Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

The Traditional Art of Terebang Gebes in Mikanyaah Munding Culture Gugun Gunardi; Taufik Ampera; Unang Yunasaf
PANGGUNG Vol 27 No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i3.277

Abstract

ABSTRAKKonservasi Budaya Lokal Mikanyaah Munding sebagai Landasan Village Breeding Center Kerbau adalah penelitian yang dilaksanakan oleh kami terkait dengan bentuk penangkaran kerbau berbasis budaya tradisional, yang dilaksanakan di Desa Cikeusal-Tasikmalaya. Di dalam budaya “Mikanyaah Munding” juga ternyata terdapat pelestarian berbagai seni tradisi Sunda, diantaranya adalah Seni Terbang Gebes. Dalam tulisan ini digunakan metode penelitian kualitatif dengan kajian etnografi, sedangkan teknik pengumpulan data digunakan teknik wawancara. Dari pembahasan hasil penelitian diperoleh antara lain; sistem penangkaran kerbau berbasis budaya lokal Mikanyaah Munding, yang di dalamnya terdapat; kebiasaan masyarakat setempat di dalam memperlakukan ternak kerbau, kosa kata khusus terkait dengan peternakan kerbau, hajat lembur yang ada hubungannya dengan peternakan kerbau, dan berbagai bentuk kesenian tradisional Sunda yang dilaksanakan dalam rangka budaya Mikanyaah Munding. Dalam artikel ini akan dibahas salah satu kesenian terkait, yaitu Seni Terbang Gebes.Kata Kunci: Budaya, Mikanyaah-Munding, Seni Terbang GebesABSTRACTConservation of local culture “Mikanyaah Munding” (or Nurturing Buffalos) as the base of Village Breeding Center of “Kerbau” is a research done on traditional “kerbau” breeding in Cikeusal, Tasikmalaya. “Mikanyaah Munding” reserve a variety of Sundanese traditional art performance, one of which is “Seni Terbang Gebes”. This essay uses qualitative method involving ethnography as its perspective. The data is collected from interviews. Our findings from analysis are: the habit of locals in treating their buffalos; specific vocabulary on breeding; festivities in relation to breeding and all kinds of Sundanese traditional art performance included in “Mikanyaah Munding”. This essay discusses one of its art performance, “Seni Terbang Gebes”.Keywords: Culture, Mikanyaah Munding, Seni Terbang Gebes 
Pemertahanan Bahasa Sunda pada Keluarga Amalgamasi di Kota Bandung melalui Etnoparenting dan Literasi Budaya Ikmalludin, Ikmalludin; Hendayeni, Henhen; Rachman, Salman Ramdani; Awaliyah, Shelpi Nur; Qodrunnada, Salsabil; Ampera, Taufik
LOKABASA Vol 15, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : UPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jlb.v15i2.72581

Abstract

Kota Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat berpeluang menjadi tempat terjadinya amalgamasi antara suku Sunda dan suku Jawa. Hal ini berpotensi mengancam vitalitas bahasa Sunda. Pemertahanan vitalitas bahasa Sunda dalam keluarga amalgamasi penting dilakukan melalui pola asuh yang diterapkan kepada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas literasi budaya untuk mempertahankan vitalitas bahasa Sunda serta pola asuh yang diterapkan dalam keluarga amalgamasi di Kota Bandung. Metode penelitian menggunakan Mixed Methods. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan data kuantitatif melalui kuesioner mengenai tingkat penerapan etnoparenting dan literasi budaya dalam keluarga amalgamasi dan tes vitalitas bahasa yang diadopsi dari model pengukuran bahasa Florey. Kesimpulan dari penelitian ini meskipun terdapat hubungan linear antara etnoparenting dan literasi budaya dengan skor vitalitas bahasa Sunda pada anak, keduanya tidak berpengaruh secara signifikan. Interaksi sosial dan pendidikan formal dinilai lebih berperan dalam kemampuan berbahasa Sunda yang dimiliki anak.Bandung, as the capital city of West Java, presents an opportunity for the amalgamation of the Sundanese and Javanese ethnic groups. This situation has the potential to threaten the vitality of the Sundanese language. The preservation of the vitality of the Sundanese language within amalgamated families is crucial and can be achieved through the parenting patterns applied to children. This study aims to assess the effectiveness of cultural literacy in maintaining the vitality of the Sundanese language and the parenting patterns implemented in amalgamated families in Bandung City. The research employs a Mixed Methods approach. Qualitative data were collected through interviews, while quantitative data were obtained through questionnaires regarding the application of ethnoparenting and cultural literacy in amalgamated families, as well as a language vitality test adopted from Florey’s language measurement model. The conclusion of this study indicates that, although there is a linear relationship between ethnoparenting and cultural literacy with the Sundanese language vitality score in children, both factors do not have a significant effect. Social interaction and formal education are considered to play a more significant role in the children’s ability to speak Sundanese.
PENINGKATAN KECERDASAN INTERPERSONAL MELALUI KEGIATAN PELATIHAN SENI SONGAH PADA SISWA SEKOLAH BUDAYA DESA CITENGAH, SUMEDANG SELATAN Ampera, Taufik; Mumuh Muhsin Zakaria, Mumuh; Yohana Risa Garniwa, Yuyu; Abdul Malik, M. Zulfi
Midang Vol 3, No 1 (2025): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Februari 2025
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v3i1.61543

Abstract

Kecerdasan interpersonal merupakan aspek penting dalam perkembangan sosial dan emosional siswa, terutama dalam lingkungan pendidikan berbasis budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan kecerdasan interpersonal melalui kegiatan pelatihan seni Songah pada siswa Sekolah Budaya di Desa Citengah, Sumedang Selatan. Seni Songah, sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional khas daerah, tidak hanya mengajarkan keterampilan artistik tetapi juga menumbuhkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan empati antarindividu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, di mana data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap siswa yang mengikuti pelatihan seni Songah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan seni ini berkontribusi positif terhadap peningkatan kecerdasan interpersonal mereka, terutama dalam hal interaksi sosial, pemecahan konflik, serta kerja sama dalam kelompok. Dengan demikian, kegiatan seni berbasis budaya seperti Songah dapat menjadi strategi efektif dalam pengembangan kecerdasan interpersonal siswa, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal.
VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS: VOKATIF PENGHORMATAN BAHASA SUNDA DALAM PERSPEKTIF SINTAKSIS Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Februari, 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v5i1.44

Abstract

Vokatif penghormatan dalam bahasa Sunda merupakan salah satu vokatif yang secara sintaktis dapat diamati perilakuknya. Penelitian ini yang berjudul “Vokatif Penghormatan dalam Bahasa Sunda: Kajian Sintaksis” mengamati vokatif penghormatan yang terdapat dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintakasis. Di samping itu, mengamati distribusi vokatif dalam kalimat serta satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan tersebut dalam kalimat deklaratif, baik yang di sebelah kanan maupun yang di sebelah kirinya. Penenelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan tekni catat; penganalisisan data menggunakan metode distribusional dengan pendekatan sintaksis. Sumber data yang digunakan adalah tujuh buah buku fiksi berbahasa Sunda. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa vokatif penghormatan terdapat dalam kalimat deklaratif, kalimat imperatif, kalimat interogatif, dan kalimat eksklamatif dan dominan terdapat dalam kalimat deklaratif dan eksklamatif. Vokatif penghormatan dapat berdistribusi pada awal, tengah, dan akhir kalimat dan dominan terdapat pada akhir kalimat eksklamatif. Satuan lingual yang mendampingi vokatif penghormatan dalam kalimat deklaratif, ada yang di sebelah kanan kalimat deklaratif; ada yang di selah kiri kalimat deklaratif. Pendamping di sebelah kanan umumnya berkonstruksi bukan klausa, sedangkan pendamping di sebelah kiri semuanya berkonstruksi klausa.
SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING: SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PENGGALAN BAHASA SUNDA DALAM NOVEL KABANDANG KU KUDA LUMPING Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 4 No 3 (2022): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v4i3.71

Abstract

Vokatif merupakan unsur universal bahasa yang digunakan penutur untuk memanggil pertutur. Secara bentuk, vokatif ada dua, yaitu bentuk utuh dan bentuk penggalan. Tulisan ini membahas vokatif bentuk penggalan. Metode penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknik catat. Metode analisis data menggunakan metode distribusional dan padann. Sumber data penelitian berupa novel berbahasa Sunda berjudul Kabandang ku Kuda Lumping (2018) karya Ahmad Bakri. Berdasarkan sumber data yang digunakan diperoleh 34 data yang memuat vokatif dalam bentuk penggalan, yaitu 31 data memuat vokatif nama diri dan 3 data memuat vokatif kekerabatan. Dari 31 data vokatif nama ditemukan 6 vokatif nama diri yang berbeda, yaitu Mod, Asan, Jang, Léh, Téng, dan Yib yang masing-masing merupakan penggalan dari Emod, Marhasan, Ujang, Aléh, Oténg, dan Oyib. sedangkan vokatif kekerabatan yang berbeda ada 2, yaitu Ki dan Mang, yang masing-masing merupakan penggalan dari Aki ‘Kakek’ dan Emang ‘Paman’. Hubungan sosial yang terdapat di antara penutur dan petutur adalah 26 merupakan hubungan sosial pertemanan, 2 hubungan sosial ketetanggaan, 5 hubungan sosial kenalan baru, dan 1 hubungan sosial suami-istri. Adapun dari sisi pemakaian tingkat tutur, 33 data menunjukkan tingkat tutur kode akrab dan 1 data menunjukkan tingkat tutrur kode hormat. Tingkat tutur kode hormat hanya ditemukan satu data, yakni antara Ujang Udin dengan Aki Uda, yang memiliki hubungan sosial ketetanggan. Dengan demikian, dari hasil analisis di atas, vokatif bentuk penggalan didominasi vokatif nama diri, hubungan sosial antara penutur dan petutur merupakan hubungan pertemanan, dan tingkat tutur didominasi kode akrab.
VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK: VOKATIF KESAYANGAN BAHASA SUNDA `DALAM PERSPEKTIF SOSIOLINGUISTIK Wahya, Wahya; Permadi, R. Yudi; Ampera, Taufik
KABUYUTAN Vol 1 No 2 (2022): Kabuyutan, Juli 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i2.39

Abstract

Vokatif sebagai panggilan atau sapaan dari penutur kepada petutur memiliki berbagai jenis. Salah satu jenis vokatif ini adalah vokatif kesayangan. Vokatif ini memiliki fungsi untuk mamanggil petutur dengan perasaan sayang. Vokatif kesayangan biasanya digunakan orang tua untuk memanggil anaknya atau suami memanggil istrinya. Vokatif kesayangan secara universal terdapat dalam bahasa-bahasa di dunia, termasuk dalam bahasa Sunda. Tulisan ini membahas vokatif kesayangan dalam bahasa Sunda, yang secara khusus hanya diamati secara sosiolinguistik. Data dikumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode padan dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan berupa buku fiksi berbahasa Sunda sebanyak sebelas buku. Dari hasil penelitian diperoleh 22 data kalimat yang memuat vokatif kesayangan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa vokatif kesayangan sebanyak 22 data ini dipakai dalam hubungan sosial antara penutur dan petutur yang berbeda, yang terdiri atas (1) vokatif kesayangan untuk anak kecil laki-laki (3 data), (2) vokatif kesayangan untuk anak remaja laki-laki (4 data), (3) vokatif kesayangan untuk anak remaja perempuan (5 data), vokatif kesayangan untuk laki-laki dewasa (1 data), dan vokatif kesayangan untuk perempuan dewasa (9 data). Ditemukan vokatif yang sama untuk pemakaian di antara penutur dan petutur dalam hubungan sosial yang berbeda, yaitu vokatif cu, panggalan dari incu, kasep, anaking, eulis, dan geulis.
Keunikan dalam kesemestaan pada penerjemahan Kecap Anteuran dari bahasa Sunda ke dalam bahasa Inggris Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera
Jurnal Linguistik Terapan JLT Volume 7 No 2, 2017
Publisher : UPT P2M Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keunikan dalam kesemestaan merupakan dua istilah dalam Ilmu Budaya yang berhubungan dengan sifat budaya yang berwajah dua; unik ‘unique/special’ dan sekaligus semesta ‘universal’. Fenomena ini digunakan untuk menunjukkan keadaan yang muncul pada kecap anteuran yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Kecap Anteuran ‘kata pengantar’ yang merupakan bagian dari objek penelitian pada makalah ini adalah salah satu jenis kata yang terdapat dalam Bahasa Sunda, bahasa daerah yang digunakan hampir di seluruh wilayah Jawa Barat. Bentuk dari kecap anteuran yang spesifik menjadikannya begitu unik, dan keunikannya memunculkan fenomena-fenomena bahasa manakala kata ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan segala unsur-unsur kesemestaan yang dimilikinya. Hampir selalu ada celah untuk menemukan padanan yang terdekat dan yang alamiah untuk memindahkan pesan yang dikandung pada sebuah kecap anteuran. Tentu saja masih tetap ada masa ketika penerjemah harus mentransfer kecap anteuran ini ke dalam bahasa sasaran melalui teknik borrowing ‘peminjaman’ apabila hal seperti ini memang tidak dapat dihindari lagi dan itu sah-sah saja dalam penerjemahan. Hal yang menjanjikan dari penelitian ini adalah bahwa tidak ada lagi yang tidak mungkin dalam menerjemahkan unsur-unsur bahasa yang unik seperti ini bila keunikan tersebut dapat ditempatkan pada suatu kesemestaan yang sudah pasti dimiliki oleh semua bahasa. Melalui metode deskriptif komparatif, pencandraan tentang keunikan dalam kesemestaan pada penerjemahan kecap anteuran ke dalam Bahasa Inggris menjadi tujuan dari penelitian ini.
Kritik Atas Representasi dan Stereotipe Perempuan Sunda dalam Film Before, Now & Then (Nana) Azhar Febryan; Aquarini Priyatna; Taufik Ampera
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/fv2c3z07

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini mengkaji representasi dan stereotipe perempuan Sunda dalam film Before, Now & Then (Nana) dengan menyoroti bagaimana konstruksi visual dan naratif film tersebut menampilkan perempuan sebagai figur yang pasrah, sensual, serta tidak berdaya. Penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara keberagaman identitas perempuan Sunda dalam realitas sosial dengan representasi yang dibakukan dalam karya sinema populer. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bentuk-bentuk representasi yang dianggap keliru serta mengidentifikasi mekanisme naratif yang memperkuat stereotipe etnis dan gender. Metode yang digunakan adalah analisis tekstual film dengan pendekatan teori representasi, gender, dan etnisitas. Temuan utama menunjukkan bahwa film ini mereproduksi pola homogenisasi identitas perempuan Sunda, menempatkan mereka sebagai objek emosional dan seksual, serta mengonstruksi tubuh perempuan sebagai pusat konflik melodramatik. Selain itu, alur dan struktur film turut memperkuat narasi yang memosisikan perempuan sebagai sumber masalah atau ketidakseimbangan sosial. Kesimpulannya, film ini tidak hanya menampilkan misrepresentasi perempuan Sunda, tetapi juga mengukuhkan cara pandang patriarkal yang membatasi agensi perempuan dalam ruang budaya dan sinematik. KATA KUNCI:  Representasi perempuan; Stereotipe etnis; Perempuan Sunda; Analisis film       KRITIK ATAS REPRESENTASI DAN STEREOTIPE PEREMPUAN SUNDA DALAM FILM BEFORE, NOW & THEN (NANA)   ABSTRACT: This study examines the representation and stereotyping of Sundanese women in the film Before, Now & Then (Nana) by analyzing how its visual and narrative structures portray women as passive, sensual, and socially powerless. The research addresses the gap between the diverse lived experiences of Sundanese women and the simplified portrayals presented in popular cinema. The aim of this study is to identify problematic forms of representation and to analyze the narrative mechanisms that reinforce ethnic and gender stereotypes. The study employs a textual film analysis supported by theories of representation, gender, and ethnicity. The findings reveal that the film reproduces a homogenized image of Sundanese women, positioning them as emotional and sexual objects and situating their bodies at the center of melodramatic conflict. Furthermore, the film’s storyline reinforces a narrative that frames women as sources of moral disruption and social imbalance. In conclusion, the film does not merely offer [mis]representation of Sundanese women, but also sustains patriarchal perspectives that restrict female agency within cultural and cinematic spaces. KEYWORDS:  Women’s representation; Ethnic stereotypes; Sundanese women; film analysis