Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN 4G LTE OPERATOR HUTCHISON 3 DI RUMAH SAKIT UMUM UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK Wondo Eki Setyawan; Fitri Imansyah; Jannus Marpaung; Redi Ratiandi Yacoub
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 9, No 1: Januari 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v9i1.44497

Abstract

Perkembangan telekomunikasi saat ini sangat pesat, maka dari itu diperlukan adanya peningkatan kualitas performansi jaringan 4G LTE (Long Term Evolution). Untuk mengetahui performansi jaringan 4G LTE maka dilakukan walk test untuk mengukur performansi jaringan 4G LTE di Rumah Sakit Umum Universitas Tanjungpura  Pontianak dengan menggunakan aplikasi G-NetTrack Lite berdasarkan 3 parameter yaitu RSRP (Reference Signal Received Power), RSRQ (Reference Signal Received Quality) dan SINR (Signal Interference to Noise Ratio). Hasil penelitian di Gedung A telah diketahui nilai RSRP pada lantai 1 sebesar -107,31 dBm (sangat buruk), lantai 2 sebesar -105 dBm (sangat buruk) dan lantai 3 sebesar -103,13 dBm (sangat buruk). RSRQ lantai 1 sebesar 12,12 dBm (baik), lantai 2 sebesar -12 dBm (baik) dan lantai 3 sebesar -13,33 dBm (baik). Untuk nilai SINR lantai 1 sebesar 0,47 dBm (buruk), lantai 2 sebesar 0,06 dBm (buruk) dan lantai 3 sebesar -0,78 dBm (sangat buruk). Hasil penelitian di Gedung B  telah diketahui nilai RSRP pada lantai 1 sebesar -103,5 dBm (sangat buruk), lantai 2 sebesar -99,67 dBm (sangat buruk) dan lantai 3 sebesar -104 dBm (sangat buruk). Untuk nilai RSRQ lantai 1 sebesar 11,75 dBm (baik),  lantai 2 sebesar -13,17 dBm (baik) dan lantai 3 sebesar -15,33 dBm (buruk). Untuk nilai SINR lantai 1 sebesar 2,25 dBm (buruk), lantai 2 sebesar -0,93 dBm (sangat buruk) dan lantai 3 sebesar 0,27 dBm (buruk). Kualitas sinyal di Rumah Sakit Umum Universitas Tanjungpura Pontianak dalam kategori buruk karena dipengaruhi banyaknya penghalang antara MS (Mobile Station) atau HP (handphone) dengan BTS (Base Transceiver Station) seperti sekat-sekat antar ruangan pada Rumah Sakit Umum Universitas Tanjungpura Pontianak.
PROTOTIPE HOP FREKUENSI LORA RELAY UNTUK MENAMBAH JARAK JANGKAUAN Yosua Perdana Sianturi; Jannus Marpaung; Redi Ratiandi Yacoub; F. Trias Pontia W; Fitri Imansyah
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 11, No 1: Januari 2023
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v11i1.64490

Abstract

Teknik LoRa relay adalah teknik komunikasi pada jaringan LoRa dengan menambahkan titik komunikasi baru sebagai penerima data dari LoRa pengirim kemudian data yang diterima dikirimkan kembali menuju LoRa penerima. Tujuan penelitian ini merancang prototipe hop frekuensi menggunakan teknologi LoRa Relay untuk menambah jarak jangkauan pengiriman data, untuk mengetahui keberhasilan dari penelitian ini maka dilakukan lima kali pengujian sistem komunikasi dengan mengambil parameter berupa data propagasi gelombang radio LoRa menggunakan dua skenario, yaitu LoRa Point to Point dan LoRa Relay. Hasil pengujian LoRa Point to Point pada jarak 1900 meter menunjukkan ketidakberhasilan komunikasi antara Tx dan Rx, indikator sinyal tidak berhasil didapatkan, demikian dengan SNR dan ToA. Hal ini disebabkan oleh kanal komunikasi antara Tx-Rx adalah NLOS (non line of sight) atau terdapat sejumlah penghalang sepanjang jangkauan 1900 meter tersebut. Tinggi antena Tx 20m sedangkan tinggi antena Rx 12m. Pada jalur komunikasi radio LoRa dengan jangkauan 1900 terdapat sejumlah penghalang seperti gedung dan pepohonan yang menyebabkan rambatan gelombang melemah bahkan kehilangan daya sehingga LoRa penerima tidak bisa mendemodulasi sinyal dari Tx. Hasil pengujian LoRa Relay pada jarak 2000 meter menunjukkan nilai RSSI terkecil adalah -118 dBm dan terbesar adalah -116 dBm, walaupun indikator daya yang diterima relatif sangat kecil namun masih berada di atas ambang daya terima yaitu sebesar -120 dBm. Demikian dengan indikator kerusakan sinyal terkecil 1,25 dB dan terbesar 1,75 dB. Sinyal yang diterima masih jauh dari kerusakan dengan ambang -20 dB, sehingga sinyal yang lemah masih bisa didemodulasi oleh perangkat Rx. Nilai ToA yang paling lambat adalah 1335 ms sedangkan yang tercepat adalah 1240 ms. Nilai ToA ini masih dalam batas normal, sebab penyetelan SF 12 akan menyebabkan sebaran sinyal yang semakin jauh dan membutuhkan daya yang besar namun berdampak pada sinyal yang ditransmisikan menjadi lebih lambat dibandingkan dengan nilai SG yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan terjadi komunikasi antar Stasiun Pemancar ke LoRa Relay dan dari LoRa Relay ke Stasiun Penerima. Yang berarti terjadi komunikasi daari Stasiun Pemancar ke Stsaiun Penerima melalui perantara LoRa Relay. Indikator daya terima (RSSI), indikator kerusakan sinyal  (SNR) dan waktu propagasi pada LoRa Relay sedikit berbeda saat pengujian point to point namun perubahan tersebut tidak signifikan. Sedangkan indikator daya dari LoRa Relay ke Stasiun Pemancar semakin baik, demikian juga dengan indikator kerusakan sinyal dan waktu propagasi gelombang radio LoRa.
ANALISA KUALITAS HANDOVER TERHADAP KOMUNIKASI VIDEO CALL PADA JARINGAN 4G LTE (LONG TERM EVOLUTION) BERDASARKAN DATA DRIVE TEST DI KOTA KETAPANG KHARISMA ARIO SETIADI; Neilcy Tjahjamooniarsih; Jannus Marpaung; Fitri Imansyah
Journal of Electrical Engineering, Energy, and Information Technology (J3EIT) Vol 9, No 1: Januari 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/j3eit.v9i1.44265

Abstract

Dengan semakin berkembangnya sistem komunikasi dan banyak orang yang menghendaki terjaminnya kontinuitas hubungan dalam berkomunikasi yang tidak terbatas pada saat pemakai dalam keadaan diam di tempat, juga ketika mereka dalam keadaan bergerak. Salah satu keunggulan dari komunikasi bergerak adalah handover. Handover diperlukan untuk menjaga hubungan pembicaraan agar tidak terputus ketika sebuah MS (Mobile Station) keluar dari sebuah sel menuju ke sel yang lain. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui kualitas handover jaringan 4G pada saat komunikasi video call dengan 2 periode waktu yaitu jam sibuk dan jam tidak sibuk sesuai dengan standar yang diinginkan oleh Operator menggunakan metode Drive Test. Parameter yang dipakai oleh operator yaitu RSRP, RSRQ, SNR. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan di area Ketapang nilai RSRP dengan G-Net Track saat jam sibuk masuk kategori baik yaitu dengan rata - rata -85 dBm  sedangkan pengukuran saat jam tidak sibuk masuk kategori baik yaitu dengan rata - rata 87.25 dBm sedangkan nilai RSRQ pada jam sibuk masuk kategori baik yaitu dengan rata - rata -11.37 dB, pada jam tidak sibuk masuk kategori sangat baik dengan rata - rata -8 dB. Untuk nilai SNR pada jam sibuk masuk kategori sangat buruk dengan rata - rata -6.75 dB, pada jam tidak sibuk masuk kategori sangat baik dengan rata - rata 14.7 dB. Sedangkan pengukuran menggunakan Nemo Outdoor pada nilai RSRP masuk dalam kategori baik yaitu -89.68, nilai RSRQ masuk dalam kategori sangat baik yaitu -8.54 dB, nilai SNR masuk dalam kategori baik yaitu 2.66 dB. Hasil dari kualitas layanan tersebut bekerja dengan baik karena masih memenuhi Key Performance Indikator (Standar KPI) dari PT. Telkomsel Ketapang.