Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

STATUS STOK UDANG PUTIH (Penaeus merguiensis de Man, 1888) DARI ZONA 3 MIL YANG DIDARATKAN DI DUSUN PARIT PANGERAN DESA TANJUNG SALEH KABUPATEN KUBU RAYA KALIMANTAN BARAT Wulandari, Ike Yuni; Adijaya, Mardan; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.78027

Abstract

Kabupaten Kubu Raya yang merupakan salah satu kawasan sentra produsen udang terbesar di Kalimantan Barat dengan konstribusi mencapai 40,08% pada 2010 dan 39,45% pada 2012, salah komoditasnya ialah Penaeus merguiensis. Penaeus merguiensis termasuk kedalam klasifikasi udang paneid yang komoditasnya menjadi sasaran utama. Udang putih menjadi salah satu udang yang mengalami eksploitasi dimana berdampak pada penurunan stok udang putih. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui status stok udang putih di perairan tersebut. Penelitian dilakukan selama 3 bulan menggunakan alat tangkap mini bottom trawl dan menggunakan metode systematic random sampling. Analisis data yang digunakan yakni sebaran frekuensi karapas, hubungan rasio berat total dan panjang total terhadap waktu penangkapan, hubungan panjang total dan panjang karapas, laju pertumbuhan, mortalitas dan laju eksploitasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa udang yang tertangkap memiliki sebaran frekuensi antara 12-27,9 mm, rasio berat total dan panjang total mengalami peningkatan pada bulan april yakni 0,098 gram, kemudian mengalami penurunan drastis pada bulan mei yakni 0,075 gram, pola pertumbuhan yakni bersifat allometrik negatif karena nilai b3 yang artinya pertambahan panjang udang putih lebih cepat daripada pertambahan berat.Kata Kunci:  Allometrik, Pertumbuhan, Status Stok, Udang Putih.
Struktur Komunitas Ikan di Ekosistem Terumbu Karang Desa Sededap Kecamatan Pulau Tiga Kabupaten Natuna Nasrullah, Nasrullah; Adijaya, Mardan; Kurniadi, Bambang
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 7 No 2 (2024): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v7i2.3981

Abstract

Perairan Desa Sededap memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah dari hasil tangkapan nelayan. Namun, aktivitas pengeboman dan pembiusan yang terus berlangsung menyebabkan kerusakan terumbu karang dan kepunahan biota perairan. Penelitian komunitas ikan karang di perairan Desa Sededap belum ada dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas ikan karang beserta kondisi lingkungan perairan. Underwater Visual Census (UVC) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk pengamatan ikan karang. Parameter lingkungan perairan Desa Sededap dalam kondisi baik untuk kehidupan ikan karang. Ikan karang teridentifikasi sebanyak 59 spesies dari 16 famili dengan total 2.991 individu. Spesies ikan terbanyak adalah Choromis atripectoralis, sedangkan yang paling sedikit adalah Arothron meleagris. Indeks keanekaragaman (H') tergolong tinggi (rata-rata 3,58), indeks keseragaman (E) tinggi (rata-rata 0,88), dan indeks dominansi (C) rendah (rata-rata 0,03). Indeks kesamaan spesies (S) berkisar 78,50% - 89,13%, menunjukkan kesamaan spesies yang tinggi di habitat tersebut.
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI SUNGAI MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT, INDONESIA Anzani, Yunita Magrima; Soetignya, Widadi Padmarsari; Adijaya, Mardan
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 19 No 1 (2023): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol19issue1page20-28

Abstract

Utilization of the Mempawah River for community activities can cause a decrease in water quality. Water quality monitoring can be carried out through a biological approach, namely by studying the structure of the plankton community. This study aims to analyze the community structure of phytoplankton and its relation to the physical and chemical parameters of the waters in the Mempawah River, West Kalimantan. The research was conducted from June to September 2021. The phytoplankton and physico-chemical parameters were sampled at six observation stations (St-). Phytoplankton found in the Mempawah River are 17 species classified into five classes, i.e., Chlorophyceae, Bachillariophyceae, Cyanophyceae, Zygnematophyceae, and Chrysophyceae. The average abundance of phytoplankton ranges from 10181-97031 cells/m3. The abundance at St-01, St-02, St-03, and St-04 was lower that at St-05 and St-06. The highest abundance at the first four stations was from the Cyanophyceae Order, and at St-05 and St-06 is from the Order Bachillariophyceae. The opposite condition occurs for the value of diversity, namely at the first four stations; it is higher than St-05 and St-06. The H’ index values is 0.35-1.41, the E index values is 0.26-0.73 and the C index values is 0.37-0.80. Phytoplankton abundance correlated significantly with three water quality parameters: brightness, phosphate, and nitrate, while diversity had no significant relationship with water quality parameters. ABSTRAK Pemanfaatan Sungai Mempawah untuk aktifitas masyarakat dapat menyebabkan penurunan kualitas perairan. Pemantauan kualitas air dapat dilakukan melalui pendekatan biologi yaitu denganmengkaji struktur komunitas plankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur komunitas fitoplankton dan kaitannya dengan parameter fisika kimia perairan di Sungai Mempawah, Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dari Juni sampai September 2021. Pengambilan contoh fitoplankton dan parameter fisika kimia perairan dilakukan pada enam stasiun (St-) pengamatan. Fitoplankton yang ditemukan di Sungai Mempawah adalah sebanyak 17 spesies yang tergolong ke dalam five kelas antara lain Chlorophyceae, Bachillariophyceae, Cyanophyceae, Zygnematophyceae, dan Chrysophyceae. Nilai rata-rata kelimpahan fitoplankton berkisar antara 10181-97031 sel/m3. Kelimpahan pada St-01, St-02, St-03, dan St-04 ditemukan lebih rendah dari pada kelimpahan pada St-05 dan St-06, Kelimpahan tertinggi pada keempat stasiun pertama adalah dari Ordo Cyanophyceae dan pada St-05 dan St-06 adalah dari Ordo Bachillariophyceae. Kondisi sebaliknya terjadai untuk nilai keragaman yaitu pada keempat stasiun pertama lebih tinggi dibandingkan dengan St-05 dan St-06. Kisaran nilai rata-rata indeks Hˈadalah 0.35-1.41, nilai rata-rata indeks E adalah 0.26-0.73, sedangkan nilai rata-rata indeks C adalah 0.37-0.80. Kelimpahan fitoplankton berkorelasi secara signifikan dengan tiga parameter kualitas air yaitu kecerahan, fosfat, dan nitrat, sedangkan keanekaragaman tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan parameter kualitas air. Kata Kunci: Fitoplankton, kelimpahan, keanekaragaman, sungai, Mempawah
Pelatihan Pembenihan Ikan Nila Pada Kolam Terpal Kepada Kelompok Pembudidaya Ikan Di Desa Sambora, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah Wira Hadinata, Fitra; Mulyadi, Achmad; Adijaya, Mardan
Literasi Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : Pengelola Jurnal Politeknik Negeri Ketapang Jl. Rangga Sentap, Dalong Sukaharja, Ketapang 78813. Telp. (0534) 3030686 Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58466/literasi.v4i2.1748

Abstract

Sambora Village is one of the villages located in Toho District, Mempawah Regency. Sambora Village is inhabited by various tribes, ranging from Dayak, Malay, Madurese, Batak, Javanese, Bugis and Chinese. The activity partners in this PKM are the Sambora Village community, especially fish farmers and the public. Regarding the problems faced by partners, the solution is socialization and training regarding value fish hatcheries in tarpaulin ponds. The output target of this PKM activity is for partners to increase their knowledge and technical skills regarding fish hatcheries using tarpaulin ponds in their yards. The Community Service activities carried out consist of 3 stages, namely stage one is orientation, stage 2 is the implementation of socialization, and the last stage is monitoring and evaluation. At the orientation implementation stage, problems were found related to the need for fish seeds that grow quickly and are easy to adapt to the cultivation environment. The seeds used should come from quality brood stock and locally produced products. Socialization was carried out on the advantages of the fish hatchery method using tarpaulin ponds, comparisons were given with the hatchery method carried out in earthen ponds. Introduction to a type of tilapia fish that has good egg and sperm productivity. Implementation of monitoring and evaluation to provide input on seeding practices that have been carried out by partners and provide input regarding problems faced. After carrying out the three stages of PKM, the results showed that all training participants had increased their knowledge and abilities regarding tilapia fish hatchery. Before the training, 50% already had knowledge about tilapia fish hatcheries, but only 10% knew how to care for tilapia seeds in tarpaulin ponds. After socialization and training, all participants or 100% knew and were able to implement tilapia fish hatchery in tarpaulin ponds.
Population dynamics of sorrah sharks (Carcharhinus sorrah) caught in fishery management areas (WPP 711) Hadinata, Fitra Wira; Yennie, Yennie; Adijaya, Mardan; Neksidin, Neksidin; Wahyudi, Adi Imam; Armos, Nikanor Hersal; Runtu, Kezia Gloria Apriliana
Acta Aquatica: Aquatic Sciences Journal Acta Aquatica, Vol. 12: No. 1 (April, 2025)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aa.v1i1.15515

Abstract

Sorrah shark (Carharhinus sorrah) is one of the catch types that is landed at the Nusantara Pemangkat Fishing Port.  This research was conducted to determine the dynamics of the sorrah shark population caught in the WPP 711 fishery management area. This research was carried out from August to October 2023 at TPI, precisely at the Nusantara Pemangkat Fishing Port, Pemangkat District, Sambas Regency, West Kalimantan.  The method used in this research is a survey. This research used primary and secondary data.  The data collected includes the number of catches (kg), total catch (tails), total length of sharks, weight of sharks and gender.  The ship sampling used purposive sampling and 10% random sampling method.  A total of 152 sharks were landed, consisting of 89 male sharks and 63 female sharks.  With a length range of male sharks 56-79 cm with female sharks 57-74 cm long.  The results of the shark length and weight relationship test showed that the growth pattern of the sorrah shark was negative allometric and had an unbalanced male: female sex ratio of 1.4: 1.Keywords: Allometric; Catch; Long Size; Sex Ratio; Sorrah shark
STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI KAWASAN PERAIRAN DANAU LIUT Lubis, Angghina Choirunnisa; Soetignya, Widadi Padmarsari; Adijaya, Mardan; Kurniadi, Bambang
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 15, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v15i1.96217

Abstract

Danau Liut merupakan salah satu danau yang ditetapkan sebagai danau lindung oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang. Danau ini terbentuk akibat terputusnya Sungai Ketungau dan membentuk danau tapal kuda (oxbow lake). Danau Liut berhubungan langsung dengan DAS ketungau yang dimana di sekitaran sungai ketungau didapati adanya kegiatan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan maraknya aktivitas destructive fishing seperti aktivitas menuba dengan menggunakan pestisida dan dengan setrum, maka tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah aktivitas-aktivitas tersebut mempengaruhi kualitas air di perairan Danau Liut, dengan ditinjau melalui parameter fisika, parameter kimia, dan parameter biologi. Penelitian ini dilakukan dari Agustus-Oktober 2024 di Danau Liut Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. Pengambilan sampel fitoplankton menggunakan plankton net, dan pengukuran parameter fisika-kimia dengan uji laboratorium. Analisis data menggunakan komposisi genus, kelimpahan relatif, regresi linier berganda, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ditemukan komposisi genus fitoplankton yang ditemukan di Danau Liut sebanyak 13 genus yang dikelompokkan menjadi 5 kelas. Nilai kelimpahan relatif rata-rata tertinggi yaitu genus Navicula sp., 62,76% dan Gleocapsa sp., 44,68%. Nilai indeks keanekaragaman dan keseragaman fitoplankton di Danau Liut tergolong tinggi, dan Indeks Dominansi fitoplankton tergolong rendah.
A Pemberadayaan Kelompok Jaga Sejarah, Jaga Adat, Jaga Wana Dalam Mendukung Ekowisata Di Kawasan Pulau Pedalaman Kabupaten Mempawah: Pemberadayaan Kelompok Jaga Sejarah, Jaga Adat, Jaga Wana Dalam Mendukung Ekowisata Di Kawasan Pulau Pedalaman Kabupaten Mempawah Wira Hadinata, Fitra; Padmarsari, Widadi; Adijaya, Mardan
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 4 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v4i4.2224

Abstract

Potensi pengembangan ekowisata di kawasan Pulau Pedalaman sangat besar yang didukung oleh potensi perairan berupa Sungai Mempawah dan anak sungainya, kawasan hutan lindung dan juga potensi budaya dengan adanya Keraton Amantubillah. Sejauh ini aktrasi wisata yang sudah berjalan masih berjalan secara terpisah dengan obyek yang sering dikunjungi adalah Keraton Amantubillah dengan wisatawan yang berkunjung adalah wisatawan local terutama dari Kalimantan Barat. Masih sedikitnya jumlah wisatawan disebabkan oleh pemasaran paket wisata yang masih terbatas dan terbatasnya komponen pendukung seperti belum adanya cindera mata atau souvenir yang juga dapat menambah daya tarik wisatawan. Mitra kegiatan dalam PKM ini adalah Kelompok Jaga Sejarah Jaga Adat Jaga Wana. Terkait dengan permasalahan yang dihadapi kelompok mitra. Target luaran dari kegiatan PKM ini adalah mitra mampu memproduksi oleh-oleh khas Pulau Pedalaman berupa mug dengan desain gambar yang khas, sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok sasaran. Kegiatan PKM yang dilakukan berupa penyuluhan dan bimbingan teknis yang dikemas dalam bentuk pelatihan pengetahuan dan keterampilan pembuatan berbagai media promosi, dan pembuatan pembuatan mug dengan desain gambar-gambar terkait ekowisata Pulau Pedalaman. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kegiatan PKM ini mendapat respon yang baik dari mitra PKM terbukti dengan keterlibatan mitra secara aktif dalam mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan yang diberikan. Anggota kelompok dari mitra yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan membuat media promosi dengan pemakaian teknologi smartphone adalah sebanyak 16 peserta atau 80%, dan sebanyak 12 peserta atau 60% mampu menggunakan PC untuk promosi. Semua peserta mampu mencetak gambar pada mug dengan cara printing, sedangkan sebanyak 14 orang atau 70% mampu membuat desain gambar untuk dicetak pada mug.
Pemberdayaan Kelompok Dasa Wisma Dalam Pngembangan Produk Olahan Berbasis Ikan Di Desa Sambora Kecamatan Toho Kabupaten Mempawah: Pemberdayaan Kelompok Dasa Wisma Dalam Pngembangan Produk Olahan Berbasis Ikan Di Desa Sambora Kecamatan Toho Kabupaten Mempawah Wira Hadinata, Fitra; Rahayu, Sri; Adijaya, Mardan; Budi Utami, Pratita
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 4 No. 4 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara (JPkMN)
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v4i4.2226

Abstract

Usaha pembuatan kerupuk ikan yang dilakukan oleh mitra yaitu kelompok pengrajin kerupuk ikan Sambora yang juga tergabung dalam ibu-ibu Dasawisma sudah sejak lama digeluti sejalan dengan perkembangan usaha budidaya ikan di Desa Sambora itu sendiri. Usaha pembuatan kerupuk ikan di Desa Sambora sudah dipasarkan disekitar Kecamatan Toho bahkan sampai ke Landak. Tersedianya sumber daya ikan di desa Sambora serta banyaknya kelompok pembudidaya ikan air tawar menyebabkan industri rumah tangga pengolahan kerupuk ikan memberikan peluang untuk dikembangkan dengan deversifikasi menjadi produk baru seperti pembuatan abon dari ikan lele, dan amplang dari ikan patin. Dalam rangka untuk membantu permasalahan mitra dalam meningkatan pengembangan usaha kerupuk ikan agar dapat berkembang dengan baik serta meningkatkan perekonomian masyarakat atau keluarga, maka sangat diperlukan pendampingan berupa transfer pengetahuan dan teknologi yang terkait untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan transfer pengetahuan dan teknologi terkait, diharapkan dapat mendukung program desa dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan produk unggulan desa dan yang terpenting adalah meningkatkan pendapatan masyarakat. Dimana nantinya, produk olahan Amplang ikan patin dan abon ikan lele ini dapat dijadikan produk unggulan dari Desa Sambora. Kegiatan yang dilakukan dalam program PKM ini berupa penyuluhan dan pelatihan serta pendampingan dengan metode ceramah yang disertai alat peraga dan praktek langsung. Pada prinsipnya kegiatan ini meliputi : 1) Penyuluhan pengolahan ikan menjadi berbagai produk olahan yang mempunyai nilai ekonomi.; 2) Pelatihan pembuatan amplang dari ikan patin dan abon dari ikan lele. Target luaran yang ingin dicapai dari kegiatan PKM ini antara lain : 1) Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengolahan ikan menjadi berbagai produk. 2) Mitra dapat memproduksi amplang dari ikan patin dan abon dari ikan lele. 3) Laporan; 4)Draf. Artikel ilmiah yang akan dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi  dan 4) Video kegiatan. Hasil kegiatan yang telah dilakukan menunjukkan respon yang baik dari para peserta yang hadir. Peserta merasa mendapatkan tambahan pengetahuan dalam pembuatan amplang dan Abon dan berharap pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh melalui PKM ini dapat digunakan untuk menambah penghasilan keluarga terutama pada saat hari-hari besar seperti Idulfitri, Natal dan event-event tertentu yang melibatkan PKK dan Dasa Wisma.
ANALISIS KESESUAIAN WISATA KAWASAN AIR TERJUN PANCUR AJI DI KECAMATAN KAPUAS, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT Damara, Valentino Dwika; Adijaya, Mardan; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.71120

Abstract

Air Terjun Pancur Aji adalah wisata alam yang terletak di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2022 - Januari 2023. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status Kesesuaian Wisata berdasarkan analisis Indeks Kesesuaian Wisata, Daya Dukung Kawasan (Yulianda, 2019) dan Location Qoutien di Kabupaten Sanggau yang turut berpengaruh dalam keberlangsungan Wisata Alam Air Terjun Pancur Aji. Metode penentuan stasiun penelitian menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan IKW di Kawasan Air Terjun Pancur Aji, kategori Bermain Air sangat sesuai dan kategori Melihat Pemandangan dan Duduk Santai sesuai dan kategori Berkemah/Outbound tidak sesuai. DDK di Kawasan Air Terjun Pancur Aji menunjukan dalam 1 hari Kawasan Pancur Aji dapat menampung 2.818 orang dengan luas area yang dapat dimanfaatkan adalah 2,01%. Nilai LQ 1 di Kabupaten Sanggau yang termasuk sektor basis adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian dan sektor industri pengolahan.
Pengaruh Kedalaman Sarang Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) Terhadap Masa Inkubasi dan Persentase Keberhasilan Penetasan Di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (KKP3K) Paloh Rizki, Rizki; Adijaya, Mardan; Hadinata, Fitra Wira
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 13, No 1
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i1.70236

Abstract

Penyu hijau ( Chelonia mydas ) secara Internasional, masuk ke dalam daftar merah (red list ) IUCN ( International Union for Conservation of Natre ) Redlist dan Appendix I CITES ( Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora ). Masuknya Penyu hijau ( Chelonia mydas ) ke dalam daftar merah disebabkan oleh adanya pencurian telur, adanya predator yang memangsa telur, dan perubahan lingkungan sehingga tingkat kelangsungan hidup penyu untuk bertahan menurun. Dalam hal ini upaya untuk menjaga populasi penyu terutama penyu hijau (Chelonia mydas ) di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau - Pulau Kecil (KKP3K) Paloh agar tingkat kelangsungan hidup tidak terus mengalami penurunan perlu dilakukan, salah satunya dengan memperhatikan sarang inkubasi telur penyu. Oleh karena itu perlunya penelitian untuk mengkaji kedalaman yang optimal untuk menghasilkan tingkat penetasan yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedalaman yang cocok untuk penetasan telur penyu hijau ( Chelonia mydas ) dan mengetahui persentase tetas telur penyu hijau ( Chelonia mydas ) berdasarkan kedalaman di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau "“ Pulau Kecil (KKP3K) Paloh. Penelitian ini di laksanakan dari bulan Maret - Mei 2023 yang berlokasi di Pos Pemantauan Sungai Belacan, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Metode yang digunakan yaitu penganalisisan secara deskriptif dengan memberikan 3 kedalaman perlakuan yang berbeda, perlakuan I 30 cm, perlakuan II 60 cm, dan perlakuan III 90 cm dengan 3 ulangan pada tiap perlakuan. Hasil Penelitian ini menunjukkan kedalaman yang cocok untuk penetasan telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) adalah 60 cm dengan rata - rata 90% dengan lama masa inkubasi 1272 jam atau 53 Hari. Pada grafik kecenderungan hubungan kedalaman terhadap suhu dan kelembaban menunjukkan bahwa memberikan pengaruh kedalaman terhadap suhu dan kelembaban di mana semangkin suhu tinggi maka semakin rendah pula kelembaban, perubahan suhu paling tinggi dapat mencapai 4,2 °C sedangkan iklim paling rendah mencapai 0,3 ° C. Pada kelembaban ketinggian paling tinggi mencapai 16 % dengan rentang 77% "“ 88% sedangkan ketinggian paling rendah mencapai 4% dengan rentang 84% - 88%.