Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Health Literacy dengan Self Care Management pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dewi, Salma Setya; Sriyati, Sriyati; Harun, Sigit
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v7i2.268

Abstract

  Diabetes Mellitus sering kali menyebabkan berbagai komplikasi penyakit lain, sehingga pengelolaannya memerlukan pengobatan yang teratur serta penerapan self-care management yang tepat. Oleh karena itu, penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut dan meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi kesehatan dengan self-care management pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RS PKU Muhammadiyah. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur literasi kesehatan dan self-care management. Hasil demografi menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan, dengan kelompok usia terbanyak berada pada rentang 56-60 tahun (33,3%). Selain itu, sebanyak 6 responden (60,0%) telah menderita diabetes melitus tipe 2 selama lima tahun. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,557 menunjukkan korelatif kuat yang berarti semakin mampu literasi kesehatan maka semakin baik manajemen perawatan diri. Maka dari itu dianjurkan kepada pasien diabetes melitus untuk meningkatkan literasi kesehatan dapat memberikan kontribusi pada perbaikan dalam manajemen diri.
Urgensi Pemberdayaan Orang Tua Melalui Seminar Parenting Dan Kebaktian Kebangunan Rohani Sebagai Upaya Pencegahan Pernikahan Usia Dini Suprihatin, Eny; Sriyati, Sriyati; Herda, Lusiana; Giawa, Kariani
DIDASKO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 5, No 2 (2025): Didasko: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen - Oktober 2025 (Still in Progress
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Kristen Diaspora Wamena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52879/didasko.v5i2.193

Abstract

The 2021 National Socioeconomic Survey (Susenas) found a high rate of early marriage in West Kalimantan. Field findings suggest that the high number of early marriages is due to: perceived age, dropping out, promiscuity, unproductive youth activities, and the relative ease of holding traditional and religious marriages. The people of Inggut Hamlet and its surrounding areas face various social challenges, including rising rates of early marriage, promiscuity, and educational concepts that are inadequate in shaping the character and preparedness of young people and parents for the future. The purpose of this study was to describe early marriage and its problems in Inggut Hamlet, as well as the urgency of holding parenting seminars as a preventative measure. The study used qualitative descriptive methods with a phenomenological approach. The results concluded: first, many young couples in Inggut marry without the necessary skills to care for, educate, and raise children. Second, empowering parents on childcare through a five-day Parenting Seminar and KKR (Spiritual Revival Service) yielded significant results. Nearly all parents and children (teenagers and youth) representing approximately 66 families (150 people) enthusiastically attended the event. Third, seminar participants decided to send their children to college and prohibit early marriage. Fourth, parents desire change in Inggut Hamlet. This means that empowering parents through parenting seminars and KKR is urgently needed to reform the paradigm of marriage and childrearing. It should no longer be based on traditional culture and customs, but rather on the physical, psychological, and spiritual maturity of the children.AbstrakHasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2021, kasus pernikahan usia dini di Kalimantan Barat tinggi. Temuan di lapangan penyebab tingginya pernikahan usia adalah: dianggap telah cukup umur, drop out, pergaulan bebas, aktivitas remaja yang tidak produktif, serta relatif mudahnya menyelenggarakan perkawinan adat maupun secara agama. Masyarakat Dusun Inggut dan sekitarnya menghadapi berbagai tantangan sosial. Antara lain: meningkatnya angka pernikahan usia dini, pergaulan bebas, serta konsep pendidikan yang kurang tepat dalam membentuk karakter dan kesiapan anak muda serta orang tua menghadapi masa depan. Tujuan penelitian menggambarkan pernikahan usia dini dan permasalahannya di dusun Inggut serta urgensi seminar parenting sebagai upaya pencegahan pernikahan usia dini. Penelitian menggunakan metode Kualitatif Deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Berdasar hasil penelitian disimpulkan: pertama, banyak pasangan usia muda di Inggut menikah tanpa bekal ketrampilan merawat, mendidik, dan mengasuh anak. Kedua, pemberdayaan orang tua tentang pengasuhan anak yang dilakukan dalam bentuk Seminar Parenting dan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) selama lima hari memeroleh hasil signifikan. Hampir semua orang tua dan anak (remaja dan pemuda) kurang lebih 66 Kepala Keluarga (150 jiwa) menghadiri acara dengan antusias. Ketiga, peserta seminar memutuskan untuk menyekolahkan anak sampai kuliah, dan melarang untuk menikah usia dini. Keempat, orang tua menginginkan perubahan terjadi di dusun Inggut. Artinya, pemberdayaan orang tua melalui seminar parenting dan KKR urgen dilakukan agar paradigma tentang pernikahan dan pengasuhan anak dibarui. Tidak lagi berdasarkan budaya dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku turun-temurun di masyarakat tetapi karena secara fisik, psikis, dan spiritual sudah matang.
Studi Korelasi Tingkat Spiritualitas dengan Tingkat Kecemasan pada Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisa Sriyati, Sriyati; Pramesti, Renanda Amalia
ASJN (Aisyiyah Surakarta Journal of Nursing) Vol 5 No 1 (2024): JULI
Publisher : P3M Universitas Aisyiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30787/asjn.v5i1.1527

Abstract

Latar Belakang: Masalah spiritual dapat dialami oleh pasien yang terdampak penyakit akibat kurangnya penerimaan terhadap penyakit yang dialaminya, salah satunya adalah penyakit gagal ginjal kronis. Masalah kecemasan juga menjadi dampak psikologis yang harus dihadapi oleh pasien hemodialisa. Kecemasan dapat berpotensi meningkatkan rasa sakit, resiko mortalitas dan morbiditas yang memungkinkan pasien mengalami delusi dan halusinasi hingga memungkinkan pasien akan mencoba upaya untuk mengakhiri kehidupan. Tujuan: mengetahui korelasi tingkat spiritualitas dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani Hemodialisa. Metode: desain observasional analitik metode cross sectional. Sampel diambil secara purposive sampling dengan jumlah 109 pasien, tempat penelitian dilakukan di Ruang Hemodialisa RS PKU Muhammadiyah Gamping. Data diambil menggunakan kuesioner Spiritual Well Being Scale (SWBS) dan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Analisis statistik menggunakan uji Kendall Tau.  Hasil: tingkat spiritual pasien dalam tingkat spiritual sedang sebanyak 90 pasien (82,6%) dan sebagian besar pasien tidak mengalami kecemasan sebanyak 47 pasien (43,1%). Hasil analisis bivariat antara tingkat spiritual dan tingkat kecemasan dengan nilai p-value < 0,05. Uji hasil tingkat keeratan diperoleh nilai -0,184. Kesimpulan: adanya korelasi  antara spiritual dengan kecemasan pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani Hemodialisa dengan tingkat keeratan sangat lemah.
PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING (CTL) Sriyati, Sriyati; Sukadari, SUKADARI
Jurnal Sosialita Vol. 8 No. 2 (2016): JURNAL SOSIALITA
Publisher : Program Magister Pendidikan IPS UPY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sriyati dan SukadariABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS melalui pendekatan contextual teaching learning (CTL). Adapun 7 siswa kelas VI SDN Pucungroto Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo Tahun Pelajaran 2015/2016 merupakan subjek penelitian. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Tahapan penelitian ini, meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan tes. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dengan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan contextual teaching learning (TCL) dapat meningkatkan: 1) motivasi belajar siswa dari 66,61% prasiklus menjadi 75,54% pada siklus I, dan 84,64% pada siklus II; 2) hasil belajar belajar siswa dari (capaian nilai KKM) nilai rata-rata siswa 71,71 dengan persentase ketuntasan 57,14% menjadi 74,86 dengan persentase ketuntasan 71,43% pada siklus I, dan 78,29 dengan persentase 85,71% pada siklus II.Kata kunci: motivasi, hasil belajar, metode contextual teaching learningThis research aims to improve the motivation and learning outcomes of IPS through contextual teaching learning (CTL) approach. Meanwhile, 7 students of fourth grade SDN Pucungroto Kaligesing, Purworejo, 2015/2016 are the subject of research. The type of research is classroom action research. . The research procedure starts from planning, implementation, observation, and reflection. The techniques of collecting data are questionnaires and tests within quantitative descriptive technique as the way of analysis data. The results of research show that the application of ccontextual teaching learning (TCL) can improve: 1) student learning motivation from 66,61% in pre-cycle to 75,54% in 1st cycle, and 84,64% in 2nd; 2) student learning outcomes from (achievement of KKM values) the average students score is 71.71 with the percentage of completeness 57.14% to 74.86 with the percentage completeness 71.43% in the 1st cycle, and 78.29 with the percentage of 85, 71% in 2nd cycle I.Keywords: motivation, learning outcomes, contextual teaching learning method
Pemenuhan Hak Narapidana Anak Sebagai Upaya Perlindungan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Kota Sorong Tarwiyah, Sintia; Tuasikal, Hadi; Sriyati, Sriyati
UNES Law Review Vol. 6 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i3.1855

Abstract

This study aims to examine how efforts to fulfill the rights of child prisoners and the implementation of child prisoner development in correctional institutions class II B Sorong City. The research used through empirical juridical legal research methods through a qualitative approach with material analysis using qualitative descriptive analysis techniques. The results of this study indicate that (1) Efforts to protect the rights of child prisoners in the Class II B Correctional Institution of Sorong City based on Law Number 22 of 2022 concerning Corrections. Its implementation runs in accordance with existing regulations. However, in granting these rights, it is necessary to pay attention to the development of child prisoners, including the growth and development of children, both physical, mental, and social, so it is not justified if the development and protection of child prisoners are equalized with adult prisoners. According to Lawrence M Friedmann, the success of law enforcement is determined by three elements of the legal system, namely: Legal structure, legal substance, and legal culture. First Legal Substance, in this case there is no new government regulation after Law Number 22 of 2022 concerning Corrections. Second Legal Structure, in this case the overcapacity that occurs in the Correctional Institution class II B Sorong City can affect the performance of the Institution itself so that extra services are needed for prisoners. Third Legal Culture, the existence of prisons that cannot keep up with the number of incoming prisoners, it is necessary to increase awareness of the legal culture of the community so that crime can be minimized and can reduce the number of incoming prisoners. (2) The existence of child prisoners who are still integrated with adult prisoners due to overcapacity needs to be addressed properly because the implementation should be specifically placed in the Child Special Development Institution (LPKA) based on the provisions of Article 47 of Law Number 22 of 2022 concerning Corrections.