Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Peran Guru Pendidikan Agama Katolik dalam Mengatasi Kecanduan Gadget pada Siswa Bukit, Friska Natalia; Sembiring, Mimpin
Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 3 (2024)
Publisher : Lembaga Sosial Rumah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/njpi.2024.v4i3-10

Abstract

Purpose – Gadget addiction is a condition where a person is said to be a gadget addict when they spend most of their time playing gadgets. Gadget addiction is a condition in which a person experiences excessive dependence on the use of electronic devices, such as cell phones or tablets, thus disrupting their daily life and health. The purpose of this study is to find out how the condition of gadget addiction in students and to find out the role of Catholic religious education teachers in overcoming gadget addiction in students.Method – The research method conducted by the author is Using qualitative methods, data was collected through observation, interviews, and documentation.The result of observations and interviews Data processing techniques through data reduction, data display, and conclusion drawing.Findings – The research findings show the high level of gadget addiction in students and in overcoming students' gadget addiction, teachers play five roles, namely as role models by giving examples of deactivating gadgets before learning, as learning managers by making lesson plans and using methods that are suitable for students, as motivators by motivating students such as giving positive praise and punishment, as facilitators by preparing books, and as facilitators by preparing books for students. Research Implications – The implication of this study shows that the high gadget addiction among SMA Negeri 1 Delitua students affects their academic productivity, mental health, and social interaction. PAK teachers act as role models, learning managers, motivators, facilitators, and mentors, which are effective in reducing gadget addiction in students.
PENANGGULANGAN STRES ANAK MELALUI PEMBELAJARAN (PAK) KELAS X DI SMA RK SERDANG MURNI LUBUK PAKAM Sembiring, Mimpin; Ginting, Rania Betesda Br; Simbolon, Erikson
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v5i4.7507

Abstract

Stress and the management of student stress are crucial issues in the field of education, especially at the high school level. Grade X students at SMA RK Serdang Murni Lubuk Pakam experience academic stress caused by heavy workloads, grade competition, exam anxiety, and uncertainty about their future education. This stress affects students cognitively, affectively, behaviorally, and physiologically, which in turn disrupts their learning process. This study aims to examine how stress is managed among Grade X students and how Catholic Religious Education (PAK) contributes to the coping process. This research employed a descriptive qualitative approach, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The subjects were Grade X students and the Catholic Religion teacher. The findings show that stress management is facilitated through spiritual guidance, moral motivation, and reflective activities such as prayer and sharing, led by the PAK teacher. The PAK learning materials, particularly "I Am a Unique Individual" and "Equality between men and women"  help students to know themselves, accept their uniqueness, and build healthy relationships with others and with God. The PAK teacher also acts as a spiritual companion who encourages students to be more open, optimistic, and faithful in facing academic pressures. Thus, Catholic Religious Education has proven to be an effective means of helping students cope with academic stress in the school environment. ABSTRAKStres dan penanggulangan stres siswa merupakan isu penting dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat SMA. Siswa kelas X di SMA RK Serdang Murni Lubuk Pakam mengalami tekanan akademik yang berasal dari banyaknya tugas, persaingan nilai, kecemasan menjelang ujian, serta kebingungan menentukan masa depan. Stres ini berdampak pada aspek kognitif, afektif, perilaku, dan fisiologis siswa yang mengganggu proses belajar mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk penanggulangan stres yang dialami siswa kelas X dan bagaimana pembelajaran Pendidikan Agama Katolik (PAK) berkontribusi dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru PAK dan siswa kelas X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanggulangan stres dilakukan melalui pendekatan spiritual, motivasi moral, serta kegiatan reflektif dan doa yang dipandu oleh guru PAK. Pembelajaran PAK, khususnya pada materi “Aku Pribadi yang Unik” dan “ kesetaran antara laki-laki dan perempuan” membekali siswa untuk mengenal diri, menerima keunikan mereka, serta membangun relasi yang sehat dengan sesama dan Tuhan. Guru PAK juga memainkan peran sebagai pendamping rohani yang mendorong siswa untuk lebih terbuka, optimis, dan beriman dalam menghadapi tekanan akademik. Dengan demikian, pembelajaran PAK terbukti efektif menjadi sarana penanggulangan stres siswa di lingkungan sekolah.
Effectiveness of the heart technique (THT) therapy on students' emotional disorders Mimpin Sembiring; Thomas Natalisa Tarigan; Johannes Sohirimon Lumbanbatu; Paulinus Tibo
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol. 10 No. 2 (2024): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020243903

Abstract

Students' emotional disorders are still a source of problems in the world of education.  This emotional disorder will influence their future and their adolescence itself. The other researcher has been done some therapy, but it doesn’t work enough to pretend the teenager’s emotional disorder. This research aims to offer a solution to the problem of emotional disorders, especially depression, anxiety, and panic disorders. The solution in question is an emotional therapy called The Heart Technique, which is part of hypnotherapy. The method used is a quantitative method with a quasi-experimental approach. The subjects of this research were Class XI SOS students at RK Serdang Murni Lubuk Pakam Private High School. SOS 1 class is the experimental class and SOS 2 class is the control class. Data processing was carried out using Excel and SPSS applications. The results of data processing show that the heart technique therapy is effective in reducing students' emotional disorders.
PENANGGULANGAN KECEMASAN AKADEMIK SISWA MELALUI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK Sembiring, Mimpin; Simamora, Parlaungan; Situmorang, Vinsensius M. Junior
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i2.9818

Abstract

This study aims to examine the forms of academic anxiety experienced by students and the role of Catholic Religious Education in overcoming such anxiety at SMA Negeri SMAK Samosir. This research employed a qualitative descriptive approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Informants included the Catholic Religious Education teacher and ten purposively selected students. The findings indicate that students’ academic anxiety manifests in three main aspects: affective, physiological, and cognitive. The affective aspect is dominated by a lack of self-confidence; the physiological aspect is marked by rapid heartbeat; and the cognitive aspect is characterized by negative thoughts. Catholic Religious Education plays a significant role in alleviating academic anxiety through the topic of "Conscience," which fosters moral awareness, and the topic of "I Am a Unique Person," which encourages self-acceptance. The study concludes that Catholic Religious Education contributes meaningfully to shaping student character, enabling them to face academic pressure with greater self-awareness, confidence, and emotional resilience. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kecemasan akademik siswa serta peran pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dalam menanggulangi kecemasan tersebut di SMA Negeri SMAK Samosir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru Pendidikan Agama Katolik dan sepuluh orang siswa yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan akademik siswa muncul dalam tiga aspek, yaitu afektif, fisiologis, dan kognitif. Pada aspek afektif, gejala yang paling dominan adalah rasa tidak percaya diri; pada aspek fisiologis ditandai dengan detak jantung yang cepat; dan pada aspek kognitif muncul dalam bentuk pikiran negatif. Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik memainkan peran signifikan dalam menanggulangi kecemasan akademik melalui materi “Suara Hati” yang menumbuhkan kesadaran moral serta materi “Aku Pribadi yang Unik” yang mendorong penerimaan diri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Pendidikan Agama Katolik berkontribusi nyata dalam membentuk karakter siswa yang mampu menghadapi tekanan akademik dengan lebih reflektif, percaya diri, dan tangguh secara emosional.
MENINGKATKAN RASA PERCAYA DIRI MELALUI PEMBELAJARAN AGAMA KATOLIK PADA SISWA KELAS X SMA SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA MEDAN Oktaviani Regina; Mimpin Sembiring
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11135

Abstract

ABSTRACT Self-confidence is an important aspect of adolescent development that influences academic performance, social interaction, and identity formation. However, some students still lack the confidence to ask questions, express opinions, and speak in front of the class. This study aims to analyze the contribution of Catholic Religious Education in strengthening the self-confidence of tenth-grade students at Santo Antonius Bangun Mulia Senior High School, Medan. The study employed a qualitative approach with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The participants consisted of two teachers and ten tenth-grade students. The findings revealed that Catholic Religious Education contributes to strengthening students’ self-confidence through the cultivation of values of love, self-respect, and self-identity. Students became more active in discussions, more willing to ask questions, more confident during presentations, and more comfortable interacting with teachers and peers. The study concludes that the internalization of Catholic Religious Education values plays a significant role in enhancing students’ self-confidence and supporting the development of positive character, while also providing a foundation for more reflective and participatory learning practices in schools. ABSTRAK Keyakinan diri merupakan aspek penting dalam perkembangan remaja yang memengaruhi kemampuan akademik, interaksi sosial, dan pembentukan identitas diri. Namun, masih ditemukan peserta didik yang kurang berani bertanya, menyampaikan pendapat, dan tampil di depan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi Pendidikan Agama Katolik dalam memperkuat keyakinan diri peserta didik kelas X di SMA Santo Antonius Bangun Mulia Medan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Partisipan penelitian terdiri atas dua guru dan sepuluh peserta didik kelas X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Katolik berkontribusi dalam memperkuat keyakinan diri peserta didik melalui penanaman nilai kasih, penghargaan terhadap diri, dan pemahaman jati diri. Peserta didik menjadi lebih aktif dalam diskusi, lebih berani bertanya, lebih percaya diri saat presentasi, serta lebih nyaman berinteraksi dengan guru dan teman sebaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa internalisasi nilai-nilai Pendidikan Agama Katolik berperan dalam memperkuat keyakinan diri dan mendukung pembentukan karakter positif peserta didik, serta menjadi dasar pengembangan pembelajaran yang lebih reflektif dan partisipatif di sekolah.
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENINGKATKANKAN SELF-ESTEEM PESERTA DIDIK Mimpin Sembiring; Windy Elyance Purba
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.11400

Abstract

ABSTRACT Self-confidence is an important aspect that supports students’ academic and social development. In the educational context, teachers are not only responsible for delivering learning materials but also for fostering students’ belief in their own abilities. This study examines the self-confidence of eleventh-grade students in Catholic Religious Education classes at SMA Katolik Cinta Kasih Tebing Tinggi, Medan, and explores the strategies employed by teachers to support its development. A descriptive qualitative approach was used, involving Catholic Religious Education teachers and eleventh-grade students as research participants. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The trustworthiness of the findings was ensured through source and technique triangulation.The findings indicate that the students demonstrated a good level of self-confidence, reflected in their willingness to express opinions, ability to manage emotions, independent learning habits, and awareness of their personal potential. These characteristics were supported by various teacher strategies, including motivational support, Christian role modeling, personal mentoring, reflective activities, collaborative learning, and the implementation of active learning methods. The novelty of this study lies in the integration of Christian values and individualized guidance as an approach to fostering self-confidence that extends beyond academic aspects to students’ overall personal development. Therefore, the strategies implemented by Catholic Religious Education teachers contribute to strengthening students’ confidence, independence, and participation in both classroom learning and social life within the school environment. ABSTRAK Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek penting yang mendukung perkembangan akademik dan sosial peserta didik. Dalam konteks pendidikan, peran guru tidak hanya terbatas pada penyampaian materi, tetapi juga mencakup upaya membangun keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya. Penelitian ini mengkaji self-confidence siswa kelas XI dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMA Katolik Cinta Kasih Tebing Tinggi serta strategi yang digunakan guru untuk mendukung proses tersebut. Kajian dilakukan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan guru Pendidikan Agama Katolik dan siswa kelas XI sebagai sumber data. Informasi diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan temuan diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki tingkat self-confidence yang baik, yang tercermin dari keberanian mengemukakan pendapat, kemampuan mengelola emosi, kemandirian belajar, serta kesadaran terhadap potensi diri. Kondisi tersebut didukung oleh berbagai strategi guru, seperti pemberian motivasi, keteladanan hidup Kristiani, pendampingan personal, kegiatan refleksi, kerja kelompok, dan penggunaan metode pembelajaran aktif. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi nilai-nilai Kristiani dan pendekatan pendampingan individual sebagai sarana pembentukan self-confidence yang tidak hanya menyentuh aspek akademik, tetapi juga perkembangan pribadi siswa secara menyeluruh. Dengan demikian, strategi guru Pendidikan Agama Katolik berkontribusi dalam memperkuat keberanian, kemandirian, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran maupun kehidupan sosial di sekolah.
STRATEGI GURU PENDIIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENANGGULANGI RASA BERSALAH BERLEBIHAN (GULIT) PADA SISWA KELAS XI DI SMA SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA MEDAN Elisabeth Endang Ektovia Br Sitorus; Mimpin Sembiring
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11308

Abstract

ABSTRACT Guilt is a negative emotion that arises when individuals feel they have committed moral, social, or ethical wrongdoing. In students, excessive Guilt can affect emotional conditions, behavior, and the learning process at school. This study aimed to identify the forms of Guilt experienced by eleventh-grade students at St. Antonius Bangun Mulia Senior High School Medan and to examine the strategies used by Catholic Religious Education teachers in overcoming students’ Guilt. This study employed a qualitative approach with a descriptive research design. The research subjects consisted of Catholic Religious Education teachers, the principal, and eleventh-grade students. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis used the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing, while data validity was tested through source triangulation and technique triangulation. The results showed that students’ Guilt appeared in cognitive, affective, and behavioral aspects. In the cognitive aspect, students demonstrated awareness of mistakes and personal responsibility. In the affective aspect, students experienced feelings of anxiety, shame, fear, sadness, and regret that affected their emotional condition and learning concentration. In the behavioral aspect, students showed the desire to apologize, correct mistakes, withdraw from the social environment, and display perfectionistic behavior. The study also found that Catholic Religious Education teachers play important roles as educators of faith and morality, spiritual mentors, role models of Christian life, facilitators of religious activities, and builders of faith communities through warm, reflective, and non-judgmental approaches that help students understand mistakes as part of the learning and character-building process. ABSTRAK Guilt merupakan emosi negatif yang muncul ketika individu merasa telah melakukan kesalahan secara moral, sosial, maupun etis. Pada siswa, Guilt yang berlebihan dapat memengaruhi kondisi emosional, perilaku, serta proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk Guilt pada siswa kelas XI di SMA St. Antonius Bangun Mulia Medan serta strategi guru Pendidikan Agama Katolik dalam menanggulangi Guilt pada siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas guru Pendidikan Agama Katolik, kepala sekolah, dan siswa kelas XI. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guilt pada siswa tampak dalam aspek kognitif, afektif, dan perilaku. Pada aspek kognitif, siswa menunjukkan kesadaran terhadap kesalahan dan tanggung jawab pribadi. Pada aspek afektif, siswa mengalami perasaan gelisah, malu, takut, sedih, dan menyesal yang memengaruhi kondisi emosional serta konsentrasi belajar. Pada aspek perilaku, siswa menunjukkan keinginan meminta maaf, memperbaiki kesalahan, menarik diri dari lingkungan sosial, dan perilaku perfeksionisme. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Katolik berperan sebagai pendidik iman dan moral, pembimbing spiritualitas, teladan hidup Kristiani, fasilitator kegiatan keagamaan, serta pembangun komunitas beriman melalui pendekatan yang hangat, reflektif, dan tidak menghakimi sehingga membantu siswa memahami kesalahan sebagai proses pembelajaran dan pembentukan karakter.
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENANGGULANGI STRES AKADEMIK SISWA KELAS XI DI SMA SANTO ANTONIUS BANGUN MULIA MEDAN Mimpin Sembiring; Gabriella Stefy Grav Sinaga
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11396

Abstract

ABSTRACT This research is motivated by the phenomenon of high academic demands that trigger psychological pressure in the form of academic stress among students, which manifests in physical, emotional, cognitive, and behavioral disturbances. The purpose of this study is to analyze the strategies of Catholic Religious Education teachers in managing academic stress experienced by grade XI students at SMA Santo Antonius Bangun Mulia Medan. The research method used is descriptive qualitative. The research subjects consisted of 12 informants, namely 10 grade XI students, 1 Catholic Religious Education teacher, and 1 school principal, who were selected using the snowball sampling technique. Data collection techniques were conducted through observation, in-depth interviews, and documentation, with data analysis comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The trustworthiness of the data was tested using source triangulation and technique triangulation. The results showed that the academic stress of grade XI students was evident from physical fatigue, sleep disturbances, easy irritability, difficulty concentrating, negative thoughts about oneself, and procrastination of school tasks. To overcome this condition, Catholic Religious Education teachers implement coping strategies through their roles as faith and moral educators, spiritual mentors, Christian life role models, facilitators of religious activities, builders of faith communities, and developers of Catholic Religious Education. The main conclusion of the study indicates that the humanistic, reflective, and Christian spirituality-based approach of Catholic Religious Education teachers can provide a positive influence in strengthening inner resilience, restoring learning motivation, and building students' peace of mind at school. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena tingginya tuntutan belajar yang memicu tekanan psikologis berupa stres akademik pada siswa, yang bermanifestasi pada gangguan fisik, emosional, kognitif, dan perilaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam menanggulangi stres akademik yang dialami oleh siswa kelas XI di SMA Santo Antonius Bangun Mulia Medan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas 12 informan, yaitu 10 siswa kelas XI, 1 guru PAK, dan 1 kepala sekolah, yang ditentukan menggunakan teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan analisis data melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres akademik siswa kelas XI tampak dari kelelahan fisik, gangguan tidur, mudah marah, sulit berkonsentrasi, pikiran negatif terhadap diri sendiri, serta prokrastinasi tugas sekolah. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Guru PAK menerapkan strategi penanggulangan melalui perannya sebagai pendidik iman dan moral, pembimbing spiritual, teladan hidup Kristiani, fasilitator kegiatan keagamaan, pembangun komunitas beriman, serta pengembang Pendidikan Agama Katolik. Simpulan utama penelitian menunjukkan bahwa strategi pendekatan guru PAK yang humanis, reflektif, dan berbasis penguatan spiritualitas Kristiani mampu memberikan pengaruh positif dalam menguatkan ketahanan batin, memulihkan motivasi belajar, serta membangun ketenangan jiwa siswa di sekolah.
Peran Ketua Dewan Pastoral Stasi dalam Meningkatkan Kreativitas Pembina Minggu Gembira di Stasi Santa Skolastika Sirumbia Meysi Sahputri Sihombing; Cicilia Bibiana Br Ginting; Paulinus Tibo; Mimpin Sembiring
In Theos : Jurnal Pendidikan dan Theologi Vol. 2 No. 11 (2022): November
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.872 KB) | DOI: 10.56393/intheos.v2i11.1258

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ketua dewan pastoral stasi dalam meningkatkan kreativitas pembina minggu gembira di stasi Santa Skolastika Sirumbia Paroki Santo Petrus dan Paulus Kabanjahe. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, kreativitas pembina minggu gembira dilakukan dengan beberapa bentuk kreasi. Kreativitas pembina dilaksanakan dengan empat bentuk yaitu kreasi dan variasi doa, kreasi tempat tempat duduk, kreasi acara aktivitas dan kreasi lagu dan gerak. Anak Minggu Gembira sangat menyukai, sangat bahagia dan antusias untuk mengikuti setiap kegiatan yang diberikan pembina. Pembina minggu gembira sudah kreatif mengemas setiap kegiatan minggu gembira. Kedua, peran ketua dewan pastoral stasi meningkatkan kreativitas pembina minggu gembira sudah menjalankan perannya. Ketua Dewan Pastoral Stasi mampu menjadi motor kegiatan dengan menggerakkan pembina minggu gembira untuk berlatih dan memberikan pelatihan kepada pembina minggu gembira, menyediakan atau memberikan fasilitas untuk mendukung kegiatan minggu gembira dan menjadi motivator.