Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Prediabetes pada Mahasiswa Jurusan Fisioterapi Rabia, Rabia; Faradillah, Kiki Rezki; Nazhira, Fidyatul; Hendrawan, Thressia; Aldina, Firly; Syaharani, Shahnaz Mashia; Ayu, Adinda Niken
Syifa'Medika Vol 15, No 2 (2025): Syifa Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v15i2.9136

Abstract

Prediabetes adalah kondisi dengan kadar gula darah yang lebih tinggi dari normal tetapi belum mencapai kategori Diabetes Melitus (DM). Sekitar 5-10% orang dengan kondisi prediabetes akan berkembang menjadi diabetes, dan sebaliknya, dapat juga kembali ke kondisi normal. Pada tahun 2030, prevalensi prediabetes diperkirakan akan meningkat, dan diperkirakan sekitar 470 juta orang akan menderita prediabetes. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menilai prevalensi prediabetes pada mahasiswa jurusan fisioterapi. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan di bulan Agustus-September 2024 pada 204 mahasiswa Jurusan Fisioterapi. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, Indeks Massa Tubuh (IMT), persentase lemak tubuh dan glukosa darah puasa. Data kategorik disajikan dalam bentuk frekuensi dan persentase, sedangkan data numerik akan disajikan dalam bentuk rerata (standar deviasi) atau median. Uji Chi-Square digunakan untuk menilai perbedaan proporsi prediabetes berdasarkan IMT dan persentase lemak tubuh. Penelitian ini melaporkan sejumlah 16% mahasiswa jurusan fisioterapi mengalami prediabetes, 54% mengalami obesitas ditinjau dari persentase lemak tubuh dan hanya 50% yang memiliki IMT normal. Prevalensi prediabetes juga diamati pada mahasiswa dengan IMT normal. Selain itu, sebagian besar populasi mahasiswa obesitas menunjukkan kondisi prediabetes.
The Relationship Between Body Mass Index (BMI) and Balance in Down Syndrome Children at the X Depok Foundation Mailani, Rena; David, Natasya Salima; Faradillah, Kiki Rezki; Ismiyasa, Suci Wahyu
FISIO MU: Physiotherapy Evidences Vol. 5 No. 1 (2024): Physiotherapy New Era
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/fisiomu.v5i1.2944

Abstract

Introduction: In Indonesia, there are more than 300,000 children with Down syndrome. Down syndrome is a chromosomal abnormality that occurs while still in the womb. Children with Down syndrome have a high risk of being overweight or even obese. This increase in BMI causes various problems, one of which is the weakening of strength and loss of balance. To determine the relationship between body mass index (BMI) and balance in children with Down syndrome at Yayasan X. Methods: This study used a correlational study design with a cross-sectional approach with a sample of 89 children with Down syndrome. This research was conducted offline by using the pediatric balance scale and measuring body mass index (BMI). Results: This study used SPSS 23 and the results obtained p =0,000 on balance with the correlation coefficient between BMI of 0.559 conclusion there is a unidirectional relationship between BMI and balance. Conclusion: There is a relationship between body mass index and balance in the same direction in children with Down syndrome at Yayasan X.
IMPLEMENTATION OF CAT STRETCH EXERCISE AND COUNTER PRESSURE TO REDUCE MENSTRUAL PAIN IN ADOLESCENT GIRLS AT THE ISLAMIC BOARDING SCHOOL OF CAHAYA MADINAH, SOUTH TANGERANG, BANTEN Desmawati, Desmawati; Pamungkas, Eny Dewi; Noer, Sirajudin; Sudiharto, Sudiharto; Faradillah, Kiki Rezki; Widyatnoko, Dodhi
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 9 No. 3 (2025): SEPTEMBER
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v9i3.2983

Abstract

Menstrual pain or dysmenorrhea is problem in adolescent girls. Menstrual pain also be a reason for the decreased activity of women during menstruation, including female students at the Pesantren Yatim Cahaya Madinah, South Tangerang, Banten. The objective of this community service is to address menstrual pain in adolescents through several methods including: 1) providing education on nonpharmacological therapy to reduce menstrual pain, addressing the lack of information, knowledge, and understanding related to menstruation; 2) implementing Cat Strecth Exercise dan Counter Pressure for menstrual pain in adolescent girls; 3) adopting positive lifestyle changes to decrease menstrual pain, supervising, and reevaluating programs. Adolescents are able to remain productive during menstruation, implement Cat Strecth Exercise dan Counter Pressure, and stay healthier and more productive even while menstruating. The results of this intervention have proven effective in reducing menstrual pain through non-pharmacological therapy, leading to healthier and more sustainable productivity for adolescent girls. Those who initially experienced severe pain (scale 6), causing distress and lower abdominal cramps during menstruation that often reduced their quality of life—along with discomfort affecting their physical and mental well-being, often accompanied by nausea, vomiting, abdominal pain, breast pain, rectal swelling, and diarrhea—reported a reduction in menstrual pain to a scale of 3 after this intervention.
Perbandingan Berat Badan dengan Persentase Lemak Tubuh pada Mahasiswa dan Mahasiswi Fisioterapi Faradillah, Kiki Rezki; Sirada, Andy
Journal of Muslim Community Health Vol. 4 No. 2 (2023): APRIL-JUNI (JMCH)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jmch.v4i2.1454

Abstract

Latar belakang : Obesitas ialah penimbunan lemak yang melampaui batas dampak dari ketidakseimbangan asupan energi dengan energi yang dipakai dalam periode yang lama. Salah satu indikator untuk menilai obesitas yaitu presentase lemak tubuh atau percent body fat (PBF). Baru-baru ini, indikator PBF sudah meningkat diduga sebagai standar yang lebih tepat untuk menentukan seseorang kelebihan berat badan atau obesitas sebab mengukur lemak tubuh secara langsung dibandingkan pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Presentase lemak tubuh yang tinggi bisa menyebabkan terjadinya obesitas sehingga bisa menimbulkan berbagai permasalahan fisik, bermacam komplikasi medis hingga gangguan musculoskeletal yang bisa menghalangi kualitas hidup seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan berat badan dan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan cross sectional design. Penelitian ini dilaksanakan sejak Oktober hingga Desember 2022. Sebanyak 104 mahasiswa dan mahasiswi Jurusan Fisioterapi UPN “Veteran” Jakarta yang bersedia menjadi responden didalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan uji T independent dengan program SPSS. Hasil : Terdapat perbedaan signifikan berat badan dengan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Rerata berat badan mahasiswa lebih tinggi dibandingkan rerata berat badan mahasiswi. Sedangkan rerata PBF mahasiswi lebih tinggi dibandingkan rerata PBF mahasiswa dan lebih banyak jumlah mahasiswi yang obesitas dibandingkan mahasiswa obesitas. Kesimpulan : Ada perbedaan signifikan antara berat badan dan persentase lemak tubuh pada mahasiswa dan mahasiswi jurusan fisioterapi. Kata Kunci: Obesitas; Berat Badan; Percent Body Fat (PBF)
Deteksi Dan Edukasi Pencegahan Obesitas Anak Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Amanah Makassar: Deteksi Dan Edukasi Pencegahan Obesitas Anak Di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Amanah Makassar oktarina, mona; Rabia, Rabia; Faradillah, Kiki Rezki
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Terkini Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan Terkini
Publisher : Ruang Ide Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58516/jpmkt.v2i1.48

Abstract

Peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak usia di bawah 5 tahun mendorong perlunya upaya deteksi dan edukasi pencegahan obesitas sedini mungkin. Oleh karena itu, kegiatan ini dilakukan untuk mendeteksi status obesitas pada anak di PAUD serta memberikan edukasi pencegahan obesitas anak kepada orang tua siswa dan guru di PAUD. Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan item kegiatan berupa penyuluhan strategi deteksi dan pencegahan obesitas anak kepada orang tua siswa dan guru serta pemeriksaan status obesitas siswa di PAUD. Setelah diberikan edukasi, seluruh orang tua siswa dan guru PAUD mengetahui mengenai batas maksimum screen time pada anak. Namun, hanya 55,6% yang menjawab dengan benar pertanyaan mengenai penyebab obesitas. Berdasarkan hasil pemeriksaan status obesitas anak, diperoleh sebanyak 14,3% siswa mengalami obesitas dan sebanyak sepertiga anak mengalami obesitas sentral.
IMPLEMENTATION OF EFFORTS TO REDUCE MENSTRUAL PAIN-INCREASE PRODUCTIVITY WITH INTERMITTENT FASTING (16:8) USING THE "GUIDE ME" ANDROID APPLICATION FOR YOUNG WOMEN AT ISLAMIC BOARDING SCHOOL YATIM CAHAYA MADINAH, SOUTH TANGERANG, BANTEN Desmawati, Desmawati; Ismail, Rita; Noer, Sirajudin; Sudiharto, Sudiharto; Faradillah, Kiki Rezki
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 8 No. 3 (2024): SEPTEMBER
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v8i3.2452

Abstract

A common complaint often experienced by adolescent girls during menstruation is menstrual pain or dysmenorrhea. Menstrual pain is caused by an imbalance of hormones such as prostaglandins and progesterone due to uterine contractions that affect each individual. Many activities of adolescent girls are disrupted by this menstrual pain, including female students at the Pesantren Yatim Cahaya Mandiri, South Tangerang, Banten. The objective of this community service is to address menstrual pain in adolescents through several methods including: 1) providing education on nonpharmacological therapy to reduce menstrual pain, addressing the lack of information, knowledge, and understanding related to menstruation; 2) training in life skills to adapt to menstrual disturbances, aimed at overcoming the low level of life skills in dealing with menstrual issues; 3) implementing 16-hour Intermittent Fasting (16:8) and doing murojaah (to maintain the memorization of the Quran good, fluent, and correct) using the "Guide Me" app for menstrual pain in adolescent girls; 4) supervising and reevaluating programs to address menstrual disturbances using the "Guide Me" app; 5) adopting positive lifestyle changes to reduce menstrual disturbances (efforts to reduce menstrual pain). Adolescents are able to remain productive during menstruation, implement Intermittent Fasting (16:8), and stay healthier and more productive even while menstruating. The results of this intervention have proven effective in reducing menstrual pain through non-pharmacological therapy, leading to healthier and more sustainable productivity for adolescent girls. Those who initially experienced severe pain (scale 6), causing distress and lower abdominal cramps during menstruation that often reduced their quality of life—along with discomfort affecting their physical and mental well-being, often accompanied by nausea, vomiting, abdominal pain, breast pain, rectal swelling, and diarrhea—reported a reduction in menstrual pain to a scale of 3 after this intervention.
Hubungan Tingkat Aktivitas Fisik Dan Visceral Fat Dengan Kesehatan Mental Pada Remaja Agustiyawan; Oktarina, Mona; Faradillah, Kiki Rezki; Bachtiar, Farahdina
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 8 No 4 (2023): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v8i4.20375

Abstract

Objective: This study aims to find out the relationship between the level of physical activity and visceral fat and mental health in adolescents. Methods: The research method used is quantitative observation with a cross-sectional approach. A total of 353 adolescents in the village of Curug will participate in the study. The parameters used are the IPAQ-SF (International Physical Activity Questionnaire Short Form) to assess the level of physical activity, performance bioelectrical impedance, and the BDI II (Beck Depression Inventory II) questionnaire to assess mental health . Results: The 353 participants (250 women [70.8%] and 103 males [29.2%]). The average age (SD) is 20.5 (± 2,05) years. The level of physical activity has a correlation with the level of visceral fat (r = 0,67, p < 0,05). However, the level is not correlated with mental health. There is a relationship between the level of physical activity and visceral fat and mental health (r = - 0,32, p < 0,05). Conclusion: There is a small but significant inverse relationship between physical activity level, visceral fat, and adolescent mental health. Future research should focus on the prospective relationship between components of visceral fat and mental health in adolescents.
HEALTHY WORKPLACE MOVEMENT: SKRINING DAN EDUKASI KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KARYAWAN Andy Sirada; Kiki Rezki Faradillah; Susianna Jansen; Lina Berliana Togatorop; Dwi Suratmini; Rycco Darmareja
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 4 (2026): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i4.39710

Abstract

Abstrak: Gangguan muskuloskeletal merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sering dialami pekerja akibat posisi kerja statis, aktivitas berulang, dan penerapan ergonomi yang kurang optimal. Kondisi ini dapat menurunkan kenyamanan, kapasitas kerja, dan produktivitas apabila tidak dilakukan upaya pencegahan sejak dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal melalui skrining menggunakan Nordic Body Map (NBM). Kegiatan dilaksanakan pada 32 karyawan PT Cakra Manggilingan Jaya melalui edukasi kesehatan kerja, skrining keluhan muskuloskeletal, dan praktik workplace stretching. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri atas 10 pertanyaan terkait kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja. Indikator keberhasilan kegiatan ditetapkan berdasarkan peningkatan skor pengetahuan peserta setelah intervensi edukasi. Hasil evaluasi menunjukkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 58,4 pada pre-test menjadi 81,2 pada post-test dengan selisih peningkatan sebesar 22,8 poin. Hasil skrining NBM menunjukkan keluhan muskuloskeletal paling banyak ditemukan pada area pinggang/punggung bawah (75%), leher (62%), dan bahu (56%). Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai dan berpartisipasi dalam praktik workplace stretching yang diberikan. Kegiatan Healthy Workplace Movement efektif meningkatkan pengetahuan karyawan mengenai kesehatan muskuloskeletal dan ergonomi kerja serta dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif untuk mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal di lingkungan kerja.Abstract: Musculoskeletal disorders are among the most common occupational health problems experienced by workers due to prolonged static postures, repetitive activities, and inadequate ergonomic practices. These conditions may reduce comfort, work capacity, and productivity if preventive measures are not implemented at an early stage. This community service program aimed to improve employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and to identify musculoskeletal complaints through screening using the Nordic Body Map (NBM). The program involved 32 employees of PT Cakra Manggilingan Jaya and consisted of occupational health education, musculoskeletal complaint screening, and workplace stretching practice. Knowledge evaluation was conducted using a pre-test and post-test comprising 10 questions related to musculoskeletal health and workplace ergonomics. The success indicator of the program was defined as an improvement in participants’ knowledge scores following the educational intervention. The results showed that the mean knowledge score increased from 58.4 in the pre-test to 81.2 in the post-test, representing an increase of 22.8 points. The NBM screening revealed that musculoskeletal complaints were most frequently reported in the lower back (75%), neck (62%), and shoulder (56%) regions. All participants completed the entire program and actively participated in the workplace stretching session. The Healthy Workplace Movement program was effective in improving employees’ knowledge of musculoskeletal health and workplace ergonomics and may serve as a promotive and preventive strategy to reduce the risk of musculoskeletal disorders in the workplace.