Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KECEMASAN DAN KESIAPAN BELAJAR DENGAN PELAKSANAAN UJIAN MCQ PADA MAHASISWA ANGKATAN 2020 DAN 2021 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL AZHAR MATARAM Mayditya Biman Surya; Lusiana Wahyu Ratna Wiajayanti; Ronanarasafa; Yolly Dahlia
Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences Vol. 2 No. 1 (2023): Cakrawala Medika: Journal of Health Sciences
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Medika Suherman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59981/rbwj8685

Abstract

Multiple Choice Question (MCQ) merupakan bentuk ujian di akhir blok di kurikulum kedokteran. Ujian MCQ dianggap sulit oleh sebagian besar mahasiswa karena ujian ini dihadapi pada setiap akhir blok. Kecemasan adalah suatu bentuk emosi negatif yang dapat timbul dalam berbagai keadaan dan situasi, biasanya dicetuskan oleh objek ancaman yang tidak nyata secara fisik. Kecemasan dapat dibedakan menjadi kecemasan ringan sampai kecemasan tingkat tinggi (panik). Kesiapan belajar merupakan kesiapan atau kesediaan seseorang untuk belajar mandiri, yang terdiri dari komponen sikap, kemampuan dan karakteristik personal Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif jenis analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Besar sampel sebanyak 85 sampel penelitian. Tingkat kecemasan yang di miliki mahasiswa FK UNIZAR sebelum menghadapi ujian MCQ yaitu tingkat kecemasan dengan kategori tinggi dengan pelaksanaan MCQ kategori kurang sebanyak 42 orang (44,2 %). Kesiapan belajar yang dimiliki mahasiswa FK UNIZAR sebelum menghadapi ujian MCQ yaitu kesiapan belajar dengan kategori tinggi dengan pelaksanaan MCQ kategori baik sebanyak 32 orang (33,7 %). Tingkat kecemasan dengan pelaksanaan ujian MCQ didapatkan hasil P-Value 0,002 (p-value < 0,05). Terdapat adanya hubungan antara tingkat kecemasan dan Kesiapan Belajar dengan pelaksanaan ujian MCQ pada mahasiswa angkatan 2020 dan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al - Azhar Mataram dengan P-Value 0,001 dan P-Value 0,002.
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA SISWA SMAN 2 MATARAM Baiq Inggit Citasari; Yolly Dahlia; Ronanarasafa; Lusiana Wahyu Ratna Wijayanti
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 3 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/6jvewb62

Abstract

Stres dan kecemasan merupakan dua respons psikofisiologis yang sering muncul ketika individu menghadapi perubahan atau situasi yang menimbulkan tekanan; stres merujuk pada reaksi fisik dan emosional terhadap tuntutan lingkungan yang membutuhkan adaptasi, sedangkan kecemasan adalah respons normal tubuh terhadap kondisi yang dipersepsikan mengancam kesejahteraan. Bila keduanya berlangsung kronis pada kalangan pelajar, fungsi tidur berpotensi terganggu sehingga kualitas tidur menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat stres dan kecemasan dengan kualitas tidur pada siswa SMAN 2 Mataram. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif analitik observasional dengan desain potong lintang (cross-sectional), di mana pengukuran variabel independen (tingkat stres dan kecemasan) dan variabel dependen (kualitas tidur) dilakukan secara serentak pada satu waktu pengamatan. Sampel dipilih melalui stratified random sampling, yakni populasi dibagi menjadi strata kemudian sampel diambil secara acak dari masing-masing strata untuk memperoleh representasi yang proporsional. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk menilai adanya hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat kecemasan dan kualitas tidur, dengan nilai signifikansi asimptotik p = 0,000 (p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa perbedaan yang diamati tidak mungkin terjadi akibat kebetulan semata. Temuan ini mendukung adanya keterkaitan bermakna antara tingkat stres dan kecemasan dengan kualitas tidur pada populasi siswa yang diteliti, sehingga menegaskan pentingnya upaya identifikasi dan intervensi dini terhadap faktor-faktor psikologis di lingkungan sekolah untuk mencegah gangguan tidur dan konsekuensi negatifnya terhadap kesehatan serta prestasi akademik. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi faktor perantara dan mekanisme kausalitas menggunakan desain longitudinal atau intervensional.
ANALISIS KORELASIONAL: EFIKASI DIRI, SLEEP QUALITY, LAMA PENGERJAAN KTI, DAN KECEMASAN PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR Dhiya Rahmatiyah; Yolly Dahlia; Ronanarasafa
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/4kngd469

Abstract

Kecemasan adalah istilah yang sangat akrab dengan menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, dan tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik. Kecemasan dapat muncul sendiri atau bergabung dengan gejala lain dari berbagai gangguan emosi (cemas, marah, takut, sedih bahkan senang sekalipun) kondisi ini dipicu oleh reaksi terhadap lingkungan. Kondisi ini menyebabkan masalah yang serius bagi sebagian orang dengan masalah   kecemasan, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kasus bunuh diri yang    pada awalnya terjadi masalah kecemasan hingga mengalami depresi yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pengerjaan dengan tingkat kecemasan pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun KTI di Fakultas Kedokteran Unizar. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 102 responden, yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Uji statistik yang digunakan dalam analisis data adalah chi-square. Terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pengerjaan dengan kecemasan (p-value = 0,000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri, kualitas tidur, dan lama pemgerjaan berhubungan secara signifikan dengan kecemasan. Kata Kunci: Kecemasan, efikasi diri, kualitas tidur, lama pengerjaan
ANALISIS KEPATUHAN TERAPI, DUKUNGAN KELUARGA, DAN STATUS EKONOMI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN SKIZOFRENIA Nurul Anggun Safitri; Yolly Dahlia; Sulatun Hidayati; Halia Wanadiatri
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/gwqcwk26

Abstract

Skizofrenia adalah gangguan otak yang menimbulkan kelainan pada cara berpikir, persepsi, emosi, gerak, dan perilaku, salah satunya kecenderungan bertindak agresif yang paling sering tampak melalui kemarahan. Peningkatan angka kejadian skizofrenia sebagian disebabkan oleh berbagai hambatan dalam upaya pengobatan penderita. Faktor-faktor yang dapat memicu kekambuhan meliputi ketidakpatuhan terhadap terapi obat, minimnya dukungan keluarga, tekanan ekonomi, serta masalah hidup yang berat sehingga menimbulkan stres. Penelitian ini bersifat kuantitatif analitik observasional dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling di Poliklinik Psikiatri Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB pada periode 16 November hingga 6 Desember 2023, dengan total 80 responden. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Chi-Square. Hasil menunjukkan bahwa 60 responden (75%) mengalami kekambuhan skizofrenia dalam kategori sedang, 37 responden (46,3%) memiliki tingkat kepatuhan minum obat sedang, 69 responden (86,3%) mendapat dukungan keluarga yang baik, dan 41 responden (51,2%) berstatus ekonomi keluarga di bawah UMP. Terdapat hubungan bermakna antara kepatuhan minum obat dan kekambuhan skizofrenia (p = 0,001; p < 0,005), dukungan keluarga dengan kekambuhan (p = 0,000; p < 0,005), serta status ekonomi keluarga dengan kekambuhan (p = 0,049; p < 0,005). Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat, kualitas dukungan keluarga, dan kondisi ekonomi keluarga berhubungan signifikan dengan risiko kekambuhan skizofrenia.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN, KESIAPAN UJIAN DAN TIPE KEPRIBADIAN DENGAN TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN OSCE PADA MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL - AZHAR MATARAM Lisma Tania Putri; Yolly Dahlia; Ronanarasafa; Lusiana Wahyu Ratna Wijayanti
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 2 No. 4 (2025): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/kbzjvf15

Abstract

Kecemasan saat menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) merupakan masalah umum pada mahasiswa kedokteran dan dapat memengaruhi performa akademik serta kesiapan klinis. Berbagai faktor seperti jenis kelamin, kesiapan ujian, dan tipe kepribadian diketahui berperan dalam munculnya kecemasan, namun temuan penelitian sebelumnya masih bervariasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara jenis kelamin, kesiapan ujian, dan tipe kepribadian dengan tingkat kecemasan mahasiswa kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram dalam menghadapi OSCE. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 88 mahasiswa yang dipilih melalui simple random sampling. Tingkat kecemasan, jenis kelamin, kesiapan ujian, dan tipe kepribadian diukur menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki hubungan bermakna dengan tingkat kecemasan (p < 0,05). Jenis kelamin berhubungan signifikan dengan kecemasan (p = 0,004; rs = 0,307; korelasi lemah), dengan kecenderungan mahasiswa perempuan mengalami kecemasan lebih tinggi. Kesiapan ujian menunjukkan hubungan negatif yang bermakna (p = 0,000; rs = –0,518; korelasi sedang), menandakan bahwa semakin tinggi kesiapan ujian, semakin rendah tingkat kecemasan. Tipe kepribadian juga berhubungan signifikan dengan kecemasan (p = 0,000; rs = 0,407; korelasi sedang), di mana mahasiswa dengan tipe kepribadian introvert lebih berisiko mengalami kecemasan dibandingkan ekstrovert.Dapat disimpulkan bahwa jenis kelamin, kesiapan ujian, dan tipe kepribadian berhubungan signifikan dengan tingkat kecemasan menghadapi OSCE. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi berbasis kesiapan belajar dan pendampingan psikologis yang mempertimbangkan perbedaan karakteristik mahasiswa