Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

PEMANFAATAN QUIZZIZ DAN TESTMOZ SEBAGAI ALAT PENILAIAN PEMBELAJARAN Ivan Ashif Ardhana; Umy Zahroh
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 6 (2023): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i6.19175

Abstract

Abstrak: Penilaian merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses pembelajaran yang bertujuan mengevaluasi keseluruhan aspek meliputi guru, siswa, model pembelajaran, dan media pembelajaran yang digunakan. Pandemi Covid-19 memunculkan dan memopulerkan kembali berbagai platform penilaian berbasis kuis atau tes dengan beragam fitur yang memudahkan pendidik sekaligus meningkatkan minat siswa. Dua dari sekian media penilaian online yang menarik digunakan adalah Quizziz dan Testmoz. Guru perlu dikenalkan dengan media penilaian online agar proses penilaian pembelajaran dapat menarik minat dan motivasi siswa, terutama guru di sekolah dengan akses internet terbatas. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan hardskill guru dalam mendesain penilaian pembelajaran berbasis online menggunakan Quizziz dan Testmoz. Sasaran kegiatan ini adalah seluruh guru di SMA/MA Terpadu Al-Anwar Durenan Trenggalek sebanyak 32 orang. Metode yang digunakan adalah dengan ceramah pemaparan materi, praktik penggunaan platform, dan pretes-posttest tentang persepsi digital guru. Hasil pretest menunjukkan skor 3,80 dan posttest sebesar 4,25 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 11,84%. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan persepsi digital guru tentang penggunaan media penilaian pembelajaran berbasis online. Sebagian besar guru menjadi lebih tertantang dan memiliki keinginan untuk mempelajari platform-platform pembelajaran online lainnya.Abstract: Assessment is an integral part of the learning process that aims to evaluate the overall aspect of teachers, students, learning models, and the learning media used. The Covid-19 pandemic has emerged and re-populated a variety of quiz or test-based assessment platforms with various features that facilitate educators while increasing student interest. Two of the most interesting online rating media used are Quizziz and Testmoz. Teachers need to be introduced to online evaluation media so that the learning evaluation process can attract the interest and motivation of students, especially teachers in schools with limited internet access. The purpose of this community dedication activity is to improve the hardskill of teachers in designing online learning assessments using Quizziz and Testmoz. The target of this activity is the entire teacher at the Integrated Al-Anwar Durenan Trenggalek High School/MA of 32 people. The method used was with material exhibition lectures, platform use practices, and pretest-posttests on teacher digital perception. The pretest result showed a score of 3.80 and posttest of 4.25 which meant an increase of 11.84%. This suggests an increase in teacher's digital perceptions of using online-based learning evaluation media. Most teachers are becoming more challenged and have a desire to learn other online learning platforms.
STUDI KOMPARATIF IMPLEMENTASI STEM DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI INDONESIA DAN TIONGKOK : SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR) Munawaroh, Vina Shofwatul; Munir, Ulfa Saikhul; Hadi, Syaiful; Zahroh, Umy
Al-Irsyad Journal of Mathematics Education Vol 5 No 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Darud Da'wah Wal Irsyad Pinrang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58917/ijme.v5i1.669

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan implementasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dalam pembelajaran matematika di Indonesia dan Tiongkok. Studi ini dilatarbelakangi tuntutan pendidikan abad ke-21 serta rendahnya pemerataan kualitas penerapan STEM di Indonesia dan perbedaan kesiapan ekosistem pendidikan kedua negara. Selain itu, kajian komparatif sistematis yang secara khusus membahas implementasi STEM pada pembelajaran matematika lintas negara masih terbatas. Penelitian menggunakan metode Systematic Literature Review dengan pedoman PRISMA 2020. Pencarian dilakukan pada basis data Google Scholar dan Scopus terhadap publikasi tahun 2021 sampai 2025. Sebanyak 534 artikel diidentifikasi dan diseleksi melalui tahapan penghapusan duplikasi, penyaringan judul dan abstrak, serta telaah teks penuh hingga diperoleh 12 artikel yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa Indonesia dan Tiongkok sama-sama menerapkan pembelajaran matematika berbasis STEM melalui strategi aktif seperti eksperimen, proyek, diskusi, dan pemecahan masalah kontekstual. Perbedaan utama terletak pada sistem pendukung implementasi. Indonesia masih bergantung pada inisiatif guru dengan keterbatasan fasilitas dan variasi kompetensi, sedangkan Tiongkok didukung kebijakan nasional, kurikulum terintegrasi, dan pengembangan profesional guru yang sistematis. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan kompetensi guru, konsistensi kebijakan, dan pemerataan akses teknologi merupakan kunci peningkatan mutu pembelajaran matematika berbasis STEM di Indonesia pada jenjang pendidikan dasar dan menengah secara berkelanjutan.
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW (SLR): STUDI KOMPARASI LANDASAN FILOSOFIS KURIKULUM MATEMATIKA DI INDONESIA DAN SINGAPURA Rahmawati, Putri Melinda; Rosidah, Nanda Nur Indah Kamilatur; Mubarok, Moch Yazid; Hadi, Syaiful; Zahroh, Umy
Pedagogy: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 10 No. 4 (2025): Pedagogy : Jurnal Pendidikan Matematika
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/pedagogy.v10i4.7711

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara sistematis landasan filosofis yang mendasari pengembangan kurikulum matematika di Indonesia pada Kurikulum Merdeka dan kurikulum matematika di Singapura. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA. Data diperoleh dari basis data Crossref dan Semantic Scholar menggunakan aplikasi Publish or Perish, dengan kata kunci “filosofi pendidikan”, “kurikulum matematika”, “kurikulum merdeka”, dan “kurikulum Singapura” dalam rentang publikasi 2021–2025. Dari 319 artikel yang ditemukan, setelah proses seleksi berlapis berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi, diperoleh 5 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Analisis dilakukan secara kualitatif melalui sintesis temuan dan visualisasi menggunakan VOSviewer dan WordCloud. Hasil penelitian menunjukkan bahwa landasan filosofis kurikulum matematika di Indonesia dan Singapura sama-sama berakar pada pragmatisme, konstruktivisme, dan humanisme, namun berbeda dalam penerjemahannya. Landasan filosofis tersebut tercermin dalam komponen kurikulum matematika. Tujuan kurikulum matematika di Indonesia berorientasi pada abad 21 dan penguatan karakter. Sedangkan di Singapura pengembangan konsep, kemampuan metakognitif, serta kesiapan menghadapi tantangan modern. Konten materi di Indonesia meliputi bilangan, aljabar, geometri, hubungan dan fungsi, statistika dan peluang, serta kalkulus, sedangkan di Singapura meliputi bilangan, algebra, geometri, dan statistika. Pendekatan pembelajaran di Indonesia menggunakan pendekatan kontekstual dengan mengintegrasikan proyek kolaboratif, sedangkan di Singapura menggunakan Concrete Pictorial Abstract (CPA), model drawing, bar model, dan pembelajaran berbasis penguasaan. Indonesia dan Singapura memiliki asesmen yang sama yaitu formatif dan sumatif, namun dengan orientasi tujuan yang berbeda.
Augmented reality in the teaching of geometric solids for elementary school: Experience report in a public school Paulo Vitor da Silva Santiago; Umy Zahroh; Rani Darmayanti
Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education Vol. 3 No. 2 (2023): Journal of Advanced Sciences and Mathematics Education
Publisher : CV. FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/jasme.v3i2.285

Abstract

Background: Augmented Reality (AR) integrates virtual objects with the real world on smartphone screens, creating a seemingly seamless blend of both.Aim: This research aimed to explore the use of AR in teaching geometric solids to final-year elementary school students. An interactive tool, RA Solids, was employed, originating from a 2023 research experience in a 6th-grade class.Method: The study was conducted in a public school with students mostly classified as digital immigrants. The Didactic Engineering methodology was utilized for research.Result: The outcomes were positive, showing that the school environment was conducive to implementing the teaching and learning process of geometric solids using digital technology.Conclusion: The use of AR in education, specifically in teaching mathematics, demonstrates promising results in enhancing student engagement and understanding, particularly in the context of geometric solids.
ANALISIS LITERATUR: EFEKTIFITAS PENDEKATAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS STEM Safitri, Mutiara; Rahmawati, Atik; Hadi, Syaiful; Zahroh, Umy
PHI: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2026): EDISI APRIL, 2026
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/phi.v10i1.615

Abstract

This study aims to analyze the impact of deep learning implementation in STEM-based mathematics learning and identify challenges faced in its implementation. Referring to various recent studies, the deep learning approach has been proven to significantly improve conceptual understanding, critical thinking skills, mathematical problem-solving skills, and student motivation and engagement. The integration of deep learning with STEM enables contextual, collaborative, and real-world problem-oriented learning, which aligns with the principles of Outcome-Based Education (OBE) and the demands of 21st-century competencies. The method used in this study is a systematic literature review of several leading national and international journals published between 2019 and 2025. The analysis instruments include thematic identification of empirical findings, learning strategies, and supporting and inhibiting factors for implementation. The synthesis results show that despite its effectiveness, the implementation of deep learning in STEM-based mathematics learning faces several challenges, including limited technological infrastructure, low teacher readiness and digital literacy, dual cognitive load on students, time constraints in the curriculum, and ethical issues related to data privacy when involving artificial intelligence (AI). Thus, an integrative strategy is needed that includes teacher training, provision of supporting resources, and policies that support technology-based adaptive learning in an ethical and sustainable manner.
KESENJANGAN DESAIN KURIKULUM MERDEKA DALAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA: TINJAUAN LITERATUR HAMBATAN DAN SOLUSI Nuriyah, Dewi Sinta; Rohmah, Sayyidatur; Widya, Titan Zhafira; Hadi, Syaiful; Zahroh, Umy
PHI: Jurnal Pendidikan Matematika Vol 10, No 1 (2026): EDISI APRIL, 2026
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/phi.v10i1.618

Abstract

This study aims to analyze the gap between the design of the Independent Curriculum and its implementation in mathematics learning. Using the Systematic Literature Review (SLR) method, this study examined 16 articles published between 2021 and 2025 that met the inclusion criteria regarding obstacles and solutions in planning, implementing, and evaluating learning. The review results indicate that the greatest obstacles occur at the planning stage, including teachers' poor understanding of the Learning Objectives Flow (ATP), the development of teaching modules, and the role of teachers as facilitators. At the implementation stage, challenges arise in implementing differentiated learning, the use of technology-based media, and limited infrastructure. Meanwhile, at the evaluation stage, teachers still experience difficulties in implementing authentic, diagnostic, and formative assessments that meet the curriculum's demands. This study contributes by comprehensively mapping obstacles and offering solutions based on scientific findings, such as strengthening teacher competencies, optimizing learning communities, and providing supporting facilities. These findings emphasize the importance of a stronger educational ecosystem so that the Independent Curriculum can optimally achieve its goal of developing mathematics competencies.
Model Prosedural Guru Matematika dalam Penyusunan ATP (Studi Kasus pada MAN di Eks-Karesidenan Kediri) Sudarmanto; Nadzirotul Hendra Mayzura; Syaiful Hadi; Umy Zahroh
Revorma: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Vol. 6 No. 1 (2026): REVORMA: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran (Edisi Mei 2026)
Publisher : MAN 1 Kota Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62825/revorma.v6i1.183

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model prosedural yang digunakan guru matematika dalam menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) pada implementasi Kurikulum Merdeka di MAN di wilayah eks-Karesidenan Kediri. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, analisis dokumen ATP, observasi think-aloud, serta triangulasi dengan instrumen tertulis. Hasil penelitian menunjukkan tiga model prosedural utama. Pertama, Model Mandiri, yaitu guru menafsirkan Capaian Pembelajaran (CP) menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) dan menyusun ATP secara hierarkis dengan validasi melalui diskusi sejawat. Model ini memberi ruang inovasi dan fleksibilitas, tetapi berpotensi menimbulkan ketidakseragaman antar madrasah. Kedua, Model Adaptif, yang menggabungkan acuan kolektif MGMP dengan penyesuaian lokal sesuai karakter siswa, alokasi waktu, dan sumber belajar. Model ini menjaga standar minimum, namun bergantung pada MGMP yang kadang kurang responsif terhadap perubahan CP mendadak. Ketiga, Model Berbasis Buku Ajar, yaitu guru mengikuti ATP dari buku ajar secara langsung dengan minim penyesuaian. Model ini sederhana dan efisien, tetapi cenderung textbook-driven dan kurang mencerminkan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas serta adaptasi. Ketiga model tersebut mencerminkan variasi tingkat keterlibatan guru dalam perencanaan kurikulum, dari yang paling aktif menafsirkan CP hingga yang paling pasif mengikuti buku ajar. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kerangka teoritis seperti Backward Design, Taksonomi Bloom Revisi, dan Taksonomi SOLO, serta kebijakan kurikulum yang lebih stabil agar penyusunan ATP berlangsung konsisten, sistematis, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.