Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Midwifery Journal

Evaluasi Program Penanggulangan TB Paru Karbito, Karbito; Purwaningsih, Dewi; Aliyanto, Warjidin; Muslim, Azhari; Fikri, Ahmad; Murwanto, Bambang
MIDWIFERY JOURNAL Vol 4, No 2 (2024): Volume 4, Nomor 2 Juni 2024
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v4i2.15606

Abstract

Background : One of the diseases that is still a problem in Indonesia that is Tuberculosis or TB, especially pulmonary TB, because it is the second highest disease in the world. Therefore, the TB control program in Indonesia is directed at accelerating the elimination of TB by 2030, with a strategy to increase the case detection rate to at least 90%, the treatment success rate to at least 90% and the prevention rate to at least 80%. Meanwhile, the TB incidence rate in Indonesia in 2022 will be 354 per 100,000 population. The problem of controlling pulmonary TB in Bandar Lampung City in 2022 has not yet reached the performance target, namely only reaching 54.3% from 74%.Purpose : This research aims are to find out how the Pulmonary TB management program is at the Sukamaju Public Health Center, Bandar Lampung City.Methods : The design of this research is qualitative, with the method used being interviews, namely Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interviews, with triangulation of methods, data and sources, such as observation, etc.Result : The results of the research show that the Pulmonary TB management program at the Sukamaju Community Health Center, Bandar Lampung City has been running well with case detection and cure rates reaching 96.0%, while the obstacles experienced are only few and do not hinder the implementation of the program, namely the logistics of the mantoux test materials and cartridge.Conclution : The implementation of the pulmonary TB control programs at the Sukamaju Community Health Center, Bandar Lampung City is going well, where the TB program indicators have reached the target. The success of this program is also supported by TB cadres whose performance is quite successful. Keywords: TB, program, management Latar Belakang : Salah satu penyakit yang amsih menjadi masalah di Indonesia adalah Tublerculosis atau TB khususnya TB Paru, karena menjadi penyakit tertinggi kedua didunia. Oleh sebab itu program penanggulangan TB di Indonesia diarahkan untuk mempercepat eliminasi TB Tahun 2030, dengan strategi peningkatan angka penemuan  kasus mencapai minimal 90%, dan  angka keberhasilan pengobatan (success rate) minimal 90% serta angka pencegahan mencapai minimal 80%. Sementara insiden rate TBC di Indonesia tahun 2022 sebesar 354 per 100.000 penduduk. Permasalahan penanggulangan TB Paru di Kota Bandar Lampung pada tahun 2022 tersebut belum mencapai target kinerja yaitu baru mencapai 54,3% dari 74%.Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengelolaan program TB Paru di Puskesmas Sukamaju, Kota Bandar LampungMetode : Desain penelitian ini bersifat kualitatif, dengan metode yang digunakan wawancara yaitu Diskusi Kelompok Terarah/DKT  (Focus Group Discussion/FGD) dan wawancara mendalam (Indepth Interview), dengan trianggulasi metode, data maupun sumber, seperti observasi, dsb.Hasil : Hasil penelitian bahwa pengelolaan program TB Paru di Puskesmas Sukamaju Kota Bandar Lampung telah berjalan dengan baik dengan angka pencapaian penemuan kasus dan penyembuhan mencapai 96,0%, sedangkan hambatan yang dialami hanya sedikit dan tidak serta tidak menggambat pelaksanaan program, yaitu terhambatnya logistic bahan tes mantuk dan catrige.Kesrmpulan : Simpulan penelitian ini Pelaksanaan program penanggulangan TB paru di Puskesmas Sukamaju, Kota Bandar Lampung berjalan dengan baik, dimana indikator-inkator program TB tersebut telah mencapai target. Keberhasilan program tersebut juga didukung oleh para kader TB yang cukup berhasil kinerjanya.
Analisis Risiko Kesehatan Lingkugan (ARKL) Pajanan Mangan (Mn) Pada Air Sumur Gali Masyarakat Sebagai Sumber Air Minum Izza, Nurul; Karbito, Karbito; Fikri, Ahmad; Masra, Ferizal
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i2.21079

Abstract

Latar Belakang: Kendala yang paling sering ditemui dalam menggunakan air tanah adalah masalah kandungan Zat Mangan (Mn) yang terdapat dalam air baku. Mangan dalam air biasanya terlarut dalam bentuk senyawa atau garam bikarbonat, garam sulfat, hidroksida dan juga dalam bentuk koloid atau dalam keadaan bergabung dengan senyawa organik. Adanya kandungan Mangan (Mn) dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning-coklat setelah beberapa saat kontak dengan udara. Disamping kandungan Mangan (Mn) dapat mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau yang kurang enak serta menyebabkan warna kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Mangan (Mn) dan melakukan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap pajanan Mangan (Mn) pada air sumur gali sebagai air minum masyarakat di Desa Sudimoro, Kecamatan Semaka, KabupatenTanggamus. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif, yaitu melakukan pemeriksaan dan analisis risiko kesehatan lingkungan pada air sumur gali yang mengandung kadar Mangan (Mn) sebagai sumber air minum yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.di Desa Sudimoro, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Hasil: Hasil penelitian ini diketahui bahwa kadar Mangan (Mn) pada 5 sampel air sumur gali di Desa Sudimoro Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus adalah sumur I (0,2 mg/l), sumur II (0,5 mg/l), sumur III (0,5 mg/l), sumur IV (0,6 mg/l) dan sumur V (0,2 mg/l). Hasil Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan untuk pajanan Mangan (Mn) di air sumur gali yang digunakan masyarakat pada orang dewasa maupun anak–anak dengan konsentrasi tersebut masuk dalam kategori Aman / Berisiko Rendah karena memperoleh hasil RQ < 1. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil Tingkat risiko pajanan Mangan (Mn) di air sumur gali pada masyarakat dewasa maupun anak – anak dengan konsentrasi tersebut, Aman / Berisiko Rendah karena memperoleh hasil RQ < 1. Kata Kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Sumur Gali, Mangan (Mn), Sudimoro    
Pengelolaan Limbah Medis Padat Salsabila, Dinda Dwi; Karbito, Karbito
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i2.21096

Abstract

Latar Belakang: Limbah medis padat dari fasilitas pelayanan kesehatan memiliki potensi besar untuk mencemari lingkungan dan menimbulkan risiko kesehatan baik bagi tenaga medis, pasien, pengunjung maupun masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara baik dan benar sesuai dengan peraturan berlaku, mulai dari tahap pengurangan, pemilahan, pewadahan, pengangkutan hingga pengolahan akhir. Rumah Sakit Azizah Kota Metro, Provinsi Lampung merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang menghasilkan limbah medis padat yang cukup besar sehingga berpontensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Azizah Kota Metro, Provinsi Lampung.Metode: Penelitian ini merupakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode observasi dan wawancara. Data atau informasi diperoleh dari observasi langsung di lapangan dan wawancara dengan petugas pengelola limbah medis padat. Informan penelitian ini adalah 1 (satu) petugas sanitarian dan 2 (dua) petugas cleaning service. Data dan informasi dianalisis secara deskriptif kemudian dibandingkan dengan ketentuan dalam peraturan yang berlaku yaitu Permenkes No. 2 Tahun 2023. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Azizah Kota Metro, Provinsi Lampung telah dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 pada beberapa tahapan, seperti pengurangan dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), dan pewadahan yang menggunakan wadah khusus dan berlabel sesuai standar. Namun, ditemukan beberapa kekurangan, seperti masih ditemukan limbah medis dan non medis tercampur dalam satu wadah, masih digunakannya jalur umum untuk pengangkutan limbah medis padat, serta tidak semua petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap saat bekerja. Kesimpulan: Pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Azizah Metro pada tahap pengurangan, pewadahan, dan pengolahan akhir sudah sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, sedangkan pada tahap pemilahan, pengangkutan dan penyimpanan sementara masih belum sesuai dengan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Kata Kunci: Pengelolaan Limbah Medis, Rumah Sakit Azizah, Alat Pelindung Diri,      
Personal Hygiene dan Sanitasi Lingkungan pada Penderita Scabies Padilah, Sri; Karbito, Karbito; Santoso, Imam
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 No 4 Desember 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i4.24158

Abstract

Background : Scabies is a contagious skin disease caused by infestation of the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. Overcrowded living conditions and poor personal hygiene are the main risk factors contributing to its transmission. This study was conducted to assess the condition of personal hygiene and environmental sanitation at Madarijul Ulum Islamic Boarding School, located in Teluk Betung Barat District, Bandar Lampung City, and to describe their contribution to the potential spread of scabies in the area.Metode : This research employed a descriptive method with a quantitative approach. The sample consisted of 255 students selected using a total sampling technique. Data were collected through direct observation and questionnaire completion using a validated checklist. The data were analyzed descriptively in the form of percentages.Results : The study results showed that the aspects of personal hygiene with the lowest compliance rates were clothing cleanliness (53.73% non-compliant), followed by skin hygiene (52.94%) and towel cleanliness (55.69%). On the other hand, hand and nail hygiene showed a high compliance rate of 94.37%. In terms of environmental sanitation, clean water usage met the required standards (100%), but housing density did not meet the standard at all (100% non-compliant), and temperature and humidity conditions only met the standard in 4.76% of the rooms.Conclusion : It is concluded that the substandard personal hygiene and environmental sanitation conditions in the boarding school significantly contribute to the increased risk of scabies transmission. Infrastructure improvements and continuous education for students are necessary to mitigate the spread of this disease.Keywords: Personal Hygiene, Environmental Sanitation, Scabies, Islamic Boarding SchoolABSTRAKLatar Belakang : Scabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Lingkungan hunian yang padat serta kebersihan pribadi yang buruk menjadi faktor risiko utama penyebarannya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi personal hygiene dan sanitasi lingkungan di Pondok Pesantren Madarijul Ulum, Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung, serta menggambarkan kontribusinya terhadap potensi penyebaran scabies di lingkungan tersebut.Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 255 santri yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui observasi langsung dan pengisian kuesioner dengan lembar checklist yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk persentase.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek personal hygiene dengan tingkat kepatuhan paling rendah adalah kebersihan pakaian (53,73% tidak memenuhi syarat), diikuti kebersihan kulit (52,94%) dan kebersihan handuk (55,69%). Sementara itu, kebersihan tangan dan kuku menunjukkan tingkat kepatuhan tinggi sebesar 94,37%. Dari aspek sanitasi lingkungan, penggunaan air bersih memenuhi syarat 100%, namun kepadatan hunian tidak memenuhi syarat secara keseluruhan (100%) dan suhu serta kelembaban ruangan hanya memenuhi syarat sebesar 4,76%.Kesimpulan : Disimpulkan bahwa kondisi personal hygiene dan sanitasi lingkungan yang belum memenuhi syarat di pondok pesantren berperan signifikan dalam meningkatkan risiko penyebaran scabies. Diperlukan upaya perbaikan infrastruktur dan edukasi berkelanjutan kepada santri.Kata kunci : Personal Hygiene, Sanitasi Lingkungan, Scabies, Pondok Pesantren