Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

RAGAM PEMAKNAAN QIRO’AH Analisis Deskripsi Ayat-Ayat Hukum Dalam Tafsir Al-Bahr Muhith Lukman; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.47

Abstract

Skripsi ini berjudul Ragam Pemaknaan Qiro’ah Sab’ah Analis Deskripsis ayat-ayat hukum Dalam Tafsir Al-Bahr merupakan Karya Al-imam Atsiruddin abu hayyan muhammad ibn yusuf ibn ali ibn yusuf ibn hayyan al-Andalusi al-Gharnathi Al-Nafzi yang popupler di panggil dengan Abu hayyan. kitab tafsir yang bercorak lughowi dan membahas keragaman ilmu Qiro’ah pada tafsir tersebut apakah perbedaan qiro’ah bisa mempengaruhi pemaknaan dan penafsiran? dan bagaimana cara Abu hayyan menafsirakan Ayat-Ayat memiliki keragaman Qiro’ah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemaknaan dan penafsiran Abu hayyan terhadap ayat-ayat hukum yang memiliki perbedaan Qiro’ah. Serta pemakaian Qiro'ah sebagai sarana penafsiran al-Qur'an dalam Tafsir Al-Bahr Al-Muhith Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research) dengan mengunakan metode diskriptif-analitis yaitu mengambarkan atau menjelaskan perbedaan Qiro’ah yang menimbulkan perbedaan makna dan penafsiran yang berkaitan dengan penelitian tersebut menggali makna-makna yang terkandung dalam penafsiran ayat. Selama ini penelitian-penelitian tentang ’ilmu al-Qiro’ah yang dikaitkan dengan adanya perbedaan pemaknaan dan penafsiran masih sangat sedikit, beberapa penelitian menyimpulkan bahwa sebagian perbedaan tersebut juga berpengaruh besar terjadinya perbedaan penafsiran, bahkan juga meliputi dalam hukum fikih. Kesimpulan dari penelitian ini, bahwa Abu hayyan menggunakan perbedaan Qiro’ah sebagai salah satu saranah penafsiran pada aya-tayat yang memiliki perbedaan bacaan, bila dinilai perbedaan bacaan tersebut mempunyai implikasi terhadap berbedanya makna yang dihasilkan.
PENAFSIRAN JALALUDDIN RAKHMAT TENTANG AYAT MUTASYABIHAT DALAM AL-QUR’AN DI DALAM BUKU TAFSIR SUFI AL-FATIHAH Kharisma Tri Wahyuni; Nyoko Adi Kuswoyo; Miftara Ainul Mufid
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.51

Abstract

Jalaluddin Rakhmat lahir pada tahun 1949 beliau adalah seorang tokoh Indonesia yang dikenal sebagai seorang ulama, cendekiawan, pakar komunikasi dan ahli keislaman. Beliau telah memberikan kontribusi dalam berbagai bidang, termasuk dalam wacana tafsir di Indonesia. Jalaluddin Rakhmat memiliki beberapa karya terkait dengan tafsir al-Qur’an yang menggambarkan pendekatan dan metodologi penafsirannya.Metode penelitian yang dijelaskan adalah kepustakaan atau library research. Dalam metode ini, akan mengumpulkan data berbagai sumber primer dan sekunder untuk mendukung pembahasan penelitian. Data primer yang digunakan adalah karya Jalaluddin Rakhmat yang berjudul Tafsir Sufi al-Fatihah (Mukaddimah). Data sekunder ini bisa berupa artikel-artikel yang membahas tentang penafsiran al-Qur’an, baik yang ditulis Jalaluddin Rakhmat maupun penulis lain. Data sekunder ini dapat membantu dalam memberikan pandangan yang lebih luas dan mendalam tentang topik.Metode analisis-deskriptif yang akan digunakan dalam menguraikan dan menganalisis data yang akan dikumpulkan. Dengan metode ini akan menggambarkan secara detail objektif data yang ditemukan, serta menghubungkannya dengan tujuan penelitian. Analisis deskriptif akan membantu dalam memahami dan menjelaskan pemikiran Jalaluddin Rakhmat serta konteks penafsiran al-Qur’an yang dibahas dalam karya-karyanya. Dengan menggunakan penelitian kepustakaan, data primer, data sekunder, dan metode analisis-deskriptif akan dapat menyusun penelitian yang berfokus pada penafsiran Jalaluddin Rakhmat tentang takwil untuk ayat mutasyabihat dengan pemahaman yang lebih baik.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN SURAT AL-ANKABUT AYAT 16,17 DAN AL-HUJURAT AYAT 7,9,11 (STUDI PENAFSIRAN TAFSIR IBNU KASIR DAN ATH-THOBARI) Faizatur Rochmah; Amir Machmud; Miftara Ainul Mufid; Nyoko Adi Kuswoyo
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : CV SWA ANUGERAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/tjmis.v1i2.54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dalam al quran, jenis penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang mana sumber yang di dapatkan oleh penulis yaitu dari kitab tafsir dan al-Qur'an. kitab tafsir yang di gunakan yaitu tafsir ibnu kasir dan tafsir ath thobari Al-Qur’an merupakan kitab suci islam yang berisi firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Untuk dibaca, dipahami dan diamalkan diberikan kepada umat Nabi Muhammad SAW, melalui perantara malaikat Jibril sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. Al-Qur’an merupakan sumber utama dalam perihal pendidikan, disini dapat di ketahui nikmat Allah SWT yang mana dapat kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu al-Qur’an, dengan adanya tersebut dapat membantu manusia dalam segala hal. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan yang ada dalam al-Qur’an, Penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif bercorak studi pustaka dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik. Dalam surat yang di tafsirkan disini, terkandung nilai-nilai pendidikan yang ada dalam al-Qur’an di antara nya Nilai pendidikan ibadah, nilai pendidikan sosial, nilai pendidikan akhlak dan nilai pendidikan akidah.
KEBERADAAN JIN DI TUBUH MANUSIA (ANALISIS TEMATIK TERM “QARIN” DALAM AL-QUR`AN) Muhammad Basyar Annuha; Wiwin Ainis Rohtih; Amir Mahmud; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 6 No. 2 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v6i2.5515

Abstract

Sebagian besar orang mengenal jin sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah Ta’ala yang tidak terlihat (ghaib), hanya dapat dilihat oleh manusia tertentu dengan izin Allah, serta beberapa hewan seperti keledai dan anjing. Jin terbagi dalam berbagai golongan, termasuk jin qarin yang mendampingi manusia. Belakangan ini, video tentang cek khodam menjadi viral, memungkinkan seseorang mengetahui jin pendamping mereka melalui komentar. Penelitian ini menggunakan metode tafsir tematik untuk memahami perbedaan antara qarin dan khodam. Hasilnya menunjukkan bahwa qarin tidak selalu merujuk pada jin atau memiliki konotasi negatif; qarin dapat bermakna baik atau jahat tergantung konteksnya. Sementara dalam konteks jin, qarinmendampingi manusia sejak lahir hingga mati, membisikkan kejahatan, khodam berperan sebagai pengawal melalui praktik spiritual. Kedua entitas ini, meskipun berbeda, tidak membawa keuntungan bagi manusia, sehingga sebaiknya dihindari untuk keselamatan di dunia dan akhirat.
MUHASABAH DIRI DALAM AL-QURAN MENURUT SYAIKH ABDUL QADIR AL-JAILANI Ahmad Rifqi Fuadi; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 7 No. 1 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v7i1.5583

Abstract

Perbuatan maksiat dilakukan karena adanya dorongan jahat dalam diri yang tidak dikawal oleh akal sehat. Maka seseorang sering alpa dalam bermuhasabah diri atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Dengan manajemen muhasabah yang rutin, dapat memperbaiki kekurangan dan mencapai pengembangan pribadi yang lebih baik. Dalam hal ini Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menekankan bahwa introspeksi spiritual adalah praktik esensial bagi setiap muslim yang bertujuan untuk mengevaluasi dalam konteks standar moral dan spiritual agama. Selain memperdalam kedekatan dengan Allah, muhasabah diri juga memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam tentang diri sendiri dan dunia di sekitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam metode penafsirannya menggunakan metode tematik, yaitu mengumpulkan ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan muhasabah Hasil penelitian ini menyoroti pentingnya muhasabah dalam Islam menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Muhasabah adalah evaluasi diri untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan ciri-ciri seperti tidak bersumpah dan menghindari kebohongan. Di era modern, muhasabah melalui tahap Takhalli (menghilangkan sifat buruk), Tahalli (mengembangkan sifat baik), dan Tajalli (mencapai kesempurnaan spiritual) tetap relevan untuk memperbaiki diri dan menjaga hubungan dengan Allah. Kesimpulannya muhasabah menurut Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah introspeksi penting yang mencakup evaluasi amal dan kesadaran akan dosa. Dalam Futuhul Ghaib, ia menekankan sepuluh sifat, seperti. Proses ini, melalui Takhalli, Tahalli, dan Tajalli, tetap relevan di era modern untuk menjaga kewajiban spiritual.
MENGGAPAI RIDHA ALLAH MELALUI IBADAH RITUAL(Penafsiran ayat-ayat Sholat dan Puasa Menurut Al-Mawardi dalam Kitab Al-Nukat wa al ‘Uyun) Wahyu Gil Dimas Alfian Sodri; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih; Nyoko Adi Kuswoyo
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 3 (2024): Komunikasi dan Dakwah al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/6976vy91

Abstract

Salah satu fungsi Al-Qur’an sebagai pembimbing bagi orang-orang yang beriman menuju ridha Allah swt. Orang-orang beriman akan terus senantiasa berlomba-lomba menggapai ridha Allah swt. Hal ini merupakan objektivitas suatu ibadah dari sisi subtansialnya. Meskipun beberapa kali al-Qur’an menjanjikan surga sebagai ganjaran ibadah, namun sesungguhnya surge tersebut merupakan bentuk ridha Allah swt kepada hamba-Nya. Para ulama’ telah sepakat tidak ada sesuatu hal yang berat dikerjakan kecuali sesuatu hal yang diwajibkan Allah swt kepada orang-orang yang beriman. Sholat dan puasa merupakan bentuk ibadah ritual yang diwajibkan Allah swt kepada orang-orang yang beriman. Oleh karenanya dapat dipastikan bahwa ibadah ritual tersebut merupakan salah satu cara menggapai ridha Allah swt. Dalam hal ini, Al-Mawardi dalam tafsirnya An-Bukat wa al-‘Uyun mereprentasikan subtansi iabadah sholat dan puasa sebagai tangga untuk menggapai ridha Allah swt. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode kajian tafsir maudhu’i untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan shalat dan puasa. Penelitian juga menggunakan pendekatan kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan informasi dan data dalam penelitian ini menggunakan dua cara. Yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah kitab tafsir An-Nukat wa al-‘Uyun karya Imam al-Mawardi. Sedangkan data sekunder diambil dari literatur, buku, catatan, majalah, serta hasil penelitian sebelumnya yang relevan. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa keikhlasan, konsistensi, dan pemahaman mendalam terhadap makna ibadah adalah kunci utama dalam meraih ridha Allah. Al-Mawardi dalam tafsirnya menekankan perilaku hati yang harus sesuai dengan tujuan ibadah itu sendiri, hal ini yang kemudian disebut subtansial ibadah. Kondisi hati yang lalai menurut al-Mawardi merupakan penyebab seorang hamba sulit untuk sampai pada Tuhannya. Ibadah shalat dan puasa yang dilakukan dengan niat tulus dan penghayatan mendalam dapat mendatangkan keberkahan serta memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan Allah, serta membentuk karakter muslim yang lebih baik. Dari kepribadian yag baik dikarenakan ibadah dengan cara yang benar inilah seorang hamba dapat sampai kepada Allah swt dan mendapatkan ridha-Nya.
Bullying Dalam Al Qur’an Perpektif Kajian Tafsir Tematik Fitriyatul Lailiyah; Nyoko Adi Kuswoyo; Amir Mahmud; Wiwin Ainis Rohtih
Al-Qolamuna: Journal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 1 No. 4 (2024): Komunikasi, Dakwah dan Al-Qur'an
Publisher : 4

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71242/7jtvrm11

Abstract

Penelitian dalam skripsi ini dilatar belakangi oleh beberapa fenomena yang sering terjadi dikalangan masyarakat sekarang, yang mana seluruh kegiatan bias kita lakukan dengan cara yang sangat canggih, perkembangan zaman digital pun terus berjalan cepat dan tidak bisa dihentikan lagi oleh manusia.tentunya hal inu juga akan berdampak positif dan negatif. Hal demikian ini  merusak tatanan tujuan manusia diciptakan. Dengan semakin canggihnya perkembangan tersebut membawa dampak penyebaran aib orang semakin cepat, baik didunia nyata maupun sosial. Peneliti melihat bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an berbicara tentang curhat pengumbaran aib di media sosial dan dampak curhat (pengumbaran aib) di media sosial untuk menghasilkan kajian dinamis kritis membangun argumen yang responsif terhadap problem pengumbaran aib, dapat merelevansi dengan konteks masyarakat kekinian. Penetian ini merupakan penelitian kepustakaan (Library Research), data dalam penelitian ini bersumber dari bahan-bahan kepustakaan yang terdiri dari: 1) data primer yaitu Tafsir al-Munir, 2) data sekunder berupa Al-Qur’an  dan terjemahnya, kitab Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, dan Tafsir Al-Munir, dan Tafsir Al-Azhar dan buku-buku yang terkait dengan ilmu pengetahuan al-Qur’an  dan pembahasannya. Teknis pengumpulan data yang digunakan oleh penulis membutuhkan dokumentasi berupa catatan, lampiran, dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan judul. Selanjutnya menggunakan langkah-langkah maudhu’i dan yang paling utama yaitu mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang dibahas, terjemah dan tafsiran dari para mufasir, dan diambil dari buku, artikel maupun jurnal yang terkait. Dari penafsiran tafsir al-munir menjelaskan bahwa semua perilaku mengumbar aib, dapat diketahui bahwa perilaku mengumbar aib sangat dianjurkan untuk dihindari agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Penafsiran dalam tafsir tahlili menyebutkan bahwa melarang untuk menampakkan perbuatan ataupun menceritakan sesuatu yang berkaiatan dengan perbuatan maksiat boleh jadi apa yang diceritakan atau perbuatan yang telah dilakukan sebelumnya berakibat buruk kepada orang lain atau bahkan kepada diri sendiri misalnya dampaknya kepada orang lain yaitu boleh jadi orang yang mendengarkan cerita orang tersebut melakukan hal yang serupa terhadap apa yang telah dilakukan. Dampak negatif mengumbar aib pertama yaitu yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Kemudian yang kedua mengumbar aib menceritakannya karena ingin membanggakan perbuatan maksiatnya sehingga menimbulkan sikap atau perbuatan yang sombong dengan membanggakan diri terhadap perbuatan yang telah dilakukan.Kata kunci : Anak, Tafsir ibnu katsir.AbstractThe research in this thesis is based on several phenomena that often occur among today's society, where we can carry out all activities in a very sophisticated way, the development of the digital era continues to move quickly and cannot be stopped by humans. Of course this will also have an impact positive and negative. This kind of thing destroys the order for which humans were created. With increasingly sophisticated developments, this has the impact of spreading people's disgrace more quickly, both in the real world and in society. The researcher looked at how the verses of the Qur'an talk about sharing shame on social media and the impact of sharing shame on social media to produce a critical dynamic study to build arguments that are responsive to the problem of showing shame, and can be relevant to the context of contemporary society. This research is library research, the data in this research comes from library materials consisting of: 1) primary data, namely Tafsir al-Munir, 2) secondary data in the form of the Al-Qur'an and its translation, the book Tafsir Fath Al-Qadir, Tafsir Al-Misbah, and Tafsir Al-Munir, and Tafsir Al-Azhar and books related to the science of the Koran and its discussions. The data collection technique used by the author requires documentation in the form of notes, attachments and several documents related to the title. Next, we use maudhu'i steps and the most important thing is the verses of the Koran that are discussed, translations and interpretations from commentators, and taken from related books, articles and journals. From the interpretation of Al-Munir's tafsir, which explains that all behavior that indulges in disgrace, it can be seen that it is highly recommended that behavior that indulges in disgrace be avoided so that things do not happen that can harm oneself and others. The interpretation in the tafsir tahlili states that it is forbidden to show actions or tell something that is related to immoral acts, it may be that what is said or actions that have been done previously have a bad impact on other people or even on oneself, for example the impact on other people, that is, it may be the person who listens. the story of the person doing something similar to what was done. The first negative impact of indulging in disgrace is that it has a bad impact on oneself. Then the second person indulges in disgrace and tells it because he wants to brag about his immoral deeds, giving rise to arrogant attitudes or actions by bragging about the actions he has committed.
Konsep Pergaulan Baik dalam Perspektif Al-Quran : (Telaah dalam Perspektif Maudhui) Nuril laila, Nuril Laila; Wiwin Ainis Rohtih; Ahmad Zainuddin; Nyoko Adi Kuswoyo
Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur'an, Tafsir dan Pemikiran Islam Vol. 6 No. 1 (2025): Ta’wiluna: Jurnal Ilmu Al-Qur’an, Tafsir dan Pemikiran Islam
Publisher : Lembaga Penelitian, Penerbitan dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) IAIFA Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58401/takwiluna.v6i1.1887

Abstract

This analytical study aims to understand the concept of good relationships in the Al-Qur'an. By using qualitative research methods and thematic interpretation methods (maudhu'i), this research found that the concept of good social relations in the Al-Qur'an found six verses related to good social relations. Where each verse will be interpreted by the scholars to find the results of an intelligent social attitude. Apart from that, a definition of social relations is also presented which includes the definition of good social relations according to the Al-Qur'an, as well as social ethics which emphasize mutual respect and appreciation, the last of which will be presented regarding the discussion of the impact of promiscuity. Thus, this study not only deepens social relationships but also provides the perspective of the Al-Qur'an that every Muslim must live by.
METODE PENGASUHAN ANAK DALAM AL- METODE PENGASUHAN ANAK DALAM AL-QUR’AN: Telaah Tafsir Maqasidi Rochma, Nur; Rohti, Wiwin Ainis; Mahmud, Amir; Kuswoyo, Nyoko Adi; Lukman, Lukman
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 10 No 01 (2025): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v10i01.8194

Abstract

The purpose of this research is to find out child care methods and apply them to parents' daily care in caring for children and identify the application of maqasidi interpretations of Al-Qur'an verses in child care.  This research uses a type of library research, and the study is presented descriptively and analytically. The result of the discussion is that the verses used in this parenting method include QS. An-Nahl verse 90, QS. Al-Baqarah verse 83, QS. Lukman verses 12-19, QS. An-Nur verse 58, QS. Ar-Rum verse 21, QS. An-Tin verse 4, QS. An-Nahl verse 78. This research focuses on verses on child rearing methods through a maqasidi interpretation approach. According to the maqasidi interpretation approach, the verses that describe the verse contain aspects of maqasidi including hifz al-din (guarding religion), hifz al-nafs (guarding the soul), hifz al-'aql (guarding reason), hifz al-nasl ( guarding offspring), and hifz al-mal (guarding property) and hifd al-daulah (guarding the state).
The Urgency of Reading in the Character Formation of Generation Z Youth from an Al-Qur'an Perspective (Examination of Maudhu'i Tafsir) Mukhammad Fatchur Rozi; Nyoko Adi Kuswoyo; Ahmad Zainuddin
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afkarjournal.v8i2.2283

Abstract

This research discusses the urgency of reading from generation Z of the perspective of the Koran and the implications of the character formed in it. Along with rapid technological development, generation Z faces major challenges in the form of literacy crises and moral decline. The phenomenon of low interest in reading among young people is associated with the negative influence of modernity and digital technology. In the context of the literacy crisis faced by young people in the digital era, this research raises the importance of reading as a fundamental character that can help generation Z to strengthen character and faith in facing the challenges of modern times. Using a maudhu'I interpretation approach, several verses of the Koran that will be analyzed include QS. Al-Alaq verses 1 and 3, QS. Al-Isra’ verse 14, QS. Al-Haqqah verse 19 which emphasizes the command to read and QS. Taha verse 114, QS. Yusuf verse 30, QS. Al-Kahf verses 13, 60, 62 and QS. Al-Anbiya’ verse 60 which shows the character of an ideal young man. This research aims to explore communication between the two classification verses. In order to provide solutions and understanding of how reading can form a strong and positive mentality both from a spiritual and social perspective in Generazi Z which is in line with the teachings of the Al-Qur’an.