Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pembiasaan Ungkapan Sopan Santun dalam Pengembangan Sosial- Emosional Anak Usia 5 - 6 Tahun Putri Nur Jannah; Khotimatus Sholikhah; Diana Zuschaiya
Academicus: Journal of Teaching and Learning Vol. 5 No. 1 (2026): Teaching and Learning
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/academicus.v5i1.119

Abstract

Perkembangan sosial-emosional merupakan fondasi penting dalam pendidikan anak usia dini karena berkaitan dengan kemampuan anak berinteraksi, mengelola emosi, dan membangun hubungan sosial yang positif. Pembiasaan perilaku sopan santun menjadi strategi konkret untuk menstimulasi aspek tersebut. Namun, penelitian sebelumnya lebih banyak membahas pembiasaan perilaku positif secara umum, sedangkan kajian yang secara spesifik menghubungkan penggunaan ungkapan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” dengan dimensi sosial-emosional tertentu masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pembiasaan penggunaan tiga ungkapan tersebut terhadap perkembangan sosial-emosional anak usia 5–6 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif di TK Budi Luhur Sugio, Lamongan, dengan subjek 16 anak Kelompok B yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum pembiasaan, sebagian besar anak belum menggunakan ungkapan sopan santun secara spontan. Setelah pembiasaan dilakukan secara konsisten melalui kegiatan rutin, modeling guru, dan reinforcement verbal, penggunaan kata “tolong” meningkat dari 4 menjadi 11 anak, “maaf” dari 3 menjadi 9 anak, dan “terima kasih” dari 5 menjadi 10 anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembiasaan ungkapan sopan santun efektif dalam mengembangkan empati, regulasi emosi, dan apresiasi sosial anak usia dini. Novelty penelitian terletak pada pengaitan eksplisit antara tiap ungkapan sopan santun dengan dimensi sosial-emosional yang berbeda.
Pengembangan Kemampuan Komunikasi Anak Berkebutuhan Khusus melalui Bermain Peran Adaptif di TK Inklusif Dewi Mashito Nur Islamiyah; Khotimatus Sholikhah; Sulhatul Habibah
Academicus: Journal of Teaching and Learning Vol. 5 No. 1 (2026): Teaching and Learning
Publisher : Perkumpulan Dosen Tarbiyah Islam, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59373/academicus.v5i1.130

Abstract

Anak berkebutuhan khusus di kelas inklusif menghadapi hambatan komunikasi yang beragam. Anak dengan autisme ringan cenderung mengalami defisit komunikasi nonverbal berupa ketiadaan kontak mata, ekspresi wajah datar, dan minimnya inisiasi bicara, sedangkan anak dengan hambatan intelektual ringan menunjukkan kesulitan sintaksis, kalimat tidak runtut, serta kecenderungan ekolalia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan hasil penerapan metode bermain peran adaptif dalam mengembangkan kemampuan komunikasi anak berkebutuhan khusus di TK Golden School Lamongan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan rancangan observasi longitudinal kecil, multiple case, dan intervensi naturalistik yang memungkinkan dokumentasi prosesual secara mendalam. Subjek penelitian adalah dua anak usia lima tahun, dengan data yang dikumpulkan melalui observasi partisipatif selama enam pertemuan, wawancara dengan guru, GPK, dan orang tua, serta dokumentasi perkembangan harian. Hasil menunjukkan peningkatan komunikasi sesuai karakteristik hambatan masing-masing, di mana AK mulai mampu melakukan kontak mata dua hingga tiga detik, menampilkan ekspresi wajah kontekstual, dan menginisiasi ucapan sederhana, sedangkan BR berkembang dari ekolalia menjadi jawaban runtut empat hingga lima kata dengan struktur subjek, predikat, dan objek serta mulai melakukan inisiasi bicara spontan. Novelty penelitian ini terletak pada dokumentasi prosesual longitudinal di TK inklusif penuh tanpa kelas khusus, analisis komparatif dua profil hambatan komunikasi dalam satu kelas, serta integrasi triangulasi multi sumber yang menghasilkan narasi utuh tentang mekanisme keberhasilan intervensi. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa bermain peran adaptif efektif apabila dirancang sesuai kebutuhan anak dan dilaksanakan secara kolaboratif antara guru, GPK, dan orang tua, serta penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk memperluas jumlah subjek dan memperkuat keterlibatan orang tua melalui program pendampingan terstruktur.
MANAJEMEN PENGEMBANGAN KOMPETENSI PENDIDIK DI ERA SOCIETY 5.0: ANALISIS RELEVANSI DAN IMPLIKASINYA BAGI SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS 4 M. Dirham; M. Lathif Bashar; Erma Fatmawati; Khotimatus Sholikhah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 02, Juni 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.50913

Abstract

The transformation of the educational paradigm in the Society 5.0 era demands the development of increasingly complex, technology-based, and sustainable competencies of educators. This condition requires a new strategic management approach to align the institution’s direction with educational goals.  It also serves as an indicator of quality education as a goal of the Sustainable Development Goals. This study will examine how the concept of strategic management for developing educator competencies in the Society 5.0 era relates to variables such as strategic management implementation and assess its relevance and implications for achieving Sustainable Development Goal 4. This study uses a qualitative study-based approach with instruments of reduction techniques, content analysis, and triangulation. The results of the study is: (1) Indonesian educators tend to remain unprepared to address the competency challenges arising from educational transformation in the current era, and (2) the management approach that must be adopted smart management by bay data-based, encompassingin planning, organizing, directing, controlling, and supervising (3) competency development is implemented through the strengthening of Continuous Professional Development, digitizing learning, developing professional communities, innovative learning models, data-based assessments, teaching concepts and methods based on the integration of education and technology (4) The implementation of competency development demonstrates significant relevance to achieving SDG 4 indicators, such as learning quality, access to inclusive education, educators’ technical skills and professionalism, a humanistic and sustainable learning environment, and the quality of educator competency. Thus, developing educator competency in the Society 5.0 era is a strategic foundation for realizing quality and sustainable education.
INTEGRASI KEARIFAN LOKAL MELALUI CERITA RAKYAT DALAM MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MENUMBUHKAN KARAKTER MANDIRI SISWA MI ISLAMIYAH SUMURGENUK Ditta Salafiyah; Khotimatus Sholikhah; Moh. Vito Miftahul Munif
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 No. 03, September 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.65165

Abstract

This study aims to describe the integration of local wisdom through folklore in Indonesian language learning and to identify the character values developed among students at MI Islamiyah Sumurgenuk. This study employed a descriptive qualitative approach. Data were obtained from the principal, Indonesian language teacher, and students through observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The results showed that the integration of local wisdom was implemented by connecting folklore with Indonesian language learning materials through activities such as reading or listening to stories, identifying characters, plots, settings, themes, and moral messages, conducting discussions, retelling stories, and identifying moral values. Folklore was not only used as learning material for language skills but also as a medium to introduce students to local culture and values of life. The character values developed included religiosity, cooperation, responsibility, hard work, social awareness, environmental awareness, discipline, gratitude, respect for others, self-confidence, and independence. Students' independence was reflected in their ability to complete assignments, seek information, express opinions, and attempt to solve difficulties before asking for assistance. Therefore, the integration of local wisdom through folklore can serve as a contextual alternative for Indonesian language learning that develops language skills while fostering students' character and appreciation of local culture.