Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

MENINGKATKAN KESADARAN MASYARAKAT TENTANG PHBS MELALUI PROGRAM GO GREEN didah, didah; Mandiri, Ariyati
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 7, No 1 (2026): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v7i1.61884

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan. Namun, penerapannya di perkotaan masih menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya kesadaran masyarakat, kurangnya edukasi, minimnya fasilitas pemilahan sampah, serta keterbatasan lahan hijau. Tujuan PPM adalah memahami pentingnya PHBS serta mampu mengimplementasikan praktik PHBS untuk kelestarian lingkungan. Tahapan kegiatan nya meliputi Penyuluhan PHBS ramah lingkungan dan konsep daur ulang sampah, Workshop waur ulang dan Pengelolaan sampah rumah tangga, Program HIDROFAM (Hidroponik for Family) serta Go Green Challenge. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menerapkan perilaku ramah lingkungan, terlihat dari hasil post-test yang lebih tinggi dibanding pre-test, peningkatan instalasi hidroponik di setiap RW, serta antusiasme masyarakat dalam kampanye digital. Kesimpulan dari kegiatan PPM adalah meningkatkan kesadaran PHBS melalui program Go Green ini berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi masih terdapat tantangan seperti keterbatasan fasilitas pemilahan sampah dan kurangnya lahan berkebun. Oleh karena itu, keberlanjutan program memerlukan dukungan dari pemerintah setempat dan partisipasi aktif masyarakat untuk menyediakan sarana pendukung, memastikan penerapan PHBS dan konsep Go Green dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kelurahan Drajat, Kota Cirebon.
Faktor- Faktor yang Berhubungan dengan Resiko Depresi Postpartum pada Ibu Nifas di Kota Bandung Astuti Dyah Bestari; Luruh Westriningrum; Didah Didah; Lani Gumilang; Ariyati Mandiri
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17747

Abstract

ABSTRACT The postpartum period starts after the birth of the placenta until 6 weeks postpartum. Every postpartum mother will experience psychological adaptations starting from the phases of taking in, taking hold to letting go. Postpartum mothers who fail to adapt to physiological and psychological changes tend to experience emotional problems during the postpartum period. Postpartum depression is a mood disorder that affects the mother after childbirth. The incidence of postpartum depression in 2023 will reach 11% -30% in Indonesia. The prevalence of depression in 2023 in West Java will reach 113,568 residents or around 3.3% with ages ≥15 years. Early detection of postpartum depression, especially in postpartum mothers who have risk factors, is one of the best prevention efforts. Screening can be done using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) which consists of 10 questions. This study aims to determine the factors associated with the risk of postpartum depression in postpartum mothers in Bandung City. The research uses a quantitative analytical approach with a cross sectional design. The respondents in this study were 74 postpartum mothers who gave birth at the UPTD Community Health Center in Bandung City. Bivariate analysis was carried out using the Spearman Rho and Contingency Coefficient tests. The results of the analysis show a relationship between psychological factors (history of depression), obstetric and pediatric factors (type of delivery, pregnancy complications, premature birth), sociodemographic factors (education, economic status) and marital status (domestic violence and unplanned pregnancy) on risk of postpartum depression (p value 0.05). Physical factors (body mass index), obstetric and pediatric factors (parity), sociodemographic factors (age and occupation) and marital status factors (marital status) showed no relationship with the risk of postpartum depression (p value 0.05). Screening using EPDS is one effort that can be done to detect the risk of postpartum depression. Apart from that, it is necessary to pay attention to the risk factors for postpartum depression early so that the incident can be prevented or treated before it becomes serious. Keywords: Depression, Edinburgh Postnatal Depression Scale, Postpartum ABSTRAK Masa nifas dimulai setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu pascasalin. Setiap ibu nifas akan mengalami adaptasi psikologis mulai dari fase taking in, taking hold hingga letting go. Ibu nifas yang tidak berhasil melakukan adaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis cenderung akan mengalami masalah emosional selama masa nifas. Depresi postpartum adalah gangguan suasana hati yang memengaruhi ibu sesudah persalinan. Angka kejadian depresi postpartum tahun 2023 mencapai 11%-30% di Indonesia. Prevalensi depresi tahun 2023 di Jawa Barat mencapai 113.568 penduduk atau sekitar 3,3% dengan usia ≥15 tahun. Deteksi dini terjadinya depresi postpartum khususnya pada ibu nifas yang memiliki faktor resiko menjadi salah satu upaya pencegahan terbaik. Skrining dapat dilakukan menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang terdiri dari 10 pertanyaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko depresi postpartum pada ibu nifas di Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Responden dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang bersalin di UPTD Puskesmas Kota Bandung sebanyak 74 orang. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Spearman Rho dan Contingency Coefficient. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan antara faktor psikologis (riwayat depresi), faktor kebidanan dan pediatrik (jenis persalinan, komplikasi kehamilan, kelahiran prematur), faktor sosiodemografi (pendidikan, status ekonomi) dan status pernikahan (kekerasan dalam rumah tangga dan kehamilan tidak direncanakan) terhadap risiko depresi postpartum (p value 0,05). Pada faktor fisik (indeks massa tubuh), faktor kebidanan dan pediatrik (paritas), faktor sosiodemografi (usia dan pekerjaan) dan faktor status pernikahan (status perkawinan) menunjukkan tidak adanya hubungannya dengan risiko depresi postpartum (p value 0,05). Skrining menggunakan EPDS merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendeteksi resiko terjadinya depresi postpartum. Selain itu, perlu diperhatikan faktor-faktor resiko terjadinya depresi postpartum sejak dini agar kejadian dapat dicegah atau ditangani sebelum menjadi parah. Kata Kunci: Depresi, Edinburgh Postnatal Depression Scale, Postpartum
Evaluation of problem-based learning models in the integrated midwifery curriculum Ari Indra Susanti; Rani Nurparidah; Ariyati Mandiri
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 1 (2024): Inovasi Kurikulum, February 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i1.63498

Abstract

Evaluation of the Problem-Based Learning (PBL) model in the integrated curriculum aims to encourage midwifery students' learning abilities, evaluate the effectiveness of learning, and test students' abilities in midwifery knowledge. This article aims to evaluate the PBL model's evaluation in the integrated midwifery curriculum. The research method uses descriptive cross-sectional. Data was collected by administering content-validated questionnaires to 113 D4 Midwifery Study Program students, and then the univariate data was analyzed descriptively. The research results showed that the majority of students rated the implementation of the tutorial method and practice with lab activities, evaluation of theoretical learning with Multiple Choice Questions (MCQ) and Structure Oral Case Assessment (SOCA), and practice evaluation using the Direct Observation of Procedural Skills (DOPS) method. Apart from that, the majority of students agree that evaluation of field practice learning (clinic/community) can improve clinical abilities and advocacy skills across sectors (56.6%), and students are satisfied with lecturers as tutors during the learning process. This research concludes that the integrated curriculum uses tutorial learning strategies with MCQ and SOCA evaluations, thereby improving clinical and cross-sector advocacy skills based on student perceptions.   Abstrak Evaluasi model Problem Based Learning (PBL) pada kurikulum terintegrasi bertujuan mendorong kemampuan belajar mahasiswa kebidanan, mengevaluasi keefektifan pembelajaran dan menguji kemampuan mahasiswa dalam pengetahuan kebidanan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi model PBL pada kurikulum kebidanan terintegrasi. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuesioner yang telah tervalidasi content kepada 113 mahasiswa Program Studi D4 Kebidanan, kemudian data univariat dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar mahasiswa menilai baik terhadap pelaksanaan metode tutorial dan praktik dengan lab activity, evaluasi pembelajaran teori dengan Multiple Choice Question (MCQ) dan Structure Oral Case Assesment (SOCA), dan evaluasi praktik dengan metode Direct Observation of Prosedural Skills (DOPS). Selain itu, sebagian besar mahasiswa setuju terhadap evaluasi pembelajaran praktik lapangan (klinik/komunitas) dapat meningkatkan kemampuan klinis dan keterampilan advokasi pada lintas sektor, serta mahasiswa puas terhadap dosen sebagai tutor saat proses pembelajaran. Simpulan pada penelitian ini bahwa kurikulum terintegrasi menggunakan strategi pembelajaran tutorial dengan evaluasi MCQ dan SOCA sehingga meningkatkan keterampilan advokasi klinis dan lintas sektor berdasarkan persepsi mahasiswa. Kata Kunci: Evaluasi; kurikulum terintegrasi; problem-based learning
Evaluation of antenatal care competency with Objective Structure Examination Blended Learning (OSCE-BL) Ari Indra Susanti; Ariyati Mandiri
Inovasi Kurikulum Vol. 21 No. 2 (2024): Inovasi Kurikulum, May 2024
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v21i2.66495

Abstract

Midwifery students must possess clinical competency before entering clinical practice in the practice area. Assessing clinical competency using Objective Structure Clinical Evaluation (OSCE) is necessary. However, OSCE examiners are limited, so blended learning is carried out. The research aims to determine the learning outcomes of midwifery students using OSCE Blended Learning (BL) in the pregnancy care module. This research used a descriptive cross-sectional method using OSCE scores from 2020 to 2022. That research sample was 92 people using a total sampling technique. Competencies tested in the OSCE are anamnesis, physical examination in the second and third trimester, laboratory examination, and counseling. Processing and analyzing univariate data descriptively. The anamnesis competency score was the greatest mean in 2021 (91.45), physical examination in the second trimester (88.79), and third trimester (88.03). Meanwhile, supporting examinations in 2020 (88.36) and counseling (88.31). In the OSCE evaluation in 2021, only a small number of students did not pass the anamnesis (2 people), physical examination second trimester (2 people), and third trimester (2 people), support (2 people), and counseling (1 person). Method OSCE BL can be used to evaluate pregnancy care competency before midwifery students do clinical practice in the practice area.   Abstrak Kompetensi klinis harus dimiliki oleh mahasiswi kebidanan sebelum memasuki praktik klinis di lahan praktik sehingga perlu dilakukan penilaian kompetensi klinis menggunakan Objective Structure Clinical Evaluation (OSCE). Akan tetapi, penguji OSCE terbatas, maka OSCE dilakukan dengan blended learning. Penelitian bertujuan mengetahui hasil belajar mahasiswi kebidanan dengan OSCE Blended Learning (OSCE BL) pada modul asuhan kehamilan (ANC). Penelitian dengan metode deskriptif dengan cross sectional menggunakan nilai OSCE dari tahun 2020 (36 orang), 2021 (25 orang), dan 2022 (31 orang) sehingga jumlah sampel penelitian sebanyak 92 orang dengan teknik total sampling. Kompetensi yang diujikan pada OSCE, yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik trimester 2 dan 3, pemeriksaan laboratorium, dan konseling. Pengolahan dan analisis data univariat secara deskriptif (nilai mean, standar deviasi, nilai maksimal, dan minimal). Nilai kompetensi anamnesa paling besar tahun 2021 (mean=91.45), pemeriksaan fisik trimester 2 (mean=88.79) dan trimester 3 (mean=88.03). Sedangkan pemeriksaan penunjangtahun 2020 (mean=88.36) dan konseling (mean=88.31). Pada evaluasi OSCE hanya sebagian kecil mahasiswa yang tidak lulus kompetensi anamnesa (2 orang), pemeriksaan fisik trimester 2 (2 orang), dan trimester 3 (2 orang), penunjang (2 orang), dan konseling (1 orang) tahun 2021. Metode OSCE BL dapat digunakan untuk evaluasi kompetensi asuhan kehamilan sebelum mahasiswi kebidanan praktik klinis di lahan praktik. Kata Kunci: Blended learning; evaluasi: kompetensi; mahasiswa kebidanan; OSCE
Are midwifery students ready for interprofessional education with project-based learning? Ari Indra Susanti; Ariyati Mandiri; Lani Gumilang
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 2 (2025): Inovasi Kurikulum, May 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v22i2.81712

Abstract

Patient-centered health services require preparation for Interprofessional Collaboration (IPC). Therefore, it is essential to equip health worker students with Interprofessional Education (IPE) training. This study aims to determine the readiness of midwifery students to implement Interprofessional Education (IPE) using a Project-Based Learning (PjBL) approach. A descriptive research method with a cross-sectional design was conducted at the Midwifery Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran. Data collection was performed using questionnaires administered to 30 students (7th semester) before the start of PjBL, who collaborated with nursing students in the Undergraduate Nursing Study Program at Universitas Padjadjaran. Descriptive data analysis with frequency and percentage statistical tests. The study's results showed that midwifery students were highly receptive to IPE learning, which involves working together to solve patient problems, benefiting from learning related to professional limitations, communication skills, teamwork skills, and collaboration in small group settings. Additionally, most midwifery students can participate in IPE by achieving a score of 79.50-100. This study concludes that student readiness can support the achievement of PjBL-based IPE learning objectives.   Abstrak Pelayanan kesehatan yang berpusat pada pasien perlu dipersiapkan Interprofessional Collaboration (IPC), maka perlu membekali mahasiswa tenaga kesehatan dengan pembelajaran Interprofessional Education (IPE). Penelitian ini bertujuan mengetahui kesiapan mahasiswa kebidanan melaksanakan IPE berbasis Project-Based Learning (PjBL). Metode penelitian deskriptif dengan cross sectional yang dilakukan di Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjdajaran. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 30 mahasiswa (semester 7) sebelum dimulai PjBL yang berkolaborasi dengan mahasiswa keperawatan di Program Studi Sarjana Keperawatan Universitas Padjadjaran. Analisis data deskriptif dengan uji statistik frekuensi dan persentase. Hasil penelitian didapatkan mahasiswa kebidanan sangat siap dalam pembelajaran IPE yang bertujuan untuk bekerja sama untuk memecahkan masalah pasien, manfaat pembelajaran terkait keterbatasan profesional, keterampilan komunikasi, keterampilan kerja tim, dan kolaborasi dalam pembelajaran kelompok kecil. Selain itu, sebagian besar mahasiswa kebidanan dapat melakukan IPE dengan mendapatkan nilai 79.50-100. Simpulan penelitian ini, kesiapan mahasiswa dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran IPE berbasis PjBL. Kata Kunci: interprofessional education; kesiapan mahasiswa; pembelajaran berbasis proyek
Association of Cadre's Knowledge with Age, Duration of Work, Education, and Employment on the Use of iPosyandu Application in Pasawahan, Purwakarta Fedri Ruluwedrata Rinawan; Pratiwi Kusumastuti; Ariyati Mandiri; Rima Kusumah Dewi
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : Faculty of Public Health, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26553/jikm.2020.11.2.150-159

Abstract

Posyandu cadres are important people whose role in implementing posyandu, including registration, weighing, counseling, recording, and reporting. Currently, the cadre task in recording and reporting is still manual. Therefore, cadres must be supported by information technology to facilitate their work. iPosyandu application is an android-based or mobile application that is integrated and functioned for cadres in managing data. The application has been implemented at Posyandu to obtain data of infants, toddlers, and pregnant women, as well as child-bearing age women and couples (under development). This study aimed to determine the cadre's knowledge on the use of iPosyandu application at the posyandu, and its association with age, duration of work, education, and employment. The research method used cross-sectional approach. We used a purposive sampling technique. The sample size was 82 cadres in 6 villages in Pasawahan sub-district, Purwakarta Regency. Data collection was carried using questionnaire. Spearman correlation and Chi-square was used to identify the associations. The results was all cadres had good knowledge, and not associated with age, duration of work, education, and employment. This can be caused by the experience and implementation of the iPosyandu application during the last year. Other reasons were also identified such as easy access of media information, and the learning time. Good knowledge of cadres in using the application need to be maintained. Henceforth, further complementary research is needed to strengthen the knowledge by observing their skill under the umbrella of action research.
Pilihan Jenis Pelayanan Bidan pada Masyarakat Urban, Sub-Urban dan Rural Nirmala, Sefita Aryuti; Mandiri, Ariyati
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 5, No 4 (2020): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.60289

Abstract

Latar Belakang: Data WHO menunjukkan angka kematian ibu di dunia dari tahun 2000 hingga 2017 mengalami penurunan sebesar 38%. Angka kematian ibu di dunia, 94% berada pada negara miskin dan berbagai faktor pendukung lainnya. Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia. Keberadaan bidan di Indonesia sangat membantu akses pelayanan kesehatan. Layanan kebidanan dapat diakses mulai dari fasilitas pelayanan kesehatan primer hingga tingkat tersier dan menyebar di berbagai wilayah. Terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih jasa layanan bidan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran jenis pelayanan bidan yang dipilih oleh masyarakat di daerah urban, sub-urban dan rural.Metode: Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan data primer dengan responden berjumlah 300 orang. Lokasi penelitian daerah urban di Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, daerah sub-urban di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang dan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Daerah rural di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang.Hasil: Hasil penelitian didapatkan masyarakat sub-urban terbanyak menggunakan jasa bidan yaitu 97%. Jenis layanan paling banyak pada pemeriksaan kehamilan 96% dan diikuti 79% pertolongan persalinan pada masyarakat sama yaitu daerah sub-urban.Kesimpulan: Masyarakat sub-urban paling banyak menggunakan jasa layanan bidan dengan pilihan jenis layanan pemeriksaan kehamilan dan persalinan.