Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Adaptasi Petani Padi Terhadap Perubahan Iklim di Kecamatan Telluwanua Kota Palopo: Adaptation of Rice Farmers to Climate Change in Telluwanua Sub-District Palopo City Hamida, Hamida; Taruna Safa Arzam; Dewi Marwati Nuryanti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 12 No. 3 (2024): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/perbal.v12i3.4361

Abstract

Padi sawah merupakan salah satu komoditas subsektor tanaman pangan yang paling merasakan dampak adanya perubahan iklim. Dampak negatif perubahan iklim pada padi sawah yaitu menurunnya produksi dan produktivitas karena perubahan luas tanam dan luas panen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi petani padi terhadap perubahan iklim serta dampaknya terhadap tanaman padi di Kecamatan Telluwanua. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 orang petani. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif, disajikan dalam bentuk deskriftif kualitatif kemudian dinarasikan. Hasil penelitian menunjukkan secara umum petani responden memaknai perubahan iklim sebagai perubahan dan pergesaran musim yang tidak teratur. Petani menuturkan jika dulu pergeseran musim hujan dan kemarau sangat jelas. Namun pada saat ini, hal tersebut menjadi tidak jelas. Musim menjadi sulit untuk diprediksi. Selain perubahan musim, setidaknya terdapat empat fenomena perubahan iklim yang terkait erat dengan aktivitas usahatani yang dirasakan oleh petani, yaitu: (a) perubahan suhu, (b) perubahan curah hujan, (c) perubahan debit mata air, dan (d) peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Adaptasi yang dilakukan petani padi dalam menghadapi perubahan iklim antara lain adaptasi penggunaan varietas padi, menyesuaikan waktu tanam, penggunaan sumur bor dan penggunaan alat pompa. Lowland rice is one of the commodities in the food crop subsector most affected by climate change. The negative impact of climate change on paddy rice is a decrease in production and productivity due to changes in planting area and harvest area. This study aimed to determine the adaptation of rice farmers to climate change and its impact on rice plants in Telluwanua District. The sample in this study amounted to 100 farmers. Data were analyzed descriptively, presented in qualitative descriptive form, and then narrated. The results showed that in general, respondent farmers interpreted climate change as changes and irregular seasonal shifts. Farmers said that in the past, the shift between the rainy and dry seasons was very clear. But at this time, it became unclear. The season has become difficult to predict. In addition to seasonal changes, there are at least four climate change phenomena that are closely related to farming activities perceived by farmers, namely: (a) changes in temperature, (b) changes in rainfall, (c) changes in spring discharge, and (d) increased attacks of plant pest organisms (OPT). Adaptations made by rice farmers in the face of climate change include adaptations to the use of rice varieties, adjusting planting time, the use of boreholes, and the use of pumping equipment.
Efektivitas Pendistribusian Program Pupuk Bersubsidi Di Kecamatan Walenrang Timur Kabupaten Luwu Lilis; Dewi Marwati Nuryanti; Akmal Zainuddin
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis efektivitas pendistribusian program pupuk bersubsidi. Diharapkan dalam penelitian ini dapat di ketahui indikator keberhasilan 6 Tepat (Mutu, Jumlah, Jenis, Harga, Waktu dan Tempat). Metode yang di gunakan yakni metode kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Tehnik pengambilan  sampel tehnik cluster sampling yakni sebanyak 20% dari jumlah kelompok tani yang ada di tiap Desa, dengan analisis data skala guttman. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa efektifitas indikator 6 T yakni kategori indikator tepat harga 36.92% (Tidak efektif), tepat jumlah dengan 77.69% (Efektif), indikator tepat jenis 75.13% (Efektif), indikator tepat waktu adalah 63.85% (Efektif), indikator tepat mutu 90.15% (Sangat Efektif), persentase indikator tepat tempat 83.85% (Sangat Efektif). Berdasarkan indikator 6 T, indikator tepat harga tidak efektif karena adanya penyedia modal dan tambahan biaya transportasi.
Diversifikasi Nira Aren Menjadi Gula Liquid oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Nira Aren Desa Sangtandung Witno, Witno; Maria, Maria; Nuryanti, Dewi Marwati; Putri, Andi Utami Batari
Abdimas Galuh Vol 7, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v7i2.18511

Abstract

Nira aren merupakan produk dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu pohon Aren. Pohon aren banyak ditemukan tumbuh secara alami di desa Sangtandung Kecamatan Walenrang Utara. Nira aren oleh KUPS Gula Aren diolah menjadi gula merah bentuk cetakan batok. Nilai ekonomi dari gula merah batok sangat rendah bila dibandingkan dengan produk turunan lainnya seperti gula semut dan gula liquid karena proses pengolahan yang tradisional. Sehingga hasil yang didapatkan masih rendah, sementara biaya, waktu dan tenaga yang dikeluarkan cukup besar. Hal ini yang mendasari pada kegiatan pengabdian, ingin melakukan diversifikasi pengolahan nira aren menjadi gula liquid secara modern. Metode pengabdian dilakukan dengan cara Participatory Action Research (PAR) yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Hasil pelaksanaan pengabdian memperoleh peningkatan pengetahuan anggota KUPS dalam pengolahan gula liquid, dari segi waktu yang dibutuhkan dalam proses pemasakan lebih cepat, cara mengemas produk agar lebih menarik serta kemampuan dalam manajemen usaha.
Analysis of Extension Worker Competencies and Factors Influencing The Readsi Program on Rice Farmers in Lasusua District, North Kolaka Regency Erwin, Erwin; Haruna, Naima; Marwati Nuryanti, Dewi
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 3 (2025): July
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i3.48928

Abstract

This study analyzes the competency of agricultural extension workers and the factors influencing the success of the READSI (Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling Up Initiative) Program in increasing the income of rice farmers in Lasusua District, North Kolaka Regency. The competencies of extension workers studied include technical knowledge, communication skills, attitudes and work ethics, facilitation skills, and the use of information technology. Data were obtained through a survey of respondent farmers, then analyzed using multiple linear regression with the classical assumption test, t-test, F-test, and the coefficient of determination (R). The results showed that simultaneously the five variables of extension worker competency had a significant effect on activities to increase farmer income (F = 9.207; Sig. 0.000). Partially, communication skills, attitudes and work ethics, and facilitation skills had a significant positive effect, while technical knowledge and the use of information technology had no significant effect. The R value of 0.775 indicates that 77.5% of the variation in farmer income can be explained by extension worker competency, while 22.5% is influenced by other factors outside the model, such as policy, market access, and infrastructure. These findings emphasize the importance of improving the competency of extension workers, particularly in communication, work ethics, and facilitation skills. They also highlight the need for field mentoring and policy support to optimize the application of agricultural technology and innovation to increase rice farmer incomes in North Kolaka Regency.
Analysis of Family Food Consumption Behavior (Case Study: Beneficiaries of Government Food Reserve Rice in Palopo City) Hadisah, Lilis; Dewi Marwati Nuryanti; Idawati Idawati; Burhanuddin Harahap
SINTA Journal (Science, Technology, and Agricultural) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muda (PDM) Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/sinta.6.2.281-294

Abstract

Study analyzes the behavior of food consumption patterns of families benefiting from the Government Food Reserve Rice (CPP) in Palopo City with a quantitative descriptive approach. Primary data was obtained through a multiple-pass 24-hour food recall survey of 115 beneficiary families spread across three agroecological characteristics: agriculture, fisheries, and others. Food consumption was analyzed based on nine food groups according to the Expected Food Pattern (PPH), concerning the national Nutritional Adequacy Rate (AKG). The results showed that grains, especially milled rice, became the dominant source of food and energy throughout the region, contributing an average of 1644.5 kcal/capita/day, or about two-thirds of total daily energy. Consumption of animal food, especially fish, is relatively high in agricultural and fishery areas, but its contribution to protein fulfillment is not optimal. Consumption of vegetables is considerable in volume but low in energy contribution and does not yet meet the WHO recommendations of ≥400 g/day. The average Energy Adequacy Level (TKE) is 78.3% of AKE, below the Minimum Service Standard of 90%, indicating food insecurity. Analysis between regions shows that agricultural areas have the highest energy intake, while other regions have the lowest. These results indicate a gap in food access, high dependence on a single carbohydrate source, and low food diversification. This study recommends interventions in the form of increasing access to and consumption of animal and vegetable proteins, diversifying carbohydrate sources, and nutrition education based on local wisdom to support sustainable food security among CPP beneficiaries.
Analisis SWOT Strategi Pengembangan Usahatani Padi di Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara Kajedo, Akbar; Dewi Marwati Nuryanti; Irwan Halid
SINTA Journal (Science, Technology, and Agricultural) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muda (PDM) Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37638/sinta.6.2.225-244

Abstract

This study aims to develop a rice development strategy in Ranteangin District, North Kolaka Regency, by utilizing local potential while addressing various challenges faced by farmers. The analysis was conducted using the IFAS, EFAS, and SWOT matrices to identify strengths, weaknesses, opportunities, and threats. The analysis results indicate that the position of rice development is in quadrant V of the IE Matrix, which indicates the need for a hold and hold strategy through increasing internal efficiency, optimizing resources, and utilizing external opportunities. The formulated strategic priorities include maximizing land and irrigation utilization with the support of subsidies and agricultural programs, increasing farmer capacity through training and extension on agricultural modernization, strengthening sustainable market partnerships, and diversifying farmer income sources. The implementation of this strategy is expected to increase productivity, competitiveness, and economic resilience of farmers, while encouraging the failure of rice farming businesses in Ranteangin District. This study also recommends a synergistic role between local governments, agricultural extension workers, farmer groups, farmers, as well as researchers and academics in supporting the success of rice development based on local potential.
Efektivitas Kelompok Tani dalam Meningkatkan Pendapatan Petani (Studi Kasus Petani Padi di Kecamatan Pakue Utara Kabupaten Kolaka Utara) Hasmawati Hasmawati; Dewi Marwati Nuryanti; Akmal Akmal
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 10, No 2 (2025): AGROVITAL VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 2025
Publisher : LPPM Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v10i2.6594

Abstract

Rendahnya swadaya petani dalam usaha tani masih menjadi tantangan yang dihadapi dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia. Karenanya diperlukan pengelolaan usaha tani yang lebih baik guna meningkatkan swadaya petani, salah satunya lewat pembentukan kelompok tani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kelompok tani, serta besaran nilai pendapatan dan biaya yang dikeluarkan oleh petani padi di Kecamatan Pakue Utara, Kabupaten Kolaka Utata. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok tani memliki peran strategis dalam meningkatkan pendapatan petani padi, juga menjadi wadah yang menjembatani petani dengan pemerintah di Kecamatan Pakue Utara. Di mana kepemimpinan, partisipasi anggota, dan kerja sama dengan pihak luar menjadi beberapa faktor yang menentukan efektivitas kelompok tani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa secara umum keberadaan kelompok tani di Kecamatan Pakue Utara terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan petani padi, meski masih perlu adanya penguatan kelembagaan agar dampaknya dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
Analisis Adopsi Sistem Pengolahan Buah Kakao di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara Nona B.; Hamjah Hamjah; Dewi Marwati Nuryanti
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 10, No 2 (2025): AGROVITAL VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 2025
Publisher : LPPM Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v10i2.6600

Abstract

Kabupaten Kolaka Utara merupakan salah satu daerah penghasil kakao utama di Sulawesi Tenggara, yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah dan nasional. Kendati demikian, rendahnya adopsi teknologi pengolahan buah kakao pasca panen masih menjadi tantangan utama petani kakao di Kabupaten Kolaka Utara. Penelitian ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi pada sistem pengolahan kakao di Kabupaten Kolaka Utara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi petani kakao dalam melakukan fermentasi biji kakao di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara berada dalam kategori agak sedang yaitu sebesar 2,04 %. Hal ini dominan dikarenakan petani malas melakukan fermentasi biji kakao yang disebabkan oleh teknik fermentasi yang sulit, harga yang tidak berbeda jauh dengan biji nonfermentasi, serta harga yang masih mendapat pemotongan dari pedagang pengumpul. Kesimpulan utama penelitian ini adalah faktor umur, pendidikan formal, pengalaman, jumlah tanggungan keluarga, dan luas lahan, merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi petani kakao dalam melakukan fermentasi biji kakao di Kecamatan Katoi Kabupaten Kolaka Utara.
Peran Adat dalam Peningkatan Produksi Tanaman Padi di Komunitas Adat Makawa Desa Siteba Kab. Luwu Amir Goali; Annas Boceng; Dewi Marwati Nuryanti
AGROVITAL : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 9, No 2 (2024): AGROVITAL VOLUME 9, NOMOR 2, NOVEMBER 2024
Publisher : LPPM Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/agrovital.v9i2.5832

Abstract

Peranan adat dalam meningkatkan produksi tanaman padi di Komunitas adat Makawa Desa Siteba dan perspektif petani dan eksistensi adat tradisi lokal petani padi di Desa Siteba pada era globalisasi dan modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran adat Komunitas Adat Makawa desa Siteba dalam meningkatkan produksi tanaman padi dan perspektif Masyarakat serta eksistensi aadat tradisi lokal di tengah era globalisasi dan modern.  Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara Bersama informan dari berbagai pihak yaitu pemangku Adat Makawa Desa Siteba, tokoh Masyarakat, dan petani, observasi pada lokasi penelitian, dan dokumentasi. Di analisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan serta verivikasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) peranan adat dalam meningkatkan produksi tanaman padi di Komunitas Adat Makawa sangat berperan penting, Dimana setiap peranannya terlaksana secara optimal dengan indeks peranan yang sangat berperan di setiap aspeknya; (2) perspektif Masyarakat dan eksistensi adat tradisi lokal petani padi di desa Siteba di era global dan modern sangat menjaga kearifan lokal (budaya lokal) yang telah ada sejak dulu di desa Siteba di saat majunya digitalisasi pertanian di era globalisasi dan modern. Peneliti telah mengkaji tentang peranan komunitas Adat Makawa desa Siteba dan perspektif Masyarakat dan eksistensi adat tradisi lokal di komunitas Adat Makawa desa Siteba di era globalisasi dan modern. Adapun saran yang ditujukan bagi komunitas Adat Makawa desa Siteba dan Masyarakat diharap dapat menjaga dan mempertahankan adat istiadat dalam meningkatkan hasil produksi pertanian. Dan peneliti berharap adanya penelitian selanjutnya yang mengkaji aspek-aspek lain yang belum terungkap dalam penelitian ini.
Resiliensi Usaha Pengolahan Sagu Berbasis Adaptive Capacity di Kabupaten Luwu Utara: Sago Processing Business Resilience Based on Adaptive Capacity in North Luwu Regency Sumantri Sumantri; Aqsyah Anggraini; Ratna Rahim; Rosnina Rosnina; Dewi Marwati Nuryanti
Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan Vol. 14 No. 2 (2026): Perbal: Jurnal Pertanian Berkelanjutan
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/p709wd90

Abstract

Usaha pengolahan sagu sebagai agroindustri skala kecil memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal di Kabupaten Luwu Utara, baik sebagai sumber pangan alternatif maupun penyedia lapangan kerja. Namun, karakteristik usaha yang berbasis sumber daya alam dan sistem kerja yang masih informal menyebabkan tingginya kerentanan terhadap gangguan produksi, keterbatasan modal, serta tekanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas adaptif (adaptive capacity) pelaku usaha dalam mempertahankan keberlanjutan produksi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tematik, serta interpretasi berbasis kerangka resiliensi dan kapasitas adaptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerentanan usaha bersifat struktural dan multidimensional, dengan dominasi risiko pada aspek manusia dan proses. Ketahanan usaha lebih banyak ditopang oleh strategi coping jangka pendek, seperti penyesuaian jadwal produksi, pemanfaatan tenaga kerja keluarga, serta ketergantungan pada jaringan sosial dalam pembiayaan. Namun, kapasitas adaptif yang dimiliki masih bersifat reaktif dan belum terinstitusionalisasi dalam sistem manajemen yang terstruktur. Penelitian ini menegaskan bahwa resiliensi usaha pengolahan sagu masih berada pada tahap adaptif awal, sehingga diperlukan transformasi menuju strategi adaptif yang lebih sistematis dan berkelanjutan. Sago processing businesses, as small-scale agro-industries, play a strategic role in the local economy in North Luwu Regency, both as an alternative food source and a provider of employment. However, the natural resource-based nature of these businesses and their informal work systems make them highly vulnerable to production disruptions, limited capital, and environmental pressures. This study aims to analyze the adaptive capacity of these businesses in maintaining production sustainability. This research employed an exploratory qualitative approach through in-depth interviews with 15 purposively selected informants. Data analysis was conducted through data reduction, thematic categorization, and interpretation based on a resilience and adaptive capacity framework. The results indicate that business vulnerability is structural and multidimensional, with risks predominating in human and process aspects. Business resilience is largely supported by short-term coping strategies, such as adjusting production schedules, utilizing family labor, and relying on social networks for financing. However, this adaptive capacity remains reactive and has not yet been institutionalized in a structured management system. This study confirms that sago processing business resilience is still in its early adaptive stage, necessitating a transformation toward a more systematic and sustainable adaptive strategy.