Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Analisis faktor sosio-demografi, perilaku hygiene ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian diare Fakhriyatiningrum, Fakhriyatiningrum; Muharramah, Disa Hijratul; Razak, Rahmatillah; Lisa, Mona
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 2 (2025): Volume 19 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i2.873

Abstract

Background: Diarrhea is an infectious disease that can cause death in the post-neonatal period (age 29 days-11 months) and toddlers (age 12-59 months). Muara Enim Regency is one of the endemic areas for diarrhea with an incidence rate reaching 15.2% in toddlers in 2022. Purpose: To analyze socio-demographic factors, maternal hygiene behaviour, and environmental sanitation on diarrhea incidence. Method: This study used data from the results of the field work practice of the Faculty of Public Health, Sriwijaya University in 2024 in Lembak District, Muara Enim Regency. The study design was cross-sectional with a sample of 403 mothers of toddlers selected by multistage random sampling. Data analysis was carried out using the chi-square test and continued with logistic regression analysis. Results: It was found that 66 toddlers (16.4%) suffered from diarrhea, 67.5% of mothers were aged > 25 years, 51.1% of mothers had low education, 73.2% of mothers did not work, 63.8% had low family income, and 51.1% of mothers had poor hygiene behavior. However, 98.0% of respondents had access to clean water quality, and 95.3% of respondents had adequate toilet facilities. There was a significant relationship between maternal age and maternal hygiene behavior with the incidence of diarrhea. The variables of maternal education, maternal occupation, maternal income, clean water quality, and toilet and bathing facilities were not significantly related to the incidence of diarrhea. Conclusion: The maternal hygiene variable is the most dominant factor in this study after being controlled by the maternal age and family income variables.   Keywords: Diarrhea; Maternal Hygiene Behavior; Socio-Demographic Factors.   Pendahuluan: Diare merupakan penyakit infeksi yang dapat mengakibatkan kematian pada masa post-neonatal (usia 29 hari-11 bulan) dan anak balita (usia 12-59 bulan). Kabupaten Muara Enim merupakan salah satu daerah endemik diare dengan angka kejadian mencapai 15.2% terjadi pada balita di tahun 2022. Tujuan: Untuk menganalisis faktor sosio-demografi, perilaku hygiene ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian diare. Metode: Penelitian ini menggunakan data dari hasil Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya tahun 2024 yang berada di Kecamatan Lembak Kabupaten Muara Enim. Desain penelitian bersifat cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 403 ibu balita yang dipilih secara multistage random sampling. Analisis data yang dilakukan yaitu menggunakan uji chi-square dan dilanjutkan dengan analisis regresi logistik. Hasil: Terdapat 66 balita (16.4%) ditemukan menderita diare, sebesar 67.5% ibu berusia > 25 tahun, 51.1% ibu memiliki tingkat pendidikan rendah, 73.2% ibu tidak bekerja, 63.8% memiliki pendapatan keluarga rendah, dan 51.1% ibu memiliki perilaku hygiene yang kurang baik. Namun, 98.0% responden memiliki akses terhadap kualitas air bersih, dan 95.3% responden memiliki fasilitas mandi cuci kakus (MCK) yang memenuhi syarat. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dan perilaku hygiene ibu dengan kejadian diare. Variabel pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ibu, kualitas air bersih, dan fasilitas MCK tidak berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Simpulan: Variabel hygiene ibu merupakan faktor paling dominan dalam penelitian ini setelah dikontrol oleh variabel usia ibu dan pendapatan keluarga.   Kata Kunci: Diare; Faktor Sosiodemografi; Perilaku Hygiene Ibu.
Hubungan Personal Hygiene Ibu dengan Kasus Stunting di Kabupaten Ogan Ilir Tahun 2023 Tarigan, Neanatasia; Razak, Rahmatillah; Budiastuti, Anggun; Septiawati, Dwi
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 4, No 3 (2023): J-P3K DESEMBER
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v4i3.232

Abstract

Stunting merupakan salah satu permasalahan gizi  yang dialami oleh balita secara global yang digambarkan sebagai bentuk dari kegagalan  tumbuh kembang yang tidak mencapai pertumbuhan optimal akibat gizi kurang atau gizi buruk dalam waktu cukup lama. Kekurangan asupan gizi tersebut terjadi  sejak bayi dalam kandungan hingga setelah lahir, namun stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan  personal hygiene ibu dengan kasus stunting pada balita usia 0-59 bulan di lokus stunting Kabupaten Ogan Ilir. Desain penelitian menggunakan case control dengan subjek adalah anak usia 0-59 bulan yang terdiagnosa stunting di 9 desa lokus stunting di Kabupaten Ogan Ilir dan kontrol adalah anak usia 0-59 bulan yang tidak terdiagnosa stunting. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 201 reponden dengan perbandingan 1:2 dan ibu dari anak usia 0-59 bulan sebagai responden penelitian. Hasil analisis bivariat diperoleh (p-value =0.000, OR=3,119) menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara personal hygiene ibu dengan kejadian stunting pada balita. Balita yang diasuh oleh ibu dengan personal  hygiene yang kurang baik akan  berisiko mengalami stunting 3,119 kali lebih besar dibanding balita yang diasuh oleh ibu dengan personal hygiene yang baik.
The Physical Environmental Condition of the Household and Its Relationship with Pulmonary Tuberculosis (TB) Cases Jusmini, Jusmini; Razak, Rahmatillah; Purba, Imelda; Putri, Dini Arista
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 3 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i3.5624

Abstract

A house that does not meet health requirements is one of the risk factors for pulmonary tuberculosis (TB). This study aimed to determine the relationship between the physical environmental condition of the household and pulmonary TB cases in Rantau Alai District, Ogan Ilir Regency, in 2023. This was a quantitative analytic study involving a case-control approach, conducted over one month in Rantau Alai sub-district. A total of 108 participants were enrolled consisiting of 36 cases and 72 control, and data were collected through interviews, observations, and direct measurements of various aspects of the physical environmental condition of the household using a roll meter, lux meter, and thermo-hygrometer. The data was analyzed with chi-square test and multiple logistic regression. The primary outcome with bivariate analyzed of the study is the relationship between ventilation (p-value = 0.025), lighting (p-value = 0.005), humidity (p-value = 0.008), temperature (p-value = 0.048), wall type (p-value = 0.048), floor type (p-value = 0.048), and residential density (p-value = 0.012) with pulmonary TB cases in Rantau Alai District. Multivariate analyzed show the most dominant factor affecting TB cases was residential density (OR 3.10 CI 1.07-8.97). It is important for adequate physical environmental condition, especially if there are active TB cases in the home environment with unqualified residential density to prevent the spread of TB cases among household contacts.
Spatial Analysis of Carbon Monoxide Factors on the Prevalence of Low-Birth-Weight Infants in the City of Palembang Zalzabila, Anisah; Septiawati, Dwi; Ardillah, Yustini; Razak, Rahmatillah
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 6 No S5 (2024): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v6iS5.4884

Abstract

Carbon monoxide (CO) exposure has been linked to various health problems, including the risk of low birth weight (LBW) in newborns. Geographic Information Systems (GIS) in the health sector can be a way to collect information to manage health and environmental problems in regional-based environmental management. This study aims to analyze spatially the relationship between ambient CO concentrations and the prevalence of LBW in Palembang. This study used a quantitative approach with an ecological study design. CO concentration data were obtained from the Environmental Agency of Palembang City, while LBW prevalence data were obtained from the Health Office of Palembang City. Spatial and time-series analyses were conducted to examine the serial relationship between pollutant concentration time series data and LBW occurrence time series data during the period of 2019 – 2023. In the 2019-2022 period, the CO concentrations in the city of Palembang showed fluctuating results in each district. The lowest CO concentration was recorded in 2020 at 1984 µg/Nm³/hour and the highest was in 2022 at 13568 µg/Nm3/hour. The highest number of LBW cases was 58 babies in 2023, and consistently zero case during the period of 2020-2023 in one district. There is a relationship between CO concentrations in 2021-2022 and LBW occurrences in 2022-2023 in Ilir Timur I district. However, when viewed over a longer period, there is no relationship between the average CO concentration from 2019-2022 and the average LBW prevalence from 2020-2023 in the city of Palembang.
Faktor Kondisi Fisik Lingkungan Rumah Terhadap Kasus Tuberkulosis di Indonesia: Systematic Review Razak, Rahmatillah; Fakhriyatiningrum; Rahmadina, Frischa; Santiyah, Serly
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 17 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jik.v17i1.2632

Abstract

Setiap tahun, lebih dari 10 juta orang masih mengalami TB, dengan tren kasus yang terus meningkat sejak 2021. Menurut Laporan Global Tuberkulosis 2024 terdapat 10,8 juta jumlah total kasus dan 8,2 juta kasus baru TB global. Angka tersebut meningkat dibandingkan 10,7 juta pada 2022. Metode penelitian ini menggunakan Systematic Review terhadap studi observasional dengan desain penelitian case control dan cross-sectional yang dilakukan di Indonesia diterbitkan antara tahun 2020 dan 2025. Basis data yang digunakan yaitu Google Scholar dan ScienceDirect untuk mencari artikel yang memenuhi syarat. Penilaian kualitas publikasi menggunakan JBI Critical Appraisal Tools. Hasil dari tinjauan ini adalah 5.697 artikel yang diambil dari database dan 15 artikel yang dimasukkan dalam penelitian ini. Kondisi fisik rumah seperti kepadatan hunian, ventilasi yang tidak memadai, kelembaban yang tinggi, dan kurangnya pencahayaan merupakan variabel yang cukup mempengaruhi terhadap kasus Tuberkulosis di Indonesia..
IDENTIFIKASI FAKTOR RESIKO STUNTING DAN UPAYA PENCEGAHAN DENGAN INTERVENSI SECARA KOLABORATIF DI KABUPATEN EMPAT LAWANG Febriansyah, Febriansyah; Murniati, Nely; Hasyim, Hamzah; Etrawati, Fenny; Lionita, Widya; Razak, Rahmatillah; Budiastuti, Anggun; Yuliana, Indah
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 4 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i4.1510-1511

Abstract

Stunting merupakan proses terlambatnya tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronik, inveksi penyakit berulang dan stimulasi psikosial pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Permasalahan Stunting merupakan masalah nasional sesuai dengan Perpres 42/2013 Tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi untuk mencapai generasi emas pada 2045. Berdasasrkan data dari SSGI 2021 angka stunting Indonesia masih cukup tinggi yaitu 24,4 % dan di targetkan 14% pada tahun 2024 dan pada kabupaten Empat Lawang masih sebesar 26% di tahun 2021 dengan jumlah lokasi utama penangan stunting 58 desa sekabupaten Empat lawang pada tahun2022 serta di targetkan sebesar 15% pada tahun 2024. Permasalahan yang muncul ialah kurangnya kesadaran masyrakat dan upaya kerjasama antar elemen di kabupaten Empat Lawang yang menyebabkan keadaan Stunting di Kabpupaten Empat lawang ini masih tinggi.. Metode yang dipakai dalam Pengabdian ini ialah metode penyuluhan dan di lanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) antar Elemen penggerak penanganan Stunting Empat Lawang. Hasil yang didapatkan melalui kegiatan ini ialah meningkatnya pemahaman tentang pentingnya penangnan stunting bagi elemen penggerak penanganan Stunting di tingkat Kabupaten Empat Lawang, meningkatnya fungsi kordinasi antar elemen.
Pelatihan Kurikulum Merdeka Belajar Terhadap Guru PJOK Ramadhan, Arizky; Iyakrus, Iyakrus; Rasyono, Rasyono; Syafaruddin, Syafaruddin; Razak, Rahmatillah
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v14i3.18525

Abstract

Background: Kurikulum Merdeka Belajar adalah kurikulum yang dibuat dan dirancang untuk pendidikan yang ada di Indonesia. Pendidik atau guru PJOK wajib menggunakan kurikulum merdeka yang telah ditetapkan oleh pemerintah pada pendidikan yang ada di Indonesia. Kurikulum Merdeka Belajar memberikan kesempatan lebih besar bagi siswa dalam meraih prestasi. Metode: Pelaksanaan dalam pengabdian ini terdiri dari beberapa tahap diantaranya pemberian sosialisasi tentang kurikulum merdeka belajar dan penilaian pengetahuan tentang Kurikulum Merdeka Belajar serta terakhir melakukan monitoring dan evaluasi. Hasil: analisis menunjukkan mayoritas guru PJOK Palembang memiliki pengetahuan yang baik dengan rata-rata 90 dengan nilai terendah 70 dan skor tertinggi 100, tentang Kurikulum Merdeka Belajar. Kesimpulan: pelatihan dan sosialisasi memberikan manfaat yang positif bagi para para guru PJOK dalam melaksanakan Kurikulum Merdeka Belajar.
Faktor yang Mempengaruhi Praktik Personal Hygiene dalam Pencegahan Covid-19 Pada Siswa/i SMA di Kecamatan Kalidoni Palembang : Factors Influencing of Personal Hygiene Practices in Covid-19 Prevention for High School Students in Kalidoni District, Palembang Umi Qona’ah Sani; Razak, Rahmatillah; Imelda Gernauli Purba; Nurmalia Ermi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 9 (2022): September 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i9.2488

Abstract

Latar belakang: Penyakit Covid-19 sudah menjadi ancaman dunia, yang secara cepat menyebar di berbagai negara termasuk Indonesia. Wilayah di Indonesia dengan angka kasus Covid-19 melebihi CFR nasional sebesar 5,1% yaitu provinsi Sumatera Selatan dan Kecamatan Kalidoni merupakan satu di antara kecamatan di Kota Palembang yang masuk kedalam wilayah persebaran Covid-19 yang terus naik dan sudah lebih dari dua ribu kasus. Salah satu yang menjadi faktor penyebab tingginya angka persebaran Covid-19 adalah rendahnya indikator personal hygiene. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja yang dapat menjadi faktor yang mempengaruhi praktik personal hygiene Covid-19 pada anak remaja SMA di Kecamatan Kalidoni Palembang. Metode : Penelitian dilakukan dengan menggunakan studi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Proportional Random Sampling sebanyak 114 responden. Analisis bivariat menggunakan uji chi square dan analisis multivariat untuk melihat variabel yang paling berpengaruh. Hasil: Hasil analisis bivariat menggunakan uji chi square membuktikan bahwa terdapat hubungan antara sikap, peran orang tua, peran teman sebaya dan sarana dan prasarana dengan praktik personal hygiene Covid-19 dengan nilai p-value < 0,05. Hasil analisis multivariat membuktikan bahwa variabel sikap merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap praktik personal hygiene. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa sikap merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi praktik personal hygiene Covid-19. Bagi lembaga pendidikan diharapkan untuk mengoptimalkan peran Usaha Kesehatan Sekolah dan memberikan edukasi kepada anak remaja SMA dalam upaya preventif di masa pandemi Covid-19.
Gambaran Spasial Kasus Kematian Neonatal di Sumatera Selatan : Spatial Description of Case of Neonatal Mortality in South Sumatra Nur Alam Fajar; Indah Yuliana; Razak, Rahmatillah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023): July 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3374

Abstract

Latar belakang: Angka kematian anak menjadi salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat suatu negara. Secara global 2.4 juta anak meninggal pada bulan pertama kehidupannya. Salah satu penyebab kematian neonatal yang tinggi adalah riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan pemeriksaan kehamilan. Berdasarkan data nasional kasus tersebut masih tergolong tinggi di beberapa wilayah di Indonesia termasuk di Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran spasial tentang kasus kematian neonatal dan variabel BBLR serta antenatal care di Sumatera Selatan pada tahun 2019. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan mengumpulkan data sekunder dari laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2019 yang terdiri dari variabel kasus kematian neonatal serta faktor penyebabnya dan berat badan lahir rendah (BBLR) serta antenatal care. Analisis yang dilakukan adalah spasial dengan menggunakan QGIS (Geographic Information Systems) dengan melakukan visualisasi peta dan analisis korelasi. Hasil: Kasus kematian neonatal di Provinsi Sumatera selatan telah berada dibawah target nasional namun masih ada beberapa wilayah yang perlu mendapat perhatian, utamanya daerah yang masih cukup tinggi kasusnya yaitu diatas rata-rata kasus kematian neonatal provinsi. Faktor penyebab tertinggi kematian neonatal disebabkan oleh berat badan lahir rendah (BBLR). Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan pada variabel BBLR dan antenatal care terhadap korelasinya dengan kematian neonatal, namun meskipun demikian pada semua variabel memperlihatkan arah korelasi sesuai dengan teori tentang beberapa faktor penyebab kasus kematian neonatal.