Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah Dan Perilaku Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Susiani Hariningsih; Aries Prasetyo; Sujangi
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2023): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v21i2.71

Abstract

ISPA adalah infeksi yang terjadi di saluran pernapasan bawah ataupun atas dan bisa berdampak pada berbagai penyakit, baik infeksi ringan sampai penyakit berat yang parah, tergantung dari patogen, faktor inang, dan faktor lingkungan. Melalui data yang dihimpun terdapat 4 (empat) juta orang meninggal akibat dari infeksi saluran pernapasan akut, kemudian ketika di perinci didapat infeksi saluran pernapasan ataslah penyebab utamanya dengan menyumbang data 98%.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan fisik rumah dan perilaku terhadap kejadian  penyakit ISPA di Wilayah Puskesmas Pangkur. Penelitian di sini menggunakan penelitian exposed facto dengan pendekatan crosssectional. Populasi dalam penelitian ini merupakan semua kepala keluarga yang ada pada Wilayah Kerja Puskesmas Pangkur. Metode penentuan titik sampling dengan fixed disease sampling adalah metode pengambilan sampel berdasarkan status penyakit ISPA data Bulan Juni, Juli, Agustus yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Pangkur. Hasil penelitian tentang kejadian penyakit ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas pangkur menunjukkan bahwa penghitungan resiko prevalensi komponen fisik rumah tehadap kejadian penyakit ISPA sebesar 8,636 dengan nilai r sebesar 0,020. Penghitungan resiko prevalensi perilaku penghuni rumah terhadap kejadian penyakit ISPA sebesar 2,017 dengan nilai r sebesar 0,124. Komponen rumah dan perilaku memiliki besar pengaruh 55,3% terhadap kejadian ISPA. Penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara lingkungan fisik rumah dan perilaku penghuni rumah terhadap kejadian penyakit ISPA. Diharapkan bagi penderita ISPA ada upaya perbaikan lingkungan fisik rumah dan menerapkan perilaku sehat.
KNOWLEDGE AND ACTIONS OF LEPROSY PATIENTS ON THE INCIDENCE OF LEPROSY IN BRENGKOK VILLAGE, BRONDONG PUBLIC HEALTH CARE OF LAMONGAN REGENCY, INDONESIA Khunafa', Alifatun; Prasetyo, Aries; Wiyono, Trimawan Heru; Asyary, Al
Public Health of Indonesia Vol. 5 No. 4 (2019): October - December
Publisher : YCAB Publisher & IAKMI SULTRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36685/phi.v5i4.301

Abstract

Background: Leprosy is an infectious disease that can cause physical disability, as well as social, economic, and cultural problems. The prevalence of leprosy in Indonesia is still high.Objective: The purpose of this study was to determine patients' behavioral factors that influence the incidence of leprosy.Methods: An ex-post-facto analysis with a case-control approach was used. The population of the study was the entire Brengkok Village community. The sampling technique is a fixed-disease sampling method, in which the all cases (34 persons) are clinically proven leprosy sufferers and the controls (34 persons) are the comparable neighbors of the sufferers. Data analysis was done using a chi-square test, and the risk of disease was measured by the odd ratio (OR).Results: Testing for differences between the case and the control group resulted in p = 0.000 for knowledge about the cause of leprosy, p = 0.005 for detecting an early sign of leprosy, p = 0.000 for knowledge about the transmission of leprosy, and p = 0.000 for affecting the incidence of leprosy. The results showed that there was a relationship between the level of knowledge and the incidence of leprosy (p = 0.002), while the OR value obtained is 7.50 (CI: 2,168 - 25,946). Furthermore, testing for differences between the case and the control group yielded  p = 1.000 for the use of different clothes; p = 0.000 for the use of different bathing tools; p = 0.000 for the use of different towels, which means there is a connection between the use of towels and the incidence of leprosy; and p = 0.003 for the use of different footwear. In addition, there is a relationship between the actions of people and the incidence of leprosy (p = 0.000), while the OR value obtained was 59,933 (CI: 13.131 - 273,557).Conclusion: The knowledge and actions of people affected by leprosy are predisposing factors associated with the incidence of leprosy and are risk factors for the disease. Knowledge about the transmission of leprosy and the activity of using different towels are the most important factors influencing the incidence of leprosy. 
Empowerment Disaster-Resilient Village Forums for Health Crisis Preparedness: A Participatory Action Research Approach Sunarto, Sunarto; Nugroho, Heru Santoso Wahito; Suparji, Suparji; Prasetyo, Aries; Sulikah, Sulikah; Rahayu, Teta Puji
Health Dynamics Vol 1, No 11 (2024): November 2024
Publisher : Knowledge Dynamics

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/hd11103

Abstract

This study aims to enhance the Disaster Resilient Village (Destana) forum's preparedness for disaster-related health crises. The key challenges identified are low community response to early warning systems and slow mobilization of health resources, both contributing to high victim numbers and exacerbating health crises. The study focuses on creating an accessible early warning system and accelerating health resource mobilization, prioritizing these elements based on an analysis of disaster preparedness parameters. Using Action Research with a Participatory Action Research (PAR) design, the research was conducted in Magetan Regency, East Java, involving 150 Destana forum administrators. The study explores the development of early warning procedures, health contingency plans, emergency response structures, and simulation plans. The findings reveal that the Destana forum successfully developed tailored health contingency plans for each village, including an inclusive early warning system Standard Operating Procedure (SOP) for vulnerable groups. Additionally, an integrated health command structure was formed, enhancing emergency response coordination. Emergency response simulations with 90 participants demonstrated improved readiness and community engagement in handling health crises. The study highlights the importance of a participatory, sustainable approach to building resilience, showing that active community involvement fosters collective responsibility for managing health crises during disasters.
Faktor Risiko Penyakit Tuberkulosis Paru (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukomoro Kecamatan Sukomoro Kabupaten Magetan Tahun 2022) Wahyu Annas Prima; Vincentius Supriyono; Sujangi Sujangi; Aries Prasetyo
Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES Vol 14, No 3 (2023): Juli - September 2023
Publisher : FORIKES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/sf.v14i3.3643

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh basil atau Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung yang disebabkan oleh basil atau kuman Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020 estimasi insiden di Indonesia sebesar 845.000 kasus atau 312 per 100.000 penduduk. Berlandaskan data penyakit tuberkulosis paru dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan bahwa Kecamatan Sukomoro memiliki jumlah kasus TB Paru yang mengalami kenaikan dengan melihat data 1 tahun 6 bulan terakhir. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui hubungan faktor risiko penyakit tuberkulosis paru di lingkungan kerja Puskesmas Sukomoro Kabupaten Magetan tahun 2022. Penelitian ini berjenis analitik observasional expost facto dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini memakai metode fixed disease sampling, yaitu kriteria kasus ialah penderita tuberkulosis paru di lingkungan kerja Puskesmas Sukomoro. Total sampel pada penelitian ini yaitu 196 partisipan yang terdiri dari 98 kasus dan 98 kontrol. Hasil uji Chi-Square menunjukkan faktor risiko penyakit TB Paru yaitu kondisi cahaya matahari (p = 0,010 , OR = 2,469 , r = 0,195 , R2 = 3,8% ), kepadatan hunian  (p = 0,038 , OR = 2,213 , r = 0,160 , R2 = 2,6%), ventilasi rumah (p = 0,019 , OR = 2,371 , r = 0,179 , R2 = 3,2%), tingkat Pendidikan (p = 0,005 , r = 0,171 , R2 = 2,9%), dan peran tenaga kesehatan (p = 0,886 , OR = 0,921 , r = 0,072 , R2 = 0,5%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah hubungan faktor risiko penyakit TB Paru yaitu kondisi cahaya matahari (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 3,8%), kepadatan hunian (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 2,6%), ventilasi rumah (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 3,2%), tingkat pendidikan (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 2,9%), dan peran tenaga kesehatan (kuat hubungan sangat lemah, besar pengaruh 0,5%), serta pemodelan yang paling tepat yaitu model tiga. Saran bagi penderita tuberkulosis paru ialah melakukan pola hidup bersih dan sehat agar mengurangi angka kejadian penyakit tuberkulosis paru.Kata kunci: penyakit tuberkulosis paru
Pengaruh Lingkungan Fisik Rumah Dan Perilaku Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Susiani Hariningsih; Aries Prasetyo; Sujangi
Gema Lingkungan Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2023): Gema Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/gelinkes.v21i2.71

Abstract

ISPA adalah infeksi yang terjadi di saluran pernapasan bawah ataupun atas dan bisa berdampak pada berbagai penyakit, baik infeksi ringan sampai penyakit berat yang parah, tergantung dari patogen, faktor inang, dan faktor lingkungan. Melalui data yang dihimpun terdapat 4 (empat) juta orang meninggal akibat dari infeksi saluran pernapasan akut, kemudian ketika di perinci didapat infeksi saluran pernapasan ataslah penyebab utamanya dengan menyumbang data 98%.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lingkungan fisik rumah dan perilaku terhadap kejadian  penyakit ISPA di Wilayah Puskesmas Pangkur. Penelitian di sini menggunakan penelitian exposed facto dengan pendekatan crosssectional. Populasi dalam penelitian ini merupakan semua kepala keluarga yang ada pada Wilayah Kerja Puskesmas Pangkur. Metode penentuan titik sampling dengan fixed disease sampling adalah metode pengambilan sampel berdasarkan status penyakit ISPA data Bulan Juni, Juli, Agustus yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Pangkur. Hasil penelitian tentang kejadian penyakit ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas pangkur menunjukkan bahwa penghitungan resiko prevalensi komponen fisik rumah tehadap kejadian penyakit ISPA sebesar 8,636 dengan nilai r sebesar 0,020. Penghitungan resiko prevalensi perilaku penghuni rumah terhadap kejadian penyakit ISPA sebesar 2,017 dengan nilai r sebesar 0,124. Komponen rumah dan perilaku memiliki besar pengaruh 55,3% terhadap kejadian ISPA. Penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara lingkungan fisik rumah dan perilaku penghuni rumah terhadap kejadian penyakit ISPA. Diharapkan bagi penderita ISPA ada upaya perbaikan lingkungan fisik rumah dan menerapkan perilaku sehat.
Penguatan Kapasitas Masyarakat Desa Jajar, Kabupaten Magetan, Jawa Timur dalam Menghadapi Krisis Kesehatan Akibat Bencana melalui Pendekatan Participatory Action Research Sunarto, Sunarto; Suparji, Suparji; Nugroho, Heru Santoso Wahito; Rahayu, Teta Puji; Usnawati, Nana; Pertiwi, Nabila Putri; Prasetyo, Aries
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 5 No 5 (2025): JAMSI - September 2025
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.2052

Abstract

Desa Jajar di Kabupaten Magetan memiliki potensi bencana banjir yang tinggi, namun kapasitas masyarakat dalam merespons krisis kesehatan akibat bencana masih terbatas. Kondisi ini meningkatkan kerentanan, terutama bagi kelompok rentan di tingkat komunitas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan krisis kesehatan berbasis komunitas. Sebanyak 40 peserta dari berbagai unsur masyarakat dan lembaga desa, termasuk PKK, forum desa tangguh bencana (Destana), karang taruna, perlindungan pasyarakat (Linmas), tenaga kesehatan, TNI/Polri, dan perangkat desa mengikuti pelatihan selama enam hari (40 JPL). Materi meliputi analisis risiko krisis kesehatan, penyusunan peta risiko, struktur komando tanggap darurat, serta topik terkait kesehatan dasar, gizi, kesehatan reproduksi, pengendalian penyakit, dan penyehatan lingkungan di pengungsian. Pelatihan menghasilkan peningkatan signifikan dalam pemahaman dan keterampilan peserta, khususnya dalam penyusunan lima peta: peta ancaman, kerentanan, kapasitas, risiko krisis kesehatan, dan peta respon. Pemahaman peserta terhadap materi dasar penanggulangan krisis kesehatan juga meningkat. Dari delapan unsur peserta, empat unsur (Forum Destana, TNI/Polri, tenaga kesehatan, dan kader kesehatan) mencapai nilai post-test melebihi standar, sedangkan kelompok Linmas dan PKK masih di bawah standar. Partisipasi yang tinggi menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pembelajaran. Ketangguhan Desa Jajar dalam menghadapi krisis kesehatan akibat bencana meningkat, dengan kategori akhir “Tangguh Utama”. Pendekatan PAR terbukti efektif dalam membangun kolaborasi dan memperkuat sistem kesiapsiagaan berbasis komunitas
Penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat Melalui Kegiatan CTPS Prihastini, Lilis; Yulianto, Budi; Prasetyo, Aries; Sujangi
APMa Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2: Juli 2024
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47575/apma.v4i2.648

Abstract

Perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah adalah praktik kebiasaan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari baik selama siswa berada di kelas maupun di luar kelas. PHBS di sekolah perlu mendapatkan perhatian terutama anak usia tingkat sekolah dasar, karena masa tersebut anak-anak rentan terhadap penyakit infeksi dan masih tingginya in absentia siswa dikarenakan penyakit berbasis lingkungan. Tujuan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai PHBS. Metode yang digunakan pre-test dilanjutkan ceramah dan tanya jawab menggunakan power point mengenai pencegahan Stuntung, selanjutnya diakhiri dengan post-test. Hasil dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini responden yang memperoleh skor baik padapre-test sebesar 71,8% meningkat menjadi 96,8% responden pada hasil skor post-test. Sehingga didapatkan simpulan terdapat peningkatan skor responden antara pre-test dan post-test. Perlu adanya promosi kesehatan yang lebih intensif tentang CTPS sehingga adanya perubahan perilaku pada siswa.
Sosialisasi GERCEP Stunting (Gerak Cegah dan Penanganan Stunting) Prasetyo, Aries; Indraswati, Denok; Handoyo; Sujangi
APMa Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2: Juli 2024
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47575/apma.v4i2.649

Abstract

Stunting dan masalah kekurangan gizi lainnya masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang diperhatikan secara global. Sebanyak 149,2 juta balita di dunia diperkirakan mengalami stunting. Masih adanya balita yang stunting di Desa Mitra maka perlu dilakukannya peningkatan pengetahuan tentang stunting sebagai pencegahan.  Tujuan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang Stunting. Metode yang digunakan pre-test dilanjutkan ceramah dan tanya jawab menggunakan power point mengenai pencegahan Stuntung, selanjutnya diakhiri dengan post-test. Hasil dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini responden yang memperoleh skor baik pada pre-test sebesar 73,7% meningkat menjadi 97,4% responden pada hasil skor post-test. Sehingga didapatkan simpulan terdapat peningkatan skor responden antara pre-test dan post-test dan warga mitra terutama ibu balita  untuk menerapkan pola asuh makan balita yang benar.
Differences in Active Ingredients of White Chicory Leaves (Brassica pekinensis L) as a Bio-Larvicidal Against Aedes aegypti larvae Marlik, Marlik; Okta, Dhea Stya; Ngadino, Ngadino; Nurmayanti, Demes; Sulistio, Irwan; Prasetyo, Aries
Kesmas Vol. 19, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Continuous chemical dengue control can cause vector resistance and environmental pollution. Developing natural larvicides (bio-larvicides) from plant toxins like white chicory, which can poison Aedes aegypti larvae, is necessary for a sustainable alternative. This study aimed to analyze differences in active ingredients in white chicory leaves (Brassica pekinensis L) as bio-larvicide against Aedes aegypti larvae. This study was a pure experiment using a post-test-only control design using 1,225 Aedes aegypti instar III larvae with extracts of alkaloid active ingredients, flavonoids, and concentrations of 0%, 24%, 34%, and 40% with 3 times replication. Data were analyzed using a probit test, one-way ANOVA, and Post Hoc LSD. The results showed the potential of active ingredients in white chicory leaves against the death of Aedes aegypti larvae (p-value = 0.000). The average percentage of larval mortality concentration was 24%, 34%, 40%, in alkaloids was 41%, 60%, 66%, and in flavonoids was 45%, 64%, 68%. The active ingredient of white chicory leaves can kill Aedes aegypti larvae with LC50 in 29% alkaloids and 27% flavonoids.