Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Mabarazanji as a Mirror of Gender Relations in Multicultural Education of the Bugis Bone Community Syam, Syahrianti; Rosniar, Rosniar; Wandi, Wandi; Ridha, Arif; Bahtiar, Bahtiar
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 16 No. 2 (2024): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v16i2.6190

Abstract

This study aims to analyze how the practice of Mabarazanji in the Bugis Bone community reflects the division of gender roles influenced by local social and cultural constructions and examines it from an educational perspective. The research method used is a qualitative approach with the analysis of literature studies related to the practice of Mabarazanji, as well as the application of Talcott Parsons' social role theory to understand the social structure that affects gender roles in the practice. The results of the study showed that men in the practice of Mabarazanji often led and were directly involved in rituals as instrumental roles, while women were more often in supporting positions with logistical tasks as expressive roles. This reflects the division of gender roles that has been deeply rooted in the culture of the Bugis Bone community and serves to maintain stability and continuity of tradition. The conclusion of this study is that the practice of Mabarazanji not only functions as a religious ritual, but also serves as a means of reproduction of social values and the formation of individual identities based on gender roles in accordance with societal norms in the perspective of Islamic education, this is relevant because it shows how traditional and religious values can be combined in an effort to build individual character in accordance with the social and cultural goals of society. The educational implications of these findings show that education in the Bugis Bone community does not only focus on religious knowledge, but also on instilling social values that direct gender roles. However, this study also emphasizes the need for educational adaptation to achieve gender equality without sacrificing the integrity of local culture.
Optimasi Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Hidrotermal: Optimization of ZnO Nanoparticle Synthesis using the Hydrothermal Method Rusli, Rolan; Firmansyah, Ganjar; Rosniar, Rosniar; Damayanti, Restu Harisma
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i1.1529

Abstract

ZnO is an inorganic material that has many benefits, one of which is in the pharmaceutical field. So far, the synthesis of inorganic materials has been carried out using high temperatures. Research was carried out to synthesize ZnO using hydrothermal at 180°C for 24 hours then burned at temperatures of 300, 600, and 900°C for 6 hours. The compound resulting from synthesis at 180°C was obtained by the compound [Zn(urea)3](NO3)2 which decomposed into ZnO nanoparticle compounds at 300°C to 900°C. ZnO synthesized at temperatures of 300, 600, and 900°C has a hexagonal structure, space group P63/m with lattice parameters a=b= 3.25 Å and c= 5.21 Å and ? = ? = 90° and ? = 120°. The synthesized ZnO has a nanoparticle size in the range of 172-455 nm. Keywords:          ZnO, hydrothermal, synthesis, nanoparticle, hexagonal structure   Abstrak ZnO merupakan material anorganik yang memiliki banyak manfaat, salah satunya dalam bidang farmasi. Selama ini sintesis material anorganik dilakukan menggunakan suhu yang tinggi. Penelitian dilakukan untuk mensintesis material ZnO pada suhu rendah. Metode sintesis material ZnO dilakukan dengan menggunakan hidrotermal pada suhu 180°C selama 24 jam kemudian dibakar pada suhu 300, 600, dan 900°C selama 6 jam. Senyawa hasil sintesis pada 180°C diperoleh senyawa [Zn(urea)3](NO3)2 yang terurai menjadi senyawa nanopartikel ZnO pada 300°C hingga 900°C. ZnO hasil sintesis pada suhu 300, 600, dan 900°C memiliki struktur heksagonal, grup ruang P63/m dengan parameter kisi a=b= 3,25 Å dan c= 5,21 Å serta memiliki sudut ? = ? = 90° dan ? = 120°. ZnO hasil sintesis memiliki ukuran nanopartikel dengan rentang 172-455 nm. Kata Kunci:         ZnO, hidrotermal, sintesis, nanopartikel, struktur heksagonal
Vegetasi Riparian Wisata Air Bionga Sebagai Daya Tarik Unggulan Desa Kaleke Dalam Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat: Pengabdian Idrus M. Said; Masyita, Masyita; Anggraini, Anggraini; Nurfaizah, Nurfaizah; Ananda, Ananda; Hamdini, Hamdini; Anisa, Anisa; Febriana, Febriana; Cici, Cici; Rosniar, Rosniar; Asri, Asri; Saprianto, Saprianto
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4273

Abstract

Vegetasi riparian atau tutupan di bantaran sungai wisata air bionga, bertujuan mencegah terjadinya erosi, polutan dan mencegah banjir serta memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem sungai. Selain itu, pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui persepsi, tingkat pengetahuan, dan sikap masyarakat terhadap kegiatan penghijauan melalui proses dialog interaktif, diskusi partisipatif dan demonstrasi dengan penggalian data langsung di lapangan. Metode pendekatan kualitatif deskriptif dan ethnografi, digunakan dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik ini dipilih untuk memperoleh informasi faktual terkait kondisi bantaran sungai, tingkat partisipasi masyarakat, serta kendala yang dihadapi dalam kegiatan penghijauan. Pelaksanaan penanaman dilakukan pada 11 Oktober 2025 di bantaran Sungai Bionga Desa Kaleke dengan target penanaman 15 pohon. Hasilnya menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran yang cukup baik mengenai pentingnya penghijauan, meskipun masih diperlukan edukasi lanjutan terkait pemeliharaan tanaman dalam jangka panjang. Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak ekologis, tetapi juga memperkuat sinergi antara tim pelaksana dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengelolaan wisata sungai lebih berkelanjutan.