Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

EDUKASI PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN UNTUK DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA H, Desri Nova; Armi, Yeltra; Nataria, Desti; Pitri, Zilfi Yola
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.30394

Abstract

Prevelensi kanker payudara di Indonesia pada usia 15-24 tahun mengalami peningkatan dari tahun 2013-2018 yaitu 0,4% menjadi 0,6%. Hal tersebut menunjukkan peningkatan prevelensi kanker payudara pada usia 15-24 tahun di Indonesia sebanyak 0,2%. Pemberian edukasi pemeriksaan SADARI bertujuan untuk menambah pengetahuan khususnya remaja putri akan pentingnya pemeriksaan SADARI dalam pencegahan dini kanker payudara. Metode yang digunakan dalam pemberian edukasi ini adalah dengan melibatkan seluruh remaja putri yang berada di pada Santriwati MAS Madinatul Munawwaroh Bukittinggi dimana kegiatan tersebut mencakup 1) Pemberian kuisioner post test 2) Penilaian pengetahuan tentang SADARI dalam pencegahan dini kanker payudara 3) Penyuluhan tentang SADARI 4) Diskusi dan tanya jawab 5) Evaluasi akhir dengan pemberian kuisioner post test. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada 28 Maret 2023. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah menambah pengetahuan santriwati khususnya tentang pemeriksaan SADARI dalam upaya pencegahan dini kanker payudara.
Kombinasi Pijat Oksitosin dengan Aroma Terapi Lavender terhadap Produksi Asi pada Ibu Post Partum Primipara Nataria, Desti; Felina, Mutia; Lubis, Kholila; Nova, Desri
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/jkp.v11i2.1108

Abstract

Cakupan pemberian ASI eksklusif yang terhimpun di Sumatera Selatan mengalami penurunan dari 57,8% pada tahun 2021 menjadi 51,6% pada tahun 2022, sedangkan target pencapaian ASI eksklusif menurut WHO adalah sebesar 70% pada tahun 2030. Rendahnya cakupan pemberian ASI secara Eksklusif salah satunya disebabkan karena kurangnya produksi ASI sehingga menimbulkan kecemasan pada ibu menyusui. Hal ini mendorong ibu untuk memberikan susu formula kepada bayi untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Pijat oksitosin dan aroma terapi lavender dapat memberikan efek relaksasi pada sistim syaraf pusat pada hipotalamus yang membantu meningkatkan produksi hormon oksitosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh kombinasi pijat oksitosin dan aroma lavender terhadap produksi ASI. Desain penelitian ini adalah Pre Experiment pretest dan posttest menggunakan rancangan One group pretest-posttest. Subjek penelitian adalah ibu postpartum primi para yang berjumlah 16 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi kemudian analisis dengan Paired sample T-test. Intervensi yang dilakukan berupa pemberian kombinasi pijat oksitosin dan aroma terapi lavender selama selama 5 hari dimana setiap harinya diberikan selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata-rata volume ASI sebelum diberikan intervensi kombinasi pijat oksitosin dan aroma terapi lavender adalah 7.38 cc dan setelah diberikan intervensi adalah 78 cc. Pada uji Paired sample T-test di dapatkan hasil bahwa p=0,001, dimana p<0,005, hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pijat oksitosin dengan aroma terapi lavender berpengaruh terhadap produksi ASI pada ibu post partum primipara. Pemberian kombinasi pijat oksitosin dan aroma terapi lavender dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan produksi ASI secara alami.
Deteksi dini kesehatan mental emosional remaja sebagai upaya mewujudkan generasi emas yang sehat jiwa Rinancy, Hariet; Eni, Rosmi; Gustin, Rahmi Kurnia; Nataria, Desti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 11 (2026): Volume 19 Nomor 11
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i11.1714

Abstract

Background: Adolescence is a turbulent period of transition, both physically, psychologically, and socially. Amid these changes, it is not uncommon for adolescents to face various challenges that can impact their mental and emotional health. Mental health disorders, such as depression, anxiety, or eating disorders, often begin in adolescence, but unfortunately, they often go undetected or are ignored. Early detection is crucial because prompt intervention can prevent these conditions from worsening. Adolescents experiencing mental health problems may exhibit subtle symptoms, such as behavioral changes, decreased academic performance, social withdrawal, or changes in sleep and eating patterns. Ignoring these signs can have long-term impacts on adolescents' lives, including problems with interpersonal relationships, difficulties in education and careers, and an increased risk of risky behaviors such as risky sexual behavior, substance abuse, or even suicide. Purpose: To identify emotional mental health disorders in adolescents as a first step in realizing a mentally healthy golden generation. Method: This descriptive quantitative study describes emotional mental health problems in adolescents. The study was conducted at MAN 1 Padang Pariaman Regency. The sampling technique used was purposive sampling with a sample size of 251 respondents. Data collection used the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Results: Most of the 139 adolescents (55.4%) showed abnormal scores on emotional symptoms, most of the 154 adolescents (61.3%) showed borderline scores on behavior, less than half of the adolescents (37%) had normal scores for hyperactivity, most adolescents (66.9%) showed abnormal scores for social problems, and the majority of adolescents (94%) showed normal scores for prosocial behavior. Conclusion: The majority of adolescents in this study experienced emotional mental health problems, so appropriate interventions are needed for adolescents. Suggestion: Schools, when implementing any intervention program, should use these prosocial behaviors as a foundation of strengths to encourage positive changes in other aspects of difficulties. For example, teaching helpful behaviors can improve problematic social relationships.   Keywords: Adolescents; Early Detection; Emotional; Mental Health.   Pendahuluan: Masa remaja adalah periode transisi yang penuh gejolak, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Di tengah perubahan ini, tidak jarang remaja menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan emosional mereka. Gangguan kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, atau gangguan makan, sering kali dimulai pada usia remaja, namun sayangnya, sering kali tidak terdeteksi atau diabaikan. Deteksi dini menjadi sangat krusial karena intervensi yang cepat dapat mencegah kondisi ini menjadi lebih parah. Remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mungkin menunjukkan gejala yang tidak selalu jelas, seperti perubahan perilaku, penurunan prestasi akademik, penarikan diri dari lingkungan sosial, atau perubahan pola tidur dan makan. Mengabaikan tanda-tanda ini bisa berdampak jangka panjang pada kehidupan remaja, termasuk masalah dalam hubungan interpersonal, kesulitan dalam pendidikan dan karier, hingga peningkatan risiko perilaku berisiko seperti perilaku seksual berisiko, penyalahgunaan zat atau bahkan bunuh diri. Tujuan: Untuk mengidentifikasi gangguan kesehatan mental emosional pada remaja sebagai langkah awal dalam mewujudkan genarasi emas yang sehat jiwa. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan menggambarkan masalah kesehatan mental emosional remaja. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kabupaten Padang Pariaman. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 251 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Hasil: Sebagian besar 139 remaja (55.4%) menunjukKan skor abnormal pada gejala emosi, sebagian besar 154 remaja (61.3%) menunjuKkan skor borderline pada perilaku, kurang dari setengah remaja (37%) berada pada skor normal untuk hiperaktivitas, sebagian besar remaja (66.9%) menunjukkan skor abnormal untuk masalah teman sebaya dan mayoritas ramaja (94%) menunjukkan skor normal untuk prososial. Simpulan: Mayoritas remaja pada penelitian ini mengalami masalah kesehatan mental emosinal, sehingga perlu diberikan intervensi yang tepat pada remaja. Saran: Sekolah dalam memberikan setiap program intervensi yang diluncurkan harus menggunakan perilaku prososial ini sebagai fondasi kekuatan untuk mendorong perubahan positif pada aspek kesulitan lainnya. Misalnya, mengajarkan perilaku tolong-menolong dapat meningkatkan hubungan teman sebaya yang bermasalah.   Kata Kunci: Deteksi Dini; Emosional; Kesehatan Mental; Remaja.