Claim Missing Document
Check
Articles

PENGASUHAN RESPONSIF AYAH DAN KUALITAS PERTEMANAN REMAJA Winata Tjandra; Darmawan Muttaqin; Marselius Sampe Tondok
Jurnal Psikologi Integratif Vol 8, No 2 (2020): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v8i2.1911

Abstract

Pertemanan memiliki kontribusi terhadap perkembangan remaja tidak terkecuali perkembangan sosioemosional khususnya relasi interpersonal dengan teman sebaya. Kemampuan menjalin relasi pertemanan dengan teman sebaya tidak dapat dipisahkan dari pengalaman remaja ketika berelasi dengan orang tuanya. Mayoritas masyarakat di Indonesia masih memosisikan ibu sebagai pengasuh utama padahal ayah juga memiliki peran dalam pengasuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara pengasuhan responsif ayah dengan kualitas pertemanan. Partisipan penelitian merupakan 362 remaja berusia 12-21 tahun yang sedang berada pada tahap remaja awal, tengah, dan akhir. Penelitian ini menggunakan alat ukur Friendship Qualities Scale dan sub skala Responsiveness dari Parenting Style yang digunakan untuk mengukur kualitas pertemanan dan pengasuhan responsif ayah. Hasil analisis korelasi menemukan bahwa pengasuhan responsif ayah memiliki hubungan positif dengan kualitas pertemanan. Selain itu, ditemukan perbedaan kualitas pertemanan ditinjau dari jenis kelamin dan kelompok usia. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan secara responsif berkaitan dengan kemampuan remaja dalam menjalin relasi pertemanan yang berkualitas dengan teman sebayanya. Karakteristik yang berbeda antar jenis kelamin dan kelompok usia dapat menyebabkan perbedaan kualitas pertemanan.
Sedulur Papat Limo Pancer as a Concept of Javanese Emotional Intelligence Devietha Kurnia Sari; Darmawan Muttaqin
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 4, No 3 (2021): Budapest International Research and Critics Institute August
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i3.2488

Abstract

The Javanese have various philosophies as a guideline to achieving perfection in life. One of them is Sedulur Papat Limo Pancer. This philosophy guides for a human to appreciate and control their emotions along with their activities or dealing with daily problems. Sedulur Papat represents the four human emotions or desires consisting of amarah (anger), lawwamah (greed/gluttony), supiah (lust), and mutmainnah (sloth). Limo Pancer represents man himself as the controller of his four emotions. This article aims to discuss Sedulur Papat Limo Pancer as a concept of Javanese's emotional intelligence. By comparing with the concept of emotional intelligence in Psychology, the concept of Sedulur Papat Limo Pancer explains more detail in the emotions domain that needs to be controlled. However, the concept of emotional intelligence explains more detail about the aspects of emotional intelligence compared to the concept of Sedulur Papat Limo Pancer. The integration between the Sedulur Papat Limo Pancer with the emotional intelligence concept can be used to understand emotional intelligence comprehensively.
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemanfaatan Tanaman Herbal Indonesia sebagai Minuman Fungsional Peningkat Imunitas Tubuh Alfian Hendra Krisnawan; Fawandi Fuad Alkindi; Darmawan Muttaqin; Eko Setyo Wahyudi
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2021): Agustus
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v4i1.913

Abstract

Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dianggap sebagai salah satu penyebab yang meningkatkan jumlah kasus positif dan kematian selama pandemi COVID-19. Pada sisi lain, iformasi yang keliru mengenai COVID-19 seperti identifikasi gejala, penularan, dan upaya pencegahan virus menjadi permasalahan tersediri. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan warga RW 6, Kelurahan Kalirungkut, Kecamatan Rungkut, Surabaya terkait dengan identifikasi gejala dan upaya pencegahan COVID-19. Selain itu, sebagai upaya nyata melakukan pecegahan COVID-19, kegiatan pengabdian masyarakat ini melakukan pelatihan pemanfatan tanaman herbal Indonesia menjadi minuman fungsional untuk meningkatkan imunitas tubuh. Luaran yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah buku saku dan video pembuatan minuman fungsional, peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai COVID-19 serta peningkatan kemampuan membuat minuman fungsional. Harapannya, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat menjadi inisiasi pemanfaatn tanaman herbal Indonesia sebagai minuman fungsional yang berguna untuk meningkatkan imunitas tubuh selama masa pendemi COVID-19.
HUBUNGAN PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI DAN OTONOMI KERJA DENGAN KOMITMEN AFEKTIF Nabilah Ayu Shabrina; Artiawati Artiawati; Darmawan Muttaqin
Psyche: Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36269/psyche.v1i1.73

Abstract

Komitmen guru dapat menjadi salah satu hal utama untuk menentukan keberhasilan sekolah. Beberapa faktor yang berhubungan dengan komitmen afektif adalah persepsi dukungan organisasi dan otonomi kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara persepsi dukungan organisasi dan otonomi kerja dengan komitmen afektif. Subjek penelitian ini (N=59) adalah guru SD dan SMA di Yayasan Khadijah Surabaya, lama bekerja minimal satu tahun. Pengukuran terhadap komitmen afektif, persepsi dukungan organisasi, dan otonomi kerja masing-masing dilakukan dengan menggunakan Affective Commitment Scale, Survey of Perceived Organizational Support, danBreaugh’s Work Autonomy Scale. Pengujian hipotesis menggunakan uji statistic korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara persepsi dukungan organisasi dengan komitmen afektif (r = 0,489; p < 0,05), dan tidak adanya hubungan yang signifikan antara otonomi kerja dengan komitmen afektif (r = 0,115; p > 0,05). Saran untuk organisasi agar organisasi dapat lebih memerhatikan dukungan yang diberikan kepada karyawan. Saran untuk penelitian selanjutnya, disarankan memertimbangkan variabel-variabel lainnya yang berkaitan dengan komitmen afektif, antara lain penghargaan organisasi, keadilan prosedural, dukungan atasan.
Aspek-Aspek Psikologis dalam Budaya Carok Barokatul Asiyah; Darmawan Muttaqin
INSIGHT: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENELITIAN PSIKOLOGI Vol 17, No 2 (2021): Insight: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/ins.v17i2.2059

Abstract

The Madurese community has a very unique and distinctive culture, one of which is Carok. Carok culture is an attempt to kill men against men as a result of lowered self-esteem. So far, carok has always been synonymous with things that are considered rude and cruel. It also creates a bad stigma against the Madurese community. Non-Maduran people only look globally without understanding more deeply the meanings contained in carok. The purpose of this article is to provide a study of carok culture from a psychological perspective. This study is expected to help understand and explain the carok culture not only as a culture, but also the psychological side of the Madurese community in doing carok. In addition, it is also hoped that it can explain to readers and the wider community that what is contained in carok culture is not only something related to negative behaviour. Carok is one way to solve problems that are full of meaning. In carok there is high collective self-esteem, social prestige, and consensus. Referring to the results of research and literature, psychological approaches can be applied in developing knowledge, insight, and understanding about carok culture. The theoretical and practical implications can be discussed further.
Validitas struktur internal dari Conflict Resolution Styles Inventory versi Indonesia Darmawan Muttaqin; Kevin Dermawan; Gayatri Wibaningrum
JURNAL PSIKOLOGI Vol 18, No 1 (2022): Jurnal Psikologi
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jp.v18i1.16353

Abstract

Conflict Resolution Styles Inventory (CRSI) merupakan alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur empat gaya resolusi konflik yang meliputi positive problem solving, withdrawal, conflict engagement, dan compliance. Namun, belum ada informasi properti psikometri dari CRSI pada konteks non-Barat khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji struktur internal CRSI versi Indonesia. Pengambilan data dilakukan dengan metode convenience sampling yang melibatkan 287 individu yang berusia 12-21 tahun. Struktur faktor, konsistensi internal, dan invariansi pengukuran dari CRSI versi Indonesia diuji dengan menggunakan analisis eksploratori faktor, analisis konfirmatori faktor, reliabilitas komposit, dan analisis multi-kelompok. Hasil analisis eksploratori faktor menghasilkan pengelompokan empat faktor sesuai dengan empat gaya resolusi konflik dan hasil analisis konfirmatori faktor menunjukkan model empat faktor memiliki ketepatan model yang cukup memuaskan. CRSI versi Indonesia memiliki konsistensi yang memuaskan pada pengukuran gaya resolusi konflik positive problem solving dan withdrawal sedangkan pada gaya resolusi konflik conflict engagement, dan compliance memiliki konsistensi yang kurang memuaskan. Selain itu, CRSI versi Indonesia tidak memiliki invariansi pengukuran ketika dibandingkan antara resolusi konflik dengan ayah, ibu, dan teman. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa CRSI versi Indonesia dapat digunakan untuk mengukur empat gaya resolusi konflik pada sampel Indonesia. Namun, CRSI versi Indonesia tidak dapat digunakan membedakan resolusi konflik remaja ketika menghadapi konflik dengan ayah, ibu, dan teman.
The Role of Cultural Orientation in Adolescent Identity Formation: Self-Construal as a Mediator. Muttaqin, Darmawan
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 24, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cultural context has become one of the key factors in identity formation. Differences in cultural orientation cause differences in self-construal which influence identity formation. This research examined the role of self-construal as a mediator of the role cultural orientation in identity formation. This study recruited 569 participants aged 18-21 years old. The Utrecht-Management of Identity Commitments Scale, Culture Orientation Scale, and Self-Construal Scale were used to measure identity formation, cultural orientation, and self-construal. The results indicated that interdependent self-construal could mediate the role cultural orientation in identity formation and that significant others are important in identity formation.
PROFIL STATUS IDENTITAS REMAJA: ANALISIS KLUSTER BERDASARKAN TIGA DIMENSI IDENTITAS Darmawan Muttaqin
Journal of Psychological Science and Profession Vol 6, No 2 (2022): Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal of Psychological Science and Profess
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.384 KB) | DOI: 10.24198/jpsp.v6i2.37866

Abstract

Konsep pembentukan identitas telah berkembang pesat dan dapat dijelaskan dengan berbagai cara, seperti model tiga dimensi identitas yang lebih menekankan pada dinamika proses pembentukan identitas. Selain itu, model tiga dimensi identitas juga dapat digunakan untuk mengklasifikasikan lima status identitas yang meliputi achievement, early closure, moratorium, searching moratorium, dan diffusion. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil status identitas remaja di Surabaya. Penelitian ini akan memaparkan profil lima status identitas berdasarkan tinggi dan rendahnya komitmen, eksplorasi mendalam, dan peninjauan kembali komitmen. Penelitian ini melibatkan 1468 remaja di Surabaya yang berusia 12-21 tahun (M =16.802, SD = 2.484). Pengambilan data dilakukan dengan metode convenience sampling dan menggunakan Utrecht-Management of Identity Commitments Scale versi Indonesia. Analisis data dilakukan dengan menggunakan K-Means Cluster untuk mengklasifikasikan lima status identitas berdasarkan skor komitmen, eksplorasi mendalam, dan peninjauan kembali komitmen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja berada pada status moratorium. Remaja dengan status moratorium cenderung untuk mengubah komitmen yang telah dimiliki sebelumnya dan kurang mencari berbagai informasi mengenai identitasnya. Oleh karena itu, temuan ini mengindikasikan bahwa sebagian besar remaja di Surabaya masih belum mencapai status identitas yang optimal. Selain itu, penelitian ini juga menemukan perbedaan status identitas berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia remaja. Secara umum, temuan penelitian ini perlu menjadi perhatian untuk orang lain yang signifikan bagi remaja seperti orang tua dan teman dalam menyediakan dukungan yang diperlukan remaja selama proses pembentukan identitas.
Pembentukan Identitas Remaja di Yogyakarta Darmawan Muttaqin; Endang Ekowarni
Jurnal Psikologi Vol 43, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.455 KB) | DOI: 10.22146/jpsi.12338

Abstract

Konteks telah diidentifikasi sebagai faktor yang penting dari pembentukan identitas remaja. Penelitian ini bertujuan untuk memahami komponen pembentukan identitas remaja pada konteks Indonesia khususnya di Yogyakarta, terutama terkait perbedaan gender dan kelompok usia serta keterkaitan antar komponen pembentukan identitas. Partisipan penelitian adalah 450 (225 laki-laki dan 225 perempuan) remaja Indonesia berusia 12-21 tahun yang terdiri dari remaja awal, tengah, dan akhir. Alat ukur Identity Style Inventory, Utrecht-Management of Identity Commitments Scale, dan Ego Identity Process Questionnaire digunakan untuk mengukur gaya identitas (informatif, normatif, dan menunda-menghindar), dimensi identitas (komitmen, eksplorasi mendalam, dan peninjauan kembali komitmen), dan status identitas (diffusion, foreclosure, moratorium, dan achievement). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan gaya, dimensi, dan status identitas ditinjau dari gender dan kelompok usia. Keterkaitan antara gaya, dimensi, dan status identitas remaja juga ditemukan pada konteks Indonesia.
Validitas Utrecht-Management Of Identity Commitments Scale (U-MICS) Versi Indonesia: Struktur Faktor, Invariansi Pengukuran Gender, dan Usia Darmawan Muttaqin
Jurnal Psikologi Vol 44, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.499 KB) | DOI: 10.22146/jpsi.27578

Abstract

The purpose of this study was to examine the psychometric properties of the Indonesian version of the U-MICS, a measure three identity dimensions. Participants were 910 adolescents (12-21 years old). The Confirmatory Factor Analyses and Multi-Group Analyses were used to examine the factor structure, gender, and age measurement invariance of the Indonesian version of the U-MICS. We further tested the gender and age differences using Multivariate Analysis of Variance. The results indicated that the factor structure of Indonesia version of the U-MICS with a solution three factors was very fit with data and there was measurement invariance across gender and age groups. Gender and age differences in identity dimensions were also found. The results suggest that the Indonesian version of the U-MICS was a measurement tool that has the consistency of structure factors when used to measure the identity dimensions in Indonesian adolescents.Abstrak : Tujuan dari penelitian ini untuk menguji properti psikometris dari U-MICS versi Indonesia yang mengukur tiga dimensi identitas. Partisipan yang terlibat sebanyak 910 remaja (12-21 tahun). Analisis konfirmatori faktor dan analisis multi-kelompok digunakan untuk menguji struktur faktor, invariansi pengukuran gender, dan usia dari U-MICS versi Indonesia. Penulis menguji perbedaan gender dan usia dengan menggunakan analisis varians multivariat. Hasil analisis mengindikasikan bahwa struktur faktor dari U-MICS versi Indonesia dengan solusi tiga faktor sesuai dengan data dan terdapat invariansi pengukuran antar kelompok gender dan usia. Perbedaan gender dan usia pada dimensi identitas juga ditemukan. Hasil menunjukkan bahwa U-MICS versi Indonesia merupakan alat ukur yang memiliki konsistensi struktur faktor ketika digunakan untuk mengukur dimensi identitas pada remaja Indonesia.