Claim Missing Document
Check
Articles

RANCANG BANGUN ALAT MONITORING SUHU DAN KELEMBABAN TANAH BERBASIS LORA END DEVICE fathi Raziq Ashari; Jannus Marpaung; F. Trias Pontia W; Fitri Imansyah; Redi Ratiandi Yacoub
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.52515

Abstract

Kondisi lahan pertanian seperti suhu dan kelembaban tanah sangat penting untuk dimonitoring agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik sehingga akan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. LoRa merupakan teknologi wireless yang memiliki jangkauan luas, sehingga cocok diterapkan sebagai media transmisi data monitoring kondisi lahan pertanian di Indonesia yang dikenal dengan negara agraris karena luasnya lahan pertanian. Pada kasus ini peneliti berhasil mengimplementasikan teknologi LoRa untuk dimanfaatkan sebagai media transmisi data monitoring suhu dan kelembaban tanah dengan modul end device RFM95W. Sensor suhu mampu mengakuisisi data dengan akurasi 96.96% dan sensor kelembaban tanah mampu mengakuisisi data dengan akurasi 90.91%. Perubahan parameter transmisi LoRa untuk data monitoring berakibat pada perubahan hasil performasinya. Pada pengujian dengan variasi Bandwidth (BW) dari 31,25 kHz, 62,50 kHz, 125 khz, 250 kHz, dan 500 kHz pada jarak 100m, nilai SNR dan RSSI terbaik diperoleh BW 31,25 kHz dengan nilai 5,35 dB dan -82,50 dBm. Sedangkan ToA terbaik diperoleh BW 500 kHz dengan nilai 28,30 ms. Pada pengujian dengan variasi Coding Rate (CR) dari CR 4/5, 4/6, 4/7, dan 4/8 pada jarak 100m, nilai SNR dan RSSI terbaik diperoleh CR 4/8 dengan nilai 3,85 dB dan -80,20 dBm. Sedangkan ToA terbaik diperoleh CR 4/5 dengan nilai 112,60 ms. Pada pengujian dengan variasi Spreading Factor (SF) dari SF7, SF9, dan SF12, semakin tinggi nilai SF yang pakai maka area jangkauan komunikasi data akan semakin luas. Konfigurasi SF7 dan SF9 hanya mampu menjangkau jarak 300m, sedangkan SF12 mampu menjangkau jarak 500m.
RANCANG BANGUN MODULASI AM DSB SC DAN PEMBANGKIT GELOMBANG SI5351 SEBAGAI KIT PRAKTIKUM ELEKTRONIKA TELEKOMUNIKASI Ngurah Made Mecky Iswaranto; Dedy Suryadi; Neilcy Tjahjamooniarsih; Syaifurrahman -; Jannus Marpaung
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.52682

Abstract

Modulasi AM DSB SC diperuntukan dalam memenuhi keperluan praktikum. Mahasiswa perlu melakukan kegiatan praktikum elektronika telekomunikasi untuk mengoperasikan modulator AM DSB SC agar dapat memahami cara kerja alat dan karakteristik sinyal yang ditunjukkan dari alat tersebut. Ketersediaan alat di laboratorium sangat minim dan banyak kondisi alat praktikum yang rusak atau tidak berfungsi secara normal lagi. Untuk melakukan pengadaannya dibutuhkan proses yang sangat panjang untuk mendapatkan alat praktikum yang baru. Dengan adanya modulator ini mahasiswa dapat menggunakan KIT praktikum ini untuk percobaan di Lab dengan baik. Dalam penelitian ini di mana analisis dilakukan pada dua alat yang terpisah yaitu Pembangkit Gelombang SI5351 dan Balanced Modulator MC1496 kemudian dikombinasikan menjadi satu alat yang akan menghasilkan modulasi Double Sideband Suppressed Carrier (DSB SC). Untuk Pembangkit Gelombang SI5351 didapatkan hasil output sinyal yang cukup akurat dengan error rata-rata sebesar 0,16% pada 15 kali percobaan dengan frekuensi sebesar 1MHz – 15MHz pada tiap pengukuran. Untuk balanced Modulator MC1496 didapatkan hasil output berupa Modulasi DSB SC, Pengujian ini dilakukan dengan variabel frekuensi carrier dan informasi yang bernilai tetap pada setiap percobaan, variabel yang diubah-ubah pada pengujian ini hanya amplitudo dari Function Generator untuk menghitung indeks modulasi beserta spektrum yang dihasilkan oleh modulasi DSB SC. Dari hasil pengukuran yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa modulasi yang dihasilkan terlihat cukup baik dan dapat teridentifikasi sebagai modulasi DSB SC. Dari KIT praktikum ini mahasiswa diharapkan bisa Mengetahui dan memahami karakteristik sinyal carrier, sinyal informasi, dan sinyal termodulasi, Mengetahui dan memahami proses modulasi amplitudo, dan Mampu menghitung indeks modulasi amplitudo.
MODEL KUANTISASI CITRA PERUBAHAN WARNA RGB SISIK IKAN ARWANA Kristian Umbu Lakinau; Redi Ratiandi Yacoub; Leonardus Sandy Ade Putra; Jannus Marpaung; Fitri Imansyah
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.55870

Abstract

Ikan Arwana merupakan salah satu spesies endemik Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat yang populer  di  pasaran internasional.  Sehingga  nilai  ekonomis  dari  ikan  Arwana  ini  sangat  dipengaruhi  oleh warnanya. Corak warna yang semakin kuat pada ikan Arwana, akan membuat ikan ini bernilai ekonomis tinggi. Kondisi warna pada ikan Arwana bisa berubah secara alami maupun melalui rekayasa. Rekayasa ini dilakukan untuk memperindah warna pada ikan arwana yaitu rekayasa Tanning. Hasil dari rekayasa tanning ini untuk pengamatan jangka pendek, bisa saja sulit  diamati secara akurat dengan skala warna. Sehingga diperlukan metode kuantisasi citra, untuk menentukan hasil dari perubahan warna pada ikan Arwana untuk pengamatan jangka pendek. Dengan cara melakukan model kuantisasi citra perubahan warna RGB sisik ikan Arwana untuk mengetahui perubahan-perubahan kecil pada warna sisik ikan Arwana setelah mengalami rekayasa tanning. Berdasarkan hasil analisa Kepala, Tubuh dan Ekor ikan sebelum dan sesudah tanning, didapat nilai rata-rata red, green dan blue seperti berikut ini. Kepala ikan dengan nilai red 35,0256 menjadi 45,2231. Warna green kepala ikan yaitu 37,0058 menjadi 46,8845, serta warna blue kepala ikan yaitu 36,6515 menjadi 45,3392. Selanjutnya tubuh ikan yaitu, warna red bernilai 84,3274 menjadi 87,0999, kemudian warna green tubuh ikan yaitu 87,5403 menjadi 89,1051. Selanjutnya warna blue tubuh ikan yaitu 90,6722 menjadi 96,5141. Selanjutnya ekor ikan yaitu, warna red bernilai 55,1975 menjadi 45,6130, kemudian warna green ekor ikan yaitu 54,4545 menjadi47,1271. selanjutnya warna blue ekor ikan yaitu 54,2444 menjadi 50,8104. Hal ini dapat dinyatakan bahwa,perubahan tertinggi terjadi pada kepala ikan.
ANALISIS PERFORMANSI ANTENA KATHREIN SEBAGAI PENGUAT SINYAL MENGGUNAKAN NETWORK PACKET ANALYZER Meliani Benedikta; Eka Kusumawardhani; Fitri Imansyah; Redi Ratiandi Yacoub; Jannus Marpaung
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v11i1.61690

Abstract

Lemahnya sinyal internet di Dusun Lintang Batang, menjadi permasalahan bagi masyarakat pengguna internet dalam mengakses informasi. Dengan antena penguat sinyal yaitu antena kathrein dapat memecahkan masalah di daerah sinyal internet lemah baik dalam kondisi non line of sight (NLoS) maupun line of sight (LoS). Akan tetapi diperlukan analisis lebih lanjut mengenai performansi antena kathrein. Sehingga penulis juga menggunakan antena penguat sinyal pembanding yaitu antena wajan bolic. Dalam penelitian ini diuraikan tentang proses analisis performansi antena kathrein dan antena wajan bolic dengan tujuan untuk memperkuat daya tangkap sinyal internet. Berdasarkan hasil pengujian kecepatan internet menggunakan aplikasi wireshark dengan jarak lokasi penelitian 3,1 Km dari BTS indosat pada antena kathrein di dapat nilai kecepatan parameter dengan nilai throughput 1257 kbps, packet loss 0,7 %, delay 541 ms, jitter 51 ms dan secara keseluruhan dapat dikategorikan bagus dengan indeks 3. Sedangkan pada antena wajan bolic di dapatkan nilai kecepatan parameter dengan nilai throughput 1528 kbps, packet loss 0,2 %, delay 806 ms, jitter 33 ms dan secara keseluruhan dapat dikategorikan bagus dengan indeks 3. Dengan kualitas sinyal yang baik maka dapat dilakukan aktifitas akses internet dan fitur-fiturnya aplikasi tanpa kendala.
STUDI KOMPARATIF KUALITAS SINYAL MODUL TRANSCEIVER SX1278 TERHADAP MODUL CC1101 : KASUS PENGIRIM DATA SENSOR GAS LPG Ria Guswana; Jannus Marpaung; Bomo Wibowo Sanjaya; Fitri Imansyah; Redi Ratiandi Yacoub
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.55367

Abstract

Pada Era perkembangan teknologi pengiriman sinyal pendeteksi kebocoran gas bisa melalui teknologi nirkabel, yaitu teknologi yang memungkinkan orang-orang untuk berkomunikasi, mengakses aplikasi dan informasi tanpa menggunakan kabel, agar mendapatkan kualitas sinyal yang baik modul transceiver yang digunakan adalah Modul Transceiver SX1278 dan Modul CC1101.  Tujuan dari penelitian adalah mengidentifikasi performa sistem komunikasi Modul Transceiver SX1278 dan Modul CC1101 pada jarak jangkauan yang sama dan mengidentifikasi performa kedua modul dalam mentransmisikan data sensor gas LPG.  Menguji parameter dan performansi RSSI dari  Modul Transceiver SX1278 dan Modul CC1101 dengan posisi transmitter dan receiver berjarak 10m, 30, 60m dan 90m dengan masing masing percobaan dilakukan pada kondisi LOS (Line of Sight) dan NLOS (Non-Line of Sight).  Jarak 10 - 60 meter Modul CC1101 lebih unggul dari Modul Transceiver SX1278.  Jarak 10-60 meter Modul CC1101 masuk kategori sangat kuat sampai sangat baik, sedangkan Modul Transceiver SX1278 masuk kategori sangat baik sampai buruk untuk pengujian LOS.  Jarak 90 meter Modul Transceiver SX1278 lebih unggul dikarenakan masih menerima data dari transmitter, sedangkan Modul CC1101 tidak menerima data dari transmitter.  Setiap pertambahan jarak 30 meter pada pengujian performansi Modul Transceiver SX1278 dan Modul CC1101 nilai RSSI semakin menurun, ini artinya semakin jauh jarak transmitter dan receiver semakin buruk sinyal yang diterima.  Pengujian setiap sensor pada masing-masing perangkat  memiliki pembacaan data yang baik sesuai dengan kinerja dan pendeteksian pada masing – masing sensor gas LPG.  Jarak yang dipakai untuk memonitoring dilingkungan sebenarnya sejauh 60 Meter dengan nilai rata-rata RSSI untuk kondisi LOS pada SX1278 adalah -107.2 dBm sedangakan CC1101 sebesar -62.6 dBm.  Nilai rata-rata RSSI untuk kondisi NLOS pada SX1278 sebesar -111.7 dBm sedangkan CC1101 adalah -63 dBm.
IMPLEMENTASI SISTEM KOMUNIKASI TRANSCEIVER 915 MHz UNTUK MONITORING SUHU DAN ON-OFF AC (AIR CONDITIONER) Amanda Setia Wani; Jannus Marpaung; Redi Ratiandi Yacoub; Fitri Imansyah; Ade Elbani
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v11i1.62998

Abstract

Di dalam ruangan laboratorium telekomunikasi sudah pastinya banyak terdapat alat-alat untuk melakukan praktikum telekomunikasi. Alat-alat praktikum sangat sensitif dengan kondisi suhu didalam ruangan tersebut. Rekaman suhu harus dapat dibaca, disimpan dan harus mudah didapatkan jika diperlukan kembali. Selama ini pemantauan suhu dalam ruangan laboratorium dilakukan secara manual. Diperlukan sebuah sistem untuk monitoring suhu dari jarak jauh sehingga operator ataupun asisten laboratorium yang bertugas tidak harus hadir ke dalam ruangan laboratorium. Untuk mengatasi permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis mengusulkan pengembangan dalam sistem monitoring suhu menggunakan sistem komunikasi transceiver 915 MHz. Untuk mengatasi permasalahan yang telah dijelaskan sebelumnya, penulis mengusulkan pengembangan dalam sistem monitoring suhu menggunakan sistem komunikasi transceiver 915 MHz. Tujuan tugas akhir ini adalah merancang dan mengimplementasikan sistem komunikasi transceiver 915 Mhz untuk on-off AC dan monitoring suhu di ruangan Laboratorium Telekomunikasi Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura. Pada pengujian dengan jarak  ± 25m didapatkan nilai RSSI -76 dBm hingga sampai -78 dBm. Walaupun nilai RSSI yang didapatkan tidak stabil tapi pada bagian ini dikategorikan nilai yang baik dengan kondisi N-LOS (Non Line of Sight). Nilai RSSI yang tidak stabil disebabkan oleh kondisi pada saat pengiriman data yaitu adanya hambatan berupa dinding dan bangunan-bangunan. Adapun paket data yang dikirimkan dan yang diterima memiliki nilai yang sama, yang artinya pada jarak ± 25m Lora transmitter berhasil mengirimkan paket data dan LoRa receiver  berhasil menerima paket data dengan baik. Jenis antena yang digunakan untuk mendukung kinerja LoRa sangat mempengaruhi kualitas pengiriman data. Jika memakai antena ominidirectional dengan jangkauan yang luas maka data akan terkirim dengan cepat dan nilai RSSI akan cukup stabil.
PRAPENGOLAHAN CITRA MENGGUNAKAN FILTER GABOR BERBASIS GRAPHICAL USER INTERFACE (GUI) UNTUK PENGENALAN WAJAH Nadia Arista; Redi Ratiandi Yacoub; Dedy Suryadi; Fitri Imansyah; Jannus Marpaung
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.52586

Abstract

Pengenalan wajah manusia merupakan cara untuk mengidentifikasi dan mengenali identitas seseorang, karena setiap manusia memiliki struktur wajah yang berbeda-beda. Filter gabor sangat baik untuk menghilangkan noise yang bersifat sebaran nomal, yang banyak di jumpai pada sebaran citra hasil proses digitasi menggunakan kamera karena merupakan fenomena alamiah akibat sifat pantulan cahaya dan kepekaan sensor cahaya pada kamera itu sendiri. Filter gabor adalah Filter blur yang menempatkan warna transisi yang signifikan dalam sebuah image, kemudian membuat warna-warna pertengahan untuk menciptakan efek lembut pada sisi-sisi sebuah image. Sehingga dalam penelitian dilakukan prapengolahan citra mengunakan filter gabor pada citra RGB yang terkontaminasi noise dengan tujuan untuk menghilangkan noise, memberikan efek halus dan blur agar citra dapat dikenali. Hasil penelitian yaitu filter gabor dapat menghilangkan noise, memberikan efek halus dan blur, namun filter ini dipengaruhi oleh banyaknya cahaya yang terdapat pada citra wajah tersebut. Persentase hasil citra baik sebesar 12,5%, persentase hasil citra sedang sebesar 75% dan persentase hasil citra buruk sebesar 25% data citra wajah.
PENGARUH KONDISI LINE OF SIGHT DAN NON LINE OF SIGHT TERHADAP PENGIRIMAN DATA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI LOW POWER WIDE AREA NETWORK Ahmad Supriyogo; Jannus Marpaung; Leonardus Sandy Ade Putra; Fitri Imansyah; Redi Ratiandi Yacoub
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.55507

Abstract

LPWAN merupakan teknologi komunikasi nirkabel yang memiliki bit rate rendah untuk jarak yang jauh dan biaya rendah untuk karakteristik konsumsi daya yang lebih baik. LoRa beroperasi pada pita frekuensi Industrial, Scientific, and Medical (ISM) tidak berlisensi seperti pada frekuensi 2,4GHz, 868MHz, 915MHz, dan 433MHz tergantung pada regulasi masing-masing wilayah. Pada penelitian ini telah berhasil dirancang dan diimplementasikan teknologi LoRa untuk digunakan media transmisi data monitoring cuaca pada kondisi panas dan dingin. Data dari sensor cuaca seperti DHT11, anemometer, rain gauge yang telah diakuisisi oleh Arduino Nano pada sistem transmitter kemudian dikirimkan ke sistem receiver oleh bantuan LoRa dengan tipe RFM95W. Pada penelitian ini dilaukan dengan kondisi cuaca panas dan dingin dengan jarak maksimum yang dicapai. Data yang didapatkan pada pengujian komunikasi LoRa RFM95W berupa RSSI, SNR, dan ToA. Pada pengujian komunikasi LoRA RFM95W terdapat perubahan hasil performansi dari satiap kondisi parameter-parameter transmisi. Pada komunikasi LoRa RFM95W pada LOS dengan kondisi cuaca panas dan dingin menghasilkan jarak 100 meter sampai 1000 meter. Pada komunikasi LoRa RFM95W pada N-LOS dengan kondisi cuaca panas dan dingin menghasilkan jarak 100 meter sampai 500 meter. Pada performa LoRa dengan komunikasi line of sight (LOS) dengan kondisi cuaca panas dan dingin, semakin jauh jarak yang dapat dijangkau maka hasil RSSI dan SNR semakin berkurang dan nilai ToA bertambah naik yang artinya waktu transmisi menjadi lama. Pada performa LoRa dengan komunikasi non line of sight (N-LOS) dengan kondisi cuaca panas dan dingin, semakin jauh jarak yang dapat dijangkau maka hasil RSSI semakin bertambah dan berpengaruh pada perubahan SNR, serta hasil ToA bertambah naik yang dapat diartikan waktu transmisi menjadi lama.
IDENTIFIKASI PENGUKURAN INTENSITAS RADIASI MEDAN ELEKTROMAGNETIK PEMANCAR TELEVISI DAN PENGARUH TERHADAP KESEHATAN MANUSIA Elki Dwi Yanto; Fitri Imansyah; F. Trias Pontia W; Redi Ratiandi Yacoub; Jannus Marpaung
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 9, No 2: Juli 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v9i2.51368

Abstract

Pemancar televisi merupakan komponen yang berperan sangat penting untuk media penyampaian informasi. Pemancar televisi sebagai media operator yang tersebar di kota Pontianak memiliki daya pancar yang mencakup area komunikasi yang diinginkan. Namun pada setiap pemancar televisi memiliki intensitas radiasi yang belum diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang identifikasi pengukuran intensitas radiasi medan elektromagnetik pemancar televisi dan pengaruh terhadap kesehatan manusia.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besar intensitas radiasi yang dihasilkan oleh antena pemancar televisi dan mengetahui aman atau tidak radiasi tersebut untuk kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal disekitaran pemancar tersebut.perancangan dilakukan melalui beberapa tahapan  yaitu pengumpulan data ,rancangan analisi data,perancanaan sistem identifikasi intensitas radiasi medan elektromagnetik pemancar televisi pada lokasi yang ditentukan.Pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur GM3120 di ukur untuk dua pengukuran yaitu pengukuran medan listrik dan pengukuran medan magnet.Hasil pengukuran nilai intensitas radiasi diperoleh dengan melakukan perlakukan jarak 10 m, 20 m, dan 30 m dari pusat pemancar televisi ke alat ukur,yang kemudian dilakukan perbandingan hasil pengukuran dengan standar paparan radiasi yang telah ditetapkan oleh lembaga WHO yaitu ICNIRP. Berdasarkan rata-rata nilai yang dihasilkan oleh setiap pemancar televisi berada di range 0,72 sampai 0 µT. Intensitas radiasi yang paling besar terukur pada jarak tertentu adalah pada pemancar televisi RCTI,INEWS,MNC TV,GTV,SCTV sebesar 0,72 µT.METRO TV sebesar 0.2 µT dan pada pemancar televisi RUAI Tv sebesar 0,38 µT. Berdasarkan analisa penulis adapun pengaruh dari nilai pengukuran yang besar hal ini dikarenakan terdapat sumber radiasi lain yang terukur. adapun rata rata hasil pengukuran intensitas radiasi untuk jarak 10 m sebesar 0,084444 µT, sedangkan untuk nilai rata rata untuk jarak 20 m sebesar 0,1425 µT dan untuk jarak 30 m 0,1056 µT. Berdasarkan rata rata hasil pengukuran dapat disimpulkan bahwa nilai intensitas radiasi tidak melebihi standar paparan radiasi ICNIRP sehingga intensitas radiasi aman bagi kesehatan masyarakat yang bermukim disekitar pemancar televisi.
ANALISA KUALITAS JARINGAN DAN DAYA TERIMA ANTENA LITEBEAM M5 DAN NANOSTATION M5 UNTUK CCTV BERBASIS AIROS UBIQUITI Yudhi Wiranto; Fitri Imansyah; Neilcy Tjahjamooniarsih; Jannus Marpaung; Eka Kusumawardhani
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 10, No 1: Januari 2022
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v10i1.52517

Abstract

Diskomifo Kota Sanggau merupakan lembaga yang bertugas dalam melaksanakan urusan pemerintan di bidang konunikasi dan informatika yang mana salah satu tugas dari Diskominfo adalah memberi rasa aman kepada masyarakat. Memberi rasa aman pada masyarakat salah satunya adalah dengan pengawasan di titik yang rawan kecelakaan dan tindakan kriminal lainnya, untuk melakukan pengawasan yang standby setiap saat maka Dikominfo Kota Sanggau menggunakan kemajuan teknologi untuk melakukan hal ini yaitu dengan memanfaatkan CCTV nirkabel antena LiteBeam M5 dan antena NanoStation M5 yang di pasang di setaip titik yang rawan kecelakaan dan diperempatan lampu merah, tentunya diharuskan menjaga kualitas jaringan internetnya dengan melihat parameter yaitu daya terima antena dan kualitas jaringan. Dalam penelitian ini akan menganalisa beberapa faktor yang mempengarui kualitas daya pancar antena dan kualitas jaringan pada antena LiteBeam M5 dan NanoStation M5. Pada penelitian ini penulis menggunakan 4 client, yang mana keempat client ini dalam kondisi LOS dan NLOS dan memiliki jarak yang berbeda beda kepada antena pemancar. Pada penenelitian ini penulis melakukan penelitian dalam dua kondisi yang pertama dalam keadaan cuaca cerah, dan yang kedua dalam keadaan cuaca hujan dan berangin kuat