Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PENDAMPINGAN PEMANTAUAN HARGA PANGAN DI KOTA SAMPIT Tirsa Neyatri Bandrang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal PKM Agri Hatantiring
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/pkmagri.v2i2.101

Abstract

Pencacahan data harga untuk PIHPS dilakukan setiap hari kerja kepada pedagang pengecer di pasar tradisional untuk memperoleh informasi mengenai harga pangan komoditi strategis. Pemilihan sampel digunakan dengan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pertimbangan tertentu yakni pedagang eceran di pasar tradisional sesuai dengan komoditi yang disurvei yaitu padar Subuh dan pasar PPM.Pada tahun 2021 Politeknik Seruyan sebagai lembaga Pendidikan bekerjasama dengan Bank Indonesia mengambil peranan dalam melakukan survey pemantauan harga pangan di Kotawaringin Timur (Sampit) di Pasar Tradisional yaitu pasar Subuh dan Juga pasar PPM. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas data PIHPS di Kalimantan Tengah dan juga secara khusus Kotawaringin Timur penyumbang inflasi di Kalimantan Tengah oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan harga pangan untuk membantu kebijakan pemerintah dalam menstabilkan harga pangan.Pencahaan ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan informasi yang sesuai, memperluas akses informasi kepada masyarakat untuk mengurangi asimetri informasi, dan mengarahkan ekspektasi pelaku ekonomi; dan sebagai dasar bagi Pemerintah Daerah dalam melakukan monitoring dan merumuskan kebijakan stabilisasi harga pangan di daerah. Pendampingan pemantauan harga pangan ini dilakukan di kota Sampit tetapnya di pasar Subuh dan Pasar PPM. Pemilihan lokasi melihat dari aktivitas daya beli konsumen. Pelaksanaan kegiatan survey ini dilakukan secara berkala setiap hari pada jam kerja.
MONITORING EFEKTIVITAS LAYANAN SISTEM PEMBAYARAN MENUJU DIGITALISASI BANTUAN SOSIAL MELALUI KELUARGA PENERIMA MANFAAT (KPM) PROGRAM PKH DAN PROGRAM SEMBAKO Tirsa Neyatri Bandrang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/pkmagri.v3i1.147

Abstract

Program Kementerian Sosial dalam menanggulangi kemiskinan dan untuk meminimalisirkan kendala dalam mengatasi masalah kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang pesat saat ini yaitu dengan meluncurkan program PKH dan Program Sembako. Namun, dalam pelaksanaannya, Program PKH dan program sembako ini terkendala dengan sinyal dan jarak yang terlalu jauh dan curam. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memantau seberapa efektif layanan sistem pembayaran dalam rangka kesiapan menuju digitalisasi bantuan sosial melalui Program PKH dan Program Sembako di wilayah Blankspot serta untuk mengetahui sejauhmana program ini sudah efektif terlaksana di wilayah sinyal lemah/ Blankspot (desa Tumbang Manjul Kabupaten Seruyan). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif untuk memberikan gambaran dan penjelasan yang tepat terkait pelaksanaan program PKH dan Program Sembako sesuai dengan pedoman pelaksanaannya dengan melakukan wawancara kepada 10 orang KPM yang terdiri dari 5( lima) orang KPM program PKH dan 5( lima) orang KPM program sembako. Lokasi Kec/Desa yang tersebar sesuai dengan data dari Bank Penyalur Bansos yaitu Bank Mandiri.. Hasil kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) layanan sistem pembayaran melalui program PKH dan program sembako di Desa Tumbang Manjul Kabupaten Seruyan ini antara lain perlu peran aktif pendamping dalam mengkoordinir pengambilan bantuan sosial agar memudahkan KPM dalam mengambil bantuan di e warong, KPM kesulitan dalam pengambilan bantuan sosial di Bank penyalur karena lokasi dan tempatnya yang tidak kondusif serta lemahnya sinyal sehingga memutuskan KPM untuk mengambil dana secara kolektif yang dikoordinir oleh pendamping desa.
PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT MELALUI KEGIATAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DI DESA SUNGAI BAKAU Tirsa Neyatri Bandrang; Donny Dwy Judianto Leihitu; Alpiki *; Bayu Candra Risma; Farika *; Linda *; Rahmajiyah *
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/pkmagri.v3i2.166

Abstract

Desa Sungai Bakau mempunyai potensi yang besar apabila di kelola secara baik melalui optimalisasi potensi yang ada secara terencana, bertahap, dan berkesinambungan secara proaktif oleh seluruh elemen yang ada agar pemerintah Desa Sungai Bakau lebih memperhatikan kelompok-kelompok yang ada di masyarakat dengan memberikan pelatihan-pelathan demi meningkatkan kesejateraan kelompok serta Masyarakat. Dengan adanya pelatihan Pembuatan pupuk organik khususnya dari sampah organik rumah tangga yang kami lakukan dapat bermanfaat bagi Masyarakat Desa Sungai Bakau khususnya ibu-ibu rumah tangga sehingga menghasilkan pupuk organik yang berperan penting dalam merawat/menjaga tingkat kesuburan tanah tanaman rumahan seperti tanaman cabai, tomat dan tanaman lainya.
PENDAMPINGAN PROGRAM KAMPUS MENGAJAR SEBAGAI FLAGSHIP MBKM DI SDN 1 KUALA PEMBUANG 1 Tirsa Neyatri Bandrang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal PKM Agri Hatantiring Volume 4 Nomor 1 Tahun Desember 2024
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/pkmagri.v4i1.260

Abstract

The Teaching Campus Program is one of the flagships in the Independent Learning Independent Campus (MBKM) policy which aims to improve the quality of basic education in Indonesia, especially in the aspects of literacy, numeracy, and student character. This program involves students as agents of change in helping elementary schools face various educational challenges, such as low literacy and numeracy levels, as well as limited teaching staff. In order to support the success of the program, this community service activity is carried out with a focus on assisting the Teaching Campus Program at SDN 1 Kuala Pembuang 1. This assistance aims to provide guidance and training to students participating in the Teaching Campus, teachers, and the school so that the program can run optimally and sustainably. The methods used in this activity include initial observation, training, direct mentoring, and program evaluation. Initial observations are made to identify school conditions, challenges faced, and specific needs needed by teachers and students. After that, training was carried out for students participating in the Teaching Campus related to innovative teaching techniques, the use of digital learning media, and effective strategies to increase literacy and numeracy. In addition, assistance is also provided to teachers and schools in utilizing available resources and integrating Teaching Campus activities with the school curriculum. The results of this mentoring activity show an increase in student understanding in implementing more interactive and technology-based teaching strategies. Teachers at SDN 1 Kuala Pembuang 1 also benefited from this activity, especially in terms of increasing teaching capacity and using technology in learning. In addition, students involved in this program experienced an increase in learning motivation, especially in the aspects of literacy and numeracy. Other indicators of success can be seen from the school's positive response to the sustainability of this program and the proposal to implement a similar mentoring model in the following years. Although this activity has a positive impact, there are several challenges faced, such as limited technological infrastructure in schools, limited time for students to run programs, and coordination between students, teachers, and the school. Therefore, the recommendations given include the need to strengthen synergy between universities, schools, and local governments in supporting the Teaching Campus program in a sustainable manner. In addition, it is necessary to develop a more flexible training model and provide adequate technological resources so that the implementation of the program is more effective. Overall, the mentoring activities of the Teaching Campus Program at SDN 1 Kuala Pembuang 1 show that this program has great potential in improving the quality of education in elementary schools, especially in the aspects of literacy, numeracy, and student character. With systematic and need-based assistance, the Teaching Campus Program can be one of the effective solutions in supporting the improvement of the quality of basic education in Indonesia. It is hoped that this activity can continue to be developed and applied in various other schools to achieve better national education goals.
PEMANFAATAN BAHAN ORGANIK LOKAL SEBAGAI MEDIA TANAM ALTERNATIF INOVASI DALAM MENDUKUNG PERTANIAN MANDIRI: Azizatul Hayaniy1,Tirsa Neyatri Bandrang2, Azizatul Hayaniy; Tirsa Neyatri Bandrang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/yd97r778

Abstract

Ketersediaan bahan organik lokal yang melimpah di lingkungan masyarakat belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber daya pertanian. Bahan organik seperti sekam padi, serasah tanaman, kompos, cocopeat, dan limbah organik rumah tangga memiliki potensi untuk diolah menjadi media tanam alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai guna. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan organik lokal sebagai media tanam alternatif serta mendorong penerapan pertanian mandiri yang efisien, ekonomis, dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap persiapan, penyuluhan, demonstrasi, praktik pembuatan media tanam, pendampingan, dan evaluasi. Peserta diberikan pemahaman mengenai karakteristik bahan organik, fungsi media tanam, komposisi bahan, teknik pencampuran, serta cara penggunaan media tanam untuk budidaya tanaman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan organik lokal dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap media tanam komersial sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah organik. Masyarakat memperoleh keterampilan dalam mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi media tanam yang lebih produktif dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini juga memberikan pemahaman bahwa pengelolaan bahan organik secara tepat dapat mendukung kesuburan media, efisiensi penggunaan sumber daya, dan penerapan konsep pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, pemanfaatan bahan organik lokal sebagai media tanam alternatif dapat menjadi salah satu inovasi sederhana dalam mendukung pertanian mandiri dan ramah lingkungan. Kata kunci: bahan organik lokal, media tanam, pertanian mandiri, pertanian berkelanjutan, inovasi pertanian.
PENERAPAN SISTEM AKUAPONIK TERPADU BUDIDAYA IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) DENGAN TANAMAN PAKCOY (BRASSICA RAPA L.) DAN SELADA (LACTUCA SATIVA) DI POLITEKNIK SERUYAN: Donny Dwy Judianto Leihitu1,Iftisar Rozikin2, Tirsa Neyatri Bandrang3 donny leihitu; iftisar Rozikin; Tirsa Neyatri Bandrang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Agri Hatantiring
Publisher : Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/fchjbr47

Abstract

Kabupaten Seruyan memiliki potensi besar dalam sektor pertanian dan perikanan. Namun, praktik konvensional sering kali terkendala oleh keterbatasan lahan, air, dan pengetahuan teknis. Sebagai institusi pendidikan vokasi, Politeknik Seruyan memiliki peran strategis dalam menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan melalui pengembangan teknologi terapan. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah sistem akuaponik, yaitu sistem integrasi antara akuakultur dan hidroponik dalam satu siklus yang ramah lingkungan. Akuaponik memanfaatkan limbah organik dari ikan sebagai nutrisi bagi tanaman, sedangkan tanaman berperan menyaring air untuk ikan. Sistem ini hemat air, bebas pestisida, dan efisien dalam penggunaan ruang. Pengabdian ini dirancang untuk mendemonstrasikan dan melatih civitas akademika serta masyarakat sekitar dalam menerapkan sistem akuaponik menggunakan ikan nila, pakcoy, dan selada sebagai komoditas utama. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini bertujuan untuk menerapkan sistem akuaponik terpadu dalam budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) dan tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) serta selada (Lactuca sativa) di lingkungan Politeknik Seruyan selama 30 hari. Sistem akuaponik memanfaatkan limbah metabolisme ikan sebagai nutrisi tanaman, menciptakan hubungan timbal balik yang efisien dan ramah lingkungan. Hasil dari kegiatan menunjukkan pertumbuhan ikan dan tanaman yang optimal serta kualitas air yang stabil. Sistem ini terbukti layak diterapkan di skala pendidikan dan rumah tangga sebagai solusi pertanian terpadu berkelanjutan. Kata kunci: akuaponik, ikan nila, pakcoy, selada, Politeknik Seruyan
Managerial and Governance Implications of Knowledge Gap and Attitude Convergence Among STD-B-Registered Independent Oil Palm Farmers in Seruyan Tirsa Neyatri Bandrang; Donny Dwy Judianto Leihitu
Journal of Economics and Management Vol. 4 No. 2 (2026): Journal of Economics and Management, June 2026
Publisher : Lembaga Publikasi Ilmiah Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70716/ecoma.v4i2.826

Abstract

Institutional documentation such as the Plantation Business Registration Letter for Cultivation (STD-B) is often treated as a proxy for smallholder readiness to meet sustainability standards, yet administrative registration does not guarantee uniform managerial and cognitive readiness. This study examined whether independent oil palm farmers who shared identical administrative status differed in their understanding of, and attitude toward, STD-B and the Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) certification system. A quantitative, comparative census was conducted among all 51 registered independent farmers in Halimaung Jaya Village (n = 18) and Mekar Indah Village (n = 33), Seruyan Regency, Central Kalimantan, using a five-point Likert questionnaire, interviews, observation, and documentation; data were analyzed using descriptive statistics and the Mann-Whitney U test. Farmers' average knowledge score was 3.33 in Halimaung Jaya and 3.52 in Mekar Indah, a statistically significant difference (U = 122.000; Z = -3.472; p < 0.001; r = 0.486). Attitude scores were 3.69 and 3.75, with no significant difference (U = 258.500; Z = -0.773; p = 0.440; r = 0.108). The findings revealed a genuine knowledge gap alongside a convergence of positive attitudes, suggesting that document-based governance requires complementary, village-specific knowledge-management strategies to build substantive institutional capacity.