Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships. Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health. Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah. Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.