Sudung O Pardede, Sudung O
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Published : 41 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Tata Laksana Sindrom Nefrotik Resisten Steroid pada Anak Sudung O. Pardede; Ludi D. Rahmartani
Majalah Kedokteran UKI Vol. 32 No. 2 (2016): APRIL - JUNI
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Sindrom nefrotik resisten steroid adalah sindrom nefrotik yang tidak mengalami remisi dengan pengobatan prednison dosis penuh 60 mg/m2/hari selama 4 minggu. Sindrom nefrotik resisten steroid merupakan masalah karena risiko progesivitas yang tinggi untuk menjadi penyakit ginjal stadium akhir dan memerlukan imunosupresan selain steroid yang dapat menyebabkan berbagai efek samping. Tata laksana sindrom nefrotik resisten steroid terdiri atas tata laksana suportif dan medikamentosa. Terapi suportif meliputi tata laksana dietetik, pemberian diuretik, mencegah komplikasi seperti infeksi, tromboembolik, hipovolemia, gangguan elektrolit, hipertensi, dan hiperlipidemia. Edukasi kepada pasien dan orangtua, dukungan keluarga, dan kontrol teratur sangat penting karena sindrom nefrotik resisten steroid merupakan penyakit kronik yang sampai saat ini terapi belum memberikan hasil memuaskan. Terapi medikamentosa pada sindrom nefrotik resisten steroid antara lain kortikosteroid dosis tinggi berupa puls metilprednisolon, siklofosfamid, siklosporin-A, takrolimus, mikofenolat mofetil (MMF), dan rituximab. Imunosupresan steroid dan non steroid ini dapat menyebabkan berbagai efek samping. Meski obat ini sudah sering digunakan, hasil penelitian dan laporan kasus menunjukkan bahwa terapi dengan obat ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Kata kunci: sindrom nefrotik resisten steroid, prednison, siklofosfamid, siklosporin Abstract Steroid resistant nephrotic syndrome is defined as nehrotic syndrome with no remission within 4 weeks of full dose prednisone therapy of 60 mg/m2/day. Steroid resistant nephrotic syndrome is a serious problems because of high risk progressivity to become an end stage renal disease and it needs non steroid immunosupressant drugs that may cause some side effects. The management of resistant steroid nephrotic syndrome consists of supportive and pharmacologic treatment. Supportive treatments include dietetic management, diuretic administration, prevention of complications such as infections, thromboembolic, hypovolemia, electrolyte imbalance, hypertension, and hyperlipidemia. Education for patients and parents, family support, and regular evaluation are important because resistant steroid nephrotic syndrome is a chronic diseases with unsatisfying result of treatment. Pharmacologic treatment of steroid resistant nephrotic syndrome consists of high dose corticosteroid (methylprednisolone pulse), cyclophosphamide, cyclosporine A, tacrolimus, mycophenolate mofetil (MMF), and rituximab. Steroid and non steroid immunosupressants may cause some side effects. Although these drugs have often been used in treatment of such cases, the results of many studies and case reports are varied and unsatisfying. Keywords: steroid resistant nephrotic syndrome, prednisone, cyclophosphamide, cyclosporine
Hubungan Status Ekonomi dan Jenis Kelamin dengan Obesitas pada Anak di SMP Swasta, di Serang Elizabeth S. Susanti; Sudung O. Pardede
Majalah Kedokteran UKI Vol. 32 No. 3 (2016): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Prevalensi obesitas pada anak di Banten mengalami peningkatan. Di Banten, pada tahun 2010, prevalensi kegemukan pada anak berumur 13-15 tahun sebesar 3,4%, namun pada tahun 2013 terjadi peningkatan mencapai 10,4% yang terdiri atas 7,9% gemuk dan 2,5% obesitas.2-3 Obesitas pada anak cenderung berlanjut hingga dewasa dan menimbulkan berbagai penyakit seperti diabetes melitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi obesitas pada anak, hubungan jenis kelamin dan status ekonomi dengan obesitas pada anak di SMP swasta Serang. Penelitian ini menggunakan metode analitik. Subjek penelitian sebanyak 90 subjek yang terdiri atas 44 perempuan dan 46 laki- laki. Pengambilan subjek dilakukan dengan teknik acak stratitifikasi yaitu dengan meneliti 1 kelas dari kelas 7,8 dan 9. Kemudian data tersebut dianalisis dengan uji statistik univariat dan bivariat (frekuensi dan regresi). Berdasarkan penelitian ini diperoleh prevalensi obesitas sebesar 15,6%, dan setelah dianalisis tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dan status ekonomi dengan obesitas pada anak. Kata kunci: anak, jenis kelamin, status ekonomi, obesitas Abstract Prevalence of childhood obesity in Banten Province keeps increasing. In Banten, in 2010, prevalence of childhood overweight (13-15 years old) was 3,4%, and in 2013 increased until 10,4% which consisted of 7,9% overweight and 2,5% obesity. Childhood obesity is associated with a higher probability of obesity in adulthood, cardiovascular disease, and diabetes mellitus. The purpose of this study was to know the prevalence of childhood obesity, correlation between gender and childhood obesity, and correlation between economic status and childhood obesity in private junior high school Serang, Banten. This study used analytic method. There were 90 subjekts participated in this study which consisted of 44 girls and 46 boys. They were chosen using random stratification technique where researcher took one class from each 7th, 8th, and 9th grade. This study used univariate and bivariate statistics analysis (frequencies and regression). According to this study, prevalence of childhood obesity was 15,6% and there was no correlation between gender and childhood obesity and also there was no correlation between economic status and childhood obesity. Keywords: childhood, gender, economic status, obesity
Komplikasi Neurologi Penyakit Ginjal Kronik pada Anak Sudung O. Pardede; Annisa R.Yulman; Jumaini Andriana
Majalah Kedokteran UKI Vol. 32 No. 4 (2016): OKTOBER-DESEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan kelainan struktur atau fungsi ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan. Penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Komplikasi tersebut dapat sebagai akibat langsung penyakit ginjal maupun komplikasi terapi yang diberikan. Komplikasi neurologi merupakan salah satu komplikasi penting yang memengaruhi morbiditas dan mortalitas dan dapat mencapai 32% kejadian pasien PGK. Komplikasi neurologi yang dapat ditemukan antara lain: ensefalopati uremik, neuropati perifer, neuropati autonom, neuropati kranial, restless leg syndrome, posterior reversible encephalopathy syndrome, gangguan tidur dan sindrom neurologik akibat terapi dialisis. Masing-masing komplikasi memiliki patofisiologi dan penanganan yang berbeda-beda. Deteksi dini dan tata laksana yang tepat terhadap berbagai masalah neurologi tersebut akan meningkatkan kualitas hidup pasien PGK. Kata kunci: anak, komplikasi neurologi, penyakit ginjal kronik Abstract Chronic kidney disease (CKD) is defined as abnormality of kidney structure and function for more than 3 months. These chronic kidney diseases have several complications that will increase morbidity and mortality. The complications can be directly caused by the kidney disease itself or secondary to the effect of treatment. Neurologic complication is one of the important complications that influence morbidity and mortality with the incidence was 32%. These neurologic complications are uremic encephalopathy, peripheral neuropathy, autonomic neuropathy,cranial neuropathy, restless leg syndrome, posterior reversible encephalopathy syndrome, sleep disorder and neurologic syndrome caused by dialysis. Each of these complications has different pathophysiology and treatment. Early detection and right treatment for these complications can increase the quality of life of CKD patients. Keywords : children, neurologic complication, chronic kidney diseases
Luka Bakar pada Anak Karakteristik dan Penyebab Kematian Cindy D. Christie; Rismala Dewi; Sudung O. Pardede; Aditya Wardhana
Majalah Kedokteran UKI Vol. 34 No. 3 (2018): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Luka bakar merupakan salah satu penyebab kecacatan sementara, permanen, maupun kematian pada anak. Etiologi luka bakar dapat dibedakan menjaddi termal, luka bakar listrik, luka bakar kimiawi, dan radiasi. Menurut World Health Organization (WHO), angka kematian akibat luka bakar tertinggi di Asia tenggara yaitu 11,6 per 100.000 populasi dengan risiko tertinggi adalah anak-anak. Insiden dan kematian akibat luka bakar bervariasi di setiap negara dan dipengaruhi karakteristik luka bakar. Deteksi dini dan tata laksana yang tepat dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas luka bakar. Pengenalan karakteristik dan deteksi dini kondisi kritis sangat bermanfaat terhadap kemajuan tata laksana luka bakar.Kata kunci: anak, bula, luka bakar Abstract Burns are one of the causes of temporary and permanent defects or death in children. Etiology of burns can be devided into thermal, electricity, chemical, and radiation. According to the World Health Organization (WHO), the highest death rate from burns in Southeast Asia is 11.6 per 100,000 population with the highest risk being children. Incidence and mortality rate of burns injury vary across countries, and are affected by burns characteristics. Deaths in children with burns are most often due to sepsis and multi-organ failure. The introduction of characteristics and early detection of critical conditions can be beneficial to the progress of burn management.Keywords: children, bullae, burns
Obesitas pada Anak: Ada Kaitan dengan Asupan Air? Sudung O. Pardede
Majalah Kedokteran UKI Vol. 35 No. 1 (2019): JANUARI - MARET
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

Abstrak Obesitas merupakan masalah kompleks pada anak dan telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia terlebih pada negara maju dan berkembang.Penyebab obesitas bersifat multifaktorial, namun penyebab dasarnya adalah ketidak seimbangan antara kalori yang dikonsumsi dan yang digunakan atau dikeluarkan.Salah satu penyebab obesitas adalah asupan kalori yang berlebih yang diperoleh dari makanan atau minuman seperti minuman mengandung gula. Penambahan gula dan zat pewarna pada air minum merupakan upaya meningkatkan asupan air, karena air mempunyaibanyak fungsi dalam tubuh makhluk hidup yang berperan menjaga kesehatan dan hidupJika asupan air berkurang, dapat terjadi kurang air tubuh atau dehidrasi. Beberapa penelitian melaporkan volume air yang dikonsumsi sebagian masyarakat berada di bawah standar yang dianjurkan, dan lebih dari 20% anak dan remaja mengonsumsi air di bawah standar.Salah satu upaya meningkatkan konsumsi air per hari adalah menyediakan minuman dalam kemasan dengan memberi warna dan rasa seperti menambahkan gula.Penambahan gula atau kalori ke dalam minuman berperan terhadap kejadian obesitas terutama pada anak. Berbagai upaya dilakukan untuk tata laksana obesitas, namun konsumsi air putih sebagai salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan dalam tata laksana obesitas belum banyak diperbincangkan. Dalam kepustakaan disebutkan bahwa minum air putih dapat menurunkan berat badan karena air putih tidak mengandung kalori sehingga asupan kalori total berkurangdan meningkatnya oksidasi lemak melalui peran insulin karena minum air non kalori tidak menstimulasi insulin.Kata kunci: air, anak, minuman, obesitas Abstract Obesity is a complex problem in children and has become a worldwide health problem especially in developing and developed countries. Although obesity has multifactorial etiologies, its basic etiology is imbalance between caloric intake and expenditure. One cause of obesity is excessive caloric intake from food or glucose containing beverages. The addition of glucose and food coloring in drinking water is an attempt to increase water intake since water has many functions in living organisms and plays a key role in maintaining health and life. Decreased water intake may cause dehydration. Studies reported that the volume of water consumed by a portion of people was below the recommended standard and more than 20% of children and adolescents had substandard water consumption. An attempt to increase daily water consumption is to provide packed-beverages with the addition of color, flavour and glucose. The addition of glucose or calorie in beverages contributes to increased incidence of obesity in children. Several attempts are addressed to manage obesity; however, clear-drinking water consumption as a considerable factor in obesity management still has been not much of a discussion. Literatures stated that consuming cleardrinking water could decrease body weight because drinking water didn’t contain calorie and therefore led to decreased total caloric intake and increased insulin-related fat oxidation since consumption of non-caloric water didn’t stimulate insulin secretion. Keywords : water, children, beverages, obesity
Diagnosis dan Tata Laksana Glomerulonefritis Streptokokus Akut pada Anak Sudung O. Pardede; Dewi K. Suryani
Majalah Kedokteran UKI Vol. 32 No. 3 (2016): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakGlomerulonefiritis akut pasca streptokokus (GNAPS) adalah penyakit sindrom nefritik akut (SNA) yang disebabkan infeksi Streptokokus beta hemolitikus strain nefritogenik. GNAPS ditandai dengan sindrom nefritik dan bukti adanya infeksi streptokokus. GNAPS merupakan penyakit yang sembuh sendiri tetapi dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti hipertensi krisis, ensefalopati, retinopati, edema paru dan gagal jantung. Kasus ini adalah anak laki-laki berumur 13 tahun 7 bulan dengan diagnosis GNAPS, yang ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan laboratorium, yang ditandai SNA seperti edema, hipertensi, hematuria makroskopis dan mikroskopis, proteinuria, penurunan fungsi ginjal, riwayat faringitis dan infeksi kulit, kadar C3 yang rendah dan peningkatan titer antistreptolisin O. Pada pasien ini terdapat komplikasi acute kidney injury dan hipertensi krisis. Tata laksana dilakukan dengan terapi suportif yaitu rawat, diet nefritik, balans cairan, amoksisilin, diuretik, obat antihipertensi, serta pemantauan tanda vital dan diuresis. Tata laksana memberikan hasil yang baik dan prognosis jangka lama GNAPS pada anak biasanya baik.Kata kunci: glomerulonefritis akut pasca streptokokus, sindrom nefritik akut, hematuria, hipertensi Abstract Acute poststreptococcal glomerulonephritis (APSGN) is diseases with acute nephritic syndrome, which is caused by nephritogenic strains of streptococcal infection. APSGN is characerized by nephritic syndrome and the proof of streptococcal infection. APSGN is a self-limiting disease but may cause some complications such as crisis hypertension, encephalopathy, retinopathy, pulmonary oedema, and cardiac failure.
Gangguan Gastrointestinal pada Anak dengan Gagal Ginjal Stadium Akhir Sudung O. Pardede; Ihat Sugianti
Majalah Kedokteran UKI Vol. 28 No. 3 (2012): JULI-SEPTEMBER
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mkvol34iss2pp60

Abstract

AbstrakGangguan gastrointestinal merupakan gejala yang sering ditemukan pada pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir. Lesi mukosa, gangguan motilitas dan gangguan keseimbangan hormon polipeptida merupakan faktor penting pada gangguan gastrointestinal. Peningkatan insidens infeksi Helicobacter pylori pada pasien gagal ginjal stadium akhir masih menjadi perdebatan. Lesi mukosa (gastritis, duodenitis, ulkus peptikum) dapat ditemukan pada pasien, baik simtomatik maupun asimtomatik. Hal itu menekankan perlunya evaluasi saluran gastrointestinal sebelum dilakukan transplantasi ginjal untuk mencegah komplikasi pasca transplantasi. Pemberian obat prokinetik untuk mengatasi gangguan motilitas pada gagal ginjal stadium akhir masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Antagonis reseptor H2 atau inhibitor pompa proton dapat diberikan pada ulkus peptikum.Kata kunci: penyakit ginjal kronik, gangguan saluran cerna, gagal ginjal stadium akhir AbstractGastrointestinal symptoms are commonly found in patients with end stage renal disease (ESRD). Factors contributing to gastrointestinal symptoms are mucosal lesion, dismotility, and the imbalance of polypeptide hormones. The increased incidence of Helicobacter pylori infection in patients with ESRD is still debated. Mucosal lesions (gastritis, duodenitis, peptic ulcer) can be found in either symptomatic or asymptomatic patients. It emphasizes the importance of evaluating the gastrointestinal tract before conducting renal transplantation in order to prevent its complication. Further study to evaluate the use of prokinetic drugs in patients with gastrointestinal dismotility are still needed. H2 receptor antagonist or proton pump inhibitor can be given to patients with peptic ulcer.Key words: chronic kidney disease, gastrointestinal disorders, end stage renal disease
Laju Filtrasi Glomerulus pada Anak: Metode Apa yang Digunakan? Nitish Basant Adnani; Sudung O Pardede
Majalah Kedokteran UKI Vol. 36 No. 1 (2020): JANUARI-APRIL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/mk.v36i1.2990

Abstract

Abstrak Laju filtrasi glomerulus (LFG) adalah kecepatan filtrasi volume plasma melalui ginjal per unit waktu per luas permukaan tubuh (LPB) dan merupakan salah satu indikator utama untuk pemantauan fungsi ginjal. Standar baku emas untuk menentukan LFG saat ini adalah dengan menghitung klirens inulin ginjal. Akan tetapi, karena prosedur tersebut dinilai kompleks, maka klirens inulin tidak digunakan dalam praktik klinik. Estimasi LFG menggunakan penanda eksogen lainnya seperti kreatinin serum dan sistatin C merupakan pilihan praktis yang dapat menggantikan perhitungan klirens inulin ginjal. Penentuan LFG pada anak berbeda dengan pada dewasa karena tidak mudah mengumpulkan urin per hari pada anak, sehingga diperlukan formula untuk mempermudah menentukan LFG. Berbagai peneliti telah melakukan penelitian untuk menemukan rumus untuk menentukan LFG dengan mudah dan praktis. Pemeriksaan LFG biasanya dilakukan berbasis klirens kreatinin dan belakangan ini dilakukan degan pemeriksaan sistatin C. Beberapa penanda yang digunakan untuk pengukuran LFG antara lain zat radiofarmaka seperti chromium 51-labeled ethylenediaminetetraacetic acid (51Cr-EDTA), technetium 99-labeled diethylenetriaminepentaacetic acid (99mTc-DTPA), iodine 125-labeled iothalamate (125I-iothalamate), dan zat kontras radiografik. Dari berbagai rumus estimasi LFG, salah satu yang kini direkomendasikan untuk digunakan pada praktik klinis sehari-hari adalah rumus Schwartz yang dimodifikasi, karena dinilai sederhana, relatif akurat, tidak invasif, dan tidak membutuhkan biaya yang mahal. Kata kunci: laju filtrasi glomerulus, penyakit ginjal pada anak, kreatinin, sistatin C Abstract Glomerular filtration rate (GFR), which represents the plasma volume filtered through the kidney for each time unit and body surface area (BSA) unit, is one of the main indicators for renal function. The current gold standard for determining GFR is by calculating the renal inulin clearance. However, because this involves a complex procedure, inulin clrearance was not used in clinical practice. GFR estimation using other exogenous markers such as serum creatinine and cystatin C can be considered as practical alternatives. Determining GFR in children is difference with in adult because difficulty of 24 hours urine collection in children, so iti is needed a simple formula for determining GFR. Some researchers performed studies for determining easy and practical formula. GFR examinations usually based on creatinine clearance and nowadays by cyatatin C examination. Some markers are used in measuring of GFR such as chromium 51-labeled ethylenediaminetetraacetic acid (51Cr-EDTA), technetium 99-labeled diethylenetriaminepentaacetic acid (99mTc-DTPA), iodine 125-labeled iothalamate (125I-iothalamate), and radiographic contrast. Among the various existing formulas to estimate GFR, one of the most commonly recommended in daily clinical practice is the modified Schwartz formula, as it is thought to be simple, relatively accurate, non-invasive, and inexpensive. Keywords: glomerular filtration rate, pediatric kidney diseases, creatinine, cystatin C
Vulvovaginitis pada anak Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 8, No 1 (2006)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp8.1.2006.75-83

Abstract

Vulvovaginitis merupakan masalah ginekologi yang paling sering ditemukan pada anakdan remaja, tetapi umumnya masih kurang mendapat perhatian di kalangan dokterspesialis anak. Vulvovaginitis dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur, protozoa,cacing, benda asing, trauma, reaksi alergi, atau merupakan bagian dari penyakit sistemik.Vulvovaginitis bakterialis dapat berupa vulvovaginitis non spesifik dan spesifik.Vulvovaginitis non spesifik biasanya terjadi pada pasien dengan higiene perineum yangburuk, dan vulvovaginitis bakterialis spesifik terutama disebabkan Gardnerella vaginalis.Pengeluaran sekret vagina sering merupakan gejala klinis yang membawa anak berobatke dokter. Gejala lain vulvovaginitis adalah pruritus, sering berkemih, disuria, atauenuresis. Dalam tata laksana vulvovaginitis, perlu diperhatikan higiene perineum, tidakmengenakan pakaian yang ketat, menggunakan sabun yang lunak, dan memelihara vulvatetap bersih, sejuk, dan kering. Pengobatan vulvovaginitis tergantung pada penyebabnya.Vulvovaginitis bakterialis dapat diterapi dengan antibiotik seperti amoksisilin atausefalosporin. Infeksi jamur diterapi dengan anti jamur imidazol, mikonazol, klotrimazol,dan nistatin. Vulvovaginitis trikomonads diterapi dengan metronidazol. Krim estrogentopikal atau salep polisporin dapat membantu.
Sindrom Nefrotik Kongenital Sudung O. Pardede
Sari Pediatri Vol 7, No 3 (2005)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp7.3.2005.114-24

Abstract

Sindrom nefrotik kongenital (SNK) adalah sindrom yang timbul dalam usia 3 bulanpertama dengan kejadian kurang lebih 1,5 % dari semua sindrom nefrotik pada anak;dapat dibedakan menjadi SNK primer, SNK yang berhubungan dengan sindrommalformasi, dan SNK sekunder. Pada SNK primer dapat berupa SNK tipe Finnish,sklerosis mesangial difus, dan glomerulosklerosis fokal segmental. Tipe SNK yangberhubungan dengan sindrom malformasi antara lain sindrom Danys-Drash, sedangkanSNK sekunder dapat disebabkan oleh infeksi, lupus eritematosus sistemik, atau keganasan.Jenis SNK yang paling sering ditemukan adalah SNK tipe Finnish yang diturunkansecara autosomal resesif. Biasanya pasien SNK tipe Finnish lahir prematur dengan plasentayang besar. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan mendeteksi kadar alfa fetoproteinyang tinggi dalam cairan amnion. Masalah utama pada SNK adalah proteinuria yangberat, 90% di antaranya adalah albumin. Manifestasi klinis memperlihatkan edemadengan asites, hipoalbuminemia, proteinuria berat, dan hematuria. Selain albumin,banyak protein yang keluar melalui urin seperti imunoglobulin, transferin, proteinpengikat vitamin D, dan globulin pengikat tiroid. Sering juga ditemukan gejala klinislain seperti hidung pesek, sutura melebar, dan deformitas lainnya. Terapi kuratif padaSNK adalah tansplantasi ginjal, sedangkan kortikosteroid dan imunosupresan biasanyatidak efektif. Sebelum transplantasi ginjal, pasien harus mendapat nutrisi yang adekuat,subsitusi albumin, pemberian obat antiproteinurik, nefrektomi, dan dialisis peritoneal.Pemberian obat antiproteinurik masih diperdebatkan. Prognosis SNK sangat buruk dankematian biasanya terjadi dalam 6 bulan pertama, namun dengan tata laksana yangadekuat prognosis menjadi lebih baik. [