Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sari Pediatri

Penggunaan Protokol Penyapihan Sedasi dalam Mencegah Sindrom Putus Obat pada Anak yang Sakit Kritis Kadaristiana, Agustina; Djer, Muljadi M; Prawira, Yogi
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.54-62

Abstract

Latar belakang. Sedasi merupakan obat esensial pada perawatan anak sakit kritis, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan sindrom putus obat. Sampai saat ini belum ada pedoman penyapihan sedasi di unit intensif anak. Tujuan. Mengetahui peran protokol penyapihan sedasi dalam menurunkan kejadian sindrom putus obat. Metode. Penelusuran literatur dilakukan melalui PubMed, Cochrane Library, dan Embase untuk mencari artikel yang relevan. Hasil. Tiga studi memenuhi kriteria eligibilitas, yaitu dua uji klinis terandomisasi dan satu kohort prospektif. Masing-masing memiliki protokol penyapihan sedasi yang berbeda. Meskipun tingkat keabsahannya lemah, penggunaan protokol penyapihan sedasi menggunakan titrasi dan konversi obat bermanfaat dalam menurunkan sindrom putus obat, mempersingkat durasi penyapihan sedasi, dan lama rawat.Kesimpulan. Protokol penyapihan sedasi yang mudah digunakan dengan obat-obatan yang ada di Indonesia perlu dikembangkan.
Perbandingan Efikasi dan Keamanan Parasetamol serta Ibuprofen dengan Dosis Berdasarkan Berat Badan dalam Penanganan Demam Anak: Uji Klinis Acak Terbuka Prawira, Yogi; Agustina, Agustina; Hamik, Welli; Santi, Theresia; Garniasih, Dina; Tandra, Irene Mutiara; Lukman, Leni; Sugiharto, Jessica; Ardini, Ni Putu
Sari Pediatri Vol 27, No 5 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.5.2026.299-308

Abstract

Latar belakang. Demam adalah keluhan tersering di praktik pediatri Indonesia. Parasetamol dan ibuprofen menjadi antipiretik utama, baik dengan pengawasan medis maupun swamedikasi. Namun, sebagian besar produk di Indonesia masih menggunakan panduan dosis berbasis usia, padahal variasi berat badan anak yang lebar berisiko menyebabkan dosis kurang atau berlebih.Tujuan. Menilai efikasi dan keamanan pemberian tunggal parasetamol dan ibuprofen berbasis berat badan dalam menurunkan demam pada anak usia 2-15 tahun di Indonesia.Metode. Penelitian ini merupakan uji klinis fase III, acak terbuka, dua lengan paralel, non-inferioritas, dan multisenter. Subjek diacak menerima parasetamol sirup 250 mg/5 mL (10-15 mg/kg) atau ibuprofen suspensi 100 mg/5 mL (5-10 mg/kg). Suhu timpani diukur pada menit ke-15, 30, 60, 120, 180, dan 240 setelah pemberian pertama. Keamanan dievaluasi melalui efek samping serta pemeriksaan hematologi, fungsi hati dan ginjal, dan CRP dalam 48-72 jam setelah dosis terakhir.Hasil. Sebanyak 93 anak dibagi menjadi dua kelompok: parasetamol (45 anak) dan ibuprofen (48 anak). Penurunan suhu mulai terlihat pada 15 menit pertama (rata-rata 0,55°C). Pada menit ke-60, penurunan suhu kedua obat sebanding (parasetamol 1,13°C; ibuprofen 1,06°C). Pada menit ke-240, ibuprofen unggul 0,20°C, tetapi masih dalam batas non-inferioritas (0,65°C). Efek samping ringan dan sementara, tanpa kejadian serius. Laboratorium menunjukkan peningkatan ringan enzim hati (?7 U/L) dan penurunan CRP ±17 mg/L, sesuai proses penyembuhan alami.Kesimpulan. Dosis parasetamol dan ibuprofen berbasis berat badan terbukti cepat, aman, dan setara dalam menurunkan demam anak Indonesia. Keduanya dapat menjadi terapi lini pertama yang fleksibel. Temuan ini mendukung penerapan panduan dosis berbasis berat badan (mg/kg) menggantikan panduan berbasis usia.