and high speed. In this study, it was simulated and analyzed using Subcarrier Intensity Modulation (SIM) on Kim and Kruse's channel models, with the use of four wavelengths and variations in visibility. After testing with SIM, it compared with OOK-NRZ and OOK-RZ modulation with the same parameters and channels. BER using SIM is better than using OOK-NRZ and OOK-RZ modulation, and at wavelengths of 1550 nm with values of 𝟏𝟎−𝟗𝟖on Kim's model channel and 𝟏𝟎−𝟕𝟑 on the Kruse model canal. Keywords: FSO, SIM, Kim, Kruse, BER
Analisis Integrasi Sistem Radio Over Fiber (rof) Dengan Next Generation Passive Optical Network Stage 2 (ng-pon2) Naufal Karyadi; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstrak Pengguna layanan seluler dalam beberapa tahun belakangan ini semakin meningkat sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sarana telekomunikasi yang bisa menanggulangi permasalahan tersebut, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem Radio Over Fiber (RoF). Kemudian dengan mengimplementasikan RoF ke Passive Optical Network (PON) bisa menawarkan user yang lebih banyak dan bandwidth yang dihasilkan bisa lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan simulasi integrasi RoF dengan NGPON2 dengan menggunakan bitrate sebesar 40 Gbps sisi downstream dan menggunakan frekuensi radio sebesar 60 GHz. Kemudian simulasi ini dilakukan dengan 3 skenario yang dibedakan berdasarkan jumlah ONU. Dari simulasi yang dilakukan, didapatkan hasil performansi terbaik pada Skenario I dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 30 km. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario II dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 20 km dengan nilai. Untuk hasil performansi terbaik pada Skenario III dengan sistem yang menggunakan OA pada jarak 10 km dengan hasil performansi seperti LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, dan BER ≤ 10-9 . Kata kunci : RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget. Abstract Users of cellular services in recent years are increasing so that the need for bandwidth is getting higher. Therefore, telecommunication facilities are needed that can overcome these problems, one of which is by using the Radio Over Fiber (RoF) system. Then by implementing RoF to Passive Optical Network (PON), it is expected to be able to offer more users and greater bandwidth. In this study a simulation of RoF integration with NG-PON2 was carried out by using a 40 Gbps bitrate downstream and using radio frequency of 60 GHz. Then this simulation is carried out in 3 scenarios that are differentiated based on the number of ONUs. From the simulation, the best performance results obtained in Scenario I with system that uses OA at distance of 30 km. For the best performance results in Scenario II with system that uses OA at distance of 20 km with a value. For the best performance results in Scenario III with system that uses OA at distance of 10 km with performance results such as LPB ≥ -28 dBm, Q-Factor ≥ 6, and BER ≤ 10-9 . Keywords: RoF, NG-PON2, ONU, Q-Factor, BER, Link Power Budget.
Evaluasi Kinerja Rof - Cwdm Frekuensi 3,5 Ghz Untuk Jaringan 5g Yosia Raya Peranginangin; Arfianto Fahmi; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio over Fiber hadir sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung permintaan yang terus bertambah. Melihat perkembangan komunikasi di dunia yang sangat pesat, Radio over Fiber dapat diaplikasikan guna mendukung layanan komunikasi jarak jauh. Tugas Akhir ini melakukan pengujian dan simulasi Radio over Fiber ( RoF) berbasis Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM) pada frekuensi 3,5 Ghz untuk performansi 5G. Parameter utama yang digunakan untuk analisis hasil penelitian ini yaitu Bit Error Rate (BER), Q- Factor, Rise Time Budget (RTB), Link Power Budget (LPB) , Signal to Noise Ratio dan daya pada jarak 1 km sampai 10 km . Rancangan yang telah dibuat diimplementasikan pada software simulasi. Dari hasil pengujian dan simulasi pada jarak 1 km sampai 10 km, didapatkan hasil rata-rata Q-factor 10,362 dan BER 10-31.490 untuk besar daya transmisi -8 dBm sampai dengan -4 dBm. Pada jarak 1 km sampai 10 km didapatkan hasil rata-rata Q-factor 21,729 dan BER 10-106,312 untuk besar daya transmisi -3 dBm sampai dengan 0 dBm. Diharapkan penilitian ini dapat dijadikan referensi untuk pengembangan jaringan 5G dan generasi berikutnya. Kata Kunci : Radio over Fiber, Wavelength Division Multiplexing, 5G Abstract Radio over Fiber is present as one of the technologies that can support the increasing demand. Seeing the development of communication in a very fast world, Radio over Fiber can be used to support long distance communication services. This Final Project tests and simulates Radio over Fiber (RoF) based on Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM) at a frequency of 3.5 Ghz for 5G performance. The main parameters used for the analysis of the results of this study are Bit Error Rate (BER), Q-Factor, Rise Time Budget (RTB), Link Power Budget (LPB), Signal to Noise Ratio and power at a distance of 1 km to 10 km. The design that has been made is implemented in simulation software. From the results of tests and simulations at a distance of 1 km to 10 km, the results obtained an average of Q-factor 10.362 and BER 10- 31.490 for transmission power from -8 dBm to -4 dBm. At a distance of 1 km to 10 km obtained an average Q-factor of 21,729 and BER 10-106,312 for large transmission power of -3 dBm up to 0 dBm. Keywords: Radio over Fiber, Wavelength Division Multiplexing, 5G
Pengaruh Jumlah Led Dalam Ruangan Ber-reflektor Pada Visible Light Communication Dyndra Anindita Ramadhanti; Kris Sujatmoko; Brian Pamukti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem komunikasi optik saat ini sedang berkembang sangat pesat, salah satu teknologinya adalah Optical Wireless Communication (OWC) dimana tidak lagi menggunakan menggunakan serat optik sebagai media rambat, melainkan menggunakan udara. Dalam OWC, terdapat teknologi perkembangannya yang dinamakan Visible Light Communication (VLC) , dimana VLC menggunakan cahaya komunikasi tampak dan udara sebagai media rambatnya. VLC sebagai teknologi baru menawarkan biaya yang sangat efisien. Telah sekian lama teknologi ini dikembangkan, tetapi hingga saat ini belum ada standar – standar yang ditetapkan untuk penggunaan VLC itu sendiri. Maka dari itu penelitian guna mengembangkan teknologi VLC masih terus dilakukan. Pada penelitian tugas akhir ini dilakukan analisis perbandingan jumlah Light Emitting Diode (LED) sebagai transmitter berjumlah 1 (satu) dan 2 (dua) buah terhadap pendistribusian cahaya komunikasi pada ruangan tertutup berukuran 5m x 5m x 4m yang terdapat reflektor berupa cermin pantul dengan menggunakan modulasi OOK-NRZ. Berdasarkan jarak penerima yang dihitung dari reflektor, hasil jarak cakupan terjauh pada saat 1 buah LED digunakan, sejauh 4.43 m sedangkan ketika menggunakan 2 buah LED, sejauh 5.16 m dengan bata Bit Error Rate (BER) sekitar 10-3 menggunakan daya sebesar 2 watt. LED diletakan pada ketinggian 4 m, dengan masing-masing koordinat. Posisi penerima tepat dibawah lampu LED dalam keadaan LoS. Berdasarkan jarak maksimum yang diperoleh dari 1 dan 2 buah LED, luas cakupan daerah komunikasi untuk 1 buah LED adalah seluas 18,84 m2 sedangkan untuk 2 buah LED seluas 21,76 m2 . Kata kunci : Optical Wireless Communication, Visible Light Communication, Bit Error Rate Abstract Optical communication system is growing very rapidly right now, one of the technology is Optical Wireless Communication (OWC), it is no longer using fiber optic as its propagation media but using air. There is technology development of OWC called Visible Light Communication (VLC), VLC is using visible light and air as its propagation media. There is still no standardization for its use. Therefore the study of VLC development is still going. In this final project research, has done analysis of Light Emitting Diode (LED) amount comparison as 1 and 2 transmitters towards light communication distribution in a 5m x 5m x 4m closed room with reflector in the form of reflector mirror using OOK-NRZ modulation. Based on the receiver distance counted from reflector, result of the farthest coverage distance when 1 LED used is 4,43 m, while when using 2 LED is 5,1 m. With Bit Error Rate (BER) around 10-3 using power equal to 2 watt. The LED placed on 4m height, with each coordinates. Receiver position is exactly under LED lamp in LoS condition. Based on maximum distance obtained from 1 and 2 LED, communication area coverage for 1 LED is 18,84 m2 while for 2 LED is 21.76 m2 . Keywords: Optical Wireless Communication, Visible Light Communication, Bit Error Rate
Performansi Sistem Radio Over Fiber Untuk 4g Dan 5g Ripai Ripai; Kris Sujatmoko; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pertubuhan pada bidang telekomunikasi saat ini berkembang sangat pesat, hal ini disebabkan karena kebutuhan user yang menginginkan layanan telekomunikasi yang cepat dengan cakupan yang luas. Radio Over Fiber (RoF) merupakan solusi yang ditawarkan karena menyediakan layanan yang cepat dengan bandwidth yang besar dan cakupannya yang luas. Pada penelitian ini membuat sistem RoF untuk jaringan 4G dan 5G dengan menggunakan teknik modulasi 4-Quardature Amplitude Modulation (QAM) dan menggunakan modulator optik Lithium Nitrobate (LiNb) Mach Zehnder Modulator. Pada simulasi menggunakan jarak lintasan optik 30 Km, 45 Km, dan 60 Km. Hasil performansi sistem RoF dengan jarak terjauh 60 Km mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.017 dan BER sebesar 9.463x10-10 pada sistem RoF menggunakan frekuensi 2.3 GHz. Pada sistem RoF menggunakan frekuensi 3.5 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.199 dan BER sebesar 2.823x10-10. Pada sistem RoF menggunakan frekeunsi 60 GHz mendapatkan nilai Q-factor sebesar 6.363 dan BER sebesar 9.758x10-11. Hasil dari ketiga skema masih memenuhi standar nilai Q-factor sebesar 6 dan nilai BER 10-9 . Kata Kunci: RoF, QAM, Q-factor, BER. Abstract The organization in the field of telecommunications is now growing very rapidly, this is due to the needs of users who want a fast telecommunication service with wide coverage. Radio Over Fiber (RoF) is a solution offered because it provides fast service with great bandwidth and wide coverage. This study created an RoF system for 4G and 5G networks using 4-Quadrature Amplitude Modulation (QAM) modulator and using the Mach Zehnder Modulator (LiNb). The simulation uses an optical trajectory of 30 Km, 45 Km, and 60 Km. The performance results of the RoF system with the most distance of 60 Km have a Q-factor value of 6,017 and BER of 9.463 X10-10 on the RoF system using a frequency of 2.3 GHz. On the RoF system Using a frequency of 3.5 GHz gets a Q-factor value of 6,199 and BER of 2.823 X10-10. In the RoF system using the 60 GHz Frekeunsi get the Q-factor value of 6,363 and BER of 9.758 X10-11. The results of the three schemes still meet the standard Qfactor value of 6 and the value of 10-9. Keywords: RoF, QAM, Q-factor, BER.
Analisis Performansi Sistem Jaringan Radio Over Fiber Untuk Pengaplikasian Telekomunikasi Dalam Ruangan Michelle Christine; Akhmad Hambali; Kris Sujatmoko
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Radio Over Fiber (RoF) merupakan salah satu proses komunikasi serat optik dimana sinyal radio ditumpangkan ke transmisi serat optik. Dengan besarnya tuntutan keberhasilan proses telekomunikasi data, khususnya di dalam ruangan (indoor), RoF dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung keberhasilan proses telekomunikasi dengan sistem jaringan yang lebih efisien dalam segi pengaplikasiannya. Modulasi digital Differential Phase-Shift Keying (DPSK) digunakan untuk sistem jaringan ini. Bit rate pada penelitian adalah 1Gbps dan terdapat modulator eksternal Mach-Zehnder Modulator (MZM) untuk mendukung proses penumpangan sinyal radio pada sinyal optik. Sumber optik yang digunakan adalah CW Laser dan jarak maksimal kabel serat optik adalah 30 km. Photodetector jenis Avalanche Photodiode (APD) digunakan pada blok penerima. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variasi power splitter dan jarak kabel serat optik mempengaruhi performansi sistem jaringan. Dimana semakin panjang jarak kabel serat optik dan semakin besar jumlah output port power splitter, semakin buruk nilai setiap parameter performansi. Dengan selisih nilai performansi pada setiap variasi perangkat 19,5%, hasil penelitian menunjukkan bahwa performansi perangkat terbaik dengan nilai Bit Error Rate (BER) 2,34 x 10-12 adalah dengan menggunakan power splitter 1:2 dan jarak kabel serat optik 8 km untuk sistem jaringan radio over fiber. Serta performansi perangkat terburuk dengan nilai BER 9,74 x 10-7 pada saat sistem jaringan menggunakan power splitter 1:8 dan jarak kabel serat optik adalah 30 km. Kata kunci : Radio over Fiber, Indoor, DPSK, BER, Q-Factor. Abstract Radio Over Fiber (RoF) is one of the processes in optical fiber communication where radio signals are modulated in optical fiber. With the increasing number of demands in the success of a telecommunication data processing, especially indoor, RoF could be one of the solutions to support the success of telecommunication processing with a more efficient network system in terms of its application. Differential Phase-Shift Keying digital modulation is used for this network system. The bit rate in this research is 1Gbps and Mach-Zehnder Modulator (MZM) as an external modulator is used to support the modulation process of radio signal in the optical fiber. CW Laser is used as the optical source and the maximum fiber length is 30 km. Avalanche Photodiode (APD) Photodetector is used in the receiver block. Based on the results, it can be concluded that the variants of power splitter and fiber length can affect the network system’s performance. Where the longer fiber length and the bigger number of ports in the power splitter, the values of each performance parameter decreases. With each variants’s difference at 19.5%, the simulation result shows the best parameter performance with BER value 2,34 x 10-12 is by using 1:2 power splitter and 8 km optical fiber length. Where the worst parameter performance with BER value 9,74 x 10-7 is by using 1:8 power splitter and 30 km optical fiber length. Keywords: Radio over Fiber, Indoor, DPSK, BER, Q-Factor.
Analisis Perencanaan Jaringan Lte Picocell Di Gedung Tamansari Parama Office Pt Wika Realty Aulia Hidayat; Kris Sujatmoko; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Layanan internet dengan teknologi Broadband Wireless Access yang realtime seperti freecall, instant message, social media, video call dan lain sebagainya saat ini adalah suatu hal yang umum. Namun terkadang lemahnya sinyal atau level daya terima yang kurang menyebabkan tidak maksimalnya penggunaan layanan. Tamansari Parama merupakan gedung perkantoran dari PT WIKA yang juga melayani untuk penyewaan kantor perusahaan lain. Karyawan dan tamu yang berada di tempat tersebut mengeluhkan dengan adanya permasalahan kualitas sinyal yang kurang baik karena struktur bangunanannya meredam sinyal dari site outdoor. Sehingga diperlukan perencanaan jaringan picocell di gedung Tamansari Parama. Kurang kuatnya sinyal pada suatu tempat bisa diatasi dengan capacity planning serta coverage planning yang sesuai seperti menggunakan antena picocell. Hasil Perencanaan didapatkan nilai RSRP untuk lantai basement yaitu sebesar -74,67 dBm, lantai 1 dan mezzanine sebesar -73,12 dBm, lantai 2 s/d 5 sebesar -73,70 dBm, dan lantai 6 s/d 16 yaitu sebesar -70,91 dBm. Untuk nilai SIR pada lantai basement yaitu 8,90 dB, lantai 1 dan mezzanine sebesar 10,88 dB, lantai 2 s/d 5 sebesar 38,96 dB, dan lantai 6 s/d 16 yaitu sebesar 12,70 dB. Dari hasil simulasi telah memenuhi KPI (Key Performance Indicator). Kata kunci : LTE, Coverage Planning, Capacity Planning, RSRP, SIR, KPI. Abstract Internet services with realtime Broadband Wireless Access technology such as freecall, instant messages, social media, video calls and so on nowadays are a common thing. But sometimes the signal is weak or the receiving power level is lacking which causes the maximum use of services. Tamansari Parama is an office building from PT WIKA which also serves for leasing other company offices. Employees and guests in the area complained about the problem of poor signal quality because the structure of the building dampened the signal from the outdoor site. So it is necessary to plan a picocell network in the Tamansari Parama building. Lack of signal strength in a place can be overcome by capacity planning and coverage planning as appropriate, such as using a picocell antenna. Planning results obtained RSRP value for basement floor which is equal to -74,67 dBm, 1st and mezzanine floors amounting to -73,12 dBm, 2nd to 5th floor of -73,70 dBm, and 6th to 16th floor which is equal to – 70,91 dBm. For SIR values on the basement floor are 8,90 dB, 1st floor and mezzanine is 10,88 dB, floors 2 to 5 are 38.96 dB, and floors 6 to 16 are 12.70 dB. From the simulation results, it meets the KPI (Key Performance Indicator). Keywords: LTE, Coverage Planning, Capacity Planning, RSRP, SIR, KPI