Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Konsep Pengelolaan Waktu Menurut Al-Qur’an dan Relevansinya dalam Kehidupan Modern Nur Azizatul Haqiah; Aufa Fatchia Rahma; Rofiatus Sa’adah; Winda Islamitha Nurhamidah; Lutfiah Holifa Balkis; Dwi Ratnasari
Action Research Journal Indonesia (ARJI) Vol. 7 No. 4 (2025): Action Research Journal Indonesia (ARJI)
Publisher : PT. Pusmedia Group Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61227/arji.v7i4.642

Abstract

Penelitian ini menyelidiki gagasan manajemen waktu dari sudut pandang Al-Qur’an, dengan penekanan pada interpretasi Surat Al-‘Asr serta ayat-ayat yang terkait, dan kaitannya dengan kehidupan masa kini. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui kajian literatur, penelitian ini memeriksa sumber utama seperti ayat-ayat Al-Qur’an dan data tambahan dari karya akademik. Teknik analisis diterapkan melalui penyederhanaan data, pengelompokan, penjelasan, serta verifikasi untuk menjamin ketepatan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa waktu dianggap sebagai titipan ilahi yang harus dimanfaatkan secara maksimal untuk beribadah, berbuat kebaikan, dan meningkatkan produktivitas, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-‘Asr ayat 1-3 dan QS. Al-Furqan ayat 62. Prinsip waktu Islam meliputi amanah dan tanggung jawab (penggunaan waktu untuk kegiatan bermanfaat dan pertanggungjawaban di akhirat), keseimbangan dunia-manajemen akhirat (tawazun untuk menghindari materialisme), serta efisiensi dan produktivitas (melalui nilai itqan dan iḥsan). Dalam konteks modern, khususnya pendidikan Islam, konsep ini diterapkan melalui perencanaan, pengorganisasian, dan evaluasi kegiatan belajar untuk membentuk karakter siswa yang disiplin dan berintegritas moral. Kesimpulannya, pengelolaan waktu berdasarkan Al-Qur’an mendorong generasi Muslim mencapai kesuksesan dunia-akhirat, menjadikan setiap momen sebagai sarana ibadah dan kemaslahatan umat. Penelitian ini memberikan kontribusi konseptual untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dalam dinamika kehidupan kontemporer yang serba cepat.
KONTRIBUSI PEREMPUAN DALAM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM DI NUSANTARA: KAJIAN HISTORIS TERHADAP GERAKAN, TOKOH, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN Jutika Fatma; Adam Hadi; Dwi Ratnasari
Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 2 No 1 (2026): Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : PROGRAM STUDI PAI STIT TANGGAMUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan memiliki kontribusi yang signifikan dalam perkembangan pendidikan Islam di Nusantara, namun peran tersebut sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam historiografi pendidikan Islam yang cenderung berpusat pada tokoh laki-laki. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi perempuan dalam pengembangan pendidikan Islam di Nusantara melalui kajian historis terhadap gerakan perempuan, tokoh-tokoh pendidikan Islam perempuan, serta lembaga pendidikan yang mereka dirikan dan kembangkan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber primer dan sekunder berupa buku, artikel jurnal ilmiah, prosiding, dokumen sejarah, serta literatur yang relevan dengan tema penelitian. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis melalui proses pengumpulan, pengelompokan, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam pendidikan Islam di Nusantara berkembang melalui tiga aspek utama. Pertama, perempuan berperan dalam membangun gerakan pendidikan Islam yang mendorong peningkatan akses pendidikan bagi perempuan dan memperkuat partisipasi mereka dalam kehidupan sosial-keagamaan. Kedua, tokoh-tokoh perempuan seperti Siti Walidah, Rahmah El Yunusiyah, Nyai Khoiriyah Hasyim, dan Rasuna Said menjadi agen transformasi pendidikan melalui gagasan, aktivitas dakwah, serta pengembangan model pendidikan yang berorientasi pada pemberdayaan perempuan. Ketiga, perempuan berkontribusi dalam institusionalisasi pendidikan Islam melalui pendirian dan pengelolaan berbagai lembaga pendidikan, seperti Diniyah Puteri Padang Panjang, TK Aisyiyah Bustanul Athfal, sekolah-sekolah Aisyiyah, lembaga pendidikan Muslimat NU, pesantren putri, dan majelis taklim perempuan. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga aktor utama dalam pembentukan, pengembangan, dan transformasi pendidikan Islam di Nusantara. Oleh karena itu, kajian sejarah pendidikan Islam perlu memberikan ruang yang lebih proporsional terhadap kontribusi perempuan guna menghasilkan pemahaman yang lebih inklusif dan komprehensif.
Interdisciplinary Curriculum Development and Strengthening Moderate Islam as the Future Direction for Islamic Religious Higher Education Institutions (PTKI) in Indonesia Nafi Lutfi ‘Ulia Ristiana; Dwi Ratnasari
eL-HIKMAH: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam Vol. 20 No. 1 (2026): eL-HIKMAH: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/elhikmah.v20i1.14651

Abstract

The change of Islamic Religious Universities (PTKI) in Indonesia from State Islamic Religious Colleges (STAIN) and State Islamic Religious Institutes (IAIN) to State Islamic Universities (UIN) opens a new era for the development of science based on Islamic values. However, this institutional transformation has not been fully able to answer the challenges of globalization, digitalization, and increasing social and religious polarization. PTKI is required  not only to produce graduates who excel academically, but also to have an inclusive, critical, and moderate religious character. This article aims to analyze the future direction of PTKI through two strategic pillars, namely the development of an interdisciplinary curriculum and the strengthening of moderate Islam. This research uses a literature study approach by examining various relevant scientific sources. The results of the study show that the integration of religious science and general science is not only to reduce the scientific dichotomy, but to build a complementary scientific and religious perspective. The interdisciplinary curriculum paradigm allows students to examine religious and social issues through various scientific perspectives, thereby encouraging academic dialogue, intellectual tolerance, and strengthening critical thinking. Other findings reveal that the internalization of wasathiyah values (religious moderation) will be more effective if it is not only taught through courses, but also instilled through campus ecosystems, academic culture, and scientific practices. This study recommends that PTKI strengthen the relevance of curriculum, learning innovation, and moderate academic culture as a strategy for developing Islamic education that is superior, inclusive, and globally competitive.