Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISIS DAYA SAING DESA WISATA DI KABUPATEN BOJONEGORO Susilo, Joko Hadi; Rahmawati, Laily Agustina; Mustofa, Moh; Abid, Muhammad Alwi; Atmaja, Dimas Surya
JURNAL DIMENSI Vol 13, No 2 (2024): JURNAL DIMENSI (JULI 2024)
Publisher : Universitas Riau Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33373/dms.v13i2.6307

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh human capital, pengetahuan kelestarian lingkungan, budaya organisasi, modal dan perencanaan partisipatif terhadap daya saing desa wisata. Mewujudkan daya saing desa wisata sangat menentukan peningkatan potensi ekonomi lokal dan memperkuat identitas budaya suatu daerah. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan analisis kuantitatif deskkriptif dengan menggunakan data primer yang diukur dengan skala likert. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa pengetahuan kelesterian lingkungan, modal dan perencanaan partisipatif berpengaruh signifikan dan positif baik secara parsial maupun simultan terhadap daya saing desa wisata. Sedangkan human capital dan budaya organisasi tidak berpengaruh terhadap daya saing desa wisata. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa dalam meningkatkan daya saing desa wisata dilakukan melalui peningkatan pengetahuan kelesterian lingkungan, peningkatan modal dan perencanaan partisipatif.
Komposisi Dan Struktur Limbah Padat Domestik Di Lingkungan Perguruan Tinggi Swasta X Di Kabupaten Bojonegoro : Langkah Awal University Zero Waste Bilafiqri, Salsa; Rahmawati, Laily Agustina; Elvania, Nindy Callista; Abrori, Ahmad Niamul
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience-Tropic) Vol 10 No 2 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/ejbst.v10i2.583

Abstract

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, manusia selalu menghasilkan sampah. Sampah masih menjadi salah satu tantangan utama yang perlu segera diatasi di indonesia. Karena akumulasi sampah yang berkelanjutan dapat mengakibatkan peningkatan emisi karbon. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengidentifiksasi komposisi dan struktur sampah, serta menghitung kebutuhan tempat sampah di Universitas X sebagai langkah awal mewujudkan University Zero Waste. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survey langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi sampah di lingkungan Universitas X didominasi oleh sampah plastik (32,54%), sampah makanan (22,01%), sampah dedaunan/kayu (19,89%), sampah kertas (18,69%), sampah kaca (3,52%), dan sampah kaleng (3,35%). Data ini dihitung berdasarkan total sampah yang dikumpulkan selama 8 hari. Lalu total volume sampah harian di lingkungan Universitas X yaitu sebesar 0,51 m3, volume sampah harian tertinggi terdapat pada komposisi sampah kertas sebesar 0,17 m3, sedangkan volume sampah harian terendah terdapat pada komposisi sampah makanan sebesar 0,01 m3. Sedangkan penerapan konsep zero waste yaitu melakukan pemilahan sampah semenjak dari sumber timbulan sampah, melakukan pewadahan, pengumpulan dan pembuangan.
POTENSI EKOLOGI SEMUT (FORMICIDAE) DI KAWASAN TAMBANG MINYAK BUMI TRADISIONAL WONOCOLO Oktafitria, Dwi; Laily Agustina Rahmawati
Binar – Biology Natural Resources Journal Vol 3 No 2 (2025)
Publisher : Prodi Biologi Universitas PGRI Ronggolawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55719/binar.v3i2.1527

Abstract

This study aims to identify and analyse the ecological potential of ant species from the Formicidae family in the traditional petroleum mining area of Wonocolo, Bojonegoro Regency. This is important to do because the characteristics of traditional petroleum mining areas generally have simple methods and without adequate security, so the risk of pollution will result in a decrease in ant diversity as animals that live in the soil. This study was conducted descriptively by randomly determining 3 locations in the Wonocolo traditional petroleum mining area with a high density of wells. Then, ant samples were collected using the handsorting method and morphological identification was carried out to determine species names. Seven ant species were identified, namely Camponotus pennsylvanicus (black carpenter ant), Crematogaster claudiae (cocktail ant), Lasius niger (black garden ant), Linepithema sp (Argentine ant), Monomorium sp (pharaoh ant), Nylanderia pubens (carbuncle crazy ant) and Plagiolepis sp (small yellow ant). The ecological potential of each ant is also recognised as indicators of environmental health; as pest controllers; as decomposers; as part of symbiotic interactions; and as soil diggers to alter soil structure.
Identifikasi Jenis Burung Di Cagar Alam Gua Nglirip Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur Prayuda, Deswita Ananda; Rahmawati, Laily Agustina
Baselang Vol 5, No 1: APRIL 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/bsl.v5i1.241

Abstract

Aves adalah salah satu dari kelompok vertebrata berdarah panas yang memiliki bulu yang menutupi seluruh tubuhnya dan berasal dari epidermis. Bulu burung sebagian besar ada di sayap, dan seiring bertambahnya usia, burung menjadi lebih ringan, lebih lebar, lebih kuat, dan lebih padat. Banyak sifat burung merupakan adaptasi yang membantu dalam penerbangan seperti modifikasi yang lebih ringan dan lebih efektif.  Tujuan dari penelitian adalah untuk  mengetahui jenis burung di Balai Besar KSDA Jawa Timur dan untuk mengetahui deskripsi tentang berbagai  jenis burung di Balai Besar KSDA Jawa Timur. Data ini diperoleh dari informasi instansi maupun kegiatan selama Praktek Kerja Lapangan, literatur, maupun laporan-laporan kegiatan instansi terkait. Hal ini dilakukan karena pada saat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan terdapat larangan memasuki kawasan Cagar Alam sehingga proses pengamatan langsung tidak dapat dilakukan. Hasil dari  penelitian adalah Cagar Alam Gua Nglirip ini terletak di Desa Guwo Terus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban. Dengan Luas Cagar Alam Gua Nglirip 3 ha. Alat dan bahan yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan monitoring identifikasi jenis burung yaitu :GPS, Peta Kawasan, Teropong, Kamera DSLR, Buku Terbitan Burungnesia, Buku Panduan Identifikasi Burung. Identifikasi jenis burung ini memberikan wawasan penting tentang peran burung dalam ekosistem, baik sebagai penyebar biji, pemakan serangga, maupun pemangsa.
FITOREMEDIASI LIMBAH LAUNDRY MENGGUNAKAN TUMBUHAN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) Agustina, Hesti Asriva; Rahmawati, Laily Agustina; Purwaningrum, Solikhati Indah
Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup Vol 25, No 1 (2025): Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/ekologia.v25i1.11729

Abstract

The increasing number of laundry businesses has led to higher detergent usage, containing pollutants such as Sodium Dodecyl Benzene Sulfonate (NaDBS) and Sodium Tripolyphosphate (STPP), which are difficult to decompose naturally and can contaminate aquatic environments. This study aims to analyze the effectiveness of phytoremediation using water hyacinth (Eichhornia crassipes) in reducing pollutant concentrations in laundry wastewater, focusing on COD, TSS, and phosphate parameters. The research utilized purposive sampling to collect laundry wastewater samples from a large-scale laundry outlet in Sumbang, Bojonegoro, and water hyacinth samples from a fish pond in Sukorejo, Bojonegoro. Wastewater treatment was conducted in treatment tanks for 14 days, with initial (day 0) and final (day 14) sample testing performed at the PPSDM Migas Cepu Laboratory. This research was conducted in an experimental and quantitative way to calculate its effectiveness. The results showed a visible transformation in laundry wastewater from turbid gray water to a clearer state after 14 days of treatment. Physical changes were also observed in the water hyacinth, including leaf discoloration to yellowish-brown and stem decomposition. Laboratory analysis confirmed that phytoremediation using water hyacinth effectively reduced pollutant concentrations, achieving COD reduction of 74–76%, TSS reduction of 90–95%, and phosphate reduction of 75–91%. Among these parameters, TSS removal showed the highest efficiency. These findings indicate that water hyacinth can serve as an eco-friendly alternative for laundry wastewater treatment.
IDENTIFIKASI BAKTERI Escherichia Coli DAN COLIFORM PADA DEPOT AIR MINUM ISI ULANG KECAMATAN TRUCUK BOJONEGORO Amalia, Isna Nur; Rahmawati, Laily Agustina; Elvania, Nindy Calista
Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup Vol 25, No 1 (2025): Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/ekologia.v25i1.11730

Abstract

Water is a very basic need for human life on earth. At this time, water is a problem that needs careful attention. Drinking water is water that is consumed directly by humans through a processing process or processing stages that meet health requirements. The busier human activities are, the more people tend to choose a more practical way with relatively low costs in meeting drinking water needs. The fulfillment of drinking water needs is highly dependent on the coverage of drinking water services and sanitation conditions in the community. This study aims to determine the level of contamination of Escherichia coli and coliform bacteria in refill drinking water and the feasibility of refill drinking water depots in Trucuk District, Bojonegoro Regency. The method used in this study is descriptive with a quantitative approach. The results of the study from 4 samples, namely AB, DAM 1, DAM 2, and DAM 3. 3 samples including AB, DAM 1, and DAM 3 were positive for containing Escherichia coli and coliform bacteria. Refill drinking water samples and raw water do not meet the requirements in accordance with the quality standards in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 492 of 2010 "Concerning Drinking Water Quality Requirements" where the standard for microbiological parameter quality is 0 CFU / 100 ml.
Studi Literatur Produksi Bioethanol dari Ampas Tebu dengan Metode Pyrolisis Rahmawati, Laily Agustina
Jurnal EnviScience (Environment Science) Vol. 4 No. 1 (2020): Enhancing the quality of health and environment to reach the "Global Sustainabl
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/jev.v4i1.131

Abstract

Indonesia memiliki lahan tebu seluas sekitar 475.000 hektare dan produksi tebu lebih dari 33 juta ton per tahun, dengan hasil ampas tebu mencapai 10 juta ton per tahun, sehingga berpotensi untuk menghasilkan 2 milyar liter bioethanol dalam setahun. Ampas tebu diolah menjadi bioethanol dengan menggunakan metode pyrolysis, yang dipilih berdasarkan pertimbangan prosesnya lebih cepat, dan tanpa membutuhkan pelarut. Pemanfaatan Bioetahanol dapat digunakan sebagai bahan pencampur bensin sehingga nilai oktannya meningkat dan emisi yang dihasilkan dari bahan bakar bensin menurun, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan. Namun di sisi lain penggunaan Bioetanol bersifat korosif, sehingga penggunaan maksimal yang disarankan sebagai bahan campuran adalah 25%.
Manajemen Penanaman Tanaman Kayu Putih Secara Vegetatif di Perusahaan X Jair Rizqi Saputra, Ilham; Agustina Rahmawati, Laily
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Pembangunan Berkelanjutan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu jenis tanaman yang sangat penting dalam industri minyak atsiri adalah kayu putih, yang dalam bahasa ilmiah disebut Melaleuca cajuputi. Tanaman kayu putih dapat tumbuh di lahan yang kurang subur atau tandus. Perbanyakan vegetatif dengan setek adalah salah satu cara memperbanyak tanaman kayu putih secara masal tanpa tergantung pada musim buah. Untuk tanaman kayu putih, media tanam terdiri dari top soil, pasir, dan kompos dengan perbandingan 3:2:1. Persiapan bibit kayu putih dimulai dengan pengambilan bahan stek dari kebun pangkas. Setelah selesai, bahan kayu putih ditanam pada media polybag, dengan ujung bahan bibit kayu putih ditancapkan ke dalam tanah kurang lebih 1 cm. Setelah itu bibit kayu putih disiram dengan air satu kali sehari pada pagi hari. Tahap terakhir yaitu dilakukannya pengambilan data hasil setek kayu putih adapun parameter yang meliputi pengamatan keberadaan hidup, tinggi sungkup, pengukuran suhu dan kelembaban. Teknik pembiakan vegetatif atau stek pucuk memiliki keunggulan yaitu bibit yang dihasilkan mempunyai persamaan genetik dengan induknya, dan dapat memproduksi bibit secara masal.
Analisis Efektivitas Program Rehabilitasi Lingkungan dalam Pemulihan Ekosistem di Kawasan Pascatambang PT Bukit Asam Tbk, Tanjung Enim Ikhsan Hilal Syafaat; Baruna Hafizd Xavire; Bintang Aji Tamadinta; Bayu Prastiyo; Reva Putri Sugianti; Laily Agustina Rahmawati
Botani : Publikasi Ilmu Tanaman dan Agribisnis Vol. 2 No. 3 (2025): September: Botani: Publikasi Ilmu Tanaman dan Agribisnis
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/botani.v2i3.415

Abstract

This study aims to examine the implementation of post-mining environmental rehabilitation programs carried out by PT Bukit Asam Tbk in the Tanjung Enim mining area, South Sumatra. Coal mining activities have significant ecological impacts, especially on vegetation damage, soil erosion, and habitat degradation. In this context, rehabilitation efforts are a crucial step to restore the ecosystem and ensure environmental sustainability. The method used in this study is a qualitative literature study with a descriptive-analytical approach to official company documents, environmental reports, and relevant academic references. The results of the study indicate that PT Bukit Asam has implemented various rehabilitation strategies, including revegetation, wastewater management, and community empowerment through agroforestry programs. The success of this program is reflected in the increased vegetation cover, land stability, and biodiversity indicators in the reclamation area. However, challenges such as natural factors and limited supervision still need to be addressed. In conclusion, the rehabilitation practices carried out by this company can be used as a model for sustainable post-mining management in Indonesia. This study recommends the need for multi-sector collaboration and increased transparency and monitoring technology to support long-term effectiveness.
Manajemen Pemulihan Ekosistem Cagar Alam Gua Nglirip Tyas, Tria Agustining; Rahmawati, Laily Agustina
Konservasi Hayati Vol 20 No 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/hayati.v20i2.36671

Abstract

Gua Nglirip Nature Reserve was initially a conservation area rich in native flora, such as Weeping fig (Ficus benjamina) and Walen (Ficus ribes Reinw.). However, habitat destruction has led to the loss of native flora in the area. This study aimed to analyze ecosystem recovery management in the Gua Nglirip Nature Reserve, specifically emphasizing native flora rehabilitation. This research was conducted using a descriptive qualitative method, data was collected through interviews and document studies from key informants and official reports. The ecosystem recovery process was carried out in two rehabilitation blocks with a total area of 20,504 m², involving the replanting of lost native flora species, such as Weeping tree and Walen, with 836 seedlings planted across both blocks. However, challenges such as fires, prolonged drought, wildlife habitat disturbances, and insufficient monitoring and evaluation, particularly in documenting plant growth data, have caused delays in the ecosystem recovery process. The study results indicate that although progress has been made, improvements in management and better implementation are needed for long-term success.