Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Phinisi Integration Review

Addatuang Sawitto (1942-1960) Indira, Fuji; Bosra, Mustari; Najamuddin, Najamuddin
Phinisi Integration Review Volume 4 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v4i2.22083

Abstract

The results show that the role and function of Addatuang Sawitto before independence from 1942 to 1945 was only a symbol because his role in goverment was taken over by Japan. During the reign og the Dutch East Indies, the kings in South Sulawesi, especially in the Kingdom of Sawitto, were subjected to a short agreement or Korte Veklaring. Then during the independence revolution from 1945 to 19429 Addatuang Sawitto said he was submissive and was behind the Republic of Indonesia, but after the Dutch returned to Indonesia with NICA, the power of the aristocrats or kings was returned to the interests of the Netherlands in winning the hearts of the people. Meanwhile, after the independence revolution in 1950 to 1960 after the Dutch recognized Indonesian sovereignty and the elimination of puppet states including NIT and returned to the Republic of Indonesia, the government system was changed, where the system of government of the Kingdom of Sawitto was abolished and replaced by the Pinrang Level II Region. At the time, Addatuang Sawitto had the honor to lead the Pinrang Level II Region by appointing the crown prince or heir to the throne of  the Kingdom of Sawitto. The one who was appointed as regional headwas Andi Makkulawu who was the husband of Addatuang Sawitto We Rukiyah. Thus, the reign of the Kingdom of Sawitto ended and was changed to the Pinrang Level II Region which later became the Pinrang Regency.
Pengaruh Bendungan Noling Terhadap Kehidupan Petani Padi Di Desa Padang Sappa Kabupaten Luwu 1982-1995 Anastasya, Endang; Bosra, Mustari; Najamuddin, Najamuddin
Phinisi Integration Review Volume 4 Nomor 3 Tahun 2021
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v4i3.24429

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah utuk mengetahui  (i) bagaimana kondisi sosial ekonomi sosial petani di Desa Padang Sappa? Penelitian tentang pengaruh sistem saluran irigasi terhadap kesejahteraan petani. Penulisan ini menggunakan metode penelitian sejarah yaitu (i) Heuristik (ii) Kritik (iii) Interpretasi (iv) historiografi. Dibantu dengan pendekatan teori ilmu bantu lain, seperti (i) Teori Pendapatan. Berdasrkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kehidupan sosial ekonomi masyarakat petani padi di Desa Padang Sappa Kabupaten Luwu 1982-1995 mengalami penigkatan yang signifikan terutama petani pemilik maupun petani penggarap dan mengalamidampak pada lingkungan alamnya. Sejak berfungsinya Bendungan Noling sudah tidak lagi kesulitan dalam mengairi lahan pertanian mereka karena sudah adanya sistem irigasi yang akan selalu menyalurkan sumber air yang tidak pernah berhenti. Sistem irigasi ini bisa dibuka tutup, sehingga kapan saja petani membutuhkan air untuk lahan pertanian mereka, tinggal membuka saluran air tersebut. Pemerintah sudah memberikan fasilitas irigasi dan membangun sistem irigasi untuk dimanfaatkan oleh para petani. Manfaat saluran irigasi yang harus diketahui diantaranya adalah melancarkan aliran air ke petak-petak sawah, mencukupi kebutuhan air pada lahan pertanian, mempermudah para petani untuk mengairi lahanya dan sebagai salah satu sarana pendukung ketahanan pangan.
Peran Benteng Rotterdam di Kota Makassar Sebagai Sumber Belajar Sejarah Muh Anugerah Saputera; Mustari Bosra; Bahri Bahri
Phinisi Integration Review Volume 5 Nomor 3 Tahun 2022
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v5i3.37549

Abstract

The purpose of this study is to describe and analyze about the role of the fort of Rotterdam as a source of learning history. This type of research uses descriptive qualitative research. Data was collected by means of participant observation, in-depth interviews and documentation. The validity of the data using the persistence of observations, triangulation of sources and detailed descriptions. The data analysis techniques used were: making small notes, grouping data, analyzing, presenting data and drawing conclusions. The results showed (1) Fort Rotterdam has been used as a historic site in the city of Makassar. In the 1970s this fort was renovated on a large scale and on 27 April 1977 the Makassar Archaeological Heritage Preservation Office was inaugurated, which is now known as the Cultural Heritage Preservation Center (BPCB) of South Sulawesi Province and based on the decision of the Minister of Culture and Tourism of the Republic of Indonesia, Rotterdam fort was designated as a Cultural Heritage Object in 2010 which is used as a center for culture, education, and a place for art and cultural performances, a place for historical tours, and a place to learn history. (2) Based on interviews with the fort management, as well as with educators, they said that they supported the Rotterdam fort being used as a historical learning resource for those who want to know and learn history. The government continues to make efforts so that historical sites can be preserved as a source of learning history. One example of the government's efforts to make this fort a source of learning is by setting up a BPCB office and the La Galigo Museum inside the fort complex and creating the “Museum Entrance School” program to raise awareness about the importance of history for future generations.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis tentang peranan benteng Rotterdam sebagai sumber belajar sejarah. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan ketekunan pengamatan, triangulasi sumber dan uraian rinci. Teknik analisi data yang dilakukan: membuat catatan kecil, mengelompokkan data, menganalisis, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan (1) Benteng Rotterdam telah dijadikan sebagai situs bersejarah yang ada di kota Makassar. Pada tahun 1970-an benteng ini telah dipugar secara besar-besaran dan pada 27 April 1977 diresmikan Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar, yang kini dikenal dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Sulawesi Selatan dan berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, benteng Rotterdam ditetapkan sebagai Benda Cagar budaya pada tahun 2010 yang dijadikan sebagai pusat budaya, pendidikan, dan tempat pertunjukan seni dan budaya, tempat berwisata sejarah, dan tempat belajar sejarah. (2) Berdasarkan wawancara dengan pengelola benteng, maupun dengan tenaga pendidik mengatakan bahwa mereka mendukung benteng Rotterdam dijadikan sebagai sumber belajar sejarah bagi mereka yang ingin mengetahui dan belajar sejarah. Pemerintah terus melakukan upaya agar situs-situs bersejarah dapat terus dilestarikan sebagai sumber belajar sejarah. Salah satu contoh upaya pemerintah menjadikan benteng ini sebagai sumber belajar adalah dengan mendirikan kantor BPCB dan Museum La Galigo di dalam kompleks benteng dan membuat program “Museum Masuk Sekolah” untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya sejarah bagi generasi-genarasi penerus bangsa. 
BENDI SEBAGAI ALAT ANGKUTAN DI SOPPENG (STUDI SEJARAH, PROBLEMATIKA, DAN PELESTARIANNYA) TAHUN 2000-2021 Nurmayanti Nurmayanti; Darman Manda; Mustari Bosra; Andi Ima Kesuma
Phinisi Integration Review Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v6i1.43274

Abstract

The aims of this research are (i) to reveal and explain the history of the existence of bendi in Soppeng. (ii) Describe the problems faced by bendi drivers in Soppeng. (iii) Revealing the role of the government and the community in preserving the bendi in Soppeng. In uncovering the existence of bendi in Soppeng Regency, this study uses historical research methods, namely (i) heuristics (ii) criticism (iii) interpretation (iv) historigraphy. In addition, to make it easier to understand the events under study, the authors use theoretical approaches such as (i) functional structure The results of this study indicate that, (i) the history of the existence of bendi in Indonesia which was originally only used for the nobility until finally it could be used in general by the community. (ii) Bendi in Soppeng begins with the existence of a bendi in Soppeng, knowing what it takes to become a bendi driver, types of traditional transportation in Indonesia and how the function and role of a bendi has changed from the colonial period to the modernization era, as well as the author describes the process of gradual decline in the bendi in Soppeng. (iii) regarding the preservation of the bendi carried out by the local government and the community.Tujuan Penelitian ini adalah (i) Mengungkapkan dan menjelaskan sejarah keberadaan bendi di Soppeng. (ii) Menjelaskan problematika yang dihadapi kusir bendi di Soppeng. (iii) Mengungkapkan bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam pelestarian bendi di Soppeng. Dalam mengungkap keberadaan bendi di Kabupaten Soppeng, penelitian ini mengunakan metode penelitian sejarah yaitu (i)heuristik (ii) kritik (iii) interpretasi (iv) historigrafi.selian itu untuk lebih mudah memahami kejadian yang diteliti maka penulis menggunakan pendekatan teori seperti (i) struktur fungsional  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, (i) sejarah keberadaan bendi di Indonesia yang pada awalnya hanya digunakan untuk para kaum bangsawan saja hingga akhirnya bisa digunakan secara umum oleh masyarakat. (ii) Bendi di Soppeng di mulai dengan keberadaaan bendi di Soppeng, mengetahui apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi kusir bendi, jenis-jenis trasportasi tradisional yang ada di Indonesia serta bagaimana perubahan fungsi dan peran bendi dari masa kolonial hingga era modernisasi, serta penulis juga menjalaskan proses kemunduran yang berangsur-asur terjadi pada bendi di Soppeng. (iii) tentang pelestraian bendi yang di lakukan oleh pihak pemerintah daerah serta masyarakat.
TRADISI KORONGTIGI DALAM PESTA PERNIKAHAN MASYARAKAT DI DESA KARELAYU KECAMATAN TAMALATEA KABUPATEN JENEPONTO (1980-2022) Masdayanti, Masdayanti; Bahri, Bahri; Bosra, Mustari; Najamuddin, Najamuddin
Phinisi Integration Review Volume 7 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v7i1.59355

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui Sejarah Tradisi Korongtigi, (2) Mengetahui Fungsi dan Makna Tradisi Korongtigi, (3) Mengetahui Proses Tradisi Korongtigi. (4) Mengetahui eksistensi dari Tradisi Korongtigi dalam pesta pernikahan masyarakat di Desa Karelayu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik analisis data terdapat tiga jalur yaitu reduksi data, penyajian data dan pemeriksaan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tradisi Korongtigi  ialah suatu tradisi dalam rangkaian acara pesta pernikahan yang dilaksanakan oleh nenek moyang secara turun-temurun mulai dari tahun 1980 sampai sekarang. (2) Fungsi dan makna dari Tradisi Korongtigi ialah menjaga warisan nenek moyang dan sebagai pemanjatan doa dan harapan untuk calon mempelai. (3) Proses pelaksanaan Tradisi Korongtigi yaitu mulai dari acara anriobunting (siraman pengantin) appatamma’ (khatam Alquran), pembacaan barazanji sampai pada tahap korongtigi yang dilakukan oleh kedua orang tua, kerabat dan para tamu undangan. (4) eksistensi Tradisi Korongtigi di Desa Karelayu Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto masih eksis dan bertahan sampai saat ini dikarenakan masyarakat Desa Karelayu masih menganggap bahwa Tradisi Korongtigi ini selain memberikan doa restu kepada mempelai juga sebagai tempat perkumpulan untuk mempererat tali kekeluargaan,persaudaraan dan untuk meningkatkan hubungan kerja sama baik untuk tuan rumah penyelenggara pesta dan juga masyarakat setempat yang hadir dalam acara tersebut.This research aims to (1) Understand the history of the Korongtigi tradition, (2) Understand the function and meaning of the Korongtigi tradition, (3) Understand the process of the Korongtigi tradition. (4) Knowing the existence of the Korongtigi Tradition in community wedding parties in Karelayu Village, Tamalatea District, Jeneponto Regency. This research is descriptive qualitative research with three data analysis techniques, namely data reduction, data presentation and conclusion checking. The research results show that: (1) The Korongtigi tradition is a tradition in a series of wedding ceremonies carried out by ancestors from generation to generation from 1980 until now. (2) The function and meaning of the Korongtigi Tradition is to maintain the heritage of the ancestors and to offer prayers and hopes for the prospective bride and groom. (3) The process of implementing the Korongtigi Tradition starts from the anriobunting (bridal shower) appatamma' (khatam Al-Quran), the reading of barazanji to the korongtigi stage which is carried out by both parents, relatives and invited guests. (4) the existence of the Korongtigi Tradition in Karelayu Village, Tamalatea District, Jeneponto Regency still exists and survives to this day because the people of Karelayu Village still consider that the Korongtigi Tradition, apart from giving blessings to the bride and groom, is also a gathering place to strengthen family ties, brotherhood and to improve relationships. cooperation for both the host party organizer and also the local community who attended the event.