Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PENYULUHAN PEMBUATAN KAMABOKO DI UMKM TANGSEL BERKIBAR TANGERANG SELATAN, BANTEN wenny silvia loren sinaga; Tagor M. Siregar; Nuri Arum Anugrahati; Melanie Cornelia; Intan Cidarbulan Matita
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 4 (2021): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mewujudkan Pemulihan dan Resiliensi Masya
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.398 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v4i0.1177

Abstract

Kondisi pandemi COVID-19 telah mengakibatkan jumlah pengangguran semakin meningkat. Hal ini mendorong berbagai usaha untuk memperluas lapangan usaha. Salah satu usaha memperluas lapangan usaha adalah memperdayakan masyarakat melalui penguatan usaha kecil dan menengah. Komunitas usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Berkibar merupakan salah satu UMKM di wilayah Tangerang Selatan. Namun usaha makanannya belum dikembangkan ke bidang usaha produk olahan perikanan. Berdasarkan hal tersebut, maka Program Studi Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH) akan melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dalam bentuk penyuluhan. Tujuan PkM adalah untuk memberikan informasi tentang bahan dan cara pembuatan kamaboko. Kamaboko yang berasal dari ikan tenggiri dan merupakan bahan yang sudah sering digunakan oleh mitra untuk kegiatan usaha. Metode PkM yang dilakukan adalah penyuluhan secara daring yang meliputi pemaparan materi, penayangan video, dan tanya jawab. Diharapkan dengan melakukan kegiatan tersebut, maka UMKM Berkibar Tangerang Selatan dapat memperluas bidang usahanya di bidang olahan perikanan dan memberdayakan masyarakat sekitar.
PENYULUHAN MENGENAI MAKANAN BERGIZI DAN PANGAN FUNGSIONAL DI SEKOLAH LENTERA HARAPAN WAY PENGUBUAN LAMPUNG Titri Siratantri Mastuti; Ratna Handayani; Tagor M Siregar; Melanie Cornelia; Wilbur Donald R. Pokatong; Reynaldi Kurniawan
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 5 (2022): PERAN PERGURUAN TINGGI DAN DUNIA USAHA DALAM AKSELERASI PEMULIHAN DAMPAK PANDEMI
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v5i0.1561

Abstract

Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan perubahan di berbagai bidang kehidupan masyarakat selama tiga tahun terakhir ini. Kesehatan, dunia usaha serta hubungan antar masyarakat merupakan beberapa contoh diantaranya. Setelah melewati masa kritis pandemi, diperlukan kerjasama seluruh lapisan masyarakat untuk mempercepat pemulihan dampak pandemi. Era new normal memerlukan kesadaran pentingnya perubahan kebiasaan hidup sehat. Siswa/i SMA merupakan anak usia remaja yang memiliki aktivitas tinggi, sehingga pemilihan makanan yang dikonsumsi umumnya tidak berdasarkan kesehatan atau fungsi dari makanan. Warna makanan yang menarik dan rasa yang sesuai dengan lidah lebih utama bagi mereka namun belum tentu baik untuk imunitas tubuh. Program Studi Teknologi Pangan UPH turut berperan dalam usaha mempercepat pemulihan dampak pandemi dalam bentuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Bentuk kegiatan berupa penyuluhan mengenai pengenalan dan pentingnya konsumsi makanan bergizi serta pangan fungsional untuk meningkatkan imunitas dan mencegah penyakit degeneratif bagi siswa/i SMA Lentera Harapan Way Pengubuan, Lampung. Kegiatan penyuluhan dilakukan secara daring dengan aplikasi Zoom. Hasil kegiatan penyuluhan dapat dimengerti dan dipahami oleh siswa/i dan guru yang ditunjukkan dengan respon positif dan keaktifan peserta selama kegiatan berlangsung.
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA NUGET NABATI BERBASIS KACANG ARAB DAN AKAR LOTUS DENGAN VARIASI JENIS FILLER [PHYSICOCHEMICAL CHARACTERISTICS OF CHICKPEA AND LOTUS ROOT PLANT-BASED NUGGETS WITH A VARIETY OF FILLER TYPES] Lucia Crysanthy Soedirga; Melanie Cornelia
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol 6, No 2 (2022): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v6i2.5881

Abstract

Chicken nuggets are the most common type of meat-based product that is commonly sold in the market, however, chicken nuggets are not suitable for vegetarian groups. Therefore, it is necessary to find another raw material as an alternative in the making of plant-based nuggets. However, the selection of raw materials in the making of plant-based products often does not emphasize the diversification aspect. Food diversification needs to be improved as an effort to encourage people to diversify their food so that they do not focus on only one type. Chickpeas and lotus root, as well as local starch sources such as tapioca, sago, and corn-starch, are examples of alternative materials that can be used to enhance the diversification aspect in the making of plant-based nuggets. The aim of this study was to determine the selected ratio of chickpea paste and lotus slices along with other types of fillers to make plant-based nuggets based on the physicochemical characteristics. The results showed chickpea paste and sliced lotus root at a ratio of 75:25 with corn-starch as a filler produced plant-based nuggets with physicochemical characteristics: hardness 165.21±7.82 g.force; springiness 0.37±0.01 mm; cohesiveness 0.59±0.03 kg.sec., lightness of 52.71±2.11 and a frying loss of 8.21±2.15%. The moisture, fat, protein, ash, carbohydrate (by difference), and fiber content of selected formulation of nuggets were 40.20±0.42%, 6.73±0.04%; 7.38±0.15%, 3.44±0.02%, 42.16±0.54%, 8.49%; respectively.BAHASA INDONESIA ABSTRACT:Nuget ayam merupakan jenis olahan daging yang banyak dijual di pasaran namun tidak cocok untuk dikonsumsi oleh kelompok vegetarian. Hal ini mendorong adanya alternatif mencari bahan baku lain dalam pembuatan produk nuget nabati, tetapi, pemilihan alternatif bahan pada produk non-daging seringkali tidak memperhatikan aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan perlu ditingkatkan sebagai upaya untuk mendorong masyarakat dalam memvariasikan makanan agar tidak terfokus pada satu jenis saja. Kacang arab dan akar lotus serta sumber pati lokal seperti tepung tapioka, tepung sagu, dan tepung maizena merupakan contoh alternatif bahan yang dapat digunakan sekaligus meningkatkan aspek diversifikasi dari pembuatan nuget nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan rasio pasta kacang arab dan irisan lotus serta jenis filler terpilih dalam pembuatan nuget nabati berdasarkan karakteristik fisikokimianya. Hasil penelitian menunjukkan pasta kacang arab dan irisan akar lotus pada rasio 75:25 dengan tepung maizena sebagai filler menghasilkan nuget nabati dengan karakteristik fisikokimia, yakni hardness 165,21±7,82 g.force; springiness 0,37±0,01 mm; cohesiveness 0,59±0,03 kg.sec., lightness 52,71±2,11  dan frying loss 8,21±2,15%. Kadar air, kadar lemak, kadar protein, kadar abu, kadar karbohidrat (by difference), dan kadar serat pangan nuget nabati formulasi terpilih masing-masing sebesar 40,20±0,42%; 6,73±0,04%; 7,36±0,02%, 3,44±0,02%, 42,24±0,54%, 8,49%.
Pelatihan Pembuatan Jeli dan Permen Jeli Bunga Telang Bagi Komisi Wanita GBI Kalijaya, Tangerang Mastuti, Titri Siratantri; Handayani, Ratna; M. Siregar, Tagor; Cornelia, Melanie; R. Pokatong, W.Donald; Kurniawan, Reynaldi; M. N. Sanaky, Florecita
Jurnal Pengabdian Masyarakat Charitas Vol. 4 No. 01 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat Charitas Juni 2024
Publisher : Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/charitas.v4i01.5518

Abstract

Telang flowers or Butterfly Pea is often found or planted independently by people, one of which is in the Kalijaya area, Tangerang. As public knowledge and awareness of health increases, Telang flowers are widely consumed conventionally as a tea brew because it is known for the high antioxidant content of telang flowers. One of activity and service of the women'scommission at GBI Kalijaya Tangerang is to increase the creativity of its congregation so that it can improve welfare through improving its economy. Jellies and jelly candies are loved by all groups, both young and old and are easy to make. The UPH Food Technology Study Program was moved to help provide training through Community Service activities. Butterfly pea flowers can be used as a source of coloring in jelly to increase its appeal. Training activities were carried out in two parts, first, explanation regarding the technology for making jelly and jelly candy and knowledge of anthocyanin compounds in butterfly pea flowers as antioxidants. The second is the practice of making jellies and jelly candies. The results of the training can be understood by participants, where they are motivated to practice at home and intend to pass on the information to others.
Pembuatan Kemasan Biokomposit Berbasis PVA (Polyvinyl Alcohol) dan Limbah Kulit Kopi Kusumah, Andika Mulyawan; Christian, William; Siregar, Tagor Marsilam; Cornelia, Melanie; Natania, Kam
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 17, No 3 (2023): TEKNOTAN, Desember 2023
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jtvol17n3.10

Abstract

Kemasan biokomposit adalah kemasan yang dibuat dari campuran dari beberapa bahan alam. Dalam makalah ini dipaparkan hasil penelitian kemasan biokomposit yang menggunakan campuran kulit luar biji kopi dengan polimer alam polivinil alkohol (PVA) yang berasal dari sintesis bakteri. Kulit luar kopi merupakan limbah dari industri pengolahan kopi yang terdiri dari campuran kulit luar dan kulit tipis (silver skin) yang terlepas pada saat proses pembersihan. Kulit luar kopi mengandung kandungan serat selulosa yang dapat menjadi bahan pengisi dalam pembuatan kemasan biokomposit berbasis PVA. Polivinil alkohol (PVA) memiliki kekuatan tarik yang baik sehingga sering dimanfaatkan dalam pembuatan kemasan, meskipun demikian PVA memiliki kelemahan yaitu mudah menyerap air sehingga mudah terurai ketika kontak dengan air. Dalam penelitian ini, kulit luar kopi ditambahkan sebagai material pengisi untuk meningkatkan sifat fisik dan mekanik komposit berbasis PVA komersial supaya lebih tahan air, tidak mudah terurai, dan aman bagi lingkungan. Yang menjadi faktor dalam penelitian ini adalah rasio perlakuan PVA dan limbah kopi (100:0, 90:10, 80:20, 70:30, 60:40, 50:50) serta penambahan plasticizer gliserol dengan konsentrasi yang berbeda (2% dan 4%) campuran kemudian dicampur dan dipanaskan sebelum dicetak dengan menggunakan aplikator. Pada tahap berikutnya dilakukan penambahan asam sitrat untuk meningkatkan ketahanan air dari kemasan biokomposit. Penambahan kulit luar kopi dapat meningkatkan karakteristik mekanik kemasan biokomposit berbasis PVA (rasio 90:10) dengan penambahan gliserol dan asam sitrat sebanyak 2%. Biokomposit yang dihasilkan memiliki penurunan daya serap air sebanyak sebanyak 70% dan waktu urai 2 kali lebih panjang dibanding kontrol kemasan dengan menggunakan 100% PVA. Selain itu juga memiliki tekstur yang baik, dengan nilai kuat tarik sebesar 12,48±1,60 MPa, elongasi sebesar 301,99±32,18%, dan modulus Young sebesar 4,16±0,08 MPa.
Adsorption of Indigo Carmine Dye and Copper Ion by Kaolin from Bangka Island Tahya, Candra Yulius; Cornelia, Melanie; Siregar, Tagor M.; Karnelasatri, Karnelasatri
Indonesian Journal of Chemical Research Vol 11 No 1 (2023): Edition for May 2023
Publisher : Jurusan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598//ijcr.2023.11-tah

Abstract

Indigo Carmine (IC) is a synthetic dye that might promote irritations, vomiting, and diarrhea when orally consumed in high concentrations. Copper is a dangerous heavy metal that tends to accumulate in organisms' cells as a pollutant. Hyperproduction of IC and accumulation of copper in water could cause an environmental problem that must be adequately addressed. Kaolin is found abundant on Bangka Island. Based on XRD analysis, Kaolin Island from Bangka Island consists of two important minerals, Kaolinite and Rectorite. Kaolin has chemical and physical properties, which make it useful in several applications, including as an adsorbent. This study aims to evaluate how Kaolin can adsorb copper ion from acid wastewater (pH < 0.5) and determine natural Kaolin's ability to adsorb IC dye from an aqueous solution. Many factors, including mixing time and number of doses of Kaolin, influence Kaolin's ability to absorb IC. The longer the stirring time, the more IC is absorbed. The optimal temperature for IC adsorption is 25˚C. The optimal kaolin dose for IC adsorption is 20% (m/v). Copper concentration after application of Kaolin tends to decrease, with optimal at 25.09% (m/v) dosage for 19.23% copper removal.
PENGARUH PERENDAMAN KAPUR SIRIH DALAM PEMBUATAN MANISAN KERING MELON (Cucumis melo L.) [THE EFFECT OF SOAKING SLAKED LIME IN HONEYDEW (Cucumis melo L.) DEHYDRATED FRUIT PRODUCTION] Cornelia, Melanie; Handayani, Ratna; Hendarman, Aditya Dwi
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 8 No. 1 (2024): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jstfast.v8i2.4700

Abstract

Honeydew (Cucumis melo L.) has been known as a base fruit for food products such as jam, jelly candy and dehydrated fruit due to high nutrition content. The objectives of this research were to determine the best concentration of slaked lime which produced honeydew dehydrated fruit with the best physical and organoleptic characteristics.  Concentration of slaked lime is the main factor on this research, which consists of five levels: 0.2%, 0.4%, 0.6%, 0.8% and 1 %. The main characteristics that were concerned in this research were water content, water activity (aw), Hue angle and organoleptic. Data was analyzed by variance analysis (ANOVA) and followed by Duncan test (α=0.05). Result showed that honeydew-dehydrated fruit using 1% concentration of slaked lime have the highest score for brightness level, yellowness level and Hue angle. Water content and water activity (aw) honeydew-dehydrated fruit with 1% concentration of slake lime are 13.92% and 0.467.  Bahasa Indonesia Abstract:Buah melon (Cucumis melo L.) telah dikenal sebagai bahan dasar untuk produk makanan seperti selai, permen jeli dan buah kering karena kandungan gizinya yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini menentukan konsentrasi kapur sirih terbaik yang menghasilkan buah kering melon dengan karakteristik fisik dan organoleptik terbaik. Konsentrasi kapur sirih merupakan faktor utama dalam penelitian ini, yang terdiri dari lima level: 0,2%, 0,4%, 0,6%, 0,8% dan 1%. Karakteristik utama yang diperhatikan dalam penelitian ini adalah kadar air, aktivitas air (aw), 0Hue dan organoleptik. Data dianalisis dengan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah kering melon dengan konsentrasi kapur sirih 1% memiliki nilai skoring tertinggi untuk tingkat kecerahan, tingkat kekuningan dan 0Hue. Kadar air dan aktivitas air (aw) buah yang dikeringkan dengan konsentrasi kapur sirih 1% adalah 13,92% dan 0,467.
PEMANFAATAN JAMU KUNYIT ASAM PADA PEMBUATAN ES KRIM SUSU KEDELAI Cornelia, Melanie; Kresandra, Anastasha; Eveline, Eveline
Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (The Journal of Food Technology and Health) Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Teknologi Pangan dan Kesehatan (Journal Of Food Technology And Health) Nov
Publisher : Universitas Sahid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/jtepakes.v3i2.560

Abstract

ABSTRAK: Jamu kunyit asam merupakan minuman tradisional yang umum digunakan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alternatif. Pemanfaatan jamu kunyit asam masih terbatas sehingga diperlukan pengembangannya sebagai  produk pangan, salah satunya adalah ditambahkan dalam pembuatan es krim susu kedelai yang bertujuan agar masyarakat dengan lactose intolerant dapat mengkonsumsi es krim. Dalam penelitian ini, jamu kunyit asam dibuat dengan variasi rasio kunyit: asam: air (20:20:60; 10:30:60; 30:10:60) dan variasi waktu perebusan asam (2, 4, dan 6 menit). Selanjutnya dilakukan analisis aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, dan warna jamu kunyit asam. Jamu kunyit asam terpilih adalah dengan perlakuan kunyit:asam:air 30:10:60 dan waktu perebusan asam 2 menit, memiliki nilai IC50 14,44%, total fenolik 0,49 mg GAE/g, total flavonoid 0,39 mg QE/g, dan nilai °Hue 51,28 . Es krim susu kedelai jamu kunyit asam dibuat dengan kontrol jamu kunyit asam 0% dan variasi penambahan jamu kunyit asam (10%, 20%, dan 30%) dan konsentrasi gelatin (0,2%; 0,3%; 0,4%). Hasil es krim dianalisis aktivitas antioksidan, total fenolik, total flavonoid, warna, waktu leleh, overrun, dan sensori. Es krim susu kedelai terpilih adalah es krim dengan penambahan jamu kunyit asam 30% dan  gelatin 0,4%. Es krim tersebut memiliki nilai IC50 49%, total fenolik 2,10 mg GAE/g, total flavonoid 0,53 mg QE/g, nilai °Hue 88,48, waktu leleh 19,26 menit, dan nilai overrun 17,87%. Es krim jamu kunyit asam terpilih tergolong es krim rendah lemak, berpotensi sebagai produk pangan yang aman bagi penderita lactose intolerant,  disukai dari analisis nilai sensori, namun tidak berpotensi sebagai sumber antioksidan. ABSTRACT: Jamu kunyit asam was a traditional drink in Indonesia and used  as an alternative medicine. However, the use of this traditional drink was still limited so it was necessary to develop as  food products, such as making soybean milk  ice cream which aims for people with lactose intolerant able to consume ice cream. Jamu kunyit asam was made by varying ratio of turmeric:tamarind:water (20:20:60; 10:30:60; 30:10:60) and variations boiling time of tamarind (2, 4, and 6 minutes). Analyzes of antioxidant activity, total phenolic, total flavonoids, and color in tamarind turmeric were carried out. Selected jamu kunyit asam was ratio of turmeric:tamarind:water 30:10:60 and  2 minutes of boiling time which has an IC50 value 14.44%, total phenolic 0,49 mg GAE/g, total flavonoid 0,39 mg QE/g, dan  °Hue value 51,28. Soybean milk ice cream with jamu kunyit asam was made by addition varying of jamu kunyit asam (10%, 20%, and 30%) and gelatin (0.2%; 0.3%; 0.4%) with control of 0% jamu kunyit asam. The selected soybean milk ice cream was ice cream with addition of 30% jamu kunyit asam and 0.4% gelatin. The ice cream had an IC50 value 49%, total phenolic 2,10 mg GAE/g, total flavonoid 0,53 mg QE/g, °Hue value 88,48, melting time 19,26 minutes, and overrun 17,87%. Selected soybean ice cream was categorized  low fat ice cream and safe to be consumed by people with lactose intolerance, and have good value in sensory analysis, but did not have potential as a source of antioxidants.
PEMANFAATAN PATI BIJI DURIAN (Durio zibethinus L.) SEBAGAI EDIBLE COATING DALAM MEMPERTAHANKAN MUTU ANGGUR MERAH (Vitis vinifera L.) Cornelia, Melanie; Tandoko, Rika
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 1 No. 1 (2017): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT.   Red grape fruit (Vitis vinifera L.) was one of non-climacteric fruit that easily damaged. Changes that occurred in damaged grape was becoming wrinkle and wither, browning, and fruit flesh softening. Durian seed was one of food waste that contains high enough starch so it could be used as a basic ingredient for making edible coating. The objectives of this research were to make edible film from durian seed starch with different concentration of durian seed starch (2%, 4%, 6%, 8%, and 10%) and glycerol 3% addition.  Edible films' physical and mechanical characteristics such as tensile strength, elongation, and water vapor transmission rate were analyzed.  The best edible film will be used for coating of red grapes. Finally, doing analyzing the effect of edible coating towards quality of red grapes that were stored at room and refrigeration temperature. Physical and chemical characteristic of red grapes such as skin puncture, weight loss, pH, total titratable acid, and total dissolved solid were analyzed during storage. The results showed that edible film with the higher concentration of durian seed starch had higher tensile strength, elongation, and thickness, but had lower water vapor transmission rate. The best edible film was an edible film with 6% durian seed starch and 3% glycerol. The results also showed that application of the edible coating on red grapes could maintain the quality of grape during storage, prolonged the shelf life up to 18 days at room temperature and up to 30 days at refrigeration temperature.Keywords: durian seed, edible coating, physicochemical quality, red grape, shelf life
ANALISIS KADAR AIR, KADAR SERAT, DAN RENDEMEN TEPUNG SINGKONG DENGAN MENGGUNAKAN BERBAGAI METODE PENGERINGAN [ANALYSIS OF WATER CONTENT, FIBRE CONTENT, AND YIELD OF CASSAVA FLOUR WITH SEVERAL TYPES OF DRYING METHOD] Soedirga, Lucia C.; Cornelia, Melanie; Vania, Vania
FaST - Jurnal Sains dan Teknologi (Journal of Science and Technology) Vol. 2 No. 1 (2018): NOVEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cassava is one of the carbohydrate sources, after rice and maize in Indonesia. However, the cassava has higher water content so that its quality will decrease during the storage period. One of the processing that can be done is throughout the flouring process of cassava. Wheat flour imports are increasing from year to year, so this cassava flour can be used as an indigenous food resource to replace the usage of wheat flour. Besides, the wheat flour itself also contains gluten therefore it cannot be consumed by people with gluten intolerance, moreover, processing cassava into flour can be an alternative for the usage of wheat flour. This study aims to determine the best drying method to produce cassava flour with the highest fibre content. The drying method used was cabinet dryer (60 ° for 4, 6, 8 hours), oven (60 ° for 8, 16, 24 hours), and microwave oven (170 watts for 16, 18, and 20 minutes). The results showed that drying process by using an oven at 60 °C for 24 hours was the best method to produce cassava flour which has the highest fibre content and rendered content, and lowest water content compared with another drying method. ABSTRAKSingkong merupakan komoditas bahan pangan sumber karbohidrat ketiga di Indonesia setelah beras dan jagung. Namun singkong memiliki kadar air yang tinggi sehingga kualitasnya akan mengalami penurunan selama masa penyimpanan. Salah satu proses pengolahan yang dapat dilakukan adalah mengolah singkong menjadi tepung. Tepung singkong ini dapat digunakan sebagai sumber daya pangan lokal untuk menggantikan tepung terigu yang terus mengalami peningkatan impor dari tahun ke tahun. Tepung terigu juga mengandung gluten sehingga tidak dapat dikonsumsi oleh orang dengan intoleransi gluten sehingga pengolahan singkong menjadi tepung dapat menjadi salah satu alternatif dari tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan metode pengeringan terbaik dari singkong untuk menghasilkan tepung singkong dengan kadar serat yang tertinggi. Metode pengeringan yang digunakan adalah cabinet dryer (60° selama 4, 6, 8 jam), oven (60° selama 8 , 16, 24 jam) , dan microwave oven (170 watt selama 16, 18, dan 20 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan dengan menggunakan oven pada suhu 60° C selama 24 jam merupakan metode terbaik dalam menghasilkan tepung singkong yang memiliki kadar serat pangan dan rendemen tertinggi, serta kadar air terendah jika dibandingkan dengan metode pengeringan lainnya. Kata kunci : singkong, cabinet dryer, oven, microwave oven, kadar serat